Lompat ke konten utama

4,9/5 · 1.200 ulasan · Semua Tingkat

Les Permakultur di Surabaya

Les permakultur privat di Surabaya: tutor datang 90 menit ke lahan Anda, mengukur arah matahari, jalur air hujan, dan sisa ruang yang ada, lalu menyusun rancangan halaman kota yang perawatannya menyusut. Biaya mulai Rp303.800 per sesi.

4,9/5 1.200 ulasan
2.500+ tutor terverifikasi
1.200+ peserta didampingi
1-on-1 satu tutor satu peserta
Les Permakultur di Surabaya

Les Permakultur di Surabaya, apa saja?

Les permakultur privat di Surabaya: tutor datang 90 menit ke lahan Anda, mengukur arah matahari, jalur air hujan, dan sisa ruang yang ada, lalu menyusun rancangan halaman kota yang perawatannya menyusut. Biaya mulai Rp303.800 per sesi.

Konsultasi dan Daftar

Fakta Program

Format sesi
Privat, satu tutor mendampingi satu peserta di lahan peserta sendiri
Durasi per pertemuan
90 menit; tersedia 120 menit untuk pertemuan survei lahan yang panjang
Biaya per sesi
Mulai Rp303.800 untuk pertemuan 90 menit di alamat peserta
Jumlah pertemuan
4 sampai 8 pertemuan per bulan, disepakati sebelum tutor berangkat
Tempat belajar
Halaman dan atap rumah peserta, co-learning space Edubia, atau online
Wilayah layanan
Gubeng, Rungkut, Sukolilo, Wiyung, Tandes, Mulyorejo, sampai Waru dan Gedangan
Pokok bahasan
Pengamatan lahan, penataan menurut frekuensi, perlakuan air hujan, pengomposan kota, susunan tanaman bertingkat
Tingkat
Pemula sampai pemilik lahan yang sudah menanam dan ingin memperbaiki tata letaknya
Alat yang dipakai
Meteran gulung, kertas berpetak, ember bekas, dan telepon genggam peserta untuk mencatat jam bayangan
Tutor pendamping
Praktisi kebun kota yang terbiasa dengan halaman sempit dan tanah bekas urukan

Urutan bahasan

Susunan materi permakultur dan salah langkah yang sering terjadi

Delapan bahasan di bawah berjalan berurutan, sebab tiap bahasan memakai angka hasil pengukuran bahasan sebelumnya. Kolom salah langkah diisi dari kejadian yang berulang di halaman rumah kota, dan kolom penanganan menyebutkan apa yang tutor kerjakan saat kejadian itu muncul di lahan peserta.

  1. 1

    Pengamatan satu putaran musim

    Pertemuan 1

    Yang dibahas. Mencatat jalur air saat hujan, titik genangan yang bertahan semalam, jam bayangan tiap sudut, serta arah angin dan bau. Semuanya ditulis di satu gambar berskala.

    Jebakan umum. Pengamatan dilakukan hanya pada musim kering, sehingga jalur air tak pernah terlihat dan bedeng dipasang persis di lintasan aliran.

    Cara tutor. Tutor menyimpan satu pertemuan sebagai cadangan yang dipanggil begitu hujan deras pertama turun, dan peserta memotret halaman saat air sedang mengalir.

  2. 2

    Penataan menurut frekuensi sentuhan

    Pertemuan 2

    Yang dibahas. Membagi lahan jadi empat lingkar yang diukur dalam langkah dari pintu dapur, lalu menempatkan tiap benda menurut seberapa sering ia disentuh.

    Jebakan umum. Wadah pengomposan disingkirkan ke pojok belakang supaya tak terlihat tamu, dan karena letaknya di luar jalur harian ia berhenti diisi dalam dua pekan.

    Cara tutor. Tutor mengajak peserta berjalan dari kompor ke tiap titik sambil menghitung langkah, lalu memindahkan yang jumlah langkahnya tak sepadan dengan frekuensi pemakaiannya.

  3. 3

    Pengaruh dari luar batas lahan

    Pertemuan 3

    Yang dibahas. Membaca matahari sore di dinding barat, angin berdebu dari jalan, air dari talang tetangga, dan bayangan pohon di pekarangan seberang.

    Jebakan umum. Hal di luar pagar dianggap latar yang tak bisa diapa-apakan, padahal ia justru menentukan sisi mana yang layak ditanami.

    Cara tutor. Tiap pengaruh diberi tanda panah beserta arah datangnya di gambar survei, lalu penahan dan bukaan diletakkan mengikuti arah itu.

  4. 4

    Perlakuan hujan di permukaan keras

    Pertemuan 4

    Yang dibahas. Memperlambat, menyebarkan, lalu meresapkan. Ketiganya dipasang berurutan dari titik air jatuh sampai titik ia keluar pagar.

    Jebakan umum. Halaman justru dibuat makin cepat membuang air supaya tidak becek, sehingga seluruh curah hilang dalam dua puluh menit dan penyiraman kembali bergantung pada keran.

    Cara tutor. Tutor menghitung luas permukaan tertutup di halaman peserta, lalu menyarankan satu jalur resapan selebar dua telapak sebagai pekerjaan pertama.

  5. 5

    Pemanenan air atap

    Pertemuan 5

    Yang dibahas. Menelusuri talang, memeriksa bahan penutup atap, memasang pembuangan curah pertama, dan menutup rapat lubang masuk serta lubang luber.

    Jebakan umum. Wadah penampung dibiarkan terbuka, dan dalam sepekan ia berubah jadi tempat nyamuk berkembang tepat di samping rumah.

    Cara tutor. Penutup dan saringan dipasang di pertemuan yang sama, dan ukuran wadah dihitung dari luas atap peserta serta panjang hari kering yang ingin ditutup.

  6. 6

    Pengomposan di kepadatan kota

    Pertemuan 6

    Yang dibahas. Perbandingan bahan basah dan bahan kering, aliran udara di dalam wadah, penanganan rembesan, serta cara menahan lalat.

    Jebakan umum. Wadah hanya diisi sisa dapur yang basah. Isinya berubah asam dalam beberapa hari, baunya sampai ke rumah sebelah, dan wadahnya ditinggalkan.

    Cara tutor. Karung bahan kering diletakkan menempel pada wadah sejak hari pertama, dan peserta mengirim foto isi wadah dua pekan sekali untuk dikoreksi tutor.

  7. 7

    Susunan tanaman bertingkat

    Pertemuan 7

    Yang dibahas. Menempatkan rambatan, tanaman setinggi lutut, dan penutup permukaan pada satu bidang yang sama menurut jam cahaya yang tersedia.

    Jebakan umum. Rambatan dipasang lebih dulu karena hasilnya cepat terlihat, lalu lapis di bawahnya kekurangan cahaya sepanjang musim.

    Cara tutor. Urutan pemasangan dibalik. Lapis bawah dan tengah ditanam dulu, rambatan menyusul sesudah sisa cahaya terukur.

  8. 8

    Tanaman tahunan sebagai penopang

    Pertemuan 8

    Yang dibahas. Memilih jenis yang sekali tanam dipanen bertahun-tahun, menetapkan letaknya di lingkar ketiga dan keempat, serta menyusun perawatan berkalanya.

    Jebakan umum. Seluruh lahan diisi sayur musiman, sehingga tiap tiga bulan halaman kembali kosong dan pekerjaan berat berulang dari awal.

    Cara tutor. Rumpun tahunan ditanam lebih dulu karena sulit dipindahkan sesudah berakar, dan sayur musiman baru mengisi ruang yang tersisa.

Kenapa Edubia

Nilai lebih paket les permakultur ini

Pertemuan pembuka dipakai mengukur, belum menanam

Tutor datang membawa meteran dan kertas berpetak. Yang dikerjakan bersama peserta adalah menandai batas lahan, arah mata angin, dan titik tempat air berkumpul saat hujan.

Rancangan disusun untuk halaman selebar mobil

Semua contoh yang dibahas berukuran rumah kota: teras dua kali tiga meter, gang samping selebar setapak, dan dak beton yang panas sejak pukul sebelas siang.

Hujan deras diperlakukan sebagai persediaan

Curah yang turun dalam dua puluh menit lalu berhenti berhari-hari menuntut perlakuan sendiri. Sesi membahas cara memperlambat, menyebarkan, dan meresapkannya sebelum air itu keluar pagar.

Tanah bekas urukan diperbaiki dari sisa dapur

Halaman perumahan baru sering berisi urukan padat bercampur pecahan bangunan. Tutor mendampingi peserta membangunnya kembali memakai bahan yang sudah ada di dapur dan halaman.

Tutor bisa diganti tanpa biaya tambahan

Bila cara mendampingi terasa belum cocok sesudah pertemuan pertama, peserta menyampaikannya ke tim Edubia dan pendamping baru dijadwalkan tanpa memulai hitungan biaya dari awal.

Biaya per sesi disebut sebelum tutor berangkat

Angka per pertemuan, panjang sesi, dan jumlah pertemuan sebulan disepakati di percakapan pertama, sehingga peserta tahu persis apa yang dibayarnya.

Angka bicara

4,9 /5

nilai dari 1.200 ulasan peserta yang sudah menjalani

1.200+
peserta didampingi
1-on-1
satu tutor satu peserta
2.500+
tutor terverifikasi
Daftar Sekarang

Kenapa privat

Les permakultur privat, bimbel grup, atau belajar sendiri?

Pilihan terbaik

Les Permakultur Privat Edubia

Di tempat pilihan Anda, Surabaya

  • Perhatian tutor saat belajar permakultur : Penuh, satu untuk satu
  • Materi permakultur disesuaikan level peserta
  • Tahap dinaikkan saat peserta siap
  • Latihan mandiri permakultur yang terarah
  • Belajar permakultur di tempat Anda, Surabaya
  • Tutor permakultur bisa diganti tanpa ribet

Bimbel Permakultur Grup

  • Perhatian tutor saat belajar permakultur : Terbagi ke banyak peserta
  • Materi permakultur disesuaikan level peserta
  • Tahap dinaikkan saat peserta siap : Ikut tempo kelas
  • Latihan mandiri permakultur yang terarah : Seragam
  • Belajar permakultur di tempat Anda, Surabaya
  • Tutor permakultur bisa diganti tanpa ribet

Belajar Permakultur Sendiri

  • Perhatian tutor saat belajar permakultur : Tanpa pendamping
  • Materi permakultur disesuaikan level peserta
  • Tahap dinaikkan saat peserta siap : Tergantung sendiri
  • Latihan mandiri permakultur yang terarah : Cari sendiri
  • Belajar permakultur di tempat Anda, Surabaya
  • Tutor permakultur bisa diganti tanpa ribet

Cakupan kelas

Yang termasuk dalam biaya les permakultur per sesi

  • Kunjungan tutor ke alamat peserta · Perjalanan pendamping ke lokasi sudah dihitung di dalam tarif per sesi, sehingga tak ada tambahan untuk jarak di dalam wilayah layanan.
  • Meteran, kertas berpetak, dan salinan gambarnya · Perkakas ukur dibawa tutor, dan salinan gambar hasil pengukuran diserahkan kepada peserta di akhir pertemuan.
  • Pembacaan jam cahaya tiap sudut · Tutor menyusun catatan bayangan dari foto yang peserta kumpulkan, lalu menerjemahkannya jadi daftar sudut yang layak ditanami apa.
  • Rancangan perlakuan air di lahan peserta · Letak penghalang aliran, jalur resapan, dan titik penampung air atap ditentukan dari ukuran halaman peserta sendiri.
  • Pendampingan memasang wadah pengomposan · Pemilihan wadah, pembuatan lubang udara, dan isian pertama dikerjakan bersama di pertemuan yang sama.
  • Penyaringan jenis tanaman menurut cahaya tersedia · Disusun khusus untuk lahan peserta, memisahkan yang menuntut cahaya panjang dari yang cukup dengan cahaya pagi saja.
  • Koreksi lewat pesan di antara dua pertemuan · Foto isi wadah pengomposan dan foto halaman saat hujan dijawab tutor dengan koreksi pendek, tanpa menunggu kunjungan berikutnya.
  • Penggantian pendamping bila terasa meleset · Tutor bisa diganti tanpa biaya tambahan, dan gambar survei serta catatan ukuran lahan diserahkan kepada pendamping penggantinya.

Kesesuaian program

Peserta yang terbantu rancangan lahan seperti ini

Keadaan yang cocok

  • Punya halaman, teras, atau dak yang sudah ada dan ingin ditata sebelum membeli tanaman
  • Sudah pernah menanam lalu berhenti karena perawatannya terasa memberatkan
  • Tinggal di rumah dengan lahan sempit dan bingung memulai dari sudut yang mana
  • Rutin membuang sisa dapur dan ingin mengubahnya jadi bahan organik di rumah sendiri
  • Sering menemukan genangan di halaman saat hujan lalu kekeringan beberapa hari sesudahnya
  • Menyewa rumah dan mencari rancangan yang tak menuntut pembongkaran permanen

Jalannya program

Delapan pekan pertama kelas permakultur di halaman Anda

Susunan di bawah menggambarkan ritme empat pertemuan sebulan. Peserta yang mengambil delapan pertemuan sebulan menempuh tahap yang sama dalam separuh waktu, dengan pertemuan tambahan dipakai untuk pekerjaan tangan.

  1. 01

    Batas lahan diukur dan kemiringannya dibaca

    Pekan 1

    Tutor datang membawa meteran, menyusuri batas, menandai arah mata angin, dan menuang seember air untuk membaca kemiringan permukaan.

  2. 02

    Catatan bayangan harian terkumpul

    Pekan 2

    Tiga foto per sudut pada tiga jam berbeda selama sepekan. Dari sini terbaca berapa jam cahaya langsung yang sungguh tersedia di tiap titik.

  3. 03

    Empat lingkar jangkauan ditetapkan

    Pekan 3

    Isi tiap lingkar diputuskan bersama, dan letak wadah pengomposan ditentukan dari jalur yang memang Anda lewati tiap hari.

  4. 04

    Perlakuan air pertama terpasang

    Pekan 4

    Satu penghalang rendah dan satu jalur resapan dikerjakan di pertemuan itu juga, lalu diuji pada hujan berikutnya lewat foto yang Anda kirim.

  5. 05

    Pengomposan mulai diisi di jalur harian

    Pekan 5

    Wadah berdiri di jalur harian, karung bahan kering menempel di sebelahnya, dan isian pertama sudah dibenamkan ke bagian tengah.

  6. 06

    Lapis bawah dan tengah ditanam

    Pekan 6

    Penutup permukaan dan sayur setinggi lutut masuk lebih dulu, dipilih dari daftar yang cocok dengan jam cahaya halaman Anda.

  7. 07

    Rambatan dan rumpun tahunan menyusul

    Pekan 7

    Para-para dipasang sesudah sisa cahaya terukur, dan rumpun tahunan ditanam di lingkar yang jarang didatangi.

  8. 08

    Peninjauan ulang sesudah satu musim hujan

    Pekan 8

    Gambar survei dibuka lagi, jalur air diperiksa ulang, dan bagian rancangan yang meleset diperbaiki memakai catatan yang sudah ada.

Les permakultur Surabaya dimulai dari mengamati lahan

Permakultur adalah cara merancang tempat supaya sebagian pekerjaannya hilang. Orang yang baru mendengar namanya biasanya mengira ia sekumpulan teknik berkebun, dan salah paham itulah yang membuat banyak halaman di Surabaya penuh pot pada bulan ketiga lalu terbengkalai pada bulan kelima. Yang menghabiskan tenaga jarang berupa kegiatan menanamnya sendiri. Tenaga habis di penyiraman sudut yang salah, di pot yang digeser tiap siang karena kepanasan, dan di sisa dapur yang diangkut ke depan rumah setiap pagi.

Kelas ini dibuka dari titik lain. Sebelum satu pun tanaman dibeli, tutor dan peserta berdiri di halaman dan mengamati apa yang sudah ada di sana. Pengamatan itu punya bentuk yang bisa dikerjakan: ke mana air pergi saat hujan turun deras, di mana genangan bertahan sampai esok pagi, jam berapa sudut mana masih kena matahari, dan dari arah mana angin serta bau datang. Empat pertanyaan itu dijawab dengan mata dan catatan tertulis, sementara tebakan disisihkan.

Rancangan yang lahir dari jawabannya menghemat bertahun-tahun kerja yang salah tempat. Tanaman yang duduk di sudut yang tepat menuntut jauh lebih sedikit perhatian tiap pekan, dan pekerjaan yang tersisa jatuh ke satu jalur pendek dari pintu dapur. Les permakultur Edubia menjalankan urutan itu satu per satu di halaman peserta sendiri, dengan biaya mulai Rp303.800 per sesi 90 menit.

Yang tutor kerjakan di sesi permakultur pertama

Pertemuan pembuka berjalan di luar ruangan hampir seluruhnya. Tutor mengukur panjang dan lebar lahan dengan meteran gulung, lalu menggambarnya di kertas berpetak memakai skala yang disepakati bersama peserta. Gambarnya memang sederhana, dan justru karena sederhana ia bisa dicoret berkali-kali tanpa membuat peserta enggan mengubah rencananya.

Sesudah bentuk lahan tergambar, dua hal ditandai di atasnya. Pertama, arah mata angin, yang menentukan sisi mana menerima panas siang dan sisi mana tinggal teduh sepanjang hari. Kedua, kemiringan permukaan, sekecil apa pun, sebab kemiringan itulah yang menentukan ke arah mana air berjalan begitu hujan turun. Di halaman berpaving, kemiringan diperiksa dengan menuang seember air lalu menonton ke mana ia mengalir.

Peserta menutup sesi ini dengan satu tugas pengamatan yang ringan: memotret sudut halaman yang sama pada tiga jam berbeda selama sepekan. Foto itu jadi bahan pertemuan berikutnya, dan ia mengubah percakapan dari saling berpendapat menjadi membaca catatan. Tutor Edubia menyusun jadwal kunjungan mengikuti jam ketika Anda benar-benar bisa berdiri di halaman, sebab pengamatan mustahil diwakilkan.

Sesi survei menghasilkan enam catatan tetap, dan keenamnya ditulis di gambar yang sama supaya bisa dibaca berdampingan. Catatan ini yang nanti dipakai memutuskan letak tiap benda, sehingga percakapan soal tanaman apa yang ditanam sengaja ditunda sampai keenamnya lengkap. Peserta menyimpan salinannya, dan salinan itu tetap berguna bertahun-tahun sesudah kelas berakhir sebab lahannya tidak berpindah.

Lebih dekat

Enam catatan yang tutor buat sambil mengelilingi lahan

Jalur air saat hujan deras

Arah aliran ditandai dengan panah di gambar, dari titik air jatuh sampai titik ia keluar pagar. Di halaman rata, arah itu diperiksa dengan menumpahkan air dari ember.

Titik genangan yang bertahan semalam

Genangan yang masih ada keesokan pagi menandai lapisan padat di bawah permukaan. Titik seperti ini dicoret dari daftar calon tempat menanam sayur berakar dalam.

Jam bayangan di tiap sudut

Peserta memotret sudut yang sama pukul delapan pagi, dua belas siang, dan empat sore. Tiga foto itu memberi tahu berapa jam cahaya langsung yang benar-benar tersedia.

Arah angin dan bau yang masuk

Angin sore dari satu sisi mengeringkan daun lebih cepat, dan bau dari saluran menentukan sisi mana yang tidak dipakai menaruh wadah pengomposan.

Permukaan yang sudah tertutup keras

Paving, cor, dan keramik dihitung luasnya. Angka itu memberi tahu berapa banyak air yang selama ini langsung terbuang tanpa sempat turun ke bawah.

Sumber air yang sudah ada di rumah

Keran belakang, air bekas cucian beras, dan mulut talang dicatat letaknya. Ketiganya jadi bahan pertimbangan sebelum peserta membeli tandon baru.

Biaya les permakultur privat per sesi di Surabaya

Biaya les permakultur Edubia mulai Rp303.800 per sesi untuk pertemuan 90 menit di alamat peserta. Panjang 90 menit dipilih karena separuh awal sesi ini habis di luar ruangan: berjalan mengelilingi lahan, mencatat arah bayangan, dan menandai ke mana air pergi. Separuh sisanya baru dipakai duduk menggambar ulang rencananya. Pertemuan 60 menit memaksa salah satu dari dua bagian itu dipotong, dan bagian yang terpotong selalu bagian yang berguna.

Peserta yang lahannya lebih luas atau bertingkat kerap memilih pertemuan 120 menit, dan tarifnya Rp374.600 per sesi. Pilihan itu wajar untuk rumah dengan halaman depan, gang samping, dan dak atas yang ketiganya perlu diukur dalam satu kunjungan. Angka per sesi disepakati di percakapan pertama bersama jumlah pertemuan sebulan, sehingga Anda tahu besarnya sebelum tutor berangkat.

Sesi yang digelar di co-learning space Edubia menambah Rp15.000 per sesi untuk tiap peserta. Tambahan itu dihitung terpisah dari tarif program dan hanya berlaku bila Anda memang memilih belajar di sana. Kunjungan tutor ke rumah tidak menambah biaya apa pun, dan itu memang bentuk yang dipakai hampir seluruh peserta permakultur karena lahannya ada di rumah.

Kelas menyusun halaman menurut seberapa sering disentuh

Aturan penataan yang dipakai permakultur sederhana sekali dan jarang dijalankan orang: letakkan sesuatu menurut seberapa sering ia disentuh. Yang dipetik hampir tiap hari duduk sedekat mungkin dengan pintu dapur. Yang diurus sepekan sekali boleh mundur beberapa langkah. Yang disentuh setahun sekali diletakkan di titik terjauh yang masih terjangkau, dan bila titik seperti itu tidak tersedia, benda tersebut memang tak perlu ada di halaman rumah kota.

Di rumah Surabaya aturan ini berganti satuan. Halaman selebar mobil tak punya jarak puluhan meter untuk dibagi, jadi yang dibagi adalah jumlah langkah dan jumlah pintu yang harus dibuka. Daun bawang dan cabai rawit yang diambil saat memasak diletakkan di rak dinding tepat di sisi pintu dapur. Wadah pengomposan diletakkan di jalur yang sudah Anda lewati tiap hari, sebab wadah yang menuntut jalan memutar akan berhenti dipakai dalam dua pekan.

Tutor mengujinya bersama peserta dengan cara yang terdengar sepele tapi jujur: berjalan dari kompor ke tiap tanaman sambil menghitung langkah. Angka langkah itu yang menentukan tata letak. Sesudah tersusun, penyiraman pagi berhenti menjadi kegiatan tersendiri dan menempel pada pekerjaan yang memang sudah rutin Anda lakukan.

Penataan menurut frekuensi diterjemahkan jadi empat lingkar yang batasnya diukur dalam langkah, sebab halaman rumah kota tidak cukup luas untuk dibagi dalam meter. Tutor menandai keempatnya di gambar hasil survei, lalu peserta mengisi tiap lingkar dengan benda yang memang pantas duduk di sana. Isi lingkar boleh berubah sesudah satu musim berjalan, dan perubahan itu memang diharapkan.

Catatan penting

Empat lingkar jangkauan yang dibahas di sesi kedua

Lingkar pertama, sejangkauan tangan dari pintu

Bumbu yang diambil sambil memasak: daun bawang, seledri, cabai rawit, dan kemangi. Rak dinding atau pot gantung cukup, dan penyiramannya menempel pada kegiatan mencuci piring.

Lingkar kedua, sekitar sepuluh langkah dari dapur

Sayur daun yang dipanen dua sampai tiga kali sepekan, ditambah wadah pengomposan. Keduanya diletakkan di jalur yang sudah dilewati tiap hari supaya tidak terlupakan.

Lingkar ketiga, sudut yang diurus sepekan sekali

Tanaman berbuah yang menuntut cahaya panjang dan perlakuan berkala, misalnya tomat dan terung. Sudut ini dipilih dari catatan jam bayangan, sesudah ruang yang tersisa diperiksa cukup terang.

Lingkar keempat, dak dan pagar yang jarang didatangi

Tanaman tahunan berkayu, tandon air, dan rambatan peneduh. Ketiganya bekerja sendiri berbulan-bulan dan hanya menuntut pemeriksaan sesekali.

Membaca pengaruh dari luar pagar bersama tutor

Sebagian besar hal yang menentukan nasib halaman datang dari luar batas lahan, dan tak satu pun bisa dipindahkan: matahari sore yang memanggang dinding barat, debu dari jalan besar, air yang tumpah dari talang tetangga, bau saluran, suara bengkel di seberang. Permakultur menanganinya lewat penempatan, yaitu penahan dipasang di sisi tempat pengaruh itu datang dan bukaan disisakan di sisi yang menguntungkan.

Di Surabaya sisi barat hampir selalu lebih berat daripada sisi lain. Dinding yang menghadap ke sana menyimpan panas sampai malam, dan tanaman yang menempel padanya layu meski disiram dua kali sehari. Perlakuannya lapis peneduh: rambatan berdaun lebar dipasang sejengkal dari tembok supaya ada rongga udara di antara daun dan permukaan panas. Sisi timur dibiarkan terbuka, sebab cahaya pagi jauh lebih lunak untuk daun muda.

Tetangga masuk hitungan dengan cara yang jarang dibicarakan kursus berkebun. Talang rumah sebelah menambah air yang harus ditampung, dan pohon besar di pekarangan seberang bisa menghapus tiga jam cahaya di sudut yang Anda rencanakan untuk sayur berbuah. Tutor mencatat keduanya di gambar yang sama.

Air lebih dulu daripada tanaman di kelas permakultur

Urutan yang dipakai permakultur menempatkan air sebelum tanaman, dan urutan itu terasa terbalik bagi orang yang sudah terlanjur membeli bibit. Alasannya bisa diperiksa sendiri di halaman mana pun di Surabaya. Hujan di kota ini datang deras dalam waktu pendek: langit tumpah dua puluh menit lalu berhenti berhari-hari. Halaman yang dirancang untuk membuang air kehilangan seluruh curah itu dalam dua puluh menit, lalu kering sepanjang sisa pekannya sementara pemiliknya menyiram dari keran.

Tiga perbuatan diajarkan berurutan: memperlambat, menyebarkan, meresapkan. Air yang berlari cepat di permukaan keras diperlambat oleh penghalang rendah yang dipasang melintang arah alirannya. Air yang sudah pelan disebarkan supaya tidak berkumpul di satu titik lalu membusukkan akar tanaman di sana. Air yang sudah tersebar diberi tempat untuk turun: bidang berlubang, bedeng yang permukaannya sedikit cekung, atau jalur setapak berkerikil yang meloloskan air ke bawah.

Di halaman berpaving penuh, pekerjaan pertamanya justru membongkar sedikit. Satu jalur selebar dua telapak yang pavingnya diangkat lalu diganti kerikil sudah mengubah nasib air di halaman itu. Peserta yang menyewa rumah dan tak boleh membongkar apa pun mendapat jalan lain: bak rendah yang diletakkan persis di titik air berkumpul, dan tutor menghitung letaknya dari catatan hujan pertemuan sebelumnya.

Ketiga perlakuan di bawah dipasang berurutan dari titik air jatuh menuju titik ia keluar pagar, dan urutannya tidak boleh dibalik. Memperlambat lebih dulu, menyebarkan sesudahnya, meresapkan terakhir. Peserta memasang bentuk ringkasnya di sesi yang sama, lalu memotret halamannya pada hujan berikutnya untuk dibahas di pertemuan sesudah itu.

Selengkapnya

Tiga perlakuan hujan deras yang dilatih tiap sesi

Memperlambat aliran di permukaan keras

Bilah kayu rendah, deretan batu, atau bibir bedeng yang dipasang melintang arah aliran. Air yang melambat punya waktu untuk turun sebelum ia mencapai saluran.

Menyebarkan supaya tak berkumpul di satu titik

Alur dangkal yang membelokkan air ke beberapa arah. Satu titik yang menerima seluruh curah akan padat dan asam, sementara sekelilingnya tetap kering.

Meresapkan lewat bidang yang dibuka

Jalur kerikil, lubang berisi serasah, atau bedeng cekung berlapis mulsa. Bidang seperti ini menyimpan air di bawah permukaan sampai beberapa hari sesudah hujan reda.

Memanen air atap rumah di sesi keempat

Atap menangkap air jauh lebih banyak daripada bidang lain di rumah, dan hampir semua rumah di Surabaya mengalirkan seluruh tangkapan itu ke saluran depan dalam hitungan menit. Sesi ini membalik arahnya. Yang dikerjakan bersama tutor adalah menelusuri talang dari ujung ke ujung, menandai kemiringannya, lalu mencari titik terdekat yang sanggup menampung sebelum air sempat pergi.

Tiga hal diperiksa sebelum wadah penampung dipilih. Pertama, bahan penutup atap: genteng tanah liat, seng, dan dak beton meninggalkan kotoran yang berbeda pada air yang lewat. Kedua, pembuangan curah pertama, yaitu bagian awal hujan yang membawa debu serta kotoran burung dan sengaja dibuang sebelum sisanya masuk. Ketiga, penutup rapat pada lubang masuk dan lubang luber, sebab wadah air terbuka di kota ini berubah jadi tempat nyamuk berkembang dalam sepekan.

Ukuran penampung ditentukan bersama, dan angkanya diturunkan dari dua hal yang berbeda tiap rumah: luas bidang atap Anda dan berapa hari kering yang ingin ditutup di antara dua hujan. Tutor menghitungnya di kertas yang sama dengan gambar survei, jadi peserta pulang membawa angka miliknya sendiri. Air tangkapan ini dipakai menyiram dan mencuci alat, sementara pemakaian untuk minum berada di luar bahasan kelas.

Satu unsur beberapa pekerjaan di kelas kelima

Dua aturan berpasangan diajarkan di pertemuan ini, dan keduanya terdengar sederhana sampai dicoba di halaman sungguhan. Aturan pertama: satu benda sebaiknya mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus. Aturan kedua: satu pekerjaan penting sebaiknya ditopang lebih dari satu benda. Aturan pertama menghemat tempat, dan tempat adalah barang langka di rumah kota. Aturan kedua menahan rancangan supaya tidak runtuh gara-gara satu benda rusak.

Contohnya bisa ditunjuk di halaman peserta sendiri. Rambatan yang dipasang di sisi barat meneduhkan dinding, menghasilkan sayur, menutup pemandangan ke tembok tetangga, dan menahan angin berdebu dari arah jalan. Empat pekerjaan dikerjakan satu bangunan bambu. Sementara itu air untuk menyiram ditopang tiga sumber sekaligus: tangkapan atap, air bekas mencuci beras, dan keran belakang. Bila penampung kosong pada pekan kering, dua sumber sisanya masih bekerja.

Tutor melatihnya sebagai kebiasaan bertanya, dan pertanyaannya cuma dua. Benda ini mengerjakan apa saja? Pekerjaan ini ditopang apa lagi? Peserta yang terbiasa dengan dua pertanyaan itu berhenti membeli perkakas kebun yang cuma punya satu guna, dan halaman sempitnya berhenti penuh sesak oleh barang yang jarang dipakai.

Membangun tanah dari sisa dapur bersama pendamping

Halaman perumahan di Surabaya kerap berdiri di atas urukan yang dipadatkan alat berat, bercampur pecahan bangunan, nyaris tanpa bahan organik. Mendatangkan satu truk media subur bisa saja, tetapi isinya habis dalam dua musim bila pengelolaannya tak berubah. Kelas ini membangunnya kembali dari bahan yang sudah ada di rumah: sisa sayur, kulit buah, ampas kopi, daun kering, potongan rumput.

Perbandingan bahan basah dan kering menentukan bau. Sisa dapur yang basah membusuk cepat tanpa udara, dan itulah asal bau asam yang membuat tetangga mengetuk pintu. Bahan kering seperti daun, serbuk gergaji, dan potongan kardus menyisipkan rongga udara di antaranya. Aturan praktisnya: tiap satu takaran sisa dapur ditutup takaran bahan kering yang setara, lalu dibenamkan ke bagian tengah wadah.

Di kepadatan kota, dua hal diperlakukan serius. Wadah selalu bertutup rapat supaya lalat tak sempat bertelur di permukaan, dan air rembesan dari dasar wadah ditampung lalu diencerkan sebelum disiramkan. Peserta yang ingin memahami mengapa jasad renik bekerja secepat itu pada bahan yang tercacah halus bisa mendalaminya lewat les biologi privat di Surabaya, sementara kelas ini berhenti pada perlakuan yang bisa langsung dikerjakan sore itu.

Kelas menanam bersusun supaya cahaya terbagi

Halaman rumah kota jarang menerima cahaya langsung sepanjang hari. Yang tersedia biasanya beberapa jam saja, dan jumlah jamnya berbeda di tiap sudut. Menyusun tanaman bersusun berarti menempatkan yang tinggi, yang setinggi lutut, dan yang menutup permukaan pada satu bidang yang sama, dengan urutan yang ditentukan oleh berapa banyak cahaya yang dituntut masing-masing.

Susunan yang lazim dipakai di halaman sempit berisi tiga lapis. Lapis atas berupa rambatan yang naik ke para-para: labu siam, markisa, atau kacang panjang. Lapis tengah berupa sayur berbuah dan sayur daun yang berdiri sendiri di bedeng atau pot besar. Lapis bawah berupa tanaman yang merambat mendatar dan menutup permukaan supaya air tak menguap cepat dari sana. Ketiganya berbagi bidang yang sama, dan bidang itu memberi hasil lebih banyak daripada satu lapis pot berjajar.

Kesalahan yang sering terjadi memasang lapis atas lebih dulu lalu menyesalinya, sebab rambatan yang terlanjur rimbun membuat lapis bawah kekurangan cahaya sepanjang musim. Tutor membalik urutan pemasangan: lapis bawah dan tengah ditanam dulu, rambatan menyusul sesudah terlihat berapa jam cahaya yang masih tersisa. Peserta yang lahannya cuma menerima tiga jam cahaya langsung diarahkan ke daftar sayur daun, dan arahan itu jujur meski terdengar membatasi.

Jadwal tanam tanaman tahunan sebagai penopang kebun

Tanaman musiman menuntut penanaman ulang tiap beberapa bulan, dan di situlah sebagian besar tenaga habis. Permakultur menaruh tanaman tahunan sebagai penopang utama: sekali ditanam, dipanen bertahun-tahun, dan tak menuntut pembongkaran bedeng tiap musim. Di Surabaya pilihan yang bertahan pada panas sepanjang tahun cukup banyak, dari katuk, kelor, dan kemangi berkayu sampai serai, jahe, serta pandan.

Perbandingannya bisa dihitung peserta sendiri. Bedeng musiman menuntut pengolahan media, penyemaian, pemindahan, dan pembersihan tiap siklus. Rumpun serai yang sudah berdiri menuntut pemotongan sesekali dan pemberian bahan organik dua kali setahun. Halaman yang isinya sebagian besar tanaman tahunan tetap berjalan pada pekan-pekan sibuk, dan itulah bentuk nyata dari pekerjaan yang hilang.

Urutan tanam yang dipakai kelas ini menaruh tanaman tahunan lebih dulu di lingkar ketiga dan keempat, sebab keduanya menentukan bentuk halaman untuk waktu yang panjang dan sulit dipindahkan sesudah berakar. Sayur musiman baru mengisi ruang yang tersisa di lingkar pertama dan kedua. Peserta yang membalik urutan ini biasanya harus membongkar dua kali, dan pembongkaran kedua terjadi ketika rumpun tahunan sudah terlanjur besar.

Tutor permakultur Edubia berangkat dari kantor di Tegalsari dan mengukur lahan di kecamatan mana pun di kota ini, ditambah beberapa kecamatan di kabupaten sebelah. Bentuk lahan berbeda menurut wilayahnya, dan perbedaan itu mengubah isi pertemuan pembuka. Enam kelompok wilayah di bawah menggambarkan apa yang biasanya ditemui tutor begitu tiba di lokasi, sekaligus jadi bahan pertimbangan saat Anda menyusun jam kunjungan.

Garis besar

Kecamatan tempat tutor permakultur sudah mengukur lahan

Gubeng, Tegalsari, dan Genteng

Kampung kota rapat dengan halaman berukuran teras dan dinding yang menempel ke rumah sebelah. Rancangan di sini banyak memakai bidang tegak dan dak atas, sebab bidang mendatarnya hampir habis.

Rungkut, Gunung Anyar, dan Tenggilis Mejoyo

Perumahan yang berdiri di atas urukan padat. Pertemuan pembuka biasanya dipakai memeriksa kedalaman lapisan keras dan memutuskan bedeng dinaikkan atau lapisan itu dibuka.

Sukolilo dan Mulyorejo

Sisi timur yang menerima angin bergaram dari arah laut. Penahan angin dipasang lebih rapat, dan pilihan tanaman condong ke jenis berdaun tebal yang tahan hembusan asin.

Wiyung, Lakarsantri, dan Jambangan

Halaman sisi barat daya yang umumnya lebih lapang dan sering berkontur. Kemiringan tanah dimanfaatkan untuk mengalirkan air ke bedeng bawah tanpa pompa.

Tandes, Benowo, dan Pakal

Wilayah barat dengan lalu lintas berat dan debu jalan yang mudah menempel di daun. Sesi banyak membahas lapis penyaring debu dan letak wadah pengomposan yang jauh dari bukaan rumah.

Waru, Gedangan, dan Buduran

Sisi Sidoarjo yang berbatasan langsung dengan kota. Banyak peserta di sini punya halaman belakang memanjang, dan lahan sempit memanjang menuntut penataan lingkar yang berbeda.

Jadwal sesi permakultur dan cara menggesernya

Sesi permakultur terikat pada dua hal yang tak bisa dipesan: cahaya dan cuaca. Pengukuran bayangan menuntut matahari yang benar-benar ada, sementara pemeriksaan jalur air justru menuntut hujan. Karena itu jadwal kelas ini disusun agak berbeda dari les yang berlangsung di meja. Pertemuan survei diletakkan pada jam ketika halaman Anda sedang terang, dan satu pertemuan sengaja disiapkan sebagai cadangan yang dipanggil begitu hujan deras pertama turun.

Sebagian besar peserta mengambil empat pertemuan sebulan, satu tiap pekan, dan jeda tujuh hari itu memang berguna sebab tugas pengamatan menuntut waktu berjalan. Peserta yang ingin merampungkan rancangan lebih cepat mengambil delapan pertemuan sebulan, dan pertemuan tambahannya biasanya dipakai untuk pekerjaan tangan seperti memasang penahan aliran atau menyiapkan wadah pengomposan.

Pemindahan jadwal disampaikan lewat percakapan WhatsApp ke 0821-3617-6381, dan tim menggeser slotnya ke hari lain di pekan yang sama selama masih tersedia. Bila Anda sedang berada di luar kota, sesi berjalan online: tutor membaca foto dan rekaman halaman yang Anda kirim, lalu keduanya menggambar bersama di satu berkas. Bentuk itu bekerja untuk sesi rancangan, sementara sesi pengukuran tetap menuntut kehadiran.

Kalau tutor permakultur terasa belum cocok

Permakultur dikerjakan di lahan milik peserta, dan itu membuat kecocokan cara mendampingi terasa lebih cepat daripada di kelas mana pun. Pendamping yang buru-buru menyimpulkan tanpa mengukur, atau yang mengarahkan Anda memborong perkakas di pertemuan pertama, sudah bisa dikenali sejak sesi pembuka. Edubia menaruh jalan keluarnya di depan supaya Anda tak perlu menunggu sampai sebulan berlalu.

Mekanismenya pendek. Sampaikan keberatannya sesudah pertemuan berjalan, sebutkan bagian mana yang terasa meleset, lalu tutor bisa diganti tanpa biaya tambahan. Hitungan pertemuan yang sudah berjalan tetap dihitung apa adanya dan tak diulang dari nol. Gambar survei, catatan bayangan, dan angka ukuran lahan Anda diserahkan kepada pendamping berikutnya, jadi pekerjaan pengukuran tak perlu dikerjakan dua kali.

Sebelum memutuskan, banyak calon peserta lebih dulu menghitung sendiri di kalkulator biaya Edubia untuk melihat bagaimana panjang sesi dan jumlah pertemuan menggeser angka bulanannya. Pertanyaan yang tersisa sesudah itu biasanya soal lahan, dan pertanyaan semacam itu justru menyenangkan dibawa ke formulir pendaftaran les permakultur.

Uraian

Yang peserta bawa pulang dari kelas permakultur

Empat hasil yang tetap terpakai bertahun-tahun sesudah pertemuan terakhir.

01

Gambar lahan berskala berikut catatan arahnya

Satu lembar berisi ukuran, arah mata angin, jalur air, dan jam bayangan tiap sudut. Lembar ini yang dibuka tiap kali Anda hendak menambah sesuatu di halaman.

02

Urutan pemasangan yang bisa dikerjakan bertahap

Daftar pekerjaan yang tersusun menurut apa yang harus berdiri lebih dulu, sehingga anggaran boleh dipecah ke beberapa bulan tanpa merusak rancangannya.

03

Wadah pengomposan yang sudah berjalan

Bukan rencana di kertas: wadahnya berdiri, terisi, dan sudah melewati koreksi pertama soal perbandingan bahan basah dan bahan kering.

04

Daftar tanaman yang cocok dengan jam cahaya Anda

Disusun dari catatan bayangan halaman peserta sendiri, jadi isinya berbeda antara rumah yang menerima enam jam cahaya dan rumah yang menerima tiga jam.

Ketujuh langkah di bawah dikerjakan bersama tutor dalam satu pertemuan, memakai wadah dan bahan yang sudah ada di rumah peserta. Urutannya sengaja dimulai dari letak wadah, sebab wadah yang salah letak akan berhenti dipakai jauh sebelum isinya matang. Sesudah pertemuan ini peserta mengirim foto isi wadah dua pekan sekali, dan tutor menjawab dengan koreksi pendek soal perbandingan bahan.

Inti bahasan

Tujuh langkah pengomposan yang tutor dampingi di rumah

Empat langkah sederhana, dari daftar sampai belajar bareng tutor pilihan.

  1. 1Tentukan letak wadah di jalur harian Anda

    Titiknya dipilih dari catatan lingkar jangkauan, sementara pojok belakang yang jarang dilewati disisihkan. Wadah yang menuntut jalan memutar berhenti diisi dalam dua pekan.

  2. 2Pilih wadah bertutup rapat dengan dasar berlubang

    Tutup menahan lalat dan air hujan, lubang dasar mengeluarkan rembesan. Ember cat bekas berukuran sedang sudah memadai untuk dapur satu keluarga.

  3. 3Buat lubang udara kecil di sisi wadah

    Deretan lubang sebesar pensil di dua sisi menjaga udara tetap masuk. Tanpa udara, isi wadah berubah asam dan baunya menyebar ke rumah tetangga.

  4. 4Siapkan simpanan bahan kering di sebelahnya

    Karung berisi daun kering atau potongan kardus diletakkan menempel pada wadah. Bahan kering yang jauh letaknya berarti bahan kering yang tak jadi dipakai.

  5. 5Cacah sisa dapur sebelum dimasukkan

    Potongan yang lebih kecil melipatgandakan permukaan yang bisa disentuh jasad renik. Batang keras dan tulang disisihkan karena keduanya bertahan jauh lebih lama.

  6. 6Benamkan bahan basah ke bagian tengah

    Sisa dapur yang tergeletak di permukaan mengundang lalat dalam hitungan jam. Gali sedikit ke tengah, masukkan, lalu tutup kembali dengan bahan yang sudah ada di sana.

  7. 7Periksa bau dan kelembapan tiap tiga hari

    Bau asam menandakan kurang udara dan kurang bahan kering. Isi yang kering dan tak berubah menandakan kurang air. Keduanya diperbaiki di hari yang sama sebelum berlarut.

Rincian

Cara mendaftar kelas permakultur di Edubia

Empat langkah sederhana, dari daftar sampai belajar bareng tutor pilihan.

  1. 1Kirim alamat dan bentuk lahan Anda

    Sebutkan kecamatan, perkiraan ukuran halaman, dan apakah ada dak atau atap yang bisa dipakai. Tiga keterangan itu sudah cukup untuk memilihkan pendamping yang tepat.

  2. 2Sepakati panjang sesi dan jumlah pertemuan

    Pertemuan 90 menit mulai Rp303.800 per sesi, dan 120 menit Rp374.600 per sesi. Jumlah pertemuan sebulan ditetapkan di percakapan yang sama.

  3. 3Tentukan jam kunjungan yang halamannya terang

    Sesi survei menuntut cahaya, jadi jam dipilih dari waktu ketika Anda bisa berada di rumah dan matahari masih menyentuh halaman.

  4. 4Siapkan meteran dan telepon genggam sebelum tutor tiba

    Dua benda itu saja. Perkakas kebun dan tanaman sengaja belum dibeli sampai gambar rancangan pertama selesai dibahas bersama.

Tanya jawab

Berapa biaya dan bagaimana jadwal les permakultur?

Kenapa sesi permakultur pertama dipakai mengukur dan belum menanam?

Karena letak menentukan lebih banyak hal daripada jenis tanamannya. Sudut yang cuma menerima dua jam cahaya akan mematikan tanaman berbuah apa pun yang Anda beli, dan titik tempat air berkumpul akan membusukkan akar meski medianya bagus. Satu pertemuan 90 menit untuk mengukur menghemat berbulan-bulan penanaman ulang, dan tutor menutup sesi itu dengan gambar berskala yang tetap terpakai bertahun-tahun.

Berapa biaya les permakultur privat per sesi di Surabaya?

Mulai Rp303.800 per sesi untuk pertemuan 90 menit di alamat Anda, dan Rp374.600 per sesi untuk pertemuan 120 menit yang biasanya dipilih pemilik lahan luas atau bertingkat. Kunjungan tutor ke rumah tak menambah biaya apa pun. Bila Anda memilih belajar di co-learning space Edubia, ada tambahan Rp15.000 per sesi untuk tiap peserta yang dihitung terpisah dari tarif program.

Halaman saya cuma selebar mobil. Masih ada yang bisa dirancang di situ?

Lahan sempit justru yang terbantu penataan, sebab tiap langkah dan tiap jam cahaya jadi berharga. Di halaman sebesar itu tutor bekerja dengan tiga bidang sekaligus: permukaan mendatar yang tersisa, dinding yang bisa dipasangi rak dan rambatan, serta pagar yang bisa menopang tanaman merambat. Rancangannya memakai satuan langkah, dan hasil rancangan itu tetap muat di halaman yang ada.

Saya menempati rumah petak tanpa halaman dan hanya punya dak. Apakah kelas ini tetap berjalan?

Berjalan, dan bahasannya bergeser ke persoalan yang khas dak beton: panas permukaan, beban yang boleh ditanggung, serta air yang harus diarahkan supaya tak menggenang. Wadah tanam dinaikkan dari lantai memakai penyangga rendah, penampung air atap diletakkan di sisi yang dekat talang, dan tanaman dipilih dari jenis yang tahan panas siang. Pengukuran tetap dikerjakan seperti di halaman biasa.

Media di perumahan saya bekas urukan dan keras sekali. Bagaimana kelas menanganinya?

Pertemuan pembuka dipakai memeriksa seberapa dalam lapisan padatnya, dengan menancapkan besi tipis di beberapa titik dan mencatat kedalaman yang bisa ditembus. Dari situ dipilih dua jalan: membuka lapisan itu di jalur sempit saja, atau menaikkan bedeng di atasnya. Perbaikan berikutnya berjalan lewat pemberian bahan organik hasil pengomposan, dan itulah alasan wadah kompos dipasang sejak pekan kelima.

Hujan di sini turun deras lalu berhenti berhari-hari. Apa yang dikerjakan rancangan terhadap pola itu?

Pola semacam itu menuntut halaman menahan air, sementara sebagian besar halaman kota dibangun untuk membuangnya secepat mungkin. Yang dipasang berurutan: penghalang rendah yang memperlambat aliran, alur dangkal yang menyebarkannya, lalu bidang berkerikil atau bedeng cekung yang meloloskannya ke bawah. Ditambah penampung air atap, curah dua puluh menit itu masih terpakai beberapa hari sesudah langit berhenti.

Apakah pengomposan di rumah padat penduduk akan mengundang bau dan lalat?

Bau dan lalat muncul dari dua sebab yang keduanya bisa dikendalikan: isian yang hanya basah tanpa bahan kering, dan sisa dapur yang tergeletak di permukaan. Perlakuannya berupa wadah bertutup rapat, lubang udara di sisinya, karung bahan kering yang menempel di sebelahnya, serta kebiasaan membenamkan isian baru ke bagian tengah. Tutor memasang keempatnya bersama peserta dalam satu pertemuan.

Berapa lama pengamatan lahan berjalan sebelum rancangannya bisa dipakai?

Rancangan kerja pertama sudah bisa dipakai sesudah empat pertemuan, sebab pengukuran, catatan bayangan sepekan, dan satu kejadian hujan biasanya cukup untuk menentukan letak. Pengamatan sendiri idealnya menempuh satu putaran musim penuh, dan itu sebabnya pertemuan peninjauan diletakkan sesudah musim hujan pertama lewat. Rancangannya memang disusun supaya bisa dikoreksi, tanpa membongkar apa yang sudah berdiri.

Tutor mengajar pada jam berapa saja, dan bagaimana bila sesi perlu digeser?

Sesi survei diletakkan pada jam ketika halaman Anda masih terang, jadi rentang pagi sampai sore yang tersering dipakai; sesi rancangan yang berlangsung di meja bisa berjalan sampai malam. Pemindahan disampaikan lewat WhatsApp ke 0821-3617-6381, dan tim menggeser slotnya ke hari lain pada pekan yang sama selama masih tersedia.

Kecamatan mana saja yang sudah didatangi tutor permakultur Edubia?

Kunjungan sudah berjalan di kampung rapat seperti Gubeng dan Genteng, perumahan berurukan padat di Rungkut serta Gunung Anyar, sisi timur berangin asin di Sukolilo dan Mulyorejo, halaman berkontur di Wiyung dan Lakarsantri, wilayah berdebu di Tandes dan Benowo, sampai halaman memanjang di Waru serta Gedangan. Kecamatan lain tetap dilayani; sebutkan alamat Anda saat menanyakan jadwal.

Apa yang terjadi bila cara mendampingi tutor terasa belum cocok?

Sampaikan keberatannya sesudah pertemuan berjalan dan sebutkan bagian mana yang terasa meleset. Tutor bisa diganti tanpa biaya tambahan, dan hitungan pertemuan yang sudah berjalan tetap dihitung apa adanya. Gambar survei, catatan bayangan, dan angka ukuran lahan Anda diserahkan kepada pendamping berikutnya, jadi pengukuran tak perlu dikerjakan untuk kedua kalinya.

Perlukah saya membeli tanaman atau perkakas sebelum kelas dimulai?

Belum perlu, dan menahannya justru bagian dari cara kerja kelas ini. Pembelian yang mendahului pengukuran hampir selalu berakhir di sudut yang salah. Yang disiapkan peserta cuma dua: meteran gulung bila punya, dan telepon genggam untuk memotret sudut halaman. Daftar belanja disusun sesudah gambar rancangan pertama selesai dibahas, dan isinya biasanya jauh lebih pendek daripada yang Anda bayangkan.

Bisakah sesi permakultur berjalan online kalau saya sedang di luar kota?

Bisa untuk sesi rancangan. Anda mengirim foto dan rekaman halaman, tutor membacanya, lalu keduanya menggambar bersama di satu berkas yang sama. Yang tidak bisa diwakilkan adalah sesi pengukuran: kemiringan permukaan, arah aliran air, dan kedalaman lapisan padat menuntut orang berdiri di lokasi. Karena itu peserta luar kota biasanya menyusun satu kunjungan panjang 120 menit lalu melanjutkannya online.

Apa bedanya kelas ini dengan kursus berkebun biasa?

Kursus berkebun mengajarkan cara merawat tanaman; kelas ini mengajarkan cara menata tempat supaya perawatannya berkurang. Bahasannya berhenti sebelum tanaman dibeli: arah matahari, jalur air, jumlah langkah dari dapur, dan pengaruh yang datang dari luar pagar. Tanaman tetap dibahas, dan pembahasannya jatuh di pertemuan ketujuh sesudah semua ukuran lahan Anda tercatat.

Siap Bergabung

Tanyakan biaya dan jadwal les permakultur lebih dulu

Sejak sesi pertama, tutor permakultur menyesuaikan materi dengan level dan target Anda di Surabaya.

4,9/5 · 1.200 ulasan peserta di Surabaya