4,9/5 · 1.200 ulasan · Pemula sampai Lanjut
Les Seni Pedalangan di Surabaya
Les seni pedalangan Edubia di Surabaya melatih satu orang menjalankan seluruh pertunjukan: menggerakkan wayang, menyuarakan tiap tokoh, memberi aba-aba kepada penabuh, dan menjaga cerita tetap berjalan. Sesi privat 90 menit di rumah, mulai Rp171.500 per sesi.
Les Seni Pedalangan di Surabaya: gambaran singkatnya
Les seni pedalangan Edubia di Surabaya melatih satu orang menjalankan seluruh pertunjukan: menggerakkan wayang, menyuarakan tiap tokoh, memberi aba-aba kepada penabuh, dan menjaga cerita tetap berjalan. Sesi privat 90 menit di rumah, mulai Rp171.500 per sesi.
Konsultasi dan DaftarData Program
- Lembaga penyelenggara
- Edubia, les privat personal yang tutornya datang ke rumah peserta di Kota Surabaya dan kota tetangganya.
- Isi kurikulum
- Sabet, antawacana, dhodhogan dan keprakan, suluk, janturan, penyusunan lakon pendek, serta tingkat tutur bahasa Jawa untuk panggung.
- Tutor pengampu
- Praktisi pedalangan yang dipilihkan tim Edubia mengikuti umur peserta, bahasa hariannya, dan acara yang sedang dituju.
- Format Sesi
- Satu tutor untuk satu peserta, 90 menit, duduk di lantai di depan kelir latihan yang disiapkan peserta.
- Biaya
- Mulai Rp171.500 per sesi di rumah. Belajar di co-learning space Edubia menambah Rp15.000 per sesi.
- Jadwal
- Disusun mengikuti jam sekolah atau jam kerja peserta, termasuk sore hari dan akhir pekan.
- Tingkat peserta
- Pemula yang belum pernah memegang wayang sampai peserta yang sedang menyiapkan pentas satu jam.
- Perangkat latihan
- Tokoh wayang latihan dan kelir disiapkan peserta, di luar tarif sesi. Lantai selebar kira-kira dua meter juga disiapkan di rumah.
- Wilayah layanan
- Seluruh kecamatan Kota Surabaya, ditambah Waru, Gedangan, Sedati, Buduran, dan sekitarnya di Sidoarjo.
- Hak peserta
- Tutor bisa diganti tanpa biaya tambahan kalau cara mengajarnya terasa tidak cocok bagi peserta.
- Peralatan dan bahan
- Disiapkan peserta, di luar tarif sesi
Angka bicara
4,9 /5
nilai dari 1.200 ulasan wali yang sudah menjalani
- 1-on-1
- satu tutor satu siswa
- 2.500+
- tutor terverifikasi
- 1.200+
- siswa didampingi
Sebelum memutuskan
Kenapa les seni pedalangan privat terasa lebih terarah?
Tiga hal yang sering ditanyakan wali sebelum sesi seni pedalangan pertama di Surabaya.
Perkembangan seni pedalangan dicatat tiap sesi
Sesudah pertemuan wali menerima catatan singkat: materi yang dibahas, sejauh mana latihannya berjalan, dan sasaran pertemuan berikutnya.
Tutor seni pedalangan terverifikasi
Berkas, wawancara, dan uji materi dilalui setiap tutor seni pedalangan sebelum ia masuk ke rumah keluarga di Surabaya.
Garansi ganti tutor
Kalau cara mengajarnya belum cocok, tutor seni pedalangan diganti tanpa biaya tambahan.
Fleksibel
Seni Pedalangan yang menyesuaikan jadwal anak
Tutor seni pedalangan datang ke rumah, co-learning space, atau online. Rencana belajar disusun dari kebutuhan anak.
Perubahan yang terlihat
Tanda kemajuan peserta les pedalangan di Surabaya
Kemajuan pedalangan mudah dilihat kalau tahu apa yang dicari. Enam tanda berikut dipakai tutor sebagai patokan, dan orang tua bisa memakainya juga saat menonton latihan di rumah. Kecepatan tiap orang berbeda, jadi yang dipegang urutannya dan tanggalnya menyusul sendiri.
- 01
Lengan berhenti gemetar
Tanda pertamaWayang bisa ditahan setinggi kelir selama satu dialog penuh, dan bayangan di kain berdiri tenang tanpa bergetar.
- 02
Langkah wayang terbaca rata
Tanda keduaJarak antar langkah sama, wayang berhenti tepat pada hitungan, dan tangan dalang tidak terlihat oleh penonton di sisi bayangan.
- 03
Tiga tokoh terdengar berbeda
Tanda ketigaPendengar yang menutup mata masih bisa menebak siapa yang sedang bicara, dan perpindahannya terjadi tanpa jeda mencolok.
- 04
Ketukan jatuh bersama gerak
Tanda keempatBunyi cempala dan keprak berbunyi tepat pada saat wayang bergerak, sehingga adegan perang terdengar rapat.
- 05
Satu adegan berjalan utuh
Tanda kelimaPembuka, dialog, perpindahan, dan penutup dijalankan berurutan tanpa berhenti untuk mengingat kalimat berikutnya.
- 06
Pentas di depan penonton
Tanda keenamPeserta membawakan lakon pendek pada acara nyata, lengkap dengan tata cahaya dan gangguan suara yang tidak ada di ruang latihan.
Susunan Materi
Susunan materi les pedalangan dari sesi ke sesi
Delapan pokok di bawah ini disusun menurut beban tangan dan beban napas, sehingga peserta tidak menumpuk dua pekerjaan berat pada minggu yang sama. Tutor menggeser urutannya bila peserta datang dengan acara yang sudah dekat tanggalnya, dan bagian yang belum tersentuh dicatat supaya tidak hilang.
- 1
Memegang gapit dan berdiri di kelir
Sesi awalYang dibahas. Posisi duduk bersila, tinggi angkat lengan, letak jari pada gapit, dan cara menancapkan wayang ke gedebog tanpa mengubah arah hadapnya.
Jebakan umum. Peserta baru meremas gapit dengan seluruh telapak, sehingga lengan bawah mengunci dan bayangan wayang bergetar di kelir sebelum lima menit lewat.
Cara tutor. Tutor memindahkan tumpuan ke pangkal jari, memendekkan waktu pegang, lalu menaikkannya sedikit demi sedikit sambil memeriksa bayangan di sisi seberang.
- 2
Jalan, berhenti, dan berbalik badan
Sabet dasarYang dibahas. Langkah wayang yang rata, jarak antar langkah, cara berhenti tepat pada hitungan, dan cara memutar badan wayang tanpa memperlihatkan tangan dalang.
Jebakan umum. Langkah dibuat terlalu cepat karena peserta gugup, dan wayang terlihat meluncur sehingga langkahnya hilang. Penonton di sisi bayangan langsung menangkapnya.
Cara tutor. Latihan berjalan diberi hitungan lambat lebih dulu, direkam, lalu ditonton bersama dari sisi bayangan supaya peserta melihat sendiri bedanya.
- 3
Dua wayang berhadapan
Sabet menengahYang dibahas. Mengatur jarak dua tokoh, giliran bicara yang terbaca lewat gerak kecil, dan cara satu tokoh diam meyakinkan sementara tokoh lain berbicara.
Jebakan umum. Tokoh yang sedang diam ikut bergoyang karena tangan yang memeganginya menegang, sehingga penonton bingung siapa yang sedang bicara.
Cara tutor. Tangan penahan dilatih terpisah dengan tumpuan siku, lalu dua tangan digabungkan pada dialog pendek yang isinya hanya empat sampai enam kalimat.
- 4
Adegan perang
Sabet lanjutYang dibahas. Gerak menyerang dan mengelak, jarak wayang ke kelir yang berubah-ubah, serta cara mengakhiri perang supaya cerita tetap bergerak maju.
Jebakan umum. Peserta mengejar kecepatan sehingga gerak jadi kabur, dan ketukan cempala tertinggal di belakang gerak yang sudah lewat.
Cara tutor. Perang dipecah jadi tiga hitungan yang tetap, dilatih pelan bersama ketukan, baru dinaikkan temponya sesudah gerak dan bunyi jatuh bersamaan.
- 5
Memisahkan warna suara tokoh
AntawacanaYang dibahas. Letak suara tiap tokoh, panjang tarikan kalimat, tempat tekanan jatuh, dan cara berpindah antar tokoh tanpa jeda yang terdengar.
Jebakan umum. Suara berat ditekan dari leher, tenggorokan panas dalam belasan menit, dan pada sesi berikutnya peserta datang dengan suara serak.
Cara tutor. Tumpuan napas perut dilatih lebih dulu, disertai pemanasan singkat dan tanda berhenti yang jelas begitu suara mulai kering.
- 6
Aba-aba tangan dan kaki
Aba-abaYang dibahas. Ketukan cempala pada dinding kotak, gerak kaki pada lempengan keprak, serta pemakaiannya untuk menandai perpindahan adegan dan mengatur iringan.
Jebakan umum. Kaki berhenti bekerja begitu mulut mulai bicara, sebab perhatian peserta habis di dialog dan tubuh bagian bawah terlupakan.
Cara tutor. Kaki dilatih sampai ketukannya berjalan tanpa dipikir, lalu dialog ditambahkan sedikit demi sedikit di atas ketukan yang sudah jalan sendiri.
- 7
Suluk, janturan, dan pocapan
Suara dan ceritaYang dibahas. Teks pembangun suasana pada peralihan adegan, narasi panjang di atas iringan lirih, serta narasi tanpa iringan yang menyambung cerita.
Jebakan umum. Napas habis di tengah kalimat janturan karena peserta menghafal kata tanpa menandai tempat mengambil napas.
Cara tutor. Teks dibagi menjadi potongan bernapas, ditandai di lembarnya, lalu diulang harian dalam durasi pendek sampai jeda napasnya jatuh otomatis.
- 8
Menyusun lakon pendek
Persiapan pentasYang dibahas. Memilih potongan cerita yang bisa berdiri sendiri, menetapkan jumlah tokoh, menyiapkan pembuka serta penutup, dan mengukur durasi sesungguhnya.
Jebakan umum. Cerita disusun terlalu panjang untuk slot acara, dan bagian penutup terpaksa dikejar sehingga penonton pulang dengan kesan tergesa.
Cara tutor. Durasi diukur dengan menjalankan lakon utuh lebih dulu, lalu dipangkas dari bagian tengah dan disisakan waktu lebih untuk penutupnya.
Isi program
Yang tercakup dalam paket les pedalangan
- Pengukuran kemampuan di sesi pembuka Tutor melihat cara peserta memegang wayang, berjalan, dan membaca satu kalimat tokoh, lalu menetapkan titik mulainya.
- Teks tokoh yang ditulis ulang untuk peserta Kalimat dipendekkan atau dipanjangkan mengikuti napas dan penguasaan bahasa Jawa peserta, sehingga latihan tidak berhenti di hafalan.
- Rekaman latihan untuk ditonton ulang Latihan direkam dari sisi bayangan setiap beberapa sesi, sebab di situlah kesalahan sabet terlihat oleh peserta sendiri.
- Catatan capaian tiap sesi Tutor menuliskan capaian hari itu berikut satu butir yang diulang pada pertemuan berikutnya, sehingga orang tua punya dasar menilai kemajuan.
- Daftar latihan mandiri harian Satu butir latihan pendek diberikan di akhir sesi, cukup sepuluh sampai lima belas menit, dan bisa dijalankan tanpa perangkat lengkap.
- Susunan lakon pendek untuk acara Potongan cerita, jumlah tokoh, dan durasi disiapkan bersama peserta menjelang acara sekolah, kampung, atau festival.
- Pendampingan gladi menjelang pentas Sesi terakhir sebelum acara dijalankan dengan jarak duduk penonton dan tata cahaya yang mendekati keadaan sebenarnya.
- Penyesuaian jadwal saat ujian sekolah Sesi bisa dijarangkan pada pekan ujian lalu dirapatkan kembali sesudahnya, tanpa peserta kehilangan urutan materinya.
Yang membedakan
Kenapa memilih les seni pedalangan Edubia
Perangkat latihan datang bersama tutor
Tokoh wayang, kelir, dan gedebog latihan dibawa ke rumah peserta, sehingga sesi pertama bisa berjalan tanpa peserta membeli apa pun lebih dulu.
Sesi 90 menit sudah menghitung pasang bongkar
Memasang kelir, memanaskan lengan dan suara, lalu membereskan perangkat memakan waktu tersendiri. Panjang sesi disetel supaya porsi latihannya tetap utuh.
Empat lapis keterampilan dilatih terpisah
Tangan, suara, ketukan, dan cerita dipisahkan lebih dulu, lalu ditumpuk kembali. Tutor melihat lapisan mana yang runtuh dan mengulangnya saat itu juga.
Sabet tetap bisa dilatih tanpa penabuh
Ketukan tutor menggantikan iringan selama latihan, jadi kemajuan sabet peserta tidak tertahan oleh ketersediaan penabuh maupun perangkat iringan.
Rencana sesi diikat ke tanggal acara
Panjang lakon, jumlah tokoh, dan porsi gladi dihitung mundur dari hari pentas, entah itu acara sekolah di Gubeng atau festival di Tambaksari.
Kecocokan program
Peserta yang cocok mengambil les pedalangan
Peserta yang cocok
- Anak dan remaja yang tersentuh wayang lewat kegiatan sekolah dan ingin mencoba memegang sendiri.
- Peserta yang sedang menyiapkan pentas pendek untuk acara sekolah, acara kampung, atau festival.
- Orang dewasa yang lama menonton pertunjukan dan sekarang ingin memahaminya dari sisi pelaku.
- Guru seni yang perlu menguasai dasar sabet dan antawacana untuk diajarkan kembali di kelasnya.
- Peserta yang bahasa Jawanya masih terbatas tetapi bersedia menambah kosakata lewat teks adegan.
- Keluarga yang menginginkan latihan berjalan di rumah karena membawa perangkat wayang merepotkan.
Satu orang menjalankan seluruh pertunjukan: isi les pedalangan
Di depan kelir, seorang dalang mengerjakan empat hal pada waktu yang sama. Satu tangan mengangkat dan menjalankan wayang. Mulutnya mengeluarkan suara tokoh yang sedang bicara, dan warna suara itu berganti tiap kali tokohnya berganti. Tangan yang lain memegang pemukul kayu untuk memberi tanda kepada penabuh, sementara kaki kanan menggerakkan lempengan logam di sisi kotak. Sepanjang jam-jam itu jalan cerita tetap harus utuh di kepalanya.
Les seni pedalangan di Edubia disusun mengikuti kenyataan itu. Tiap sesi memisahkan pekerjaan yang seharusnya berjalan bersamaan tadi, melatihnya satu per satu sampai tangan dan suara berhenti saling mengganggu, lalu menyatukannya lagi dalam potongan adegan pendek. Tutor mendampingi satu peserta, sehingga koreksi jatuh pada detik yang sama saat posisi tangan bergeser.
Peserta di Surabaya datang dari tiga arah yang berbeda. Ada anak dan remaja yang berkenalan dengan wayang lewat kegiatan sekolah di Gubeng atau Sukolilo. Ada orang dewasa yang ingin menekuni kesenian daerahnya sendiri sesudah bertahun-tahun hanya menonton. Ada pula guru seni yang perlu memahami pedalangan supaya bisa mengajarkannya kembali di kelasnya. Ketiganya berangkat dari titik yang berlainan, jadi sesi pembuka selalu dipakai untuk mengukur titik itu lebih dulu.
Sabet: latihan tangan pada sesi-sesi pertama
Sabet adalah pekerjaan menggerakkan wayang, dan ia yang lebih dulu dilatih. Wayang kulit dipegang pada gapit, batang tanduk yang menjepit badan wayang dari leher sampai ujung bawah. Kedua tangan wayang tersambung ke tuding, sepasang batang tipis yang dijepit jari. Jadi satu telapak peserta menahan tubuh wayang sekaligus mengatur dua lengannya.
Di situlah pergelangan cepat lelah. Bobot wayang bertumpu pada satu titik yang jauh dari telapak, dan lengan harus bertahan setinggi kelir selama adegan berlangsung. Peserta baru hampir selalu meremas gapit terlalu erat, otot lengan bawahnya mengunci dalam hitungan menit, dan gerak wayang ikut kaku.
Tutor menaikkannya bertahap. Sesi awal memakai satu tokoh ringan dengan waktu pegang yang pendek, diselingi jeda supaya lengan pulih. Genggaman diperbaiki lebih dulu: gapit ditopang pangkal jari sementara telapak tetap longgar. Sesudah itu barulah tinggi angkat, kecepatan jalan, cara wayang berbalik badan, dan berhenti tepat waktu ikut dilatih. Peserta yang berlatih di Rungkut dan Wonokromo biasanya memakai dua sampai tiga sesi hanya untuk membuat langkah wayang terbaca rata, dan itu memang urutan yang benar.
Enam benda di bawah ini dipakai di hampir tiap sesi, dan peserta perlu mengenal namanya sebelum tangannya menyentuhnya. Tutor membawa perangkat latihan sendiri ke rumah peserta, jadi tak ada yang perlu dibeli untuk sesi pertama. Di kelas anak, pengenalan ini dibuat singkat lalu langsung dipraktikkan, sebab nama benda lebih mudah menempel ketika bendanya sudah ada di tangan.
Uraian
Perkakas dalang yang dikenalkan tutor sejak sesi awal
Kelir
Kain putih yang membentang di depan dalang. Ia bidang tempat bayangan jatuh, sekaligus batas tinggi yang menentukan seberapa jauh lengan harus terangkat.
Blencong
Sumber cahaya yang tergantung di atas kepala dalang. Nyalanya membuat bayangan wayang terlihat, dan letaknya menentukan arah serta ketajaman bayangan itu.
Gedebog
Batang pisang yang dibaringkan di bawah kelir. Ujung gapit ditancapkan ke sana supaya wayang berdiri sendiri saat tangan dalang sedang mengurus hal lain.
Gapit dan tuding
Batang penjepit badan wayang beserta sepasang batang lengannya. Keduanya menentukan seluruh mekanik sabet, dari cara memegang sampai cara wayang menoleh.
Kotak dan cempala
Peti kayu penyimpan wayang di sisi kiri dalang, dipukul dengan cempala untuk memberi aba-aba dan menandai perpindahan adegan.
Keprak
Lempengan logam yang digantung pada sisi kotak. Ia dibunyikan dengan kaki, jadi dalang tetap bisa memberi tanda ketika kedua tangannya penuh.
Antawacana: kelas suara tokoh dan cara menjaga tenggorokan
Antawacana adalah pekerjaan memberi suara kepada tiap tokoh. Inilah bagian yang langsung terdengar penonton. Satu tokoh raja bersuara berat dan lambat, satu tokoh muda bersuara lebih ringan dan cepat, satu tokoh punakawan bicara dengan irama yang sama sekali lain. Dalang berpindah di antara mereka dalam hitungan detik, di tengah kalimat, tanpa kehilangan napas dan tanpa tertukar.
Latihannya dimulai dari tiga tokoh yang jarak suaranya berjauhan. Peserta memetakan dulu letak suara masing-masing: seberapa berat, seberapa tinggi, seberapa panjang tarikan kalimatnya, dan di mana tekanannya jatuh. Sesudah ketiganya berdiri sendiri, barulah perpindahan dilatih, mula-mula dengan jeda, lalu jedanya dipendekkan sampai hilang.
Bagian yang jarang diceritakan orang adalah tenggorokan. Suara berat yang dipaksakan dari leher membuat pita suara panas dalam belasan menit, dan itu masalah nyata untuk pertunjukan yang berjam-jam. Tutor mengajarkan tumpuan napas dari perut, pemanasan singkat sebelum sesi, serta tanda-tanda awal kelelahan suara supaya peserta berhenti sebelum serak. Anak yang berlatih sore hari di Tenggilis Mejoyo diberi porsi bicara yang lebih pendek dengan alasan yang sama.
Dhodhogan dan keprakan: aba-aba yang dilatih tiap sesi
Dalang memimpin pertunjukan tanpa berbalik badan. Alatnya bunyi. Cempala yang dipukulkan ke dinding kotak menghasilkan dhodhogan, dan lempengan logam yang digerakkan kaki menghasilkan keprakan. Dua bunyi itu memberi tahu penabuh kapan mulai, kapan pelan, kapan berhenti, sekaligus menandai perpindahan adegan bagi penonton.
Keduanya juga menempel pada gerak wayang. Pada adegan perang, tiap benturan diberi ketukan supaya gerak yang terlihat dan bunyi yang terdengar jatuh pada waktu yang sama. Peserta biasanya kaget di sesi pertama: tangan yang sedang memegang wayang harus tetap bekerja sementara tangan lain memukul, dan kaki punya tugasnya sendiri.
Karena itu latihannya dipecah. Kaki dilatih terpisah sampai ketukannya rata tanpa dipikir. Tangan pemukul dilatih terpisah sampai ketukannya bisa muncul di sela kalimat. Baru sesudah keduanya berjalan sendiri, mereka digabungkan dengan sabet, lalu ditambah suara tokoh. Urutan bertumpuk itu yang membuat sesi privat berguna: tutor melihat lapisan mana yang runtuh lebih dulu dan mengulangnya di tempat, tanpa peserta harus menunggu giliran seperti di kelas rombongan.
Suluk dan janturan dalam jadwal latihan mingguan
Sebelum sebuah adegan berjalan, dalang membangun suasananya dulu. Suluk adalah nyanyian dalang yang dibawakan pada peralihan, dan warnanya berbeda antara adegan yang tenang, adegan yang tegang, dan adegan yang sedih. Janturan adalah narasi panjang yang diucapkan sementara iringan dimainkan lirih di belakangnya, biasanya untuk melukiskan tempat dan keadaan tokoh. Ketika narasi itu diucapkan tanpa iringan, namanya pocapan.
Bagian ini menuntut hafalan sekaligus napas. Kalimat janturan panjang dan tak boleh terputus di tempat yang salah, sedangkan suluk menuntut nada yang stabil pada akhir baris. Peserta yang jadwalnya seminggu sekali biasanya diberi satu potongan pendek untuk diulang di rumah, sebab bagian ini tumbuh dari pengulangan harian yang singkat.
Latihan suluk dan janturan di sini tetap berdiri di wilayah dalang, yaitu membangun suasana dan menyambung cerita. Peserta yang tertarik menekuni sisi nyanyian gamelan secara utuh biasanya kami arahkan mengambil kelas terpisah, karena bahannya memang lain. Untuk keperluan mendalang, yang dikejar cukup: teks yang melekat, napas yang panjang, dan suasana yang terbaca penonton sejak kalimat pertama.
Pertunjukan wayang semalam suntuk punya urutan yang sudah lama mapan, dan urutan itu berguna dipahami sekalipun peserta belum berniat membawakannya. Ia menjelaskan kenapa sebuah adegan berada di tempatnya, dan dari mana potongan satu jam untuk acara sekolah biasanya diambil. Kelas lanjut membahas bagian-bagian ini satu per satu, sementara kelas pemula cukup mengenalinya saat menonton.
Rincian
Susunan pertunjukan semalam yang dibahas kelas lanjut
Tiga bagian besar
Sepanjang malam pertunjukan berjalan melewati pathet nem, pathet sanga, lalu pathet manyura. Tiap bagian punya suasana dan bobot cerita sendiri.
Jejer
Adegan pembuka di istana atau balai. Tokoh utama diperkenalkan, persoalannya dinyatakan, dan janturan terpanjang sepanjang malam biasanya jatuh di bagian ini.
Adegan luar dan perang gagal
Cerita berpindah keluar, dua pihak bertemu, dan pertemuan itu berakhir tanpa keputusan. Bagian ini melatih sabet berjalan dan berhadapan.
Gara-gara
Bagian punakawan yang mengendurkan ketegangan. Di sinilah humor, bahasa sehari-hari, dan sindiran yang dekat dengan penonton mendapat tempatnya.
Perang di tengah malam
Tokoh muda berhadapan dengan raksasa. Sabetnya berat, dan tiap gerak wajib bersambung dengan ketukan cempala.
Tancep kayon
Kayon ditancapkan di tengah kelir dan pertunjukan ditutup. Peserta belajar menutup dengan rapi, sebab penutup yang tergesa merusak seluruh adegan sebelumnya.
Pertunjukan satu sampai dua jam: sasaran paket sesi pendek
Hampir semua peserta les privat pedalangan hari ini menuju pertunjukan berdurasi satu sampai dua jam, dan halaman ini jujur soal itu. Acara sekolah memberi slot terbatas, acara kampung berjalan setelah magrib dan wajib usai sebelum larut, festival memberi jadwal yang sudah dibagi rata dengan pengisi lain. Pertunjukan semalam suntuk adalah dunia yang berbeda, dan ia menuntut tahun-tahun jam terbang serta perangkat yang jauh lebih besar.
Bentuk pendek itu punya aturannya sendiri. Cerita dipotong pada bagian yang bisa berdiri sendiri, jumlah tokoh ditahan supaya suara yang harus dibedakan tidak melebihi kemampuan peserta hari itu, dan janturan dipendekkan tanpa membuat adegan kehilangan tempatnya. Penutup disiapkan lebih matang, sebab dalam durasi pendek penonton mengingat bagian akhir dengan sangat jelas.
Tutor menyusun sasaran itu bersama peserta pada sesi pembuka: tanggal acaranya, panjang slotnya, siapa penontonnya, dan apakah akan ada penabuh atau iringan rekaman. Dari sana barulah jumlah sesi dihitung mundur. Peserta di Mulyorejo yang menyiapkan pentas lima belas menit untuk acara sekolah menerima susunan yang lain daripada peserta dewasa di Wonocolo yang menggarap lakon satu jam penuh.
Bahasa Jawa yang dipelajari peserta les pedalangan
Wayang berjalan di atas bahasa. Tokoh yang berbeda derajatnya bicara dengan tingkat tutur yang berbeda, dan seorang dalang perlu memahami perbedaan itu sampai ke alasannya. Raja yang menyapa punggawanya, punggawa yang menjawab rajanya, dan punakawan yang berbicara di antara keduanya memakai lapis bahasa yang tidak sama. Ngoko, madya, dan krama dipakai bergantian di dalam satu adegan yang sama.
Menghafal kalimat jadi tak cukup. Begitu peserta menyusun lakonnya sendiri, ia harus tahu kata mana yang naik dan kata mana yang turun ketika lawan bicaranya berganti. Kekeliruan di sini langsung terdengar oleh penonton yang sehari-hari berbahasa Jawa, dan itu penonton yang nyata di Semampir maupun Simokerto.
Karena itu tiap sesi menyisipkan porsi bahasa. Peserta anak yang bahasa hariannya Indonesia diberi kosakata bertahap lewat kalimat yang memang akan dipakainya di adegan, jadi ia belajar sambil berlatih. Peserta dewasa yang sudah berbahasa Jawa sehari-hari lebih banyak berlatih perpindahan lapis tutur dan bahasa panggung yang lebih tertata. Yang ingin memperkuat sisi bahasanya secara terpisah bisa melanjutkan lewat les bahasa Jawa di jadwal yang berbeda.
Wayang latihan: yang dibawa tutor dan yang disiapkan peserta
Wayang kulit sungguhan itu mahal, dan itu fakta yang perlu dinyatakan sejak awal. Satu tokoh dikerjakan dengan tangan, ditatah lubang demi lubang lalu diwarnai, dan satu perangkat pertunjukan berisi ratusan tokoh. Menunggu sampai punya perangkat sendiri berarti menunda latihan bertahun-tahun tanpa alasan.
Jalan yang dipakai kelas ini berbeda. Tutor membawa beberapa tokoh latihan ke rumah peserta, cukup untuk melatih sabet, dialog dua arah, dan satu adegan perang sederhana. Untuk latihan mandiri di antara jadwal, peserta bisa memakai wayang kertas tebal atau karton yang digapit bambu. Bentuknya sederhana, bobotnya ringan, dan justru karena ringan ia bagus untuk melatih ketepatan langkah tanpa membuat pergelangan cepat lelah.
Peserta yang berniat serius biasanya mulai mengumpulkan satu dua tokoh yang benar-benar dipakainya lebih dulu, lalu menambahnya pelan-pelan. Tutor membantu memilih tokoh mana yang berguna lebih dulu untuk lakon yang sedang disiapkan, dan menjelaskan apa yang perlu diperiksa pada kulit, tatahan, dan gapitnya. Membuat wayang sendiri adalah keterampilan yang lain lagi dan tidak masuk ke dalam sesi ini.
Tempat sesi menentukan banyak hal pada program ini, sebab pedalangan menuntut lantai, bidang untuk membentangkan kelir, serta ruang berdiri di sisi bayangan. Tiga pilihan di bawah dipakai peserta Edubia, dan tutor membantu memilih mana yang masuk akal sesudah mendengar keadaan rumah Anda pada percakapan pertama.
Poin penting
Pilihan tempat sesi les pedalangan di Surabaya
Sesi di rumah peserta
Pilihan yang dipakai sebagian besar peserta. Tutor membawa kelir, gedebog, dan tokoh latihan, jadi rumah cukup menyediakan lantai lapang serta tirai yang bisa ditutup.
Sesi di co-learning space Edubia
Titiknya di Tambaksari dan Wonocolo, berlantai rata dan cukup lapang untuk kelir latihan. Tambahan Rp15.000 per sesi berdiri terpisah dari biaya program.
Sesi online untuk bagian suara
Antawacana, janturan, dan penyusunan lakon berjalan baik lewat layar. Untuk sabet, kamera perlu ditaruh di sisi bayangan dan peserta sudah memiliki kelir sendiri.
Ruang di rumah yang dipakai untuk sesi pedalangan
Sesi pedalangan menuntut lantai, jadi meja belajar tidak terpakai di sini. Dalang duduk bersila di depan kelir sepanjang latihan, dan tinggi duduk itu yang menentukan tinggi kelir serta jarak lengan. Ruang tamu yang perabotnya bisa digeser sebentar sudah cukup, begitu pula teras belakang yang beratap.
Ukuran yang nyaman kira-kira selebar dua meter untuk bentangan kelir latihan, ditambah ruang duduk di belakangnya dan ruang berdiri di sisi bayangan. Sisi bayangan itu penting: penonton yang duduk di seberang kelir melihat pertunjukan yang berbeda dari yang dilihat dalang, dan peserta perlu sesekali berpindah ke sana untuk memeriksa hasil kerjanya sendiri.
Cahaya diatur seperlunya. Ruangan yang terlalu terang membuat bayangan pudar, jadi tirai biasanya ditutup dan hanya sumber cahaya di belakang wayang yang dinyalakan. Jarak wayang ke kain menentukan sisanya: makin rapat, bayangan makin kecil dan tajam; makin jauh, bayangan membesar dan tepinya melebar. Peserta di Gunung Anyar dan Sambikerep memakai efek itu untuk membuat raksasa terlihat besar tanpa mengganti wayangnya.
Biaya les pedalangan di Surabaya dan pilihan tempat belajar
Biaya les seni pedalangan Edubia mulai Rp171.500 per sesi untuk sesi 90 menit di rumah peserta, satu tutor untuk satu orang. Panjang 90 menit dipilih karena sesi ini butuh waktu memasang kelir dan gedebog, memanaskan lengan serta suara, lalu membereskan perangkat lagi di akhir. Sesi 60 menit hampir selalu habis sebelum latihan sabetnya matang.
Batas atas rentang berada di Rp374.600 per sesi, yaitu sesi 120 menit untuk peserta dewasa yang sedang menyiapkan lakon utuh dan perlu menjalankan satu bagian tanpa dipotong. Nominal yang berlaku untuk Anda mengikuti jenjang peserta, panjang sesi, dan jumlah sesi tiap bulan.
Kalau di rumah tidak tersedia lantai yang cukup, sesi bisa dipindahkan ke co-learning space Edubia dengan tambahan Rp15.000 per sesi. Angka itu berdiri sendiri di atas biaya program dan tidak pernah dijumlahkan diam-diam. Dua titiknya berada di Tambaksari dan Wonocolo, keduanya berlantai rata dan cukup lapang untuk membentangkan kelir latihan. Rincian biaya untuk kombinasi jadwal Anda bisa dihitung lebih dulu lewat kalkulator biaya sebelum mendaftar.
Yang perlu diketahui
Yang disiapkan peserta sebelum sesi pedalangan pertama
Empat hal ini dibereskan sebelum tutor berangkat ke rumah peserta di Surabaya.
Lantai yang bisa dikosongkan sebentar
Ruang selebar kira-kira dua meter untuk kelir, ditambah tempat duduk bersila di belakangnya dan tempat berdiri di sisi bayangan.
Sumber cahaya yang bisa diatur
Satu lampu di belakang wayang beserta tirai yang bisa ditutup. Ruangan yang terlalu terang membuat bayangan pudar dan latihan sabet kehilangan patokannya.
Waktu tanpa gangguan suara
Setengah pekerjaan pedalangan bertumpu pada suara, jadi sesi berjalan lebih baik ketika televisi mati dan lalu lalang di ruangan itu berhenti sejenak.
Keterangan bahasa harian peserta
Tutor perlu tahu apakah peserta memakai bahasa Jawa di rumah, supaya porsi kosakata dan pilihan teks tokoh disetel sejak sesi pembuka.
Wilayah yang dijangkau tutor pedalangan dari Tegalsari
Kantor Edubia berada di Tegalsari, dan dari titik itu tutor berangkat ke rumah peserta di seluruh Kota Surabaya. Sisi timur mencakup Gubeng, Sukolilo, Mulyorejo, Rungkut, sampai Gunung Anyar. Sisi utara menjangkau Kenjeran, Bulak, Semampir, Krembangan, dan Pabean Cantian. Sisi barat sampai Tandes, Sukomanunggal, Benowo, Pakal, dan Lakarsantri, sementara sisi selatan mencakup Wonokromo, Jambangan, Gayungan, Wiyung, dan Karang Pilang.
Kota tetangga ikut dilayani. Peserta di Waru, Gedangan, Sedati, Buduran, dan Sukodono biasanya memilih jadwal sore atau akhir pekan, sebab perjalanan tutor pada jam sibuk memanjang dan sesi pedalangan sebaiknya dimulai dalam keadaan tenang, mengingat setengah pekerjaannya bertumpu pada napas dan suara.
Satu hal khas subjek ini perlu disebut: tutor membawa perangkat latihan, jadi jadwal disusun dengan memperhitungkan waktu memasang dan membongkar. Untuk peserta di Asemrowo atau Krian yang jaraknya panjang, tutor biasanya mengusulkan sesi yang lebih jarang tetapi lebih panjang, supaya waktu pasang bongkar tidak memakan porsi latihan.
Latihan mandiri di antara jadwal les pedalangan
Kemajuan pedalangan tumbuh dari pengulangan pendek yang sering, dan itu terjadi di luar sesi. Lengan yang hanya bekerja seminggu sekali akan mengulang rasa lelah yang sama tiap kali sesi dimulai. Sepuluh sampai lima belas menit sehari sudah mengubah keadaan itu.
Bentuk latihannya sederhana dan bisa dilakukan tanpa penabuh mana pun. Peserta memegang wayang kertas di depan dinding kosong, berjalan bolak-balik dengan langkah yang rata, lalu berhenti tepat pada hitungan. Ketukan bisa datang dari tepukan jari di meja, jadi rasa waktu tetap terbangun walaupun bunyi kotak dan lempengan logam sedang tak tersedia.
Untuk suara, peserta membaca ulang teks tokohnya dengan volume sedang, memakai perekam ponsel, lalu mendengarkan kembali sambil memeriksa satu hal saja tiap kali: kejelasan kata, jarak antar tokoh, atau napas yang terputus. Tutor menentukan satu butir itu di akhir tiap sesi supaya latihan mandiri punya arah. Orang tua di Dukuh Pakis dan Sawahan biasanya cukup membantu dengan menyediakan sudut yang tenang dan mengingatkan jadwalnya.
Cara memulai kelas pedalangan dan hak ganti tutor
Langkah pertama adalah menyampaikan keadaan peserta: umurnya, apakah pernah memegang wayang, seberapa akrab dengan bahasa Jawa, dan apakah ada acara yang sedang dituju. Keterangan itu dipakai tim Edubia untuk menentukan pendamping yang sesuai dengan pekerjaan tersebut, lalu jadwal sesi pembuka disepakati. Peserta tidak memilih sendiri dari daftar; pencocokan dilakukan lembaga supaya latar tutor benar-benar sesuai dengan sasaran peserta.
Sesudah sesi berjalan, penilaian peserta tetap menentukan. Kalau cara mengajar tutor terasa tidak nyambung, sampaikan alasannya dan tutor bisa diganti tanpa biaya tambahan. Catatan latihan yang sudah terkumpul diteruskan supaya peserta tak mengulang dari nol bersama tutor berikutnya.
Jadwal disusun mengikuti kegiatan peserta, termasuk peserta sekolah yang jam pulangnya berubah tiap semester dan peserta dewasa yang hanya luang setelah jam kerja. Pemindahan jadwal bisa diminta selama diberitahukan lebih dulu, dan untuk pedalangan hal itu terasa penting karena tutor perlu memperhitungkan waktu membawa serta memasang perangkat latihan. Anda dapat memulai lewat halaman pendaftaran kapan saja.
Enam tahap di bawah ini adalah kerangka yang dipakai tutor, dan panjang tiap tahap berbeda-beda mengikuti umur, jam latihan mandiri, serta target acara peserta. Anak kelas empat yang baru memegang wayang berjalan lebih pelan pada tahap dua daripada guru seni yang sudah sering menonton pertunjukan penuh. Tutor menuliskan capaian tiap sesi supaya perpindahan tahap punya dasar yang bisa dilihat orang tua.
Sorotan
Urutan sesi les pedalangan dari pegangan pertama sampai pentas
Empat langkah sederhana, dari daftar sampai belajar bareng tutor pilihan.
-
Sesi pembuka dan pengukuran
Peserta memegang wayang, berjalan beberapa langkah, dan membaca satu kalimat tokoh. Dari situ tutor menentukan tokoh latihan pertama dan panjang sesi yang masuk akal.
-
Tangan dan pergelangan
Genggaman gapit, tinggi angkat, jalan maju mundur, berhenti, dan berbalik badan. Tahap ini diulang sampai lengan sanggup bertahan tanpa gemetar.
-
Suara tiga tokoh
Tiga warna suara yang berjauhan dipisahkan lebih dulu, lalu perpindahan di antaranya dipendekkan sampai bisa terjadi di tengah kalimat.
-
Kaki dan ketukan
Keprakan dilatih terpisah sampai rata, lalu dhodhogan disisipkan di sela dialog. Setelah keduanya jalan, ketukan disambungkan ke gerak wayang.
-
Menyusun adegan pendek
Peserta merangkai satu adegan utuh: pembuka, dialog, satu perpindahan, dan penutup. Semua lapisan digabungkan dan direkam untuk ditonton ulang.
-
Gladi dan pentas
Adegan dijalankan dengan tata cahaya dan jarak duduk penonton yang mendekati acara sebenarnya, termasuk latihan menghadapi gangguan suara di lokasi.
Program Terkait
Kalau les seni pedalangan belum pas, mulai dari sini
Tanya jawab
Berapa biaya dan bagaimana jadwal les seni pedalangan?
Langkah Pertama
Kuasai seni pedalangan bersama tutor Surabaya
Cukup ceritakan kebutuhan Anda, kami rancang jalur belajar seni pedalangan yang tepat sasaran.