4,9/5 · 1.200 ulasan · Pemula sampai menengah
Les Produksi Film di Surabaya
Les produksi film di Edubia melatih kerja teknis satu film pendek: dari naskah dan papan cerita ke kamera, cahaya, suara, lalu penyuntingan. Sesi 60 sampai 120 menit, satu tutor satu peserta, di rumah kamu di Surabaya atau daring, sampai satu karya selesai.
Produksi Film privat di Surabaya: ringkasnya
Les produksi film di Edubia melatih kerja teknis satu film pendek: dari naskah dan papan cerita ke kamera, cahaya, suara, lalu penyuntingan. Sesi 60 sampai 120 menit, satu tutor satu peserta, di rumah kamu di Surabaya atau daring, sampai satu karya selesai.
Konsultasi dan DaftarSpesifikasi Les
- Nama program
- Les privat produksi film
- Peserta
- Pelajar SMP, SMA, dan SMK, mahasiswa, serta pengelola konten
- Format belajar
- Satu tutor untuk satu peserta
- Durasi sesi
- 60, 90, atau 120 menit
- Intensitas
- 4 sampai 12 sesi per bulan
- Tempat belajar
- Rumah peserta, co-learning space Edubia di Tambaksari atau Wonocolo, atau daring
- Biaya
- Mulai Rp129.550 per sesi
- Tambahan co-learning space
- Rp15.000 per sesi
- Alat
- Kamera atau telepon genggam milik peserta, penyangga, mikrofon jepit
- Hasil belajar
- Satu film pendek, dokumenter singkat, atau video profil yang selesai diekspor
- Wilayah layanan
- Seluruh kecamatan Kota Surabaya, ditambah kota tetangganya, Sidoarjo
- Jam layanan
- Setiap hari, pagi sampai malam
- Penggantian tutor
- Tutor bisa diganti tanpa biaya tambahan
Kenapa privat
Privat atau bimbel untuk produksi film? Ini bedanya
| Fitur | Pilihan terbaik Les Produksi Film Privat Edubia Ke rumah di Surabaya | Bimbel Produksi Film Grup | Belajar Produksi Film Sendiri |
|---|---|---|---|
| Perhatian tutor saat belajar produksi film | Penuh, satu untuk satu | Terbagi ke banyak siswa | Tanpa pendamping |
| Materi produksi film disesuaikan level siswa | |||
| Assessment kebutuhan produksi film di awal | |||
| Jadwal menyesuaikan rutinitas di Surabaya | Kelas terjadwal | ||
| Tutor produksi film bisa diganti tanpa ribet | |||
| Pekerjaan peserta diperiksa di layar yang sama | Seragam | Cari sendiri |
Kecocokan
Sebelum daftar les produksi film, cocokkan dulu
Peserta yang cocok
- Pelajar SMP, SMA, atau SMK yang ingin menyelesaikan film pendek untuk lomba, tugas, atau kegiatan ekstrakurikuler.
- Mahasiswa yang sudah sering merekam kegiatan dan ingin memperbaiki tata kamera, tata cahaya, serta suaranya.
- Pengelola akun usaha yang butuh video profil dan konten pendek yang enak ditonton tanpa menyewa rumah produksi.
- Peserta yang punya telepon genggam atau kamera sederhana dan siap memakainya sebagai alat utama.
- Orang yang lebih cepat memahami lewat praktik langsung daripada lewat penjelasan panjang di kelas besar.
Nilai lebih
Pembeda les produksi film Edubia
Satu tutor mendampingi satu peserta
Seluruh sesi berjalan berdua, jadi tutor melihat langsung cara kamu memegang kamera dan menata lampu, lalu membetulkannya saat itu juga.
Tutor datang ke rumah di kecamatan kamu
Latihan berlangsung di ruangan yang nanti benar-benar dipakai merekam, sehingga penataan cahaya dan suaranya berpijak pada kondisi nyata. Rumah peserta di Tegalsari, Sawahan, sampai Gunung Anyar sama-sama didatangi, dan tutor yang tinggal terdekat didahulukan.
Materi menyesuaikan alat yang sudah ada
Telepon genggam, kamera saku, atau mirrorless pinjaman sama-sama dipakai. Tutor menyesuaikan menu dan tombolnya supaya latihan berjalan memakai perangkat yang sudah kamu bawa.
Jadwal bergeser mengikuti hari syuting
Sesi bisa digandakan pada hari pengambilan gambar dan digeser saat hujan membatalkan lokasi, tanpa hangus.
Tutor bisa diganti tanpa biaya tambahan
Kalau cara mengajarnya tidak cocok, tim Edubia mencarikan pengganti dan menyerahkan catatan belajarmu supaya sesi berikutnya tidak mengulang dari nol.
Karya diperiksa sampai layak ditayangkan
Peninjauan akhir memeriksa suara, warna, dan tempo, lalu menyiapkan berkas ekspor sesuai syarat lomba, tugas sekolah, atau unggahan.
Alur belajar
Perjalanan peserta les produksi film sampai karya selesai
Perkiraan di bawah ini memakai pola dua sesi per pekan. Peserta yang mengejar tenggat lomba bisa memampatkannya, dan peserta yang sekolahnya padat boleh melebarkannya.
- 01
Sesi 1: menakar alat dan selera
AwalTutor memeriksa kamera atau telepon yang kamu punya, mencoba satu rekaman pendek, dan menonton contoh video yang kamu suka. Dari situ urutan materi disusun, termasuk memutuskan bagian mana yang boleh dilewati.
- 02
Sesi 2 sampai 4: naskah dan papan cerita
Pra-produksiIde dipangkas menjadi cerita satu sampai dua lokasi, ditulis dalam format adegan, lalu digambar menjadi papan cerita dan daftar pengambilan gambar bernomor.
- 03
Sesi 5 sampai 7: latihan kamera, cahaya, dan suara
LatihanPeserta berlatih ukuran gambar, garis imajiner, susunan tiga titik cahaya, dan pemasangan mikrofon. Tiap latihan menghasilkan potongan pendek yang langsung ditonton bersama.
- 04
Sesi 8 sampai 10: hari syuting
ProduksiAdegan direkam menurut jadwal yang sudah disusun, dengan tutor mendampingi keputusan teknis di lokasi. Kru diisi teman atau keluarga yang kamu ajak, dan tiap orang memegang tugas yang jelas.
- 05
Sesi 11 sampai 13: penyuntingan dan penataan suara
Pasca-produksiBerkas disalin dan dinamai, susunan kasar dibangun, lalu potongan dihaluskan. Sesudah alurnya terkunci, giliran koreksi warna, penataan dialog dan atmosfer, serta musik.
- 06
Sesi 14: peninjauan akhir dan penayangan
PenutupKarya ditonton utuh, diperbaiki sekali putaran, lalu diekspor. Tutor membantu menyiapkan berkas untuk lomba, tugas sekolah, atau unggahan, berikut catatan rencana karya berikutnya.
Fleksibel
Pilih format les produksi film yang cocok dengan rutinitas keluarga
Tutor produksi film datang ke rumah, co-learning space, atau online. Rencana belajar disusun dari kebutuhan anak.
Standar layanan
Apa yang keluarga dapat dari les produksi film privat?
Ringkasan singkat sebelum Anda menanyakan jadwal dan biaya les produksi film.
Biaya les produksi film disepakati di awal
Nominal per sesi dibicarakan terbuka sebelum pertemuan pertama, tanpa tambahan di tengah jalan.
Tutor produksi film datang ke rumah
Sesi berjalan di rumah Anda di Surabaya, di co-learning space partner, atau online bila cuaca dan jadwal menuntut.
Garansi ganti tutor
Kalau cara mengajarnya belum cocok, tutor produksi film diganti tanpa biaya tambahan.
Cakupan
Yang Anda dapat di kelas privat produksi film
- Naskah pendek siap syuting · Ditulis dalam format adegan, sudah dihitung terhadap orang, lokasi, dan waktu yang tersedia.
- Papan cerita dan daftar pengambilan gambar · Kotak gambar sederhana berikut daftar bernomor yang bisa dipegang kru di lokasi.
- Uraian kebutuhan tiap adegan · Daftar pemeran, properti, kostum, dan perkiraan waktu, dipakai menyusun jadwal syuting.
- Latihan kamera memakai alat sendiri · Ukuran gambar, komposisi, garis imajiner, dan gerak kamera, dilatih pada perangkat yang benar-benar kamu bawa ke lokasi.
- Tata cahaya untuk ruangan di rumah · Susunan tiga titik memakai jendela, satu lampu kecil, dan pemantul murah, disesuaikan dengan ruangan yang ada.
- Perekaman suara yang bersih · Pemasangan mikrofon, pemantauan lewat headphone, penanganan derau, dan perekaman keheningan ruangan.
- Berkas proyek penyuntingan yang rapi · Penamaan berkas, susunan lapisan gambar dan suara, serta cara menyimpan proyek supaya bisa dibuka lagi.
- Satu karya jadi berikut versi ekspornya · Film pendek, dokumenter singkat, atau video profil yang sudah diwarnai, dicampur suaranya, dan diekspor.
Susunan materi
Susunan materi les produksi film, sesi demi sesi
Sembilan topik di bawah ini dikerjakan berurutan, dan tiap topik punya satu jebakan yang hampir selalu muncul pada karya pertama. Urutannya bisa dipercepat untuk peserta yang sudah biasa merekam.
- 1
Naskah yang bisa difilmkan
Pra-produksiYang dibahas. Format adegan, keterangan tempat dan waktu, aksi yang benar-benar terlihat kamera, serta dialog seperlunya. Satu halaman naskah kira-kira setara satu menit di layar, dan patokan itu dipakai menakar durasi sejak awal.
Jebakan umum. Peserta menulis hujan deras, kejar-kejaran di jalan raya, atau dua puluh pemeran, lalu tak satu pun adegan itu bisa direkam pada akhir pekan yang tersedia.
Cara tutor. Tutor membaca naskah sambil menghitung orang, lokasi, dan jam, lalu menukar adegan mahal dengan adegan lain yang menyampaikan maksud sama. Perhitungan itu dikerjakan di depan peserta supaya cara berpikirnya ikut terbawa ke naskah berikutnya.
- 2
Papan cerita dan daftar pengambilan gambar
Pra-produksiYang dibahas. Menggambar kotak kasar untuk tiap pengambilan, menandai ukuran gambar dan arah gerak, lalu menurunkannya menjadi daftar bernomor yang dipegang kru pada hari syuting.
Jebakan umum. Papan cerita dilewati karena peserta merasa gambarnya jelek, padahal gambar orang lidi pun cukup. Akibatnya kru merekam seadanya dan penyunting kehabisan gambar penyambung.
Cara tutor. Tutor menggambar bersama peserta memakai bentuk yang sesederhana mungkin, lalu mengujinya: setiap kotak dibaca ulang dan ditanya gambar apa yang muncul sesudahnya. Bagian yang macet di situ selalu macet juga di lokasi.
- 3
Uraian kebutuhan dan jadwal syuting
Pra-produksiYang dibahas. Memecah naskah menjadi daftar kebutuhan per adegan: pemeran, properti, kostum, lokasi, dan perkiraan waktu. Dari daftar itu disusun jadwal yang mengelompokkan adegan menurut lokasi.
Jebakan umum. Jadwal disusun mengikuti urutan cerita, sehingga kru bolak-balik antar lokasi dan kehilangan waktu di jalan.
Cara tutor. Tutor melatih peserta menyusun ulang urutan syuting menurut tempat dan cahaya, lalu menyisipkan jeda pasang bongkar lampu di antaranya. Jadwal ditulis satu halaman dan dibagikan ke semua orang yang membantu.
- 4
Ukuran gambar dan komposisi
Tata kameraYang dibahas. Gambar lebar, gambar sedang, gambar dekat, dan gambar ekstrem dekat; aturan sepertiga; ruang di depan arah pandang; jarak ubun-ubun ke tepi atas; tinggi kamera terhadap mata tokoh.
Jebakan umum. Seluruh adegan direkam dari satu jarak, biasanya sedang, sehingga penyuntingan tidak punya variasi dan penonton lelah.
Cara tutor. Tutor memberi tugas merekam satu kegiatan sederhana dalam lima ukuran berbeda, lalu menyusunnya bersama peserta. Perbedaan rasa antar ukuran terasa langsung, dan kebiasaannya menempel sesudah satu latihan.
- 5
Garis imajiner dan kesinambungan
Tata kameraYang dibahas. Garis khayal di antara dua tokoh, sisi kamera yang aman, arah masuk dan keluar bingkai, serta pencocokan gerak antar pengambilan.
Jebakan umum. Kamera pindah ke seberang garis, arah pandang tokoh tertukar, dan penonton merasa ada yang salah tanpa bisa menunjuk penyebabnya.
Cara tutor. Tutor menggambar denah kecil di kertas sebelum adegan percakapan direkam, menandai posisi kamera yang boleh dipakai, lalu mengujinya lewat dua pengambilan yang langsung ditonton ulang di lokasi.
- 6
Pencahayaan tiga titik
Tata cahayaYang dibahas. Cahaya utama, pengisi, dan pemisah; melunakkan cahaya dengan kain; memakai jendela sebagai sumber utama; menyamakan suhu warna antar lampu.
Jebakan umum. Lampu ruangan dibiarkan menyala bersama cahaya jendela, sehingga separuh wajah kebiruan dan separuh lagi kekuningan.
Cara tutor. Tutor mematikan lampu satu per satu di depan peserta sambil menunjukkan perubahannya di layar kamera. Peserta lalu menata ulang sendiri sampai bentuk wajahnya sesuai maksud adegan.
- 7
Perekaman suara di lokasi
Tata suaraYang dibahas. Mikrofon jepit dan mikrofon panjang, jarak mikrofon ke mulut, pemantauan lewat headphone, penanganan derau ruangan, perekaman keheningan ruangan, serta penandaan untuk sinkronisasi.
Jebakan umum. Suara direkam memakai mikrofon bawaan kamera dari jarak dua meter, dan dengung pendingin ruangan baru ketahuan saat penyuntingan.
Cara tutor. Tutor mewajibkan satu pengambilan uji di tiap lokasi baru, didengarkan lewat headphone sampai selesai. Kebiasaan kecil ini memindahkan pemeriksaan suara dari meja penyuntingan ke lokasi.
- 8
Penyuntingan gambar
Pasca-produksiYang dibahas. Pengelolaan berkas dan berkas proksi, susunan kasar, penghalusan potongan, sambungan suara yang mendahului gambar, serta pengaturan tempo adegan.
Jebakan umum. Peserta memoles bagian awal berjam-jam sebelum keseluruhan cerita tersusun, lalu kehabisan tenaga saat sampai ke bagian tengah.
Cara tutor. Tutor mengunci urutan kerja: susunan kasar utuh dulu, ditonton sekali penuh, baru dihaluskan. Catatan perbaikan ditulis sambil menonton, dan dikerjakan sesudah tontonan selesai.
- 9
Gradasi warna, pencampuran suara, dan ekspor
Pasca-produksiYang dibahas. Koreksi warna sebelum gradasi gaya, empat lapis suara berupa dialog, atmosfer, efek, dan musik, penyamaan kenyaringan, serta pengaturan ekspor pada resolusi 1920 x 1080.
Jebakan umum. Musik dipasang terlalu keras sehingga dialog tenggelam, dan berkas diekspor dengan pengaturan asal sehingga gambarnya pecah di layar besar.
Cara tutor. Tutor mendampingi peserta menyetel kenyaringan sambil mendengarkan lewat pengeras suara biasa, sebab di situlah karyanya akan ditonton orang.
Yang dikerjakan peserta di kelas produksi film
Sebuah film selesai lewat tiga tahap yang isinya pekerjaan berbeda. Pra-produksi menyiapkan naskah, papan cerita, uraian kebutuhan tiap adegan, pemilihan pemeran, tinjauan lokasi, dan jadwal syuting. Produksi adalah hari pengambilan gambar, saat semua rencana tadi diuji oleh cuaca, jam pinjam lokasi, dan tenaga orang yang membantu. Pasca-produksi menyusun potongan gambar, menyetel warna, menata suara, lalu mencampurnya menjadi satu berkas yang siap ditonton.
Kelas privat ini mengikuti urutan tersebut apa adanya. Sesi awal dipakai menulis dan menggambar rencana. Sesi tengah dipakai berlatih kamera, cahaya, dan suara di ruangan yang benar-benar tersedia di rumah peserta, entah di Gubeng, Rungkut, maupun Sukolilo. Sesudah itu barulah hari syuting, dan sisanya penyuntingan sampai karya diekspor.
Tutor menakar dulu alat yang kamu punya dan tontonan yang kamu suka, lalu menyusun materi dari titik itu. Peserta yang sudah biasa merekam kegiatan sekolah biasanya melompat cepat ke bagian penyuntingan, sementara peserta yang baru memegang kamera mendapat porsi latihan tangan lebih banyak sebelum naskah pertamanya digarap.
Ukuran gambar dan komposisi yang dilatih tutor
Ukuran gambar adalah kosakata pertama yang dipakai kru saat bekerja. Gambar lebar memperlihatkan tempat dan jarak antar tokoh. Gambar sedang memperlihatkan tubuh dari pinggang ke atas dan cocok untuk percakapan. Gambar dekat menahan wajah di dalam bingkai sehingga penonton membaca perubahan kecil pada mata dan mulut. Gambar ekstrem dekat menyorot satu benda, misalnya tangan yang menekan tombol.
Satu adegan sebaiknya direkam dalam beberapa ukuran. Penyunting yang hanya memegang satu ukuran tidak punya pilihan saat sebuah kalimat perlu dipotong. Itu sebabnya tutor melatih kebiasaan merekam gambar induk yang memuat seluruh adegan lebih dulu, baru mengulang aksi yang sama untuk gambar dekat.
Komposisinya diatur lewat aturan sepertiga: bingkai dibagi tiga mendatar dan tiga tegak, lalu mata tokoh diletakkan di garis sepertiga atas. Ruang di depan arah pandang dibuat lebih lega daripada ruang di belakang kepala, dan jarak ubun-ubun ke tepi atas dijaga tipis. Tinggi kamera setara mata tokoh membuat penonton merasa sejajar; kamera yang lebih rendah membuat tokoh tampak berkuasa.
Poin penting
Alat yang cukup untuk memulai les produksi film
Tutor memeriksa dulu apa yang sudah ada di rumah. Daftar di bawah ini urut menurut pengaruhnya terhadap hasil, dan yang teratas biasanya sudah kamu miliki.
Telepon genggam dan penyangga
Telepon keluaran beberapa tahun terakhir merekam pada resolusi 1920 x 1080 dengan hasil layak tayang. Yang menentukan justru penyangga murah, kunci fokus, dan kunci eksposur supaya gambar berhenti berkedip terang gelap.
Kamera mirrorless dengan lensa bawaan
Lensa bawaan sudah cukup untuk film pendek pertama. Yang dilatih lebih dulu bukaan, kecepatan rana, dan ISO, sebab tiga tombol itu yang menentukan terang gelap sekaligus rasa gambar.
Mikrofon jepit dan perekam terpisah
Mikrofon jepit di kerah baju menempatkan suara sejengkal dari mulut pembicara. Perekam terpisah menyimpan suara itu tanpa bergantung pada bodi kamera, dan hasilnya jauh lebih bersih daripada mikrofon bawaan.
Satu lampu kecil dan reflektor
Lampu LED kecil bertenaga baterai plus lembar styrofoam putih sudah membentuk cahaya wajah yang rapi. Kain putih tipis di depan lampu melunakkan bayangan tanpa alat tambahan.
Kartu memori cepat dan baterai cadangan
Kartu lambat membuat rekaman terputus di tengah adegan, dan baterai habis pada jam ketiga adalah alasan syuting bubar. Keduanya murah dibanding kerugian mengulang hari syuting.
Komputer atau telepon untuk menyunting
Penyuntingan bisa berjalan di komputer sederhana asal memakai berkas proksi. Peserta yang menyunting di telepon tetap memakai materi yang sama tentang ritme potongan dan lapisan suara.
Garis imajiner dan gerak kamera di sesi latihan
Dua tokoh yang sedang berhadapan membentuk garis khayal di antara mereka. Selama kamera bertahan di satu sisi garis itu, penonton selalu melihat tokoh kiri menghadap kanan dan tokoh kanan menghadap kiri. Begitu kamera melompat ke seberang garis, arah pandang keduanya tertukar dan penonton merasa ada yang salah tanpa bisa menyebut sebabnya. Aturan sederhana ini menyelamatkan lebih banyak adegan percakapan daripada alat mahal mana pun.
Gerak kamera dilatih sesudah gambar diam rapi. Menggeser kamera ke kiri dan kanan dari poros yang sama berguna mengikuti tokoh berjalan. Mendongak dan menunduk berguna memperlihatkan tinggi bangunan. Mendorong kamera maju di atas roda memberi rasa mendekat yang halus. Kamera yang dipanggul tangan cocok untuk adegan tegang, dan menuntut siku menempel badan supaya guncangannya terkendali.
Sering kali kamera yang diam justru lebih kuat, terutama saat yang bergerak adalah tokohnya. Tutor melatih kebiasaan menyalakan rekaman tiga detik sebelum aksi dan mematikannya tiga detik sesudah aksi berhenti, supaya penyunting punya ruang sambungan.
Pencahayaan tiga titik yang dilatih tutor di rumah
Susunan tiga titik memakai tiga sumber cahaya dengan tugas masing-masing. Cahaya utama diletakkan sekitar empat puluh lima derajat dari arah kamera dan menentukan bentuk wajah. Cahaya pengisi ditaruh di sisi berlawanan dengan kekuatan lebih rendah untuk meredakan bayangan. Cahaya pemisah datang dari belakang atas dan menggambar garis tipis di rambut dan bahu, sehingga tokoh terangkat dari latar.
Menghilangkan salah satunya mengubah rasa gambar. Tanpa pengisi, sisi gelap wajah jatuh pekat dan adegan terasa keras; kadang itu memang yang diinginkan. Tanpa pemisah, rambut gelap menyatu dengan tembok gelap dan gambar terasa datar. Tanpa cahaya utama yang jelas arahnya, wajah terlihat rata seperti pas foto.
Di rumah, jendela bekerja sebagai cahaya utama tanpa biaya: tokoh menghadap jendela, kamera membelakanginya, dan styrofoam putih di sisi lain bekerja sebagai pengisi. Yang perlu dijaga suhu warnanya. Cahaya siang di sekitar 5.600 kelvin bercampur lampu pijar 3.200 kelvin membuat separuh wajah kebiruan, jadi lampu ruangan dimatikan atau disamakan warnanya.
Perekaman suara yang dibereskan sejak sesi kedua
Suara adalah bagian yang berulang kali rusak pada karya pemula. Mikrofon bawaan kamera berada satu sampai dua meter dari pembicara, dan pada jarak itu ia menangkap pendingin ruangan, kipas, kendaraan di jalan, serta suara langkah operator. Menggandakan jarak mikrofon menurunkan tingkat suara secara mencolok, jadi patokannya sederhana: taruh mikrofon sedekat mungkin ke mulut, tepat di luar bingkai gambar.
Di kelas ini peserta berlatih dua cara. Mikrofon jepit dipasang di kerah, kabelnya disembunyikan, dan gesekan kain diredam memakai plester. Mikrofon panjang digantung di ujung galah, diarahkan menyerong ke dagu, dan dijaga tidak masuk bingkai. Suara dipantau lewat headphone sepanjang pengambilan, sebab desis dan dengung hampir selalu terlewat kalau hanya melihat jarum indikator.
Sebelum pindah lokasi, rekam tiga puluh detik keheningan ruangan. Rekaman itu dipakai penyunting menambal sambungan supaya latar suara tidak melompat. Ruangan berubin dan berdinding kosong memantulkan suara, dan menggantung kain atau menaruh kasur di luar bingkai sudah banyak menolong.
Yang perlu diketahui
Peran kru yang dicoba bergantian di kelas privat
Sutradara
Memegang keputusan cerita: adegan mana yang dipakai, seberapa jauh pemeran menahan diri, dan kapan sebuah pengambilan dianggap cukup. Ia menyusun daftar pengambilan gambar bersama pemegang kamera sebelum hari syuting.
Penata kamera
Menentukan lensa, jarak, tinggi kamera, dan terang gelap gambar. Di kru kecil ia sekaligus memegang kamera, jadi tutor melatih peserta mengecek fokus dan bingkai sebelum aba-aba mulai.
Penata cahaya
Memasang lampu, memantulkan cahaya, dan menutup jendela yang mengganggu. Pekerjaannya berat di awal adegan dan sepi di tengah, sehingga jadwal syuting perlu memberinya waktu pasang bongkar.
Perekam suara
Memasang mikrofon, memantau lewat headphone, dan berani menghentikan pengambilan saat ada sepeda motor lewat. Ia juga merekam keheningan ruangan sebelum kru pindah lokasi.
Pencatat adegan
Mencatat nomor adegan, nomor pengambilan, dan hal kecil yang harus sama antar gambar: posisi gelas, lengan baju yang tergulung, arah tokoh masuk. Catatan ini menyelamatkan penyuntingan.
Penyunting
Menyusun potongan, mengatur tempo, dan menata lapisan suara. Ia biasanya yang pertama menemukan gambar apa yang masih kurang, dan catatannya dipakai merencanakan pengambilan tambahan.
Penyuntingan dan gradasi warna di sesi lanjutan
Pekerjaan pasca-produksi dibuka dengan hal yang membosankan sekaligus menyelamatkan: menyalin isi kartu memori ke dua tempat berbeda, menamai berkas menurut adegan dan pengambilan, lalu memeriksa salinannya bisa dibuka. Kartu baru boleh dikosongkan sesudah langkah itu. Komputer yang berat memutar rekaman asli dibantu berkas proksi beresolusi rendah, dan hasil akhir tetap dirakit dari berkas asli.
Susunan kasar dikerjakan lebih dulu tanpa memikirkan kerapian: urutkan adegan, buang pengambilan yang gagal, lihat apakah ceritanya jalan. Sesudah alurnya pas, potongan dihaluskan. Dua teknik yang lazim dipakai adalah memasukkan suara adegan berikutnya lebih dulu sebelum gambarnya muncul, dan sebaliknya membiarkan suara adegan sebelumnya menetes ke gambar baru. Keduanya membuat sambungan terasa halus.
Warna dikerjakan dua tahap: koreksi lebih dulu supaya putih benar-benar putih dan terang gelapnya seragam antar gambar, baru gradasi gaya sesudahnya. Penataan suara menyusun empat lapis: dialog, atmosfer, efek, dan musik. Ekspor terakhir memakai resolusi 1920 x 1080 dengan kenyaringan yang disamakan, dan berkas proyeknya disimpan supaya karya bisa diperbaiki lain waktu.
Ringkasnya
Kesalahan pemula yang dicegah tutor sejak sesi awal
Lima hal berikut berulang di hampir semua karya pertama, dan semuanya lahir sebelum kamera menyala.
Naskah yang mustahil difilmkan
Hujan deras, kejar-kejaran di jalan raya, dan dua puluh pemeran terlihat mudah saat diketik. Tutor menghitung ulang tiap adegan terhadap orang, lokasi, dan jam yang benar-benar tersedia, lalu menukarnya dengan adegan yang menyampaikan hal sama.
Melewatkan papan cerita
Tanpa gambar rencana, kru merekam seadanya lalu kehabisan pilihan di meja penyuntingan: tak ada gambar penyambung, tak ada gambar dekat, aksi tidak nyambung. Menggambar lima belas kotak sederhana mencegah semuanya.
Merekam tanpa memeriksa suara
Dengung pendingin ruangan baru terdengar saat penyuntingan, dan saat itu pemeran sudah pulang. Memakai headphone pada pengambilan pertama tiap lokasi menutup lubang ini.
Satu ukuran gambar untuk seluruh adegan
Percakapan tiga menit yang direkam dari satu jarak membuat penyunting tak bisa memotong satu kalimat pun. Gambar induk ditambah beberapa gambar dekat memberi keleluasaan itu.
Kartu memori dihapus terlalu cepat
Menghapus kartu sebelum salinan diperiksa membuat satu hari kerja hilang tanpa sisa. Aturan di kelas ini sederhana: dua salinan dulu, dibuka dulu, baru dikosongkan.
Lokasi syuting di Surabaya dan izin yang disiapkan
Lokasi yang murah selalu rumah, sekolah, dan tempat kerja orang yang kamu kenal. Sesudah itu barulah ruang publik. Kawasan Tugu Pahlawan di Bubutan, tepian Kalimas, Taman Bungkul di Wonokromo, dan pesisir Kenjeran di Bulak sering dipakai pembuat film pelajar, dan semuanya punya pengelola yang perlu dimintai izin lebih dulu. Tutor melatih peserta menulis permohonan singkat berisi tanggal, jam, jumlah orang, dan alat yang dibawa.
Tiga hal khas Surabaya perlu dihitung sejak awal. Panas siang membuat baterai dan kamera cepat menghangat, jadi jadwal luar ruangan digeser ke pagi atau sore. Lalu lintas di jalan besar seperti kawasan Wonokromo dan Gubeng mengisi rekaman dengan derau, sehingga dialog panjang lebih aman direkam di gang atau di dalam ruangan. Musim hujan menuntut rencana cadangan berupa satu lokasi tertutup.
Untuk peserta di Sukolilo dan Mulyorejo, kawasan kampus dan taman kota memberi latar yang bersih tanpa perlu perjalanan jauh. Peserta di Waru dan Gedangan biasanya memilih lokasi di sekitar rumah supaya kru sekolahnya gampang berkumpul.
Jadwal les yang menyesuaikan hari syuting
Ritme yang lazim adalah 4 sampai 8 sesi per bulan, dan panjang sesinya dipilih 60, 90, atau 120 menit. Sesi 60 menit cukup untuk membedah naskah atau meninjau potongan. Latihan kamera dan cahaya lebih pas di 90 menit, sebab menata alat sudah memakan belasan menit sebelum latihan dimulai.
Hari syuting berjalan lain. Peserta biasanya mengambil sesi ganda atau memindahkan jadwal pekan itu supaya satu adegan tuntas dalam satu kunjungan. Kalau lokasi batal karena hujan atau izin belum keluar, sesi digeser dan diisi pekerjaan meja: memperbaiki papan cerita, menyusun ulang jadwal, atau menyunting bahan yang sudah ada. Peserta di Sidoarjo yang lokasi syutingnya berada di dalam kota biasanya menggabungkan dua sesi dalam satu hari supaya perjalanannya cukup sekali jalan.
Sesi daring dipakai untuk pekerjaan yang duduk di depan layar. Tutor meninjau susunan potongan lewat berbagi layar, menandai bagian yang perlu dipendekkan, lalu memeriksa hasil perbaikannya di pertemuan berikutnya. Libur sekolah sering dipakai peserta untuk memampatkan jadwal, misalnya menyelesaikan syuting dan penyuntingan dalam dua pekan. Waktu belajar tersedia sejak pagi sampai malam, termasuk akhir pekan.
Biaya les produksi film dan cara mendaftar
Biaya belajar mulai Rp129.550 per sesi untuk satu peserta yang belajar di rumah, dan angka itu bergerak menurut jenjang peserta, panjang sesi, serta jumlah sesi tiap bulan. Sesi 90 dan 120 menit lebih tinggi daripada sesi 60 menit karena pendampingannya lebih lama, sedangkan jumlah sesi yang lebih banyak dalam sebulan menurunkan tarif per sesinya. Perkiraan untuk kombinasi jadwal kamu bisa dihitung sendiri di kalkulator biaya.
Belajar di co-learning space Edubia di Tambaksari atau Wonocolo menambah Rp15.000 per sesi, dan ruang itu berguna saat rumah terlalu sempit untuk menata lampu. Alamat serta cara mengunci slotnya ada di halaman lokasi belajar. Tidak ada biaya alat, sebab peserta memakai kamera, telepon, dan komputer sendiri, dan tutor justru menahan pembelian sampai kebutuhannya jelas.
Kalau cara mengajar tutornya terasa tidak pas, sampaikan ke tim Edubia: tutor bisa diganti tanpa biaya tambahan, dan catatan belajar kamu diserahkan ke penggantinya supaya sesi tidak mengulang dari nol. Pendaftaran dibuka lewat formulir pendaftaran, dan tim akan menanyakan kecamatan tempat tinggal, jenjang, serta hari yang senggang sebelum mencocokkan tutor.
Sorotan
Tiga tahap produksi yang dibagi ke jadwal sesi
Empat langkah sederhana, dari daftar sampai belajar bareng tutor pilihan.
-
Pra-produksi: menulis, menggambar, menghitung
Naskah pendek ditulis dalam format adegan, dipecah menjadi daftar pengambilan gambar, lalu digambar kasar di papan cerita. Dari situ lahir uraian kebutuhan: siapa yang main, properti apa yang dibawa, lokasi mana yang dipakai, dan berapa jam tiap adegan memakan waktu.
-
Produksi: hari pengambilan gambar
Adegan dikelompokkan menurut lokasi supaya kru berhenti bolak-balik, sekalipun urutannya melompat dari alur cerita. Tiap adegan direkam dalam beberapa ukuran gambar, suaranya dipantau lewat headphone, dan nomor adegan dicatat sejak pengambilan pertama.
-
Pasca-produksi: menyusun sampai mengekspor
Berkas rekaman disalin ke dua tempat, dinamai, lalu disusun menjadi potongan kasar. Sesudah alurnya terasa pas, giliran koreksi warna, penataan dialog dan atmosfer, musik, dan pencampuran akhir sebelum diekspor.
-
Peninjauan karya bersama tutor
Karya ditonton utuh, dicatat bagian yang membingungkan penonton, lalu diperbaiki sekali putaran. Catatan itu sekaligus menjadi bahan rencana karya berikutnya, sehingga peserta tidak mengulang kesalahan yang sama.
Program Terkait
Kalau les produksi film belum pas, mulai dari sini
Tanya jawab
Apa saja yang perlu diketahui soal les produksi film di Surabaya?
Saya belum punya kamera. Apakah tetap bisa ikut les produksi film?
Bisa, dan sesi pertama justru dimulai dari alat yang sudah ada di tangan kamu. Telepon genggam keluaran beberapa tahun terakhir merekam pada resolusi 1920 x 1080 dengan hasil yang layak ditayangkan. Yang diajarkan tutor lebih dulu adalah mengunci fokus dan eksposur supaya gambar berhenti berkedip terang gelap, memasang telepon di penyangga sederhana, lalu menaruh mikrofon jepit sedekat mungkin ke pembicara. Tiga hal itu menaikkan mutu rekaman jauh lebih banyak daripada mengganti kamera. Kalau nanti kamu memakai kamera mirrorless pinjaman, tutor menyesuaikan materi ke tombol dan menu kamera tersebut, sehingga latihan yang sudah kamu lakukan tetap terpakai.
Berapa biaya les produksi film per sesi?
Biayanya mulai Rp129.550 per sesi untuk satu peserta yang belajar di rumah. Angka itu bergerak menurut jenjang peserta, panjang sesi, dan jumlah sesi yang diambil tiap bulan. Sesi 90 menit serta 120 menit lebih tinggi daripada sesi 60 menit karena pendampingannya lebih lama, sedangkan jumlah sesi yang lebih banyak dalam sebulan menurunkan tarif per sesinya. Belajar di co-learning space Edubia menambah Rp15.000 per sesi, sementara belajar di rumah tidak menambah apa pun. Tidak ada biaya alat, sebab peserta memakai kamera, telepon, dan komputer sendiri. Perkiraan untuk kombinasi jadwal kamu bisa dihitung lebih dulu di halaman kalkulator biaya.
Berapa lama sampai satu film pendek benar-benar selesai?
Peserta yang mengambil dua sesi per pekan biasanya menyelesaikan film pendek berdurasi tiga sampai lima menit dalam tiga sampai empat bulan. Sebarannya kira-kira begini: dua sampai tiga sesi untuk naskah dan papan cerita, tiga sesi untuk latihan kamera, cahaya, dan suara, satu sampai dua hari syuting, lalu tiga sampai empat sesi penyuntingan. Durasi karya lebih menentukan daripada rumitnya cerita, sebab tiap satu menit gambar jadi menuntut belasan pengambilan gambar. Peserta yang mengejar tenggat lomba bisa memampatkan alurnya lewat cerita satu lokasi dengan dua pemeran, dan tutor menyusun ulang jadwal sesi mengikuti tanggal pengumpulan.
Daerah mana saja yang dijangkau tutor untuk sesi tatap muka?
Tutor Edubia mendatangi rumah peserta di seluruh kecamatan Kota Surabaya: Genteng dan Bubutan di pusat kota, Gubeng, Sukolilo, serta Mulyorejo di timur, Wonokromo dan Jambangan di selatan, sampai Tandes, Benowo, dan Lakarsantri di barat. Wilayah layanan juga mencakup kota tetangganya, Sidoarjo, terutama Waru, Gedangan, Buduran, dan Sedati yang dekat batas kota. Jarak tempuh memengaruhi pilihan jam, jadi sesi sore di kawasan padat seperti Wonocolo sebaiknya dikunci sejak awal pekan. Kalau ruangan di rumah terlalu sempit untuk menata lampu, sesi bisa dipindah ke co-learning space Edubia di Tambaksari atau Wonocolo dengan tambahan Rp15.000 per sesi.
Anak saya kelas 8 dan baru memegang kamera. Apakah materinya terlalu berat?
Materinya bisa disesuaikan, dan untuk peserta seusia itu tutor memulai dari tugas kecil yang selesai dalam satu sesi. Contohnya merekam satu kegiatan sederhana di rumah memakai lima pengambilan gambar berbeda ukuran, lalu menyusunnya menjadi potongan berdurasi setengah menit. Istilah teknis diperkenalkan saat dipakai, sehingga anak Anda mengenal ukuran gambar dan garis imajiner lewat praktik. Naskah pertamanya dibatasi satu lokasi dengan dua pemeran supaya syutingnya selesai dalam satu sore. Orang tua boleh berada di ruangan yang sama sepanjang sesi, dan banyak peserta seusia ini justru meminta anggota keluarganya menjadi pemeran pada karya pertama.
Perangkat lunak penyuntingan apa yang dipakai di sesi?
Pilihannya mengikuti komputer yang kamu punya. DaVinci Resolve dipakai cukup sering karena versi gratisnya sudah memuat penyuntingan, gradasi warna, dan penataan suara dalam satu program. Adobe Premiere Pro dipakai peserta yang sekolah atau kantornya sudah berlangganan. Peserta yang menyunting di telepon genggam memakai aplikasi seluler dan tetap menerima materi yang sama tentang ritme potongan serta lapisan suara. Tutor menyiapkan berkas latihan berikut rekaman contoh, jadi kamu berlatih pada bahan yang sudah tersedia sebelum menyentuh bahan sendiri. Kalau komputermu berat memutar rekaman beresolusi tinggi, tutor menunjukkan cara membuat berkas proksi supaya penyuntingan tetap lancar.
Rekaman lama saya suaranya berisik. Masih bisa diperbaiki?
Sebagian bisa. Derau tetap seperti dengung pendingin ruangan dan desis perekam biasanya turun banyak lewat penyaring derau di perangkat penyuntingan, dan tutor menunjukkan takarannya supaya suara tidak berubah seperti terdengar dari dalam kaleng. Yang sulit diselamatkan adalah dialog yang tenggelam oleh suara kendaraan atau pantulan ruangan kosong, sebab suara pengganggu itu berada di rentang yang sama dengan suara manusia. Untuk kasus semacam itu jalan keluarnya merekam ulang dialog di ruangan yang lebih senyap lalu mencocokkannya dengan gambar. Sesudah satu kali mengerjakan perbaikan seperti ini, sebagian besar peserta berhenti melewatkan pemeriksaan suara di lokasi.
Sesi daring dipakai untuk apa saja?
Sesi daring berjalan baik untuk pekerjaan yang duduk di depan layar: membedah naskah, memeriksa papan cerita, menyusun jadwal syuting, meninjau hasil rekaman, dan mendampingi penyuntingan lewat berbagi layar. Tutor melihat susunan potonganmu secara langsung, menunjukkan bagian yang perlu dipendekkan, lalu menandai perbaikannya. Yang kurang cocok dipindah ke daring adalah latihan memegang kamera, menata lampu, dan memasang mikrofon, sebab ketiganya menuntut tangan tutor ikut mengatur alat. Banyak peserta memakai pola campuran: pertemuan tatap muka saat menyiapkan dan merekam, lalu sesi daring saat menyunting. Peserta di Krian dan Wonoayu yang jauh dari pusat kota sering memilih pola ini, sebab waktu perjalanan pada pekan padat bisa dipakai menyunting.
Apakah sesi bisa dipakai menggarap tugas sekolah atau lomba film pendek?
Bisa, dan itu salah satu pemakaian yang sering diminta. Kamu cukup membawa ketentuan lombanya: durasi maksimum, tema, format berkas, tenggat pengumpulan, dan syarat pemakaian musik. Tutor menyusun ulang rencana produksi supaya karya selesai sebelum tanggal itu, termasuk memilih cerita yang cukup direkam di satu atau dua lokasi. Untuk tugas sekolah, materi yang sama dipakai membuat dokumenter singkat, laporan kegiatan, atau profil ekstrakurikuler. Satu hal disepakati sejak awal: karya tetap dikerjakan peserta, dan tutor mendampingi keputusan teknisnya. Banyak lomba meminta pernyataan keaslian karya, jadi tutor menahan diri untuk tidak mengambil alih pekerjaan penyuntingan.
Berapa lama satu sesi dan berapa kali dalam sebulan?
Panjang sesi bisa dipilih 60, 90, atau 120 menit. Sesi 60 menit cukup untuk membahas naskah atau meninjau potongan. Sesi 90 menit lebih pas untuk latihan kamera dan cahaya, sebab menata alat sudah memakan belasan menit di awal. Jumlah sesi yang lazim adalah 4 atau 8 dalam sebulan, sementara peserta yang mengejar tenggat memakai 12 sesi. Sebagian peserta mengambil sesi ganda pada hari syuting supaya satu adegan tuntas dalam satu kunjungan. Pola ini boleh diubah di tengah program, misalnya menambah sesi menjelang penyuntingan akhir. Waktu belajar tersedia sejak pagi sampai malam, termasuk akhir pekan.
Apakah Edubia menyediakan kru dan peralatan untuk hari syuting?
Yang datang adalah satu tutor yang mendampingi kamu, jadi peran kru diisi teman, keluarga, atau anggota klub sekolah yang kamu ajak. Di situlah materi pembagian kerja terpakai: tutor melatih kamu memberi tugas yang jelas kepada pemegang kamera, penata cahaya, dan perekam suara, lalu memeriksa hasilnya sebelum pindah adegan. Peralatan memakai milik peserta, dan tutor membantu memilih tambahan yang benar-benar diperlukan sebelum kamu membeli apa pun. Untuk adegan yang menuntut alat sewaan, misalnya lampu besar atau lensa khusus, tutor menunjukkan cara menghitung kebutuhannya supaya sewa satu hari tidak melar menjadi tiga hari.
Bagaimana kalau cara mengajar tutornya terasa tidak cocok?
Sampaikan ke tim Edubia, dan tutor bisa diganti tanpa biaya tambahan. Kecocokan di kelas produksi film sering menyangkut selera visual serta kebiasaan kerja, jadi keluhan yang jelas mempercepat pencarian pengganti. Misalnya kamu ingin lebih banyak praktik memegang kamera, atau justru ingin pendampingan penyuntingan yang lebih teliti. Sebelum sampai ke penggantian, tim biasanya menawarkan penyesuaian dulu, sebab sebagian ketidakcocokan berasal dari urutan materi yang belum pas. Catatan belajarmu diserahkan ke tutor baru supaya sesi berikutnya tidak mengulang dari nol. Waktu peralihannya beberapa hari, tergantung ketersediaan tutor di kecamatan tempat kamu tinggal.
Bisakah materinya difokuskan ke konten media sosial berdurasi pendek?
Bisa. Dasar kerjanya sama, dan yang berubah adalah bingkai serta tempo. Rekaman tegak berbanding 9:16 menuntut komposisi lebih rapat, teks yang tidak tertutup antarmuka aplikasi, dan pembukaan yang menahan penonton pada detik pertama. Tutor melatih kamu merekam satu adegan sekaligus untuk dua bingkai, mendatar dan tegak, supaya bahan yang sama terpakai dua kali. Penataan suaranya juga berbeda: banyak penonton menonton tanpa suara, sehingga teks di layar dan gambar yang jelas memikul sebagian besar pesan. Peserta yang mengelola akun usaha biasanya menggabungkan latihan ini dengan pembuatan video profil singkat.
Bagaimana cara mendaftar dan apa yang perlu disiapkan sebelum sesi pertama?
Isi formulir di halaman pendaftaran, atau kirim pesan lewat tombol WhatsApp yang ada di halaman ini. Tim menanyakan jenjang peserta, kecamatan tempat tinggal, hari yang senggang, serta hal yang ingin dikerjakan lebih dulu. Sesudah itu tutor dicocokkan dan jadwal sesi pertama dikunci. Persiapannya sederhana: alat perekam yang kamu punya dalam keadaan baterai penuh, satu ruangan kosong untuk latihan menata cahaya, dan satu contoh video yang kamu suka. Contoh itu dipakai tutor membaca selera visualmu, lalu menyusun urutan materi yang mengikutinya. Kalau kamu sudah punya ide cerita, bawa juga catatannya walau masih berupa coretan.
Mulai Sekarang
Satu konsultasi, rencana les produksi film yang jelas
Sejak sesi pertama, tutor produksi film menyesuaikan materi dengan level dan target Anda di Surabaya.