4,9/5 · 1.200 ulasan · SMP sampai Umum
Les Literasi Digital di Surabaya
Les literasi digital privat di Surabaya melatih peserta menimbang kabar sebelum memercayainya: menelusuri penerbit pertama, membaca tanggal, dan mengenali pola penipuan. Sembilan pokok bahasan, sesi 60 sampai 90 menit, mulai Rp141.800 per sesi.
Les Literasi Digital di Surabaya itu seperti apa?
Les literasi digital privat di Surabaya melatih peserta menimbang kabar sebelum memercayainya: menelusuri penerbit pertama, membaca tanggal, dan mengenali pola penipuan. Sembilan pokok bahasan, sesi 60 sampai 90 menit, mulai Rp141.800 per sesi.
Konsultasi dan DaftarFakta Program
- Format Sesi
- Privat, satu peserta per sesi, tutor datang ke alamat peserta atau mengajar lewat layar
- Jenjang peserta
- Kelas 6 ke atas, jenjang SMP dan SMA, mahasiswa, serta orang dewasa yang mengurus akun keluarga
- Durasi sesi
- 60 menit untuk jenjang SMP, 90 menit untuk jenjang SMA dan peserta dewasa
- Biaya per sesi
- Mulai Rp141.800 di alamat peserta; Rp209.300 untuk sesi 90 menit jenjang SMA
- Ritme belajar
- 4 sesi sebulan sebagai pola awal, bisa dinaikkan ke 8 sesi saat peserta ingin cepat selesai
- Wilayah layanan
- 31 kecamatan Kota Surabaya, ditambah 18 kecamatan Kabupaten Sidoarjo
- Isi kurikulum
- Sembilan pokok bahasan, dari menelusuri penerbit pertama sampai batas hukum menyebarkan tuduhan
- Bahan latihan
- Tangkapan layar dan pesan yang benar-benar diterima peserta, dipilih sendiri lalu disalin ke berkas terpisah
- Tutor pengampu
- Lulusan dan mahasiswa tingkat akhir ITS, Unair, Unesa, serta UPN Veteran Jatim
- Penggantian tutor
- Tutor bisa diganti tanpa biaya tambahan bila gaya mengajarnya belum cocok
Fleksibel
Kelas literasi digital di tempat yang nyaman untuk anak
Tutor literasi digital datang ke rumah, co-learning space, atau online. Rencana belajar disusun dari kebutuhan anak.
Kelebihan les ini
Kenapa memilih les literasi digital Edubia
Bahan latihan datang dari ponsel peserta sendiri
Tutor tidak membawa lembar kerja berisi contoh karangan. Peserta memilih tiga sampai lima kiriman yang benar-benar masuk pekan itu, dan kiriman itulah yang dibongkar bersama sampai jelas asalnya.
Satu klaim ditelusuri sampai rantainya berhenti
Sesi awal dipakai memundurkan sebuah kabar dari akun yang membagikan ke akun sebelumnya, terus sampai berhenti di pihak yang mengaku menulis. Peserta melihat sendiri di mana rantai itu putus.
Sembilan pokok bahasan berdiri masing-masing
Peserta yang sudah kuat di penelusuran gambar boleh melompat ke bahasan izin dan batas hukum. Urutannya disusun tutor sesudah melihat kiriman yang dibawa peserta di sesi perdana.
Jam sesi menempel pada rutinitas belajar di rumah
Peserta jenjang SMP di Rungkut biasanya mengambil sesi sore, peserta dewasa di Tegalsari mengambil malam. Hari tetap tidak diwajibkan, sebab bahan latihannya datang kapan saja.
Tutor bisa diganti tanpa biaya tambahan
Bahasan seperti penipuan dan tuduhan menuntut percakapan yang nyaman. Bila peserta merasa tertutup di dua sesi pertama, penggantian tutor berjalan tanpa menambah tagihan apa pun.
Biaya per sesi disebut terbuka sejak percakapan awal
Nominal untuk tiap jenjang dan tiap durasi diberikan di muka, berikut tambahan Rp15.000 per sesi bila peserta memilih belajar di co-learning space Edubia.
Urutan program
Perjalanan peserta selama dua belas sesi
Tanda kemajuan program ini terbaca dari perbuatan sehari-hari peserta. Tutor mencatat kapan peserta mulai mengajukan pertanyaan pemeriksa tanpa diminta, sebab titik itulah yang menandai keterampilan sudah berpindah.
- 01
Sesi perdana: menyepakati aturan privasi kelas
Pekan 1Peserta memilih kiriman yang akan dibahas, menutup nama pengirimnya, dan menyalinnya ke berkas terpisah. Aturan ini sekaligus contoh pertama tentang izin.
- 02
Sesi ketiga: satu klaim tertelusuri sampai putus
Pekan 3Peserta memundurkan kabar miliknya sendiri sampai rantainya berhenti, lalu menuliskan berapa banyak salinan yang ia lewati sepanjang jalan.
- 03
Sesi kelima: empat pertanyaan dipakai tanpa diminta
Pekan 5Tutor berhenti mengingatkan, dan peserta mulai mengajukan pertanyaan pemeriksa sendiri begitu kiriman baru dibuka di layar.
- 04
Sesi ketujuh: satu pesan penipuan dibongkar utuh
Pekan 7Peserta menamai tuas yang ditarik pengirim, menyebut kalimat mana yang memasang desakan waktu, dan menuliskan langkah pemeriksaan lewat saluran resmi.
- 05
Sesi kesembilan: pengaturan akun selesai dirapikan
Pekan 9Pengunci dua langkah menyala, izin aplikasi lain sudah ditinjau, penandaan lokasi otomatis tertutup, dan peserta sudah menelusuri namanya sendiri.
- 06
Sesi kedua belas: lembar catatan peserta selesai
Pekan 12Empat pertanyaan pemeriksa, daftar tuas bujukan, dan aturan grup buatan peserta tersusun di satu lembar tulisan tangan yang dibawa pulang.
Susunan Materi
Sembilan pokok bahasan les literasi digital
Urutan di bawah adalah urutan bawaan, dan tutor menyusun ulang sesudah melihat kiriman yang dibawa peserta di sesi perdana. Tiap pokok bahasan berdiri sendiri, sehingga peserta yang sudah kuat di satu bagian boleh melompat ke bagian berikutnya tanpa kehilangan sambungan.
- 1
Menelusuri klaim ke pihak yang pertama menulis
Sesi 2 sampai 3Yang dibahas. Menuliskan rantai penyebaran sebuah kiriman di atas kertas, mundur satu langkah demi satu langkah, sampai berhenti di pihak yang mengaku menulis lebih dulu.
Jebakan umum. Peserta berhenti di akun yang membagikan dan menganggapnya sumber. Akun itu biasanya salinan ketujuh, dan tujuh salinan terasa seperti tujuh saksi.
Cara tutor. Tutor meminta peserta menyebutkan nomor urut tiap langkah dengan suara keras, sehingga jumlah salinan menjadi terasa dan pengulangan berhenti terbaca sebagai pembuktian.
- 2
Memilah berita, opini, dan kiriman berbayar
Sesi 4Yang dibahas. Tiga penanda yang bisa dilihat tanpa alat: kejelasan siapa yang berbicara, perbandingan kata penilaian terhadap keterangan, dan tanda pemasangan berbayar.
Jebakan umum. Unggahan berbayar yang ditulis sebagai cerita perorangan dibaca sebagai pengalaman jujur, sebab foto dan nama anak di dalamnya terasa terlalu pribadi untuk dibayar.
Cara tutor. Peserta membedah lima kiriman dari akun yang ia ikuti sendiri, lalu menandai kalimat ajakan membeli di kalimat penutup masing-masing.
- 3
Memeriksa foto yang dipakai ulang
Sesi 5Yang dibahas. Menyimpan berkas gambar asli, menelusurinya lewat pencarian gambar, membaca tanggal halaman tertua, dan mencocokkan detail pinggir foto dengan cerita di keterangannya.
Jebakan umum. Peserta menelusuri tangkapan layar padahal yang dibutuhkan berkas gambarnya, sehingga pinggiran aplikasi ikut terbaca mesin pencari dan hasilnya melenceng jauh.
Cara tutor. Tutor menyiapkan satu foto yang sudah diketahui asalnya sebagai latihan pemanasan, lalu peserta mengulangi urutan yang sama pada foto miliknya sendiri.
- 4
Membaca tanggal dan konteks yang hilang
Sesi 6Yang dibahas. Menuliskan tanggal peristiwa, tanggal penerbitan, dan tanggal penerimaan secara berjajar, lalu menimbang jarak di antara ketiganya.
Jebakan umum. Kabar lama terasa mustahil salah karena tiap kalimatnya memang pernah benar. Yang dihilangkan hanya tahunnya, dan tahun jarang dicari pembaca.
Cara tutor. Peserta memakai kiriman musiman yang berulang tiap tahun di kawasan pesisir Bulak sebagai contoh, sebab bentuknya kembali dengan foto yang sama.
- 5
Mengenali empat tuas bujukan penipuan
Sesi 7Yang dibahas. Desakan waktu, rasa takut, hadiah yang tak pernah didaftari, dan wibawa yang dipinjam dari nama lembaga besar.
Jebakan umum. Peserta menghafal modus terbaru dan merasa aman, lalu kehilangan pegangan begitu ceritanya berganti pada bulan berikutnya.
Cara tutor. Tutor melatih satu perbuatan tetap untuk tiap tuas, misalnya menunda balasan lima belas menit, sehingga pertahanannya tidak bergantung pada cerita.
- 6
Memahami layar yang berbeda antar orang
Sesi 8Yang dibahas. Cara susunan kiriman dipilih mesin dari kebiasaan menonton dan membaca, serta akibatnya pada anggapan bahwa semua orang sudah tahu.
Jebakan umum. Perselisihan di grup keluarga dibaca sebagai perbedaan niat, padahal sebagian besar berasal dari perbedaan kiriman yang pernah sampai ke masing-masing orang.
Cara tutor. Peserta dan satu anggota keluarganya menggulir beranda dua menit, mencatat sepuluh kiriman teratas, lalu membandingkan kedua daftar berdampingan.
- 7
Menata jejak digital dan pembacanya
Sesi 9Yang dibahas. Pengunci dua langkah, izin aplikasi pihak lain, penandaan lokasi otomatis pada kamera, dan penelusuran nama sendiri di mesin pencari.
Jebakan umum. Peserta mengira jejaknya dibaca teman sebaya saja, padahal calon pemberi kerja dan pengirim pesan penipuan membaca sumber yang sama.
Cara tutor. Seluruh perubahan pengaturan dilakukan tangan peserta sendiri sambil tutor mendampingi, supaya langkahnya bisa diulang di akun lain sesudah program berakhir.
- 8
Meminta izin sebelum membagikan milik orang lain
Sesi 10Yang dibahas. Ukuran sederhana untuk foto, suara, tangkapan layar percakapan, dan nomor telepon milik pihak ketiga, ditambah cara menolak permintaan yang tak beralasan.
Jebakan umum. Kiriman yang terasa lucu dianggap tak perlu izin, dan justru kiriman semacam itu yang tersebar sampai jauh melewati lingkaran yang dituju.
Cara tutor. Peserta menyusun aturan grup yang ia kelola sendiri dengan kalimatnya sendiri, lalu membacanya ulang bersama tutor di sesi berikutnya.
- 9
Mengetahui batas hukum menyebarkan tuduhan
Sesi 11 sampai 12Yang dibahas. Bentuk perbuatan yang bisa dipersoalkan, kedudukan orang yang meneruskan, dan cara menyusun kalimat ralat yang jelas serta singkat.
Jebakan umum. Peserta mengira tanggung jawab berhenti pada penulis pertama, sehingga meneruskan terasa netral padahal namanya ikut menempel di berkas.
Cara tutor. Tutor menjelaskan bentuk perbuatannya dan pihak yang dirugikan tanpa mengutip nomor peraturan, lalu membantu peserta menulis ralat untuk grup yang sama.
Cakupan program
Yang diterima peserta les literasi digital di Surabaya
Sesi privat dengan satu tutor pendamping
Tutor datang ke alamat peserta di Kota Surabaya atau Kabupaten Sidoarjo, atau mengajar lewat layar bila peserta memilih bentuk itu.
Penyusunan urutan bahasan di sesi perdana
Tutor melihat kiriman yang dibawa peserta lebih dulu, lalu menentukan pokok bahasan mana yang perlu didahulukan.
Latihan memakai kiriman milik peserta sendiri
Bahan tiap pertemuan diambil dari pesan dan beranda peserta pekan itu, dengan nama pengirim ditutup sebelum dibahas.
Pendampingan merapikan pengaturan akun
Pengunci dua langkah, izin aplikasi pihak lain, dan penandaan lokasi otomatis ditinjau bersama, dikerjakan tangan peserta.
Lembar catatan tulisan tangan peserta
Empat pertanyaan pemeriksa, ciri tiap tuas bujukan, dan aturan grup buatan peserta dirangkum di satu lembar yang dibawa pulang.
Laporan pendek untuk orang tua tiap empat sesi
Berisi pokok bahasan yang sudah dilewati dan contoh keputusan yang diambil peserta, tanpa mengutip isi percakapan pribadinya.
Nominal biaya yang disebut di muka
Harga per sesi untuk tiap jenjang dan tiap durasi diberikan sebelum sesi perdana, berikut tambahan Rp15.000 per sesi di co-learning space.
Hak menukar tutor selama program berjalan
Tutor bisa diganti tanpa biaya tambahan, dan daftar bahasan yang sudah dilewati diteruskan supaya sesi menyambung.
Standar layanan
Apa yang kami pastikan sebelum menugaskan tutor literasi digital?
Ringkasan singkat sebelum Anda menanyakan jadwal dan biaya les literasi digital.
Tutor literasi digital datang ke rumah
Sesi berjalan di rumah Anda di Surabaya, di co-learning space partner, atau online bila cuaca dan jadwal menuntut.
Garansi ganti tutor
Kalau cara mengajarnya belum cocok, tutor literasi digital diganti tanpa biaya tambahan.
Perkembangan literasi digital dicatat tiap sesi
Sesudah pertemuan wali menerima catatan singkat: materi yang dibahas, sejauh mana latihannya berjalan, dan sasaran pertemuan berikutnya.
Kecocokan program
Untuk siapa program ini disusun
Peserta yang cocok
- Pelajar kelas 6 ke atas yang baru memegang akun media sosial sendiri dan mulai menerima kiriman tanpa saringan orang dewasa.
- Orang tua yang sering menerima kabar mencurigakan di grup keluarga dan ingin memeriksanya sendiri sebelum bertanya kepada siapa pun.
- Peserta yang pernah hampir tertipu pesan berhadiah atau pesan berisi ancaman pemblokiran rekening.
- Pengelola grup sekolah atau grup rukun tetangga yang perlu menyusun aturan berbagi foto dan nomor telepon.
- Pelaku usaha kecil yang mengurus akun jualan sendiri dan ingin merapikan izin aplikasi serta pengunci dua langkah.
- Peserta yang sudah lancar memakai perangkatnya, lalu merasa ragu tiap kali harus memutuskan sebuah kiriman layak diteruskan.
Yang dilatih di kelas literasi digital privat ini
Les literasi digital di Surabaya melatih satu keterampilan: menimbang sebuah kabar sebelum memercayainya, meneruskannya, atau mendiamkannya. Peserta berlatih menelusuri klaim sampai ke pihak yang pertama menuliskannya, membaca tanggal yang hilang, dan mengenali bentuk bujukan yang dipakai pengirim pesan penipuan. Sesi berjalan privat di alamat peserta, dari Gubeng sampai Lakarsantri, mulai Rp141.800 per sesi.
Menekan tombol dan membuka aplikasi adalah pekerjaan tangan. Menimbang adalah pekerjaan pikiran, dan pekerjaan itu jarang punya jam pelajaran sendiri di sekolah mana pun. Anak kelas 8 di Rungkut bisa mengetik jauh lebih cepat daripada orang tuanya, lalu tetap meneruskan tangkapan layar berisi tuduhan tanpa memeriksa siapa yang menulisnya lebih dulu. Kecepatan jari dan ketelitian menimbang tumbuh dari latihan yang berlainan.
Karena itu kelas ini berjalan dari bahan yang nyata. Tutor meminta peserta membuka grup keluarga, arsip pesan masuk, atau beranda media sosialnya sendiri, lalu memilih beberapa kiriman yang benar-benar diterima pekan itu. Kiriman itulah yang dibongkar berdua. Peserta melihat mekanismenya bekerja pada kabar yang sudah ia kenal, dan pemahaman semacam itu bertahan jauh lebih lama daripada contoh yang disusun di lembar latihan.
Peserta tidak diminta menghafal daftar ciri kabar bohong. Daftar semacam itu cepat basi, sebab bentuk luarnya berganti tiap tahun sementara cara kerjanya tetap. Yang dilatih tutor adalah empat pertanyaan pendek yang bisa diajukan kepada kiriman apa pun dalam waktu kurang dari satu menit, tepat sebelum jempol bergerak ke tombol teruskan. Keempatnya diulang di seluruh sesi, sampai peserta mengajukannya tanpa diminta.
Ringkasnya
Empat pertanyaan yang dipakai peserta les sebelum meneruskan kabar
Siapa yang pertama menuliskannya?
Hampir semua kiriman yang beredar adalah salinan. Peserta berlatih mundur satu langkah tiap kali: dari akun yang membagikan, ke akun sebelumnya, sampai berhenti di pihak yang benar-benar mengaku menulis.
Kapan ini pertama kali terbit?
Kabar lama yang diedarkan ulang adalah kabar bohong dengan biaya pembuatan hampir nol, sebab isinya memang pernah benar. Peserta mencari tanggalnya, dan mencurigai kiriman yang tanggalnya sengaja ditanggalkan.
Apa yang diminta kiriman ini dari saya?
Kabar yang ingin diketahui berhenti di keterangan. Kabar yang menginginkan sesuatu meminta nomor, uang, ketukan, atau amarah. Peserta menamai permintaannya lebih dulu, sebelum menimbang isi ceritanya.
Apa yang bisa saya periksa sendiri hari ini?
Sebuah kiriman jarang benar atau salah seluruhnya. Peserta memilah bagian yang terperiksa, seperti nama tempat, angka, dan foto, dari bagian yang berupa tafsiran penulisnya.
Cara tutor menelusuri satu klaim di sesi awal
Sesi kedua dan ketiga dipakai untuk satu pekerjaan saja: memundurkan sebuah klaim sampai ia berhenti. Tutor mengambil satu kiriman milik peserta, lalu keduanya menuliskan rantai penyebarannya di kertas. Akun A membagikan dari akun B, akun B menyalin dari sebuah situs, situs itu mengutip unggahan yang katanya sedang beredar. Di titik terakhir itu rantainya putus, dan peserta belajar menyebut rantai yang putus sebagai temuan yang berarti.
Peserta biasanya terkejut pada kali pertama. Kabar yang sudah dibacanya lima kali di lima tempat berlainan ternyata berasal dari satu unggahan yang sama, disalin ulang berkeliling. Pengulangan terasa seperti pembuktian, padahal ia penggandaan. Tutor menamai gejala itu, lalu mengulang latihannya dengan kiriman lain sampai peserta mengenali sendiri bentuknya.
Latihan ini juga mengajarkan kapan berhenti. Tidak semua klaim layak ditelusuri sampai habis, dan sebagian memang cukup didiamkan. Peserta di Wonokromo yang menerima dua puluh kiriman sehari perlu memilih sedikit saja untuk diperiksa serius, lalu melepaskan sisanya tanpa rasa bersalah. Menimbang termasuk menimbang berapa banyak waktu yang pantas diberikan.
Membedakan berita, opini, dan kiriman berbayar di sesi keempat
Satu layar bisa memuat empat jenis tulisan yang tampak serupa: laporan peristiwa, pendapat penulisnya, iklan yang dibayar pemasang, dan unggahan berbayar yang ditulis seperti pengalaman pribadi. Keempatnya memakai huruf yang sama, kotak yang sama, dan sering ditulis dengan nada yang sama. Peserta yang tak pernah diajak memisahkannya akan membaca opini sebagai laporan, lalu marah kepada peristiwa yang sesungguhnya belum diperiksa siapa pun.
Tutor melatih tiga penanda yang bisa dilihat tanpa alat apa pun. Pertama, apakah tulisan menyebutkan siapa yang berbicara dan kapan ia berbicara. Kedua, apakah kata sifat penilaian muncul lebih banyak daripada keterangan yang bisa dicocokkan. Ketiga, apakah ada tanda pemasangan berbayar, betapapun kecilnya, di sudut kiriman atau di dalam kalimat penutupnya.
Bagian yang menuntut kesabaran lebih adalah unggahan berbayar yang menyamar. Bentuknya cerita perorangan, lengkap dengan foto rumah dan nama anak, dan ia berakhir pada satu ajakan membeli. Peserta di Sukolilo yang mengikuti akun kuliner lokal biasanya sudah menemukan lima contoh dalam sepekan. Tutor membahas contoh milik peserta itu, sehingga kalimat ajakan membeli yang dibedah benar-benar pernah ia baca.
Membaca tanggal dan konteks yang hilang di sesi berikutnya
Kabar lama yang diedarkan ulang jarang berisi kalimat palsu. Justru itu yang membuatnya sulit ditolak: setiap kata di dalamnya pernah benar, dan yang dibuang hanyalah tahun. Peristiwa banjir rob di kawasan pesisir Bulak yang terjadi bertahun lalu bisa beredar lagi setiap musim hujan, lengkap dengan foto aslinya, dan menimbulkan kepanikan yang tak berdasar di grup keluarga.
Latihannya sederhana dan tetap menuntut disiplin. Peserta mencari tiga hal di tiap kiriman: tanggal peristiwa, tanggal penerbitan, dan tanggal ia menerimanya. Ketiga tanggal itu ditulis berjajar. Jarak yang jauh di antara ketiganya adalah alasan untuk berhenti dan memeriksa lebih dulu. Kiriman yang sama sekali tak memuat dua tanggal pertama diperlakukan sebagai kiriman yang belum lengkap.
Tutor menutup bahasan ini dengan pertanyaan yang biasanya belum pernah diajukan kepada peserta: siapa yang diuntungkan bila kabar lama ini hidup lagi sekarang. Jawabannya kadang tak ada, dan itu wajar. Kadang jawabannya terbaca jelas dari tautan penjualan yang menempel di kalimat terakhir kiriman itu.
Cerita penipuan berganti terus. Yang tetap adalah tuas yang ditarik pengirimnya, sebab tuas itu bekerja pada pikiran manusia, dan pikiran manusia berubah jauh lebih lambat daripada mode penipuan. Peserta yang mengenali tuasnya berhenti bergantung pada daftar modus terbaru. Tutor melatih pengenalan ini memakai pesan yang benar-benar pernah masuk ke ponsel peserta atau ke ponsel orang tuanya.
Lebih dekat
Empat tuas bujukan yang dikenali peserta di kelas privat
Desakan waktu yang dibuat-buat
Kalimat seperti hanya berlaku sepuluh menit lagi berfungsi memutus pertimbangan. Peserta berlatih menjawab desakan dengan satu perbuatan tetap: menunda balasan selama lima belas menit, tanpa kecuali.
Rasa takut yang dipasang di kalimat pembuka
Ancaman pemblokiran rekening, denda, atau kabar buruk tentang keluarga membuat pembaca membalas sebelum berpikir. Tutor mengajarkan peserta memeriksa lewat saluran resmi yang ia hubungi sendiri.
Hadiah yang tak pernah diikuti peserta
Undian yang menang tanpa pernah didaftari adalah tanda yang mudah sekali dibaca. Peserta berlatih menanyakan satu hal kepada dirinya: kapan saya mendaftar, dan di mana saya mendaftarnya.
Wibawa palsu yang dipinjam dari nama besar
Logo lembaga, sebutan jabatan, dan nomor yang mirip nomor resmi dipakai untuk meminjam kepercayaan. Peserta membandingkan alamat pengirim huruf per huruf dengan alamat resmi yang ia cari sendiri.
Kenapa layar tetangga berisi kabar berbeda, dibahas di sesi kelima
Dua orang yang tinggal di satu rumah dan memakai aplikasi yang sama akan melihat kiriman yang berlainan. Susunan kiriman disusun mesin berdasarkan apa yang pernah ditonton, disukai, dan dibaca lama oleh masing-masing orang. Akibatnya, sesuatu yang terasa diketahui semua orang sebenarnya diketahui oleh orang-orang yang kebiasaannya mirip dengan kita.
Peserta membuktikannya sendiri di kelas dengan cara yang sederhana. Tutor meminta peserta dan seorang anggota keluarganya menggulir beranda masing-masing selama dua menit, lalu mencatat sepuluh kiriman teratas di dua kolom. Kedua kolom hampir selalu berbeda. Percobaan kecil ini biasanya lebih meyakinkan daripada penjelasan panjang mana pun.
Akibat yang dibahas sesudahnya lebih penting daripada mekanismenya. Ketika seseorang mengira semua orang sudah tahu, ia berhenti menjelaskan dan mulai menuduh pihak yang belum tahu sebagai pihak yang menutup mata. Peserta diajak melihat perselisihan di grup keluarga dengan mata yang berbeda, dan biasanya ia mulai bertanya dulu sebelum membalas.
Jejak digital peserta: materi sesi keenam les literasi digital
Setiap perbuatan di layar meninggalkan catatan, dan catatan itu dibaca oleh pihak yang berbeda-beda. Nama sekolah yang tertulis di profil dibaca calon pemberi kerja bertahun kemudian. Lokasi yang menempel pada foto dibaca siapa pun yang mengunduh berkasnya. Nomor telepon yang pernah dipakai mendaftar undian dibaca pengirim pesan penipuan berikutnya. Peserta jarang menyadari bahwa ketiga pembaca itu sekaligus ada.
Sesi ini berjalan sebagai pemeriksaan, dan peserta yang memegang kendalinya. Tutor mendampingi peserta membuka pengaturan akun satu per satu, menyalakan pengunci dua langkah, memeriksa aplikasi lain yang pernah diberi izin masuk, dan menutup penandaan lokasi otomatis pada kamera. Semua perubahan dilakukan tangan peserta sendiri, sehingga ia bisa mengulanginya di akun lain sesudah kelas berakhir.
Bagian yang menuntut kejujuran adalah menelusuri diri sendiri. Peserta mencari namanya sendiri di mesin pencari, lalu menuliskan apa yang muncul di halaman pertama. Sebagian menemukan hal yang menyenangkan, sebagian menemukan unggahan lama yang sudah tak mewakili dirinya. Keduanya dipakai sebagai bahan percakapan tentang apa yang layak dibiarkan tinggal.
Izin sebelum membagikan foto orang lain, aturan main di kelas
Bagian ini biasanya menimbulkan perdebatan panjang di kelas, sebab peserta datang dengan kebiasaan yang sudah lama berjalan. Foto teman sekelas yang tertidur, tangkapan layar percakapan pribadi, dan nomor telepon seseorang yang dibagikan supaya mudah dihubungi orang banyak, semuanya lazim dilakukan tanpa pernah ditanyakan lebih dulu.
Tutor mengajukan satu ukuran yang mudah diingat: bertanya lebih dahulu kepada orang yang wajahnya, suaranya, atau nomornya ada di dalam berkas itu. Ukuran ini berlaku juga untuk berkas yang terasa lucu, bahkan terutama untuk yang lucu, sebab kiriman semacam itu menyebar dengan cepat sampai jauh melewati lingkaran yang dituju pengirim pertamanya.
Peserta lalu diajak menyusun aturan kecil untuk grup yang ia kelola sendiri, misalnya grup tugas sekolah atau grup rukun tetangga di Jambangan. Aturan itu ditulis dengan kalimatnya sendiri dan dibaca ulang bersama tutor. Kelas juga membahas cara menolak dengan sopan ketika ada anggota grup yang meminta nomor orang lain tanpa alasan yang jelas.
Batas hukum yang dibahas tutor tanpa menghakimi peserta
Menyebarkan tuduhan tentang seseorang dan menyebarkan kabar yang diketahui bohong keduanya membawa akibat hukum di Indonesia. Bahasan ini disampaikan sebagai batas yang perlu diketahui, dengan nada yang sama seperti seorang pelatih menjelaskan garis lapangan. Tutor menjelaskan bentuk perbuatannya dan siapa yang bisa dirugikan, tanpa mengutip nomor peraturan dan tanpa menceritakan perkara siapa pun.
Yang sering mengejutkan peserta adalah kedudukan orang yang meneruskan. Banyak yang mengira tanggung jawab berhenti pada penulis pertama, padahal meneruskan juga perbuatan yang bisa dipersoalkan. Tangkapan layar yang dikirim ke satu grup bisa berpindah ke puluhan grup lain dalam hitungan jam, dan nama pengirimnya masih menempel di berkas itu.
Sesi ditutup dengan pembahasan jalan keluar yang tenang. Bila peserta pernah meneruskan kabar yang belakangan diketahui keliru, tutor membantunya menyusun kalimat ralat yang jelas dan singkat untuk dikirim ke grup yang sama. Meralat lebih cepat menghentikan penyebaran daripada menghapus kiriman diam-diam.
Persiapan program ini ringan, sebab bahannya sudah ada di tangan peserta sejak hari pertama. Yang diminta tutor hanya kesediaan membuka kiriman yang benar-benar diterima, termasuk yang isinya berantakan dan janggal. Daftar di bawah dibacakan tutor di percakapan awal supaya peserta bisa menyiapkannya tanpa terburu-buru.
Catatan penting
Perangkat dan bahan yang dibawa peserta ke sesi les
Ponsel yang biasa dipakai sehari-hari
Perangkat cadangan yang jarang dipakai tidak menyimpan kiriman yang menarik untuk dibahas. Peserta membawa ponsel yang benar-benar menerima pesan dan notifikasi setiap hari.
Berkas kosong untuk menyalin bahan latihan
Kiriman yang akan dibahas disalin ke satu tempat terpisah lebih dulu, dengan nama pengirim ditutup. Berkas itu yang dibuka di sesi, sehingga percakapan pribadi lain tetap tertutup.
Laptop bila tersedia di alamat peserta
Latihan penelusuran gambar dan pembacaan alamat tautan lebih nyaman di layar lebar. Peserta yang tak punya laptop tetap bisa menyelesaikan sembilan pokok bahasan lewat ponsel saja.
Buku catatan yang ditulis tangan peserta
Empat pertanyaan pemeriksa, daftar tuas bujukan, dan kalimat kesimpulan ditulis tangan, memakai bahasa peserta sendiri. Catatan inilah yang dibawa pulang di akhir program.
Biaya les literasi digital privat per sesi di Surabaya
Panjang sesi program ini ditentukan oleh satu hal: menelusuri sebuah klaim sampai rantainya berhenti biasanya memakan empat puluh menit, dan sesudah itu peserta masih perlu waktu untuk mengulangnya sendiri pada kiriman kedua. Karena itu jenjang SMA dan peserta dewasa mengambil sesi 90 menit, sementara jenjang SMP cukup 60 menit dengan satu latihan per pertemuan.
Nominalnya terbuka. Sesi 60 menit untuk peserta jenjang SMP mulai Rp141.800, sesi 90 menit untuk jenjang SMA berada di Rp209.300, dan sesi 90 menit untuk peserta dewasa berada di Rp303.800. Ketiganya berlaku bila tutor datang ke alamat peserta di Kota Surabaya, dan sudah mencakup waktu perjalanannya. Sesi lewat layar untuk jenjang SMA berada di Rp189.000.
Dua tambahan ditulis terpisah supaya mudah dihitung. Belajar di co-learning space Edubia menambah Rp15.000 per sesi untuk tiap orang, dan Edubia memakai dua titik: satu di Tambaksari, satu di Wonocolo. Peserta yang memilih 8 sesi sebulan mendapat harga per sesi yang sedikit lebih ringan, yaitu Rp205.500 untuk jenjang SMA.
Jadwal, durasi, dan ritme sesi yang dipakai program ini
Sembilan pokok bahasan umumnya selesai dalam dua belas sesi. Dengan ritme empat sesi sebulan, program berjalan sekitar tiga bulan, dan jarak sepekan antar sesi memang disengaja. Peserta perlu selang waktu untuk menerima kiriman baru, sebab kiriman itulah bahan latihan pertemuan berikutnya. Peserta yang ingin lebih cepat mengambil delapan sesi sebulan dengan bahan yang dikumpulkan sepanjang pekan.
Jam sesi mengikuti kebiasaan peserta. Pelajar jenjang SMP dan SMA umumnya mengambil sore hari sesudah pulang sekolah, sementara peserta dewasa yang bekerja mengambil malam atau akhir pekan. Tim penjadwal Edubia melayani permintaan sepanjang pekan, dan jam pastinya disepakati bersama tutor pada percakapan awal, sesuai jarak alamat dan jam belajar di rumah.
Hari tetap tidak diwajibkan di program ini. Bahan latihannya datang kapan saja, jadi menggeser sesi ke hari lain tidak merusak urutan pokok bahasan. Peserta yang punya agenda mendadak cukup memberi tahu tutornya beberapa jam sebelum sesi berjalan, lalu jamnya dipindahkan ke hari yang masih kosong.
Tutor melayani 31 kecamatan Kota Surabaya dan 18 kecamatan Kabupaten Sidoarjo. Jarak alamat memengaruhi pilihan jam sesi, jadi tim penjadwal menyusun urutan kunjungan lebih dulu supaya tutor tiba tanpa terburu-buru. Peserta yang alamatnya jauh dari titik tinggal tutor biasanya mengambil jam sore atau malam.
Selengkapnya
Wilayah yang dijangkau tutor literasi digital
Surabaya Timur dan sekitarnya
Gubeng, Sukolilo, Mulyorejo, Rungkut, Tenggilis Mejoyo, dan Gunung Anyar. Kawasan kampus membuat permintaan sesi malam di sini lebih padat daripada kawasan lain.
Kawasan pusat dan utara kota
Tegalsari, Genteng, Bubutan, Simokerto, Pabean Cantian, Semampir, Kenjeran, Bulak, dan Krembangan. Kantor Edubia berada di Tegalsari, jadi jadwal di sekitarnya lebih lentur.
Kawasan barat dan selatan kota
Tandes, Sukomanunggal, Asemrowo, Benowo, Pakal, Sambikerep, Lakarsantri, Wiyung, Dukuh Pakis, Karang Pilang, Jambangan, Gayungan, Wonocolo, Wonokromo, dan Sawahan.
Alamat di Kabupaten Sidoarjo
Waru, Gedangan, Buduran, Sedati, Sukodono, Krian, Wonoayu, Sidoarjo, Candi, Porong, Tulangan, Prambon, Balongbendo, Krembung, Tanggulangin, dan Jabon.
Cara mendaftar dan mengganti tutor bila belum cocok
Percakapan awal berjalan lewat WhatsApp di 0821-3617-6381. Tim menanyakan tiga hal: siapa yang akan belajar, jenis kiriman apa yang sering membuat bingung di rumah, dan jam berapa peserta biasanya luang. Keterangan itu dipakai memilihkan tutor yang terbiasa dengan jenjang peserta, lalu jadwal sesi perdana ditawarkan pada hari yang sama.
Sesi perdana dipakai menyusun urutan pokok bahasan. Tutor melihat kiriman yang dibawa peserta, menanyakan akun apa saja yang dipakai, dan menyepakati aturan privasi kelas. Dari situ tutor menentukan bahasan mana yang perlu didahulukan. Peserta yang sudah terbiasa menelusuri sumber bisa langsung masuk ke bahasan izin dan batas hukum.
Pokok bahasan seperti penipuan, tuduhan, dan unggahan lama menuntut peserta merasa aman bercerita. Bila di dua sesi pertama peserta merasa tertutup, kabarkan lewat WhatsApp dan sebutkan bagian yang terasa berat. Penggantian tutor berjalan tanpa biaya tambahan, dan daftar bahasan yang sudah dilewati diteruskan supaya sesi berikutnya menyambung dari titik yang sama.
Yang berubah setelah dua belas sesi les literasi digital
Perubahan yang lebih dulu terlihat adalah jeda. Peserta yang sudah melewati separuh program berhenti sejenak sebelum meneruskan kiriman, dan jeda itu sering hanya sepuluh detik. Sepuluh detik itu cukup untuk mengajukan satu dari empat pertanyaan pemeriksa, dan satu pertanyaan biasanya sudah mengubah keputusannya.
Perubahan kedua terjadi pada cara peserta berbicara di grup. Kalimat menuduh berkurang, kalimat bertanya bertambah. Peserta belajar meminta tautan asal dengan nada yang tidak menyerang, misalnya menanyakan dari mana kiriman itu diterima. Cara ini menjaga hubungan di grup keluarga tetap hangat sambil memperlambat penyebaran kabar yang belum diperiksa.
Perubahan ketiga muncul di rumah. Orang tua di Gayungan yang mengikuti dua sesi pertama biasanya mulai meneruskan kiriman mencurigakan kepada anaknya untuk diperiksa, dan pemeriksaan itu menjadi percakapan rutin. Program ini berakhir di sesi kedua belas, sementara kebiasaan memeriksa bersama itulah yang diharapkan tinggal jauh lebih lama.
Foto adalah bahan kabar bohong yang hemat tenaga. Ia tidak perlu dibuat, cukup dipindahkan dari peristiwa lain, lalu diberi keterangan baru. Mata manusia hampir tak punya cara menolaknya, sebab foto sungguhan memang terlihat sungguhan. Yang bisa dilatih adalah urutan pemeriksaan, dan urutan itu tetap sama untuk foto apa pun yang masuk ke ponsel peserta.
Detail
Langkah memeriksa foto lama yang beredar ulang, dilatih tiap sesi
Empat langkah sederhana, dari daftar sampai belajar bareng tutor pilihan.
-
Simpan gambarnya, jangan tangkapan layarnya
Tangkapan layar membawa pinggiran aplikasi yang membuat penelusuran meleset. Peserta berlatih menyimpan berkas gambar aslinya lebih dulu, lalu memotong tepi di luar bidang fotonya.
-
Telusuri gambar itu lewat pencarian gambar
Mesin pencari menerima gambar sebagai kata kunci. Peserta memasukkan berkas tadi, lalu membaca daftar halaman yang pernah memuat gambar yang sama, diurutkan dari yang tertua.
-
Baca tanggal halaman tertua yang muncul
Bila halaman tertua terbit tiga tahun sebelum peristiwa yang diceritakan kiriman, fotonya jelas milik peristiwa lain. Tutor meminta peserta menuliskan kedua tanggal itu berdampingan.
-
Cocokkan isi foto dengan cerita yang menyertainya
Papan nama toko, pelat kendaraan, jenis pohon, dan tulisan di dinding menyimpan petunjuk tempat. Peserta melatih mata pada detail pinggir, sebab bagian tengah foto yang justru sudah diarahkan penulis keterangan.
-
Tuliskan kesimpulannya dalam satu kalimat
Peserta menutup pemeriksaan dengan kalimat pendek: fotonya lama, fotonya dari tempat lain, atau fotonya cocok. Kalimat itu yang dipakai bila kelak ada yang bertanya kenapa ia tak meneruskan.
Program Terkait
Program lain yang sering diambil bersama les literasi digital
Tanya jawab
Apa saja yang perlu diketahui soal les literasi digital di Surabaya?
Apa yang sebenarnya diajarkan di les literasi digital ini?
Cara menimbang kabar. Peserta berlatih menelusuri klaim sampai ke pihak yang pertama menuliskannya, membaca tanggal yang hilang, memisahkan berita dari kiriman berbayar, dan mengenali bentuk bujukan penipuan. Sembilan pokok bahasan dibahas satu per satu sepanjang dua belas sesi, memakai kiriman yang benar-benar diterima peserta.
Berapa biaya satu sesi di Kota Surabaya?
Sesi 60 menit untuk peserta jenjang SMP mulai Rp141.800, sesi 90 menit untuk jenjang SMA berada di Rp209.300, dan sesi 90 menit untuk peserta dewasa berada di Rp303.800. Ketiganya berlaku untuk tutor yang datang ke alamat peserta dan sudah mencakup waktu perjalanannya.
Kalau sesi digelar di co-learning space, biayanya berubah?
Bertambah Rp15.000 per sesi untuk tiap orang, dihitung terpisah di atas biaya program. Edubia memakai dua ruang belajar, satu di Tambaksari dan satu di Wonocolo. Sesi yang berjalan di alamat peserta tidak menanggung tambahan itu.
Sejak kelas berapa materi ini masuk akal diberikan?
Penanda yang dipakai tutor adalah kepemilikan akun, sebab sejak itulah peserta menerima kiriman langsung tanpa saringan orang dewasa. Di Surabaya hal itu umumnya terjadi sekitar kelas 6 sampai kelas 8. Peserta yang lebih muda biasanya belajar bersama orang tuanya dalam satu sesi.
Orang tua boleh ikut duduk selama sesi berlangsung?
Boleh, dan untuk peserta jenjang SMP tutor justru menganjurkannya pada dua pertemuan pertama. Sebagian besar kabar yang dibongkar di kelas beredar di grup keluarga, jadi orang tua ikut mengenali bentuknya. Sesudah itu peserta biasanya lebih leluasa memeriksa sendiri.
Tutor akan membuka isi ponsel peserta?
Tidak. Peserta sendiri yang memilih kiriman mana yang dibawa ke sesi, lalu menyalinnya ke berkas terpisah dengan nama pengirim ditutup. Aturan ini disepakati di sesi perdana, dan ia sekaligus contoh pertama tentang izin yang diajarkan program.
Kelas ini membahas kabar politik yang sedang ramai?
Tutor menghindarinya. Yang dibedah adalah mekanismenya: bagaimana sebuah foto dipakai ulang, bagaimana tanggal ditanggalkan, bagaimana desakan waktu dipasang di kalimat pembuka. Peserta bisa menerapkannya pada kabar apa pun sesudah kelas selesai, termasuk kabar yang tutornya sendiri belum pernah lihat.
Apakah peserta perlu punya laptop?
Ponsel sudah cukup untuk sebagian besar sesi, sebab di situlah kabar sampai. Laptop membantu pada latihan penelusuran gambar dan pembacaan alamat tautan, jadi tutor memakainya bila tersedia di alamat peserta. Tanpa laptop, sembilan pokok bahasan tetap bisa diselesaikan.
Sesi bisa berjalan lewat layar?
Bisa, dan untuk program ini bentuk daring justru wajar sebab bahan latihannya memang ada di layar. Sesi 90 menit jenjang SMA lewat daring berada di Rp189.000, sebab waktu perjalanan tutor tidak muncul. Peserta di Sedati dan Jabon sering memilih bentuk ini.
Alamat di luar Kota Surabaya bisa dilayani?
Bisa. Tutor menjangkau 18 kecamatan Kabupaten Sidoarjo, termasuk Waru, Gedangan, Buduran, Krian, dan Sukodono. Jarak memengaruhi pilihan jam, jadi tim penjadwal menyusun sesi sore atau malam untuk alamat yang jauh dari titik tinggal tutor.
Berapa lama sampai peserta bisa memeriksa sendiri?
Empat pertanyaan pemeriksa biasanya sudah dipakai tanpa diminta pada sesi kelima. Penelusuran gambar dan pembacaan alamat tautan menuntut latihan lebih panjang, umumnya sekitar sepuluh sesi. Kecepatannya bergantung pada seberapa sering peserta memakainya di luar kelas.
Bagaimana kalau gaya mengajar tutornya belum cocok?
Kabarkan lewat WhatsApp di 0821-3617-6381 dan sebutkan bagian yang terasa berat. Penggantian tutor berjalan tanpa biaya tambahan, dan daftar pokok bahasan yang sudah dilewati diteruskan supaya sesi berikutnya menyambung dari titik yang sama.
Sesi bisa dipindah kalau ada agenda mendadak?
Bisa. Beri tahu tutor beberapa jam sebelum sesi berjalan, lalu jamnya dipindahkan ke hari lain yang masih kosong. Program ini tidak menuntut hari tetap, sebab bahan latihannya datang kapan saja dan urutan pokok bahasan tetap utuh.
Apakah kelas ini membuat peserta curiga pada semua hal?
Sasarannya justru berlawanan. Peserta yang tahu cara memeriksa berhenti menebak, dan menebak itulah yang melahirkan curiga tanpa arah. Tutor menutup tiap latihan dengan menyebut bagian yang ternyata benar, supaya peserta terbiasa menemukan kabar yang layak dipercaya.
Apa yang dibawa pulang peserta di akhir program?
Satu lembar berisi empat pertanyaan pemeriksa, ciri tiap tuas bujukan penipuan, dan aturan grup yang disusun peserta sendiri. Lembar itu ditulis tangan peserta sepanjang sesi, jadi kalimatnya memakai bahasa yang ia pakai sehari-hari.
Jadwalkan Sesi
Temukan tutor literasi digital Anda hari ini
Satu langkah kecil: konsultasi kebutuhan literasi digital. Sisanya biar kami yang siapkan.
4,9/5 · 1.200 ulasan wali di Surabaya