Lompat ke konten utama

4,9/5 · 1.200 ulasan · Semua Tingkat

Les Tari Remo di Surabaya

Les Tari Remo Surabaya melatih tanjak, olah sampur, gedruk bergongseng, sampai kidungan lewat sesi privat 60 atau 90 menit di rumah peserta. Biaya mulai Rp128.300 per sesi dan tutor mendatangi kecamatan pilihan keluarga.

4,9/5 1.200 ulasan
2.500+ tutor terverifikasi
1.200+ siswa didampingi
1-on-1 satu tutor satu siswa
Les Tari Remo di Surabaya

Mengenal Les Tari Remo di Surabaya

Les Tari Remo Surabaya melatih tanjak, olah sampur, gedruk bergongseng, sampai kidungan lewat sesi privat 60 atau 90 menit di rumah peserta. Biaya mulai Rp128.300 per sesi dan tutor mendatangi kecamatan pilihan keluarga.

Konsultasi dan Daftar

Spesifikasi Les

Fokus latihan
Sikap dasar, olah sampur, gedruk bergongseng, gedheg, rangkaian penuh, kidungan
Durasi Sesi
60 menit untuk tahap sikap dasar, 90 menit begitu gedruk dan gending masuk
Biaya per sesi
Mulai Rp128.300 per sesi 60 menit, Rp171.500 per sesi 90 menit, empat sesi sebulan
Jenjang peserta
Anak usia dini, siswa SD sampai SMA, peserta dewasa, pendampingan sanggar
Iringan latihan
Gending Jula-Juli dan Tropongan, rekaman gamelan di sesi rutin, kendang langsung menjelang pentas
Perlengkapan peserta
Kaus lentur, celana selutut, kaus kaki tebal, sampur latihan, gongseng menyusul di tahap ketiga
Wilayah layanan
31 kecamatan Kota Surabaya dan 18 kecamatan Kabupaten Sidoarjo
Format Sesi
Satu pelatih mendampingi satu penari, di rumah peserta atau di ruang belajar Edubia

Cara kami bekerja

Kenapa keluarga Surabaya memilih les tari remo di Edubia?

Ringkasan singkat sebelum Anda menanyakan jadwal dan biaya les tari remo.

Rating tutor Edubia 4,9 dari 1.200 ulasan

Angka itu dihitung dari ulasan wali dan siswa yang sudah menjalani sesi bersama tutor Edubia.

Perkembangan tari remo dicatat tiap sesi

Sesudah pertemuan wali menerima catatan singkat: materi yang dibahas, sejauh mana latihannya berjalan, dan sasaran pertemuan berikutnya.

Garansi ganti tutor

Kalau cara mengajarnya belum cocok, tutor tari remo diganti tanpa biaya tambahan.

Alasan memilih

Kelebihan kelas tari remo bersama Edubia

Bunyi kaki dilatih sejak sesi pembuka

Gongseng di pergelangan kaki kanan membuat setiap hentakan terdengar. Pelatih memakai bunyi itu sebagai alat koreksi: tumit yang jatuh terlambat langsung ketahuan telinga, tanpa perlu cermin.

Gending Jula-Juli dipakai sejak latihan rutin

Peserta berlatih dengan gending yang benar-benar dipakai Remo Surabayan, sehingga telinganya terbiasa pada tempo yang akan ia temui di pentas sungguhan.

Kidungan tidak dilewati di kelas privat

Menembang pantun di tengah tarian adalah bagian Remo yang biasanya hilang dari kelas kilat. Di sini ia masuk sebagai tahap tersendiri, lengkap dengan latihan napas dan pengucapan.

Pelatih Remo terverifikasi rekam jejaknya

Edubia memeriksa pengalaman menari dan pengalaman mengajar sebelum seorang pelatih dipertemukan dengan peserta. Pelatih bisa diganti tanpa biaya tambahan bila gaya mengajarnya belum cocok.

Jadwal sesi menyesuaikan latihan sekolah

Anak yang sudah punya ekstrakurikuler menari dapat mengambil sesi Remo pada hari yang tidak bertabrakan, termasuk pagi akhir pekan sebelum udara Surabaya memanas.

Biaya sesi Remo disebut di muka

Tarif per sesi, selisih durasi 60 dan 90 menit, serta tambahan biaya ruang belajar disampaikan sebelum sesi pertama berjalan.

Kesesuaian

Kelas Remo dan keadaan peserta hari ini

Peserta yang siap masuk kelas Remo

  • Anak usia dini yang senang menirukan gerak dan sanggup mengikuti hitungan pendek, mulai dari sikap dasar tanpa gongseng.
  • Siswa yang menyiapkan penampilan sekolah atau lomba seni dan memerlukan rangkaian yang panjangnya pas dengan batas waktu tampil.
  • Peserta yang sudah mengikuti ekstrakurikuler menari di sekolah dan ingin merapikan gedruk serta arah pandang lewat pendampingan dekat.
  • Peserta dewasa dengan riwayat keluarga yang akrab pada ludruk dan ingin membawakan Remo sendiri, termasuk bagian kidungannya.
  • Penari sanggar yang hendak memperdalam gaya Surabayan atau Jombangan dan menyiapkan kemampuan menjawab aba-aba kendang.
  • Pendatang yang tinggal atau bekerja di Surabaya dan ingin mengenal kesenian setempat lewat latihan yang berjenjang.

Fleksibel

Pilih format les tari remo yang cocok dengan rutinitas keluarga

Tutor tari remo datang ke rumah, co-learning space, atau online. Rencana belajar disusun dari kebutuhan anak.

Susunan Materi

Susunan materi les Tari Remo per tahap

Tiap tahap di bawah punya kesalahan khasnya sendiri, dan kesalahan itulah yang menentukan cara pelatih membukanya. Urutannya tetap, tetapi lama tinggal di satu tahap berbeda pada tiap peserta.

  1. 1

    Tanjak, sembah, dan pemindahan berat badan

    Tahap satu

    Yang dibahas. Sikap berdiri dasar dengan lutut membuka, sembah pembuka, serta cara memindahkan berat dari kaki kiri ke kaki kanan tanpa badan ikut terangkat.

    Jebakan umum. Peserta menahan lutut hampir lurus supaya terasa ringan, dan tanpa sadar menaikkan seluruh badan sehingga hentakan pada tahap ketiga kehilangan tumpuannya.

    Cara tutor. Pelatih menaruh telapak tangannya sejajar bahu peserta sebagai patokan tinggi, lalu meminta peserta bergerak selama delapan hitungan tanpa menyentuh patokan itu.

  2. 2

    Seblak, kipatan, dan sabetan sampur

    Tahap dua

    Yang dibahas. Tiga perlakuan pokok atas selendang: melempar, mengibaskan, dan menyabet, beserta cara memegang ujung kain dan cara mengembalikannya ke pinggang.

    Jebakan umum. Lemparan datang dari siku, sehingga kain hanya terbuka separuh lalu jatuh terlambat. Peserta menyimpulkan lengannya kurang kuat, padahal masalahnya di pergelangan.

    Cara tutor. Siku ditahan pelatih selama beberapa hitungan agar peserta merasakan sendiri bahwa kain bisa terbuka penuh hanya dari lecutan pergelangan tangan.

  3. 3

    Gedruk dan pemasangan gongseng

    Tahap tiga

    Yang dibahas. Hentakan bertumpu tumit dan telapak depan bergantian, pengaturan tenaga, serta pengenalan beban gongseng pada pergelangan kaki kanan.

    Jebakan umum. Kaki kanan diseret sedikit begitu gongseng terpasang, dan bahu ikut miring mengimbangi beban. Bunyi yang keluar terdengar pecah, tidak tebal.

    Cara tutor. Gongseng dipasang tetapi peserta hanya berjalan biasa beberapa menit, sampai telinganya berhenti terkejut. Hentakan baru dikembalikan pada setengah tenaga.

  4. 4

    Gedheg dan pengendalian arah pandang

    Tahap empat

    Yang dibahas. Gerak kepala menoleh dan menekuk mengikuti tangan, ditambah kebiasaan memegang satu arah pandang selama rangkaian berjalan.

    Jebakan umum. Leher ikut mengeras begitu kaki bekerja, dan mata jatuh ke lantai untuk memeriksa kaki sendiri. Rangkaian jadi terbaca datar dari kursi penonton.

    Cara tutor. Gedheg dilatih sambil duduk tanpa kaki bekerja sama sekali, lalu digabungkan pada tempo separuh. Bunyi gongseng dipakai sebagai pengganti mata.

  5. 5

    Rangkaian penuh mengikuti gending

    Tahap lima

    Yang dibahas. Penyusunan seluruh bagian menjadi satu rangkaian utuh yang mengikuti gending Jula-Juli, termasuk perpindahan tempat ke depan dan ke samping.

    Jebakan umum. Peserta menghafal urutan pada satu kecepatan rekaman saja, sehingga rangkaiannya berantakan begitu tempo bergeser sedikit di kesempatan lain.

    Cara tutor. Kecepatan rekaman sengaja diubah di beberapa sesi. Peserta diminta menyelesaikan rangkaian yang sama pada tempo yang tidak ia harapkan.

  6. 6

    Kidungan dan pengaturan napas

    Tahap enam

    Yang dibahas. Menembang pantun di sela rangkaian dengan melodi bebas khas gaya Surabayan, ditambah latihan pengucapan dan pembagian napas.

    Jebakan umum. Napas sudah habis di ujung rangkaian gedruk, sehingga suara keluar tipis dan tembangnya terpotong di tengah baris.

    Cara tutor. Menembang dilatih terpisah dalam keadaan duduk sampai cengkoknya dikenal, lalu dipasang di antara dua rangkaian yang sengaja dipendekkan lebih dulu.

  7. 7

    Membaca aba-aba kendang

    Tahap tujuh

    Yang dibahas. Menari bersama iringan langsung, mengenali tanda tempo naik, jeda untuk kidungan, dan tanda rangkaian akan ditutup.

    Jebakan umum. Peserta yang terbiasa rekaman menunggu tempo yang ia hafal, lalu tertinggal setengah ketukan sepanjang bagian pertama.

    Cara tutor. Latihan awal dilakukan tanpa tarian: peserta duduk mendengarkan penabuh dan menyebutkan tanda yang ia dengar, sebelum kaki ikut dilibatkan.

Kemajuan peserta

Perjalanan peserta les Remo dari sesi pertama sampai pentas

Rentang waktu di bawah adalah gambaran yang sering terjadi pada peserta yang mengambil empat sesi dalam sebulan. Ia bergeser mengikuti umur, pengalaman menari, dan seberapa sering peserta mengulang di rumah.

  1. 01

    Sesi satu sampai tiga

    Bulan pertama

    Peserta sanggup berdiri tanjak selama satu rangkaian hitungan tanpa badan terangkat, dan mengenal jarak telapak ke lantai. Belum ada gongseng.

  2. 02

    Sesi empat sampai delapan

    Bulan kedua

    Sampur bisa dilempar sampai terbuka penuh dan kembali ke pinggang tanpa melilit. Hentakan pertama diperkenalkan tanpa beban logam.

  3. 03

    Sesi sembilan sampai empat belas

    Bulan ketiga

    Gongseng terpasang. Peserta menghentak setengah tenaga dengan bunyi yang rata, dan mulai menggabungkan tangan dengan kaki pada tempo lambat.

  4. 04

    Sesi lima belas sampai dua puluh

    Bulan keempat

    Kepala ikut bekerja, pandangan terangkat dari lantai, dan satu rangkaian pendek bisa dibawakan dari awal sampai penutup mengikuti gending.

  5. 05

    Sesi dua puluh satu ke atas

    Bulan kelima

    Rangkaian penuh berjalan pada tempo sebenarnya. Kidungan mulai disisipkan, awalnya satu bait pendek yang sudah disiapkan.

  6. 06

    Menjelang pentas

    Persiapan tampil

    Latihan berpindah ke iringan langsung, penyesuaian panjang rangkaian pada batas waktu tampil, dan pengenalan busana lengkap beserta cara mengenakannya.

Isi program

Yang diterima peserta dalam paket les Tari Remo

Pengukuran awal sebelum urutan tahap disusun

Pemeriksaan sikap berdiri, kelenturan pinggul, dan kesanggupan menahan hitungan pendek, dipakai untuk menentukan durasi sesi dan waktu pemasangan gongseng.

Latihan gedruk bertingkat tanpa dipaksakan

Hentakan dinaikkan dari tanpa gongseng, setengah tenaga, lalu penuh, dengan pemantauan bunyi sebagai penanda kapan latihan hari itu dihentikan.

Rekaman gending untuk diulang di rumah

Peserta menerima gending Jula-Juli pada beberapa kecepatan sehingga latihan mandiri tidak terkunci pada satu tempo saja.

Penyusunan kidungan sesuai umur peserta

Isi pantun dipilih ringan untuk anak, sementara peserta dewasa dibimbing menyusun kidungannya sendiri karena improvisasi adalah ciri gaya Surabayan.

Saran perlengkapan sebelum keluarga membeli

Ukuran dan bahan sampur, berat gongseng yang sesuai umur, serta jenis alas kaki untuk perjalanan menuju tempat pentas.

Penyesuaian latihan pada keluhan kaki

Porsi hentakan dan panjang jeda diatur ulang bila peserta membawa riwayat keseleo atau nyeri lutut, dengan pemeriksaan tenaga kesehatan berjalan lebih dulu.

Pelatih bisa diganti tanpa biaya tambahan

Bila gaya mengajar belum cocok, penggantian dilakukan dengan catatan tahap yang sudah dilewati ikut berpindah sehingga latihan tidak diulang dari awal.

Pilihan tempat sesi di rumah atau ruang belajar

Sesi berjalan di tempat peserta, atau di NextSpace Kenjeran dan Union Space Sidosermo dengan tambahan Rp15.000 per sesi per orang.

Yang pertama dilatih di kelas Remo adalah bunyi kaki

Tari Remo terdengar sebelum ia terlihat. Di pergelangan kaki kanan penari terikat gongseng, kumpulan kerincing logam yang berbunyi setiap kali telapak dan tumit menghentak lantai. Bunyi itu bekerja sebagai penanda irama bagi penabuh dan bagi penonton, sehingga kaki penari Remo berfungsi sekaligus sebagai alat musik. Karena itulah kelas Remo di Edubia dibuka dari kaki, dan bukan dari hafalan urutan gerak.

Konsekuensinya terasa sejak sesi pembuka. Seorang peserta boleh saja hafal arah tangan dan arah pandang, tetapi kalau hentakannya jatuh setengah ketukan terlambat, gongseng akan membunyikannya di depan semua orang. Pelatih tidak perlu menyalakan rekaman atau menghadapkan peserta ke cermin untuk membuktikannya. Ia cukup meminta peserta menghentak delapan kali, lalu keduanya mendengar bersama mana hentakan yang bunyinya tebal dan mana yang tipis.

Cara itu memangkas satu masalah yang biasa menghambat pemula di kelas tari mana pun: peserta merasa gerakannya sudah benar karena tidak ada yang menyanggah. Di Remo, sanggahannya datang dari logam di kakinya sendiri. Sesi pertama karena itu banyak diisi latihan berdiri, memindahkan berat badan, dan mengenal jarak antara telapak dan lantai, sebelum satu rangkaian pun diperkenalkan.

Katalog gerak Remo tidak sepanjang yang dibayangkan orang, dan justru di situ letak sulitnya. Jumlah geraknya terbatas, tetapi tiap gerak menuntut tiga bagian tubuh bekerja pada waktu yang berbeda: kaki menghentak, tangan melempar sampur, kepala menoleh. Enam pokok di bawah adalah yang dibongkar satu per satu di kelas privat, dengan urutan yang disesuaikan pada usia dan kebiasaan tubuh peserta.

Peserta yang sudah pernah menari Jawa gaya lain biasanya melompati pokok pertama dengan cepat, lalu tertahan lama di pokok ketiga. Pemula sepenuhnya justru sebaliknya. Pelatih membaca hal ini pada sesi kedua, saat peserta diminta menirukan satu putaran pendek tanpa aba-aba.

Garis besar

Enam pokok yang dibedah tutor di kelas les Tari Remo

Tanjak dan sembah

Sikap berdiri dasar dengan lutut membuka dan berat badan turun. Dari sikap inilah semua gerak Remo berangkat, dan pemula yang lututnya terlalu lurus akan kehilangan tenaga saat gedruk masuk.

Seblak dan kipatan sampur

Melempar dan mengibaskan selendang di pinggang. Yang dilatih adalah saat pelepasan jari agar kain terbuka penuh lalu jatuh pada ketukan yang tepat.

Iket dan sabetan

Rangkaian tangan yang menjadi ciri Remo, kerap muncul dalam urutan iket, sabetan, lalu iket lagi. Di sinilah peserta belajar bahwa tangan Remo bergerak tegas dan berhenti tegas.

Gedruk bergongseng

Hentakan kaki yang membunyikan gongseng. Dilatih bertahap dari hentakan pelan tanpa gongseng, lalu setengah tenaga, baru penuh, supaya tumit dan betis punya waktu menyesuaikan diri.

Gedheg dan arah pandang

Gerak kepala menoleh dan menekuk yang menyertai tangan. Bagian ini menyimpan kesulitan tersembunyi: leher peserta ikut kaku begitu kakinya bekerja keras.

Kidungan

Menembang pantun di sela tarian, ciri Remo gaya Surabayan yang melodinya bebas dan banyak bersandar pada improvisasi penari. Butuh napas yang masih tersisa sesudah rangkaian gedruk.

Gongseng di kaki kanan dan cara tutor melatihnya bertahap

Gongseng diikat pada pergelangan kaki kanan, dan berat logamnya terasa sejak langkah pertama. Peserta yang baru memakainya hampir selalu mengubah cara berjalan tanpa sadar: kaki kanan diseret sedikit, bahu ikut miring, dan gedruk berubah menjadi injakan yang bunyinya pecah. Karena itu pelatih Edubia menahan gongseng sampai tahap ketiga, sesudah sikap dasar dan olah sampur berdiri stabil.

Tahap pengenalannya sederhana dan berjenjang. Peserta pertama-tama menghentak tanpa gongseng sambil pelatih menepuk hitungan. Berikutnya gongseng dipasang, tetapi peserta hanya berjalan biasa selama beberapa menit sampai telinganya berhenti kaget pada bunyinya sendiri. Baru sesudah itu hentakan dikembalikan, mulai dari setengah tenaga.

Ada alasan praktis di balik urutan itu. Bunyi gongseng memberi umpan balik seketika, dan umpan balik yang datang terlalu cepat pada peserta yang sikap dasarnya belum kokoh justru membuat ia mengejar bunyi dan meninggalkan bentuk. Pelatih ingin bunyi itu datang sebagai hasil dari kaki yang sudah benar. Untuk anak usia dini, gongseng ringan atau kaus kaki tebal dipakai lebih dulu sebagai pengganti sementara, sehingga sendi kakinya tidak menanggung beban tambahan sebelum waktunya.

Gedruk: hentakan yang membuat pemula lelah di sesi awal

Gedruk adalah bagian Remo yang membuat peserta baru terengah lebih cepat daripada yang ia duga. Hentakannya bertumpu pada tumit dan telapak depan bergantian, dilakukan berulang dalam tempo yang tidak melambat, sementara lutut tetap membuka dan badan tetap turun. Otot betis, telapak, dan paha depan bekerja terus-menerus tanpa jeda panjang seperti pada tari yang lebih halus.

Kelelahan itu wajar dan bisa diukur. Pelatih biasanya meminta peserta menghentak dalam hitungan pendek, berhenti, lalu mengulang, dan mencatat pada hitungan keberapa bunyi gongseng mulai menipis. Bunyi yang menipis menandakan tumit sudah tidak sampai ke lantai, dan di titik itu latihan dihentikan sebelum peserta memaksakan diri.

Yang menolong pemula adalah memperbaiki tumpuan. Peserta yang menghentak dengan lutut terkunci akan mengirim getaran lurus ke sendi, dan itu yang meninggalkan nyeri esok harinya. Pelatih memperbaiki hal ini lebih dulu, sebelum jumlah hitungan dinaikkan. Dalam kelas privat urutan seperti ini mudah dijalankan, sebab pelatih hanya mengawasi satu pasang kaki dan bisa menghentikan latihan pada hitungan yang tepat.

Uraian

Sikap dasar yang diperiksa pelatih di tiap sesi les Remo

Empat hal ini diperiksa ulang di pembuka setiap sesi, berapa pun tingkat peserta.

Lutut membuka dan berat badan turun

Tanjak yang benar menaruh berat di antara dua kaki dengan lutut terbuka ke samping. Peserta yang berdiri terlalu tinggi akan kehilangan tenaga hentakan.

Bahu turun saat lengan bekerja

Bahu yang naik mengunci leher, dan leher yang terkunci membuat gedheg tersendat. Pelatih mengoreksinya dengan menekan pelan ujung bahu sambil peserta mengulang sabetan.

Telapak kaki penuh menyentuh lantai

Bunyi gongseng yang tebal datang dari telapak yang jatuh utuh. Hentakan yang hanya mengenai ujung jari terdengar tipis dan membebani lengkung kaki.

Napas tetap jalan selama rangkaian

Pemula sering menahan napas ketika berkonsentrasi pada tangan. Pelatih meminta peserta menghitung bersuara di beberapa putaran agar napasnya tetap mengalir, sekaligus menyiapkannya untuk kidungan.

Sampur di kelas privat: seblak, kipatan, dan sabetan

Sampur adalah selendang panjang yang tersampir di pinggang, dan ia berperilaku seperti benda hidup. Kain yang dilempar dengan tenaga berlebih akan melilit lengan, sementara kain yang dilempar terlalu ragu jatuh sebelum mencapai bentuknya. Di antara dua kesalahan itu ada satu titik pelepasan jari yang membuat kain terbuka penuh lalu turun tepat pada ketukan berikutnya.

Kelas privat memberi ruang untuk mengulang titik itu berpuluh kali. Pelatih biasanya melepaskan hitungan dan meminta peserta melempar sampur berulang tanpa iringan, sampai gerak pergelangan tangannya menemukan takaran sendiri. Baru sesudah itu hitungan dikembalikan, dan barulah terlihat apakah lemparan tadi bisa bertahan ketika kaki ikut menghentak.

Kesulitan sebenarnya memang muncul di penggabungan. Tangan yang sudah rapi sendirian kerap berantakan begitu gedruk berjalan bersamaan, sebab tenaga peserta tertarik ke bawah. Pelatih menanganinya dengan memperlambat gending sampai separuh tempo, menyatukan keduanya di kecepatan rendah, lalu menaikkan tempo sedikit demi sedikit. Cara ini menuntut kesabaran dan pengamatan dekat, dan itulah yang membedakan sesi satu pelatih satu penari dari latihan berbaris di ruang besar.

Bagian yang jarang disebut orang ketika membicarakan Remo adalah kepala. Padahal gedheg, yaitu gerak kepala menoleh dan menekuk mengikuti tangan, adalah yang membuat penari Remo terlihat waspada dan tegak. Tanpa kepala yang bekerja, rangkaian yang sama akan terbaca datar walaupun kaki dan tangannya sudah benar.

Tiga hal di bawah adalah yang biasa ditangani pelatih di tahap keempat, saat peserta sudah bisa menggabungkan kaki dan tangan tetapi lehernya masih menolak ikut.

Rincian

Gerak kepala dan arah pandang dalam sesi les Remo

Leher yang ikut kaku

Ketika kaki bekerja keras, peserta menegangkan seluruh badan termasuk leher. Pelatih memisahkannya dengan melatih gedheg sambil duduk, tanpa kaki bekerja sama sekali.

Pandangan yang jatuh ke lantai

Pemula menunduk untuk memeriksa kakinya sendiri. Bunyi gongseng justru dipakai sebagai pengganti mata, sehingga peserta bisa mengangkat pandangan dan tetap tahu kakinya benar.

Kepala yang terlambat setengah ketukan

Gedheg yang datang sesudah tangan berhenti membuat gerak terlihat terpisah. Latihan dipecah menjadi hitungan lambat sampai kepala dan tangan berhenti pada saat yang sama.

Kendang memimpin dan penari menjawab: susunan sesi latihan

Remo diiringi gamelan, dan gending yang lazim mengiringinya adalah Jula-Juli serta Tropongan. Di antara semua instrumen, kendanglah yang berhubungan langsung dengan penari. Penabuh kendang membaca gerak penari lalu menegaskan hentakannya, sementara penari menyesuaikan tenaga pada tabuhan yang ia dengar. Hubungan itu berjalan dua arah, dan ia tidak bisa dilatih hanya dengan mengikuti rekaman.

Karena itu sesi rutin dan sesi menjelang pentas disusun berbeda. Sesi rutin memakai rekaman gending supaya tempo tetap stabil dan peserta bisa mengulang bagian yang sama tanpa merepotkan siapa pun. Menjelang pentas, latihan diarahkan pada kemampuan membaca aba-aba kendang: kapan tempo naik, kapan ada jeda untuk kidungan, kapan rangkaian ditutup.

Peserta yang selama ini hanya berlatih dengan rekaman biasanya terkejut pada latihan iringan langsung pertamanya. Tempo yang ia hafal ternyata bergeser, dan jeda yang ia hitung ternyata lebih pendek. Pelatih menyiapkan hal ini lebih awal dengan sengaja mengubah kecepatan rekaman di beberapa sesi, supaya peserta terbiasa menyesuaikan diri dan tidak bergantung pada satu versi tempo saja.

Kidungan dalam paket les Remo Surabaya

Bagian Remo yang biasanya hilang dari kelas kilat adalah kidungan. Di gaya Surabayan, penari berhenti sejenak dari rangkaian gerak lalu menembang pantun, dengan melodi yang bebas dan banyak bersandar pada improvisasi. Ia bukan tempelan hiburan; ia bagian dari peran yang sedang dibawakan penari, dan penonton di Surabaya mengenalinya dengan segera.

Melatih kidungan menuntut dua hal yang jarang berkumpul pada satu peserta pemula: napas yang masih tersisa sesudah gedruk, dan keberanian bersuara di depan orang. Pelatih memisahkan keduanya. Latihan menembang dilakukan lebih dulu dalam keadaan duduk dan tenang, sampai peserta mengenal cengkok dan pengucapannya. Baru setelah itu ia dipasang di antara dua rangkaian gerak, awalnya dengan rangkaian yang sengaja dipendekkan.

Untuk peserta anak, isi pantunnya dipilih yang ringan dan sesuai umurnya. Untuk peserta dewasa yang mengejar pentas, latihan berlanjut ke penyusunan kidungan sendiri, sebab improvisasi adalah ciri gaya ini. Pada kedua kelompok, tahap kidungan biasanya dimulai sesudah peserta sanggup membawakan satu rangkaian utuh tanpa berhenti.

Busana Remo yang disiapkan sebelum kelas dan sebelum pentas

Busana Remo putra mengambil rupa prajurit gaya Surabayan: baju berlengan panjang, rompi, celana yang berhenti di bawah lutut, kain batik yang dililitkan, sabuk, sampur di pinggang, ikat kepala, dan gongseng di pergelangan kaki kanan. Susunannya terlihat rumit dari luar, dan memang butuh waktu untuk mengenakannya dengan benar.

Remo putri memakai susunan yang berbeda. Bagian atasnya lebih tertutup rapat, rambut ditata, dan porsi hentakannya lebih ringan sehingga tenaga terbagi ke gerak tangan dan kepala. Peserta perempuan boleh memilih membawakan gaya putri, dan boleh pula membawakan gaya putra yang memang lebih tua usianya; pelatih menyesuaikan latihan pada pilihan itu sejak awal.

Untuk latihan rutin, semua itu belum diperlukan. Peserta cukup memakai pakaian lentur, celana selutut, dan kaus kaki tebal, ditambah selendang latihan yang tidak harus mahal. Kain batik yang sudah ada di rumah sering dipakai sebagai pengganti sementara supaya peserta terbiasa pada beban lilitan di pinggang. Busana lengkap baru disusun menjelang pentas, dan biayanya berjalan di luar tarif sesi karena bergantung pada ukuran badan serta pilihan menyewa atau menjahit.

Tarif Remo mengikuti dua hal yang bisa diperiksa peserta sendiri: panjang sesi dan jenjang usia. Sesi 60 menit cukup untuk tahap sikap dasar dan olah sampur, dan tarifnya mulai Rp128.300 per sesi untuk peserta jenjang sekolah dasar dengan empat sesi dalam sebulan. Begitu gedruk masuk dan satu rangkaian penuh mulai dikejar, sesi 60 menit terasa sempit karena pemanasan dan pendinginan menghabiskan bagiannya sendiri; sesi 90 menit di jenjang yang sama berada di Rp171.500 per sesi.

Peserta dewasa yang berlatih 90 menit berada di Rp303.800 per sesi. Selisihnya ditentukan tarif jenjang usia peserta; jenis tariannya sendiri tidak menggeser angka itu. Angka-angka ini disebut sebelum sesi pertama berjalan sehingga keluarga bisa menghitung sendiri kebutuhan satu bulannya.

Poin penting

Biaya les Tari Remo Surabaya per sesi dan isinya

Rp128.300 per sesi 60 menit

Jenjang sekolah dasar, empat sesi dalam sebulan, pelatih datang ke tempat peserta. Cocok untuk tahap sikap dasar dan olah sampur.

Rp171.500 per sesi 90 menit

Jenjang yang sama dengan durasi penuh. Dipakai begitu gedruk, rangkaian utuh, dan gending digabung dalam satu sesi.

Rp303.800 per sesi peserta dewasa

Durasi 90 menit untuk peserta dewasa, termasuk penari sanggar yang ingin merapikan teknik dan menyiapkan kidungan sendiri.

Tambahan Rp15.000 per sesi di ruang belajar

Berlaku bila sesi digelar di NextSpace Kenjeran, Tambaksari, atau di Union Space Sidosermo, Wonocolo. Dihitung per orang per sesi dan berdiri di luar tarif di atas.

Sampur dan gongseng di luar tarif

Perlengkapan menari dimiliki peserta sendiri. Pelatih memberi ukuran dan bahan yang sesuai umur sebelum keluarga membelinya.

Busana pentas dihitung terpisah

Susunan busana Remo disiapkan menjelang pentas, dengan biaya yang bergantung pada ukuran badan dan pilihan menyewa atau menjahit.

Jadwal sesi Remo yang bisa diatur di sekitar latihan sekolah

Banyak peserta anak sudah punya kegiatan menari di sekolah, dan sesi privat di Edubia berjalan sebagai pendamping latihan itu, dengan porsi yang disusun supaya keduanya tidak saling menghabiskan tenaga kaki peserta. Karena itu penyusunan jadwal biasanya dimulai dari hari-hari yang sudah terpakai. Kalau latihan sekolah jatuh pada Selasa dan Kamis sore, sesi privat diarahkan ke akhir pekan supaya kaki peserta punya hari istirahat di antaranya.

Waktu dalam sehari juga ikut dipertimbangkan. Latihan gedruk di rumah pada siang hari terasa berat di banyak wilayah Surabaya, sehingga pagi akhir pekan dan awal malam menjadi pilihan yang lebih sering diambil keluarga. Untuk peserta dewasa yang bekerja, sesi setelah jam kantor lebih lazim, dan pelatih menyesuaikan porsi pemanasan karena badan yang seharian duduk memerlukan persiapan lebih panjang.

Ritme sesi menyesuaikan sasaran. Empat sesi dalam sebulan cukup untuk peserta yang belajar karena tertarik, sementara peserta yang menyiapkan lomba seni sekolah biasanya menaikkan ritmenya beberapa pekan sebelum tanggal pentas. Perubahan ritme dibicarakan lebih dulu, karena menaikkan jumlah sesi tanpa menambah waktu istirahat justru menghambat kaki yang sedang membiasakan diri pada hentakan.

Sesi tatap muka berjalan di 31 kecamatan Kota Surabaya. Yang menentukan kelancarannya adalah ruang yang tersedia di tempat peserta: Remo memerlukan bidang datar sepanjang beberapa langkah supaya rangkaian berpindah tempat bisa dijalankan utuh, dan lantai yang tidak licin karena hentakan bertumpu pada telapak penuh.

Ruang tamu yang dikosongkan sementara biasanya sudah memadai untuk tahap satu sampai empat. Untuk tahap lima ke atas, keluarga kerap memindahkan sesi ke teras berpaving, aula kecil, atau ruang belajar Edubia.

Yang perlu diketahui

Wilayah Kota Surabaya yang didatangi pelatih Remo

01

Timur kota

Gubeng, Sukolilo, Mulyorejo, Rungkut, Gunung Anyar, dan Tenggilis Mejoyo. Wilayah padat kampus dan sekolah, dengan banyak peserta usia sekolah menengah.

02

Utara dan pesisir

Kenjeran, Bulak, Semampir, Pabean Cantian, Krembangan, dan Tambaksari. Ruang belajar Edubia di Tambaksari berada di sisi ini bagi keluarga yang rumahnya sempit.

03

Pusat kota

Bubutan, Simokerto, Tegalsari, dan Sawahan. Jarak antarkecamatan pendek, sehingga sesi sore pada hari kerja lebih mudah dijadwalkan di sini.

04

Selatan kota

Wonokromo, Wonocolo, Jambangan, Gayungan, Karang Pilang, dan Dukuh Pakis. Union Space Sidosermo di Wonocolo menjadi titik alternatif ketika rumah peserta tidak memungkinkan.

05

Barat kota

Tandes, Sukomanunggal, Asemrowo, Benowo, Pakal, Sambikerep, Lakarsantri, dan Wiyung. Perumahan dengan halaman lapang di sini sering dipakai untuk tahap rangkaian penuh.

Kecamatan Kabupaten Sidoarjo yang dilayani kelas Remo

Di luar kota, sesi Remo berjalan di 18 kecamatan Kabupaten Sidoarjo. Peserta dari Waru, Taman, Gedangan, dan Sedati biasanya mengambil jadwal sore pada hari kerja karena jaraknya ke pusat kota pendek. Dari Sidoarjo kota sendiri, ditambah Buduran, Candi, dan Sukodono, jadwal akhir pekan lebih sering dipilih supaya sesi bisa berdurasi penuh tanpa dikejar waktu.

Wilayah yang lebih jauh tetap terjangkau. Krian, Balongbendo, Prambon, Tarik, dan Wonoayu berada di sisi barat kabupaten, sementara Tulangan, Krembung, Porong, Tanggulangin, dan Jabon berada di sisi selatan. Untuk kecamatan-kecamatan ini, sesi berdurasi 90 menit dengan ritme dua kali sepekan biasanya lebih masuk akal daripada sesi pendek yang sering, karena perjalanan pelatih ikut menentukan pilihan jam.

Satu hal yang membedakan peserta Sidoarjo dari peserta kota: ruang latihan di rumah sering justru lebih lapang, dan lantai teras atau halaman berpaving lebih mudah ditemukan. Itu menguntungkan tahap rangkaian penuh, yang menuntut perpindahan tempat beberapa langkah ke depan dan ke samping.

Perlindungan lutut dan pergelangan kaki selama kelas berjalan

Remo dibawakan bertelanjang kaki, dan hentakannya berulang. Dua hal itu berarti sendi kaki menerima getaran langsung dari lantai, jadi permukaan tempat berlatih ikut menentukan keamanan sesi. Lantai keramik dan beton nyaris tidak meredam getaran, sementara lantai kayu, matras tipis yang tidak terlalu empuk, atau tanah padat menyerap sebagiannya.

Pemanasan karena itu tidak dipangkas walaupun waktu sesi terbatas. Bagian yang disiapkan lebih dulu adalah pergelangan kaki, betis, dan paha depan, ditambah pelemasan pinggul karena tanjak menuntut lutut membuka lama. Pelatih juga memeriksa keluhan yang dibawa peserta sebelum sesi dimulai, dan menyesuaikan porsi hentakan bila ada nyeri yang tersisa dari latihan sebelumnya.

Beberapa keadaan menuntut kehati-hatian lebih. Peserta dengan riwayat keseleo di pergelangan kaki, nyeri lutut yang berulang, atau berat badan yang membuat hentakan penuh terasa berat sebaiknya menjalani tahap gedruk dengan porsi bertahap dan jeda yang lebih panjang. Untuk keluhan yang menetap, pemeriksaan tenaga kesehatan berjalan lebih dulu, dan pelatih menyesuaikan latihan pada anjuran yang keluarga terima.

Ringkasnya

Cara berlatih Remo di rumah di antara dua sesi

Latihan mandiri di antara sesi menjaga kaki tetap terbiasa tanpa menambah risiko cedera.

Pilih permukaan yang memantul lebih lembut

Lantai kayu, matras tipis, atau tanah padat lebih ramah bagi tumit daripada keramik. Kalau hanya ada keramik, kurangi jumlah hentakan dan tambah jeda.

Latih tangan tanpa kaki lebih dulu

Sabetan dan kipatan sampur bisa diulang sambil berdiri diam. Ini menambah jam terbang lengan tanpa membebani sendi kaki sama sekali.

Hitung bersuara sebelum rekaman dinyalakan

Menghitung sendiri melatih rasa tempo dari dalam dan menyiapkan napas untuk kidungan. Rekaman gending dipakai belakangan sebagai pemeriksa.

Berhenti saat bunyi gongseng menipis

Bunyi yang melemah menandakan tumit sudah tidak sampai ke lantai. Itu tanda yang bisa dipercaya bahwa sesi mandiri hari itu sudah cukup.

Peserta dewasa yang mendaftar kelas Remo karena riwayat keluarga

Sebagian peserta dewasa datang bukan karena hendak menjadi penari. Mereka tumbuh di keluarga yang akrab dengan ludruk atau pernah menonton Remo sejak kecil, lalu ingin bisa membawakannya sendiri sebelum ingatan geraknya hilang. Kelompok ini biasanya belajar dengan cara yang berbeda dari anak: mereka bertanya banyak soal makna gerak, dan lebih cepat memahami hitungan gending.

Yang menahan mereka justru badan. Pinggul yang jarang dibuka membuat tanjak terasa tidak nyaman pada sesi pertama, dan hentakan berulang terasa lebih berat daripada yang mereka bayangkan. Pelatih karena itu memanjangkan pemanasan dan memecah rangkaian menjadi potongan pendek, sehingga tenaga tidak habis sebelum bagian kidungan dicoba.

Ada pula peserta dewasa yang datang dari luar Jawa Timur, termasuk pekerja yang ditempatkan di Surabaya dan ingin mengenal kesenian tempat ia tinggal. Untuk mereka, pelatih menyisipkan penjelasan singkat tentang kedudukan Remo sebagai pembuka pertunjukan ludruk dan tentang isi kidungan yang sedang ditembangkan, supaya gerak yang dipelajari punya konteks dan tidak sekadar ditirukan.

Pendampingan sanggar dan kelompok kecil di luar sesi privat

Sanggar tari yang sudah berjalan kadang membutuhkan tangan tambahan untuk satu hal spesifik: merapikan gedruk yang tidak seragam, menyamakan tempo antarpenari, atau menyiapkan bagian kidungan menjelang pentas kota. Edubia menerima pendampingan semacam ini dengan pelatih yang datang ke tempat latihan sanggar.

Bentuknya berbeda dari sesi privat perorangan. Pelatih bekerja pada bagian yang disepakati lebih dulu, biasanya dua sampai empat bagian saja, dan menyerahkan sisanya kepada pengasuh sanggar yang sudah mengenal penarinya. Pengaturan biayanya mengikuti jumlah peserta dan panjang program, sehingga penawarannya disusun sesudah kebutuhan latihannya dihitung.

Untuk sekolah, permintaan yang berulang datang adalah persiapan lomba seni siswa dan penampilan pada acara sekolah. Di sini pelatih membantu memilih rangkaian yang panjangnya sesuai batas waktu tampil, lalu melatih perpindahan tempat agar rangkaian terbaca dari kursi penonton. Edubia bekerja sebagai pendamping latihan, dan segala urusan pendaftaran lomba maupun perizinan acara tetap berada di tangan sekolah atau sanggar yang bersangkutan.

Empat hal di bawah muncul berulang pada peserta baru, dan keempatnya bisa diperbaiki lebih cepat di sesi privat karena pelatih melihat satu tubuh saja. Di kelas berbaris, kesalahan seperti ini sering baru ketahuan setelah berbulan-bulan, ketika ia sudah menjadi kebiasaan.

Detail

Kesalahan yang sering muncul di kelas Remo pemula

Unggulan utama

Berdiri terlalu tinggi saat tanjak

Lutut yang hampir lurus membuat berat badan naik, hentakan kehilangan tenaga, dan getaran masuk lurus ke sendi. Diperbaiki dengan latihan turun-naik pelan sebelum hentakan dimulai.

Mengejar bunyi gongseng

Peserta menghentak lebih keras supaya terdengar ramai, lalu bentuk kakinya rusak. Pelatih mengembalikan tenaga ke setengah dan meminta bunyi datang dari telapak yang jatuh utuh.

Lengan bekerja sendirian

Sampur dilempar dari siku sehingga kain tidak terbuka penuh. Latihan dipindahkan ke pergelangan tangan, dengan siku sengaja ditahan agar berhenti ikut campur.

Menahan napas selama rangkaian

Konsentrasi pada tangan membuat peserta lupa bernapas, dan tenaganya habis di pertengahan. Menghitung bersuara memulihkan aliran napas sekaligus menyiapkan kidungan.

Cara mengambil sesi les Tari Remo pertama di Edubia

Langkah awalnya pendek. Keluarga menyampaikan umur peserta, pengalaman menarinya kalau ada, wilayah tempat sesi akan berjalan, dan sasaran yang sedang dikejar, entah sekadar mengenal Remo, menyiapkan penampilan sekolah, atau merapikan teknik yang sudah dimiliki. Dari keterangan itu Edubia mempertemukan peserta dengan pelatih yang cocok pada gaya dan jenjangnya.

Sesi pertama umumnya berbentuk pengukuran: pelatih memeriksa sikap berdiri, kelenturan pinggul, dan kesanggupan menahan hitungan pendek, lalu menyusun urutan tahap yang akan ditempuh. Dari sesi itu pula ditentukan apakah durasi 60 menit sudah cukup atau langsung dipakai 90 menit, dan kapan gongseng mulai dipasang.

Bila gaya mengajar pelatih ternyata belum cocok dengan peserta, pelatih bisa diganti tanpa biaya tambahan, dan catatan tahap yang sudah dilewati ikut diserahkan supaya latihan tidak diulang dari awal. Untuk menanyakan jadwal, tarif, atau ketersediaan pelatih di kecamatan tertentu, hubungi Edubia lewat WhatsApp atau isi formulir pendaftaran. Keterangan lokasi ruang belajar dan jalur kontak lain tersedia di halaman kontak.

Tujuh tahap di bawah adalah urutan yang dipakai pelatih Edubia untuk membaca kemajuan peserta. Peserta bergerak ke tahap berikutnya ketika tahap sebelumnya sudah bisa diulang tanpa koreksi, jadi kecepatannya berbeda pada tiap orang. Anak usia dini kerap berhenti agak lama di dua tahap pertama, sementara peserta yang punya pengalaman menari Jawa gaya lain bisa melewatinya dalam beberapa sesi.

Sorotan

Urutan sesi les Tari Remo dari tanjak sampai tampil

Empat langkah sederhana, dari daftar sampai belajar bareng tutor pilihan.

  1. Tahap satu: sikap dasar dan pemanasan

    Tanjak, sembah, pemindahan berat badan, serta pemanasan pergelangan kaki dan lutut. Peserta juga mengenal batas ruang latihannya di rumah.

  2. Tahap dua: olah sampur

    Seblak, kipatan, dan sabetan dilatih terpisah dari kaki. Fokusnya pada pelepasan jari dan pada kain yang jatuh tepat waktu.

  3. Tahap tiga: gedruk dan gongseng

    Hentakan diperkenalkan tanpa gongseng, lalu dengan gongseng setengah tenaga, baru penuh. Bunyi dipakai sebagai alat koreksi.

  4. Tahap empat: gedheg dan arah pandang

    Gerak kepala digabungkan dengan tangan sambil kaki bekerja. Pandangan diangkat dari lantai dan dipegang pada satu arah.

  5. Tahap lima: satu rangkaian penuh

    Seluruh bagian disusun mengikuti gending Jula-Juli dari awal sampai penutup, mula-mula pada tempo lambat lalu pada tempo yang sebenarnya.

  6. Tahap enam: kidungan

    Menembang pantun disisipkan di antara rangkaian. Latihan napas dan pengucapan berjalan lebih dulu dalam keadaan duduk.

  7. Tahap tujuh: tampil dengan iringan langsung

    Peserta berlatih membaca aba-aba kendang, menyesuaikan tempo yang bergeser, dan menutup rangkaian bersama penabuh.

Tanya jawab

Apa saja yang perlu diketahui soal les tari remo di Surabaya?

Apa itu Tari Remo dan kenapa ia dibawakan di awal pertunjukan ludruk?

Remo adalah tari khas Jawa Timur yang dibawakan sebagai pembuka pertunjukan ludruk. Tokoh yang dibawakan penari bercerita tentang seorang kesatria muda, dengan gerak tegas, hentakan kaki, dan gongseng yang berbunyi di pergelangan kaki kanan. Kedudukannya sebagai pembuka membuat Remo dikenal luas di Surabaya, termasuk oleh orang yang belum pernah menonton ludruk sampai selesai.

Umur berapa anak bisa mulai les Tari Remo?

Anak usia dini sudah bisa masuk pada tahap sikap dasar, yaitu tanjak, sembah, dan pengenalan sampur, tanpa gongseng dan tanpa hentakan penuh. Tahap gedruk dengan gongseng biasanya menunggu sampai kaki dan sendi anak lebih kuat menahan hentakan berulang. Pelatih menentukan waktunya dari pengukuran di sesi pertama, jadi umur di kalender dibaca bersama kesiapan sendi kaki anak.

Berapa biaya les Tari Remo di Surabaya per sesi?

Sesi 60 menit untuk peserta jenjang sekolah dasar dengan empat sesi sebulan dimulai dari Rp128.300 per sesi. Sesi 90 menit di jenjang yang sama berada di Rp171.500 per sesi, dan peserta dewasa dengan durasi 90 menit berada di Rp303.800 per sesi. Bila sesi digelar di ruang belajar Edubia, ada tambahan Rp15.000 per sesi per orang yang dihitung di luar tarif tersebut.

Apakah peserta harus punya gongseng sendiri sejak sesi pertama?

Tidak. Gongseng baru dipasang pada tahap ketiga, sesudah sikap dasar dan olah sampur berdiri stabil, dan sampai saat itu kaus kaki tebal cukup dipakai untuk membiasakan beban ringan di pergelangan kaki. Pelatih memberi saran berat dan ukuran gongseng yang sesuai umur peserta sebelum keluarga membelinya, sehingga uang tidak keluar untuk perlengkapan yang salah takaran.

Berapa lama sampai pemula bisa membawakan satu rangkaian Remo utuh?

Pada peserta yang mengambil empat sesi sebulan dan mengulang di rumah, satu rangkaian pendek dari awal sampai penutup biasanya bisa dibawakan sekitar bulan keempat. Yang menentukan adalah daya tahan kaki, sebab hafalan urutan biasanya lebih dulu selesai: rangkaian utuh menuntut hentakan berjalan terus tanpa bunyi gongseng menipis di pertengahan.

Gaya Remo mana yang diajarkan pelatih Edubia?

Gaya Surabayan menjadi pilihan utama karena ia yang sehari-hari didengar dan dilihat peserta di kota ini, lengkap dengan kidungan Jula-Juli yang melodinya bebas. Gaya Jombangan bisa diambil peserta yang memang mengincarnya, biasanya penari sanggar atau peserta yang menyiapkan pentas tertentu. Pelatih memastikan satu gaya dikuasai dulu sebelum gaya kedua diperkenalkan.

Apakah anak perempuan bisa belajar Tari Remo?

Bisa. Remo semula dibawakan penari laki-laki, lalu berkembang dan kini punya bentuk Remo Putri dengan busana dan porsi hentakan yang berbeda. Peserta perempuan boleh memilih membawakan gaya putri, boleh pula membawakan gaya putra dengan gedruk penuh. Pilihan itu ditentukan di awal karena ia mengubah susunan latihan sejak tahap pertama.

Kenapa gedruk membuat betis dan tumit cepat terasa lelah?

Hentakan Remo bertumpu bergantian pada tumit dan telapak depan, dilakukan berulang tanpa tempo melambat, sementara lutut tetap membuka dan badan tetap turun. Otot betis dan paha depan karena itu bekerja terus tanpa jeda panjang. Pelatih membaca kelelahannya dari bunyi gongseng yang menipis, dan menghentikan latihan pada titik itu sebelum peserta memaksakan diri.

Lantai seperti apa yang aman untuk berlatih Remo di rumah?

Remo dibawakan bertelanjang kaki, jadi permukaan menentukan seberapa besar getaran yang masuk ke sendi. Lantai kayu, tanah padat, atau matras tipis yang tidak terlalu empuk menyerap sebagian getaran. Keramik dan beton nyaris tidak meredamnya, jadi kalau hanya itu yang tersedia, jumlah hentakan dikurangi dan jeda antarpengulangan diperpanjang.

Apakah kidungan ikut diajarkan atau hanya geraknya saja?

Kidungan masuk sebagai tahap keenam dan tidak dilewati. Menembang pantun di sela tarian adalah ciri Remo gaya Surabayan, dan bagian inilah yang biasanya hilang dari kelas kilat. Latihannya dipisah lebih dulu: menembang dalam keadaan duduk sampai cengkok dan pengucapan dikenal, baru dipasang di antara dua rangkaian gerak.

Bisakah jadwal sesi Remo diatur mengikuti ekstrakurikuler sekolah?

Bisa, dan penyusunannya justru dimulai dari hari yang sudah terpakai. Kalau latihan sekolah jatuh dua kali sepekan, sesi privat diarahkan ke hari lain supaya kaki peserta punya waktu istirahat. Untuk peserta dewasa yang bekerja, sesi setelah jam kantor lebih lazim, dengan porsi pemanasan yang dipanjangkan karena badan yang seharian duduk butuh persiapan lebih lama.

Kalau ruang di rumah sempit, sesi Remo digelar di mana?

Tahap satu sampai empat masih bisa berjalan di ruang tamu yang dikosongkan sementara, sebab yang dilatih adalah sikap berdiri, sampur, dan hentakan di tempat. Mulai tahap rangkaian penuh, peserta memerlukan bidang datar sepanjang beberapa langkah. Keluarga biasanya memindahkan sesi ke teras berpaving, aula kecil, atau ke ruang belajar Edubia di Tambaksari maupun Wonocolo.

Apakah peserta dewasa yang belum pernah menari bisa ikut kelas ini?

Bisa, dan kelompok ini cukup banyak di Surabaya. Yang perlu disiapkan adalah pinggul dan pergelangan kaki, sebab tanjak menuntut lutut membuka lama dan hentakan berulang terasa lebih berat pada badan yang jarang bergerak. Pelatih memanjangkan pemanasan dan memecah rangkaian menjadi potongan pendek, sehingga tenaga tidak habis sebelum bagian akhir dicoba.

Bagaimana bila pelatih Remo yang datang ternyata belum cocok?

Pelatih bisa diganti tanpa biaya tambahan. Catatan tahap yang sudah dilewati peserta ikut diserahkan kepada pelatih berikutnya, termasuk keluhan kaki yang perlu diperhatikan dan gaya yang sedang dipelajari, supaya latihan tidak dimulai ulang dari tanjak. Keluarga cukup memberitahukan bagian mana dari cara mengajar yang terasa belum pas.

Bisakah kelas Remo disiapkan khusus untuk lomba seni siswa?

Bisa. Pelatih membantu memilih rangkaian yang panjangnya sesuai batas waktu tampil, melatih perpindahan tempat agar terbaca dari kursi penonton, lalu memindahkan latihan ke iringan langsung menjelang hari pentas. Pendaftaran lomba dan perizinan acara tetap diurus sekolah atau sanggar; Edubia bekerja pada latihannya.

Waktunya Belajar

Tanyakan biaya dan jadwal les tari remo lebih dulu

Cukup ceritakan kebutuhan Anda, kami rancang jalur belajar tari remo yang tepat sasaran.

4,9/5 · 1.200 ulasan wali di Surabaya