Lompat ke konten utama

4,9/5 · 1.200 ulasan · Semua Usia

Les Bahasa Osing di Surabaya

Les bahasa Osing Edubia adalah pendampingan privat bagi warga Surabaya yang ingin berbicara seperti keluarganya di Banyuwangi. Satu tutor menemani satu peserta selama 60 menit, dua kali sepekan, di rumah atau online, mulai Rp126.100 per sesi.

Les Bahasa Osing di Surabaya
4,9/5 1.200 ulasan
2.500+ tutor terseleksi
1-on-1 satu tutor satu siswa
Ke rumah Surabaya, co-learning, atau online
Ganti tutor prosesnya mudah
Assessment mulai dari kebutuhan

Poin utama

Kenapa les bahasa Osing privat terasa lebih terarah?

Ringkasan singkat sebelum Anda menanyakan jadwal dan biaya les bahasa Osing.

Perkembangan bahasa Osing dicatat tiap sesi

Sesudah pertemuan wali menerima catatan singkat: materi yang dibahas, sejauh mana latihannya berjalan, dan sasaran pertemuan berikutnya.

Satu tutor untuk satu siswa

Seluruh jam sesi bahasa Osing tertuju pada satu orang, jadi pertanyaan sekecil apa pun terjawab saat itu juga.

Biaya les bahasa Osing disepakati di awal

Nominal per sesi dibicarakan terbuka sebelum pertemuan pertama, tanpa tambahan di tengah jalan.

Inti dari Les Bahasa Osing di Surabaya

Les bahasa Osing Edubia adalah pendampingan privat bagi warga Surabaya yang ingin berbicara seperti keluarganya di Banyuwangi. Satu tutor menemani satu peserta selama 60 menit, dua kali sepekan, di rumah atau online, mulai Rp126.100 per sesi.

Konsultasi dan Daftar

Serba-serbi Program

Lembaga penyelenggara
Edubia, layanan les privat personal yang berkantor di Surabaya dan melayani kota tetangganya
Materi yang dipelajari
Bunyi khas Osing termasuk bunyi luncur, kata ganti dan sapaan, kosakata kekerabatan, ragam hormat menurut situasi, percakapan telepon keluarga, serta lirik lagu daerah Banyuwangi sebagai bahan simak
Tutor pengampu
Pendamping yang menguasai bahasa Osing lisan dan terbiasa mengajarkannya kepada peserta yang tumbuh di kota; tim yang memilihkan tutor untuk tiap peserta
Format Sesi
Satu tutor menemani satu peserta, 60 menit per sesi, dengan urutan menyimak, menirukan, lalu memakai
Ritme belajar
Dua sesi per pekan sebagai anjuran; ritme lebih rapat tersedia untuk peserta yang punya tenggat keberangkatan
Biaya per sesi
Mulai Rp126.100 per sesi untuk peserta usia sekolah dasar dan Rp218.700 per sesi untuk peserta dewasa, pada durasi 60 menit dan delapan sesi sebulan di rumah
Tempat belajar
Rumah peserta, ruang belajar Edubia dengan tambahan Rp15.000 per sesi, atau sesi online
Wilayah layanan
31 kecamatan Kota Surabaya, dari Rungkut sampai Lakarsantri, ditambah wilayah Sidoarjo seperti Waru, Gedangan, Buduran, dan Sedati
Tingkat peserta
Mulai dari nol sampai peserta yang sudah memahami tetapi belum berani menjawab
Bahasa pengantar
Bahasa Indonesia pada pekan-pekan awal, dengan porsi bahasa Osing bertambah tiap bulan
Bahan ajar
Rekaman keluarga peserta, lembar kata yang disusun tutor dari rekaman itu, dan lagu daerah Banyuwangi berirama lambat
Cara memulai
Sesi perkenalan untuk mendengar contoh ucapan keluarga dan menetapkan alasan belajar, lalu jam sesi dikunci untuk sebulan

Susunan Materi

Susunan materi les bahasa Osing dari pekan pertama

Sepuluh pokok bahasan di bawah disusun menurut urutan yang dipakai tutor Edubia untuk peserta di Surabaya. Tiap pokok datang dengan kesalahan khas yang berulang muncul, sebab kesalahan itulah yang menentukan berapa lama sebuah pokok perlu ditahan sebelum berpindah.

  1. 1

    Bunyi luncur yang menandai Osing

    Pekan 1 sampai 4

    Yang dibahas. Gerak lidah yang naik ke depan sesaat sebelum vokal keluar, dilatih pada kata yang diambil dari rekaman keluarga peserta sendiri.

    Jebakan umum. Peserta menyederhanakan bunyi luncur menjadi vokal biasa tanpa menyadarinya, dan kesalahan itu mengeras kalau dibiarkan sebulan.

    Cara tutor. Tutor membatasi koreksi pada satu atau dua kata per sesi, meminta tiga pengulangan berjeda, lalu memanggil kata itu kembali di sesi berikutnya.

  2. 2

    Sapaan yang membuka tiap kalimat

    Pekan 1 sampai 3

    Yang dibahas. Pemakaian isun untuk diri sendiri serta rika atau riko untuk lawan bicara, dalam kalimat pendek yang benar-benar dipakai peserta.

    Jebakan umum. Peserta menghafal kata gantinya tetapi tetap menyusun kalimat dengan urutan bahasa Indonesia, sehingga kalimatnya terdengar diterjemahkan.

    Cara tutor. Latihan dimulai dari kalimat utuh yang didengar peserta di rekaman, sehingga urutan katanya ikut terbawa tanpa perlu dihafal terpisah.

  3. 3

    Panggilan kekerabatan dalam keluarga

    Pekan 2 sampai 5

    Yang dibahas. Sebutan untuk orang tua, kakak, adik, paman, bibi, dan mertua, dicocokkan dengan sebutan yang benar-benar dipakai keluarga peserta.

    Jebakan umum. Keluarga di daerah berbeda memakai panggilan berbeda, dan peserta yang memakai daftar umum bisa terdengar asing di rumahnya sendiri.

    Cara tutor. Tutor menyusun bagan keluarga peserta di sesi kedua, lalu mengisi panggilannya dari rekaman yang dibawa peserta sendiri.

  4. 4

    Bertanya dan menahan percakapan tetap hidup

    Pekan 3 sampai 6

    Yang dibahas. Pemakaian paran untuk menanyakan apa, berikut jawaban pendek yang lazim menyertainya dalam percakapan sehari-hari.

    Jebakan umum. Peserta menguasai pertanyaannya tetapi menjawab dalam bahasa Indonesia, sehingga percakapan berpindah bahasa di kalimat kedua.

    Cara tutor. Tutor memainkan peran penanya berulang kali dan menahan diri menjawab, memaksa peserta menemukan jawabannya sendiri.

  5. 5

    Penyambung antar-kejadian dalam cerita

    Pekan 4 sampai 8

    Yang dibahas. Sebutan waktu harian dan penanda urutan yang dipakai untuk menyambung dua sampai tiga kejadian dalam satu cerita.

    Jebakan umum. Cerita peserta berhenti pada satu kalimat karena ia belum punya penyambung, dan lawan bicara mengira ia sudah selesai.

    Cara tutor. Peserta diberi tugas menceritakan satu hari kemarin dalam tiga kalimat, ditambah satu kalimat tiap pekan berikutnya.

  6. 6

    Ragam hormat menurut situasi

    Pekan 5 sampai 10

    Yang dibahas. Kapan bentuk hormat dipakai kepada orang yang dituakan dan di acara adat, dan kapan bentuk sehari-hari yang justru tepat.

    Jebakan umum. Peserta mencoba memasangkan bentuk Osing satu lawan satu dengan tingkat tutur bahasa tetangga, lalu tersesat karena pasangannya tidak selalu ada.

    Cara tutor. Bentuk hormat ditempelkan pada orang tertentu yang akan ditemui peserta, sehingga yang dihafal orangnya dan bahasanya ikut.

  7. 7

    Menawarkan dan menolak makanan dengan halus

    Pekan 6 sampai 10

    Yang dibahas. Nama bahan, cara memasak, rasa, dan kalimat menawarkan atau menolak makanan dengan halus.

    Jebakan umum. Peserta menghafal nama bahan tetapi tidak punya kalimat untuk menawarkan, padahal menawarkan makanan adalah pembuka percakapan yang berulang muncul tiap kali kerabat datang.

    Cara tutor. Kosakata dan kalimat tawaran diajarkan bersama-sama, dan peserta berlatih sambil menyiapkan makanan di rumah.

  8. 8

    Percakapan telepon dengan keluarga

    Pekan 8 sampai 14

    Yang dibahas. Membuka percakapan, menanyakan kabar, menyela dengan sopan, dan menutup pembicaraan tanpa berpindah bahasa.

    Jebakan umum. Peserta kehilangan arah begitu lawan bicara berbicara cepat, lalu diam sampai percakapan berakhir dengan canggung.

    Cara tutor. Peserta dibekali tiga kalimat penyelamat untuk meminta pengulangan, dan ketiganya dilatih sampai keluar tanpa berpikir.

  9. 9

    Menyimak baris lagu berirama lambat

    Selingan mingguan

    Yang dibahas. Menyimak baris lagu berirama lambat, menuliskan liriknya sendiri, lalu membandingkannya dengan teks aslinya.

    Jebakan umum. Sesi yang seluruhnya diisi lagu terasa menyenangkan tetapi lambat membuahkan percakapan sungguhan.

    Cara tutor. Porsinya dijaga sekitar sepuluh menit per sesi dan hanya ditambah untuk peserta yang memang datang dengan minat kesenian.

  10. 10

    Menulis pesan singkat berbahasa Osing

    Pekan 10 dan seterusnya

    Yang dibahas. Menuliskan kalimat dengan ejaan Latin yang lazim dipakai keluarga di percakapan pesan, termasuk singkatan yang umum.

    Jebakan umum. Peserta menunggu ejaan yang dianggap resmi dan akhirnya tidak pernah menulis apa pun kepada keluarganya.

    Cara tutor. Tutor memakai ejaan yang dipakai keluarga peserta sebagai acuan, dan peserta mulai mengirim satu pesan pendek tiap pekan.

Fleksibel

Pilih format les bahasa Osing yang cocok dengan rutinitas keluarga

Tutor bahasa Osing datang ke rumah, co-learning space, atau online. Rencana belajar disusun dari kebutuhan anak.

Ke rumah
Tutor datang, orang tua bisa memantau
Co-learning
2 titik partner di Surabaya
Online
Sesi berbagi layar dua arah, terjadwal seperti sesi tatap muka

Sebelum mendaftar

Peserta yang cocok dengan les bahasa Osing ini

Peserta yang cocok

  • Anak keluarga perantau asal Banyuwangi yang lahir di Surabaya dan belum pernah menjawab kakek neneknya dengan bahasa Osing.
  • Orang dewasa yang memahami sebagian besar ucapan keluarga tetapi selalu menjawab dalam bahasa Indonesia.
  • Pekerja yang akan ditugaskan ke Banyuwangi dan punya tenggat satu sampai tiga bulan sebelum berangkat.
  • Menantu baru dalam keluarga Using yang perlu bentuk sapaan hormat sejak pertemuan pertama.
  • Peneliti atau penggemar kesenian Banyuwangi yang perlu memahami tuturan panjang dan lirik lagu.
  • Keluarga yang bisa menyediakan rekaman suara kerabat sebagai bahan simak sejak pekan pertama.

Tahapan belajar

Tahapan belajar dari sesi perkenalan sampai bercerita

Perkiraan waktu di bawah memakai ritme dua sesi 60 menit per pekan. Peserta yang punya lawan bicara sungguhan di rumah bergerak lebih cepat daripada peserta yang hanya berlatih di sesi, dan tutor menyesuaikan tahapannya.

  1. 01

    Sesi perkenalan dan pengumpulan rekaman

    Sesi 1

    Tutor mendengar contoh ucapan keluarga peserta, menanyakan alasan belajar, dan menetapkan kelompok kata mana yang digarap lebih dulu. Peserta pulang membawa tugas merekam tiga jenis percakapan di rumah.

  2. 02

    Telinga mulai membedakan bunyi

    Pekan 2 sampai 4

    Peserta sanggup menandai bunyi luncur pada kata yang sudah dilatih, meski belum konsisten saat mengucapkannya. Selisih antara tulisan peserta dan tulisan tutor mulai menyempit.

  3. 03

    Menjawab kalimat pendek tanpa berpindah bahasa

    Pekan 4 sampai 8

    Sapaan, kata ganti, dan jawaban pendek sudah keluar tanpa diingatkan. Percakapan bertahan sekitar lima sampai delapan giliran sebelum peserta kembali ke bahasa Indonesia.

  4. 04

    Memakai bentuk hormat kepada orang yang tepat

    Pekan 6 sampai 12

    Peserta bisa menyapa mertua atau kerabat tua dengan bentuk yang sesuai, dan tahu kapan bentuk sehari-hari justru lebih pas. Kesalahan yang tersisa umumnya berkisar pada pilihan kata.

  5. 05

    Telepon keluarga berjalan tanpa tersendat

    Pekan 10 sampai 16

    Peserta membuka percakapan sendiri, meminta pengulangan saat tidak menangkap, dan menutup pembicaraan dengan wajar. Ini ukuran yang berulang kali disebut orang tua sebagai tanda program berhasil.

  6. 06

    Bercerita panjang dan menyimak lagu utuh

    Bulan 5 dan seterusnya

    Peserta menyambung beberapa kejadian dalam satu cerita dan menangkap sebagian besar lirik lagu berirama lambat tanpa teks. Sesudah tahap ini banyak peserta beralih ke ritme satu sesi per pekan untuk menjaga kebiasaan.

Alasan memilih

Yang membuat les bahasa Osing kami beda

Unggulan utama

Ucapan keluarga jadi acuan

Kalau ucapan tutor berbeda dari ucapan keluarga peserta, yang dipakai sebagai acuan adalah ucapan keluarga. Peserta belajar untuk berbicara dengan mereka, jadi merekalah yang menentukan.

Latihan telinga di tiap awal sesi

Bagian menyimak selalu ditaruh saat telinga masih segar. Sesudah dua puluh menit, kemampuan membedakan dua ucapan mirip menurun, dan latihan yang diteruskan hanya menumpuk kesalahan.

Bentuk hormat ditempel ke orangnya

Peserta menghafal lima orang yang akan ia temui di kampung berikut kalimat sapaan untuk masing-masing, cara yang jauh lebih melekat daripada menghafal daftar tingkatan.

Nyanyian merentangkan suku kata

Baris lagu berirama lambat merentangkan suku kata, sehingga bunyi luncur yang cepat berlalu di percakapan menjadi terdengar jelas dan mudah ditirukan.

Catatan kemajuan berbentuk situasi nyata

Laporan bulanan menyebut apa yang sudah bisa dikerjakan peserta, misalnya menanyakan kabar atau menawarkan makanan, tanpa istilah kebahasaan yang perlu diterjemahkan lagi.

Yang didapat peserta

Isi paket les privat bahasa Osing di Edubia

Sesi perkenalan sebelum jadwal dikunci

Tutor mendengar contoh ucapan keluarga peserta dan menetapkan urutan bahan, sehingga sesi pertama tidak habis untuk perkenalan.

Daftar kata bersumber dari rekaman kerabat

Daftar kata disusun dari suara yang benar-benar akan didengar peserta, sehingga isinya cocok dengan ucapan daerah asal keluarganya.

Perbaikan bunyi pada detik kesalahan terjadi

Bunyi yang melenceng diperbaiki pada saat terjadi, dengan batas satu sampai dua kata per sesi supaya peserta tetap berani bicara.

Tutor memerankan kerabat peserta

Tutor memerankan anggota keluarga peserta, sehingga latihan percakapan menyerupai situasi yang akan dihadapi di telepon atau saat mudik.

Potongan baris lagu sebagai lembar kata mingguan

Baris lagu berirama lambat dipotong per baris dan dipakai sebagai lembar kata mingguan, terutama untuk peserta remaja.

Catatan kemajuan tiap akhir bulan

Berisi lama bertahan dalam percakapan, kata sasaran yang sudah dipakai tanpa diingatkan, dan bunyi yang masih perlu diulang.

Pilihan tempat belajar yang bisa berganti

Sesi bisa berjalan di rumah, di ruang belajar Edubia dengan tambahan Rp15.000 per sesi, atau online saat peserta sedang bepergian.

Penggantian tutor bila ucapan terasa jauh

Permintaan diajukan lewat pesan berikut alasannya, dan tim mencarikan pendamping lain tanpa biaya tambahan.

Bahasa Osing yang dipelajari di kelas les Edubia

Bahasa Osing adalah bahasa sehari-hari masyarakat Using di Banyuwangi, kabupaten yang duduk di ujung timur Pulau Jawa. Nama masyarakatnya ditulis Using maupun Osing, dan kata itu sendiri lazim diterangkan berasal dari kata yang berarti tidak. Di Surabaya bahasa ini hidup di ruang tamu keluarga perantau, di sambungan telepon menjelang lebaran, dan di lagu yang diputar orang tua sambil menyiapkan makan malam.

Secara kekerabatan ia berdekatan dengan bahasa Jawa, dan penempatan itu berhenti sampai di situ. Yang dipelajari peserta di Edubia adalah bahasa Osing sebagaimana dipakai penuturnya sendiri: bunyinya, kata gantinya, cara memilih bentuk halus, dan giliran bicara di dalam keluarga besar.

Telinga orang yang tumbuh di Surabaya biasanya menangkap satu hal lebih dulu daripada arti katanya, yaitu bunyinya. Penutur Osing menyisipkan bunyi luncur pada sebagian kata, sehingga satu suku kata terdengar bergerak dari satu vokal ke vokal berikutnya. Orang dari daerah tetangga mengenali ciri itu dalam satu kalimat, sementara peserta yang belum terlatih sering melewatkannya sepanjang minggu pertama.

Karena itu tiap sesi les bahasa Osing di Edubia dibuka dengan menyimak, disusul menirukan, dan ditutup dengan memakai kata yang baru dilatih dalam kalimat sendiri. Susunan itu dipilih supaya peserta memakai bahasanya di hari yang sama, sekalipun baru satu kalimat, dan supaya kebiasaan mendengar tumbuh lebih dulu daripada kebiasaan menghafal.

Daftar kata untuk peserta di Surabaya tidak diambil dari satu buku. Ucapan di Banyuwangi berbeda dari satu daerah ke daerah lain, dan keluarga yang merantau membawa ucapan daerahnya sendiri ke Surabaya. Tutor karena itu menyusun daftarnya dari rekaman keluarga peserta, lalu mengelompokkannya menurut situasi pemakaian.

Enam kelompok di bawah yang biasanya digarap lebih dulu, sebab keenamnya muncul di percakapan telepon mingguan. Kata di luar keenam kelompok itu masuk belakangan, mengikuti apa yang benar-benar dibicarakan keluarga peserta.

Detail

Kelompok kata yang disusun tutor bahasa Osing

Kata ganti dan sapaan harian

Kata ganti orang pertama isun dan sapaan rika atau riko untuk lawan bicara dipasang lebih dulu, sebab keduanya muncul di kalimat pembuka mana pun. Tutor melatih peserta memakainya dalam kalimat pendek sampai terasa wajar, lalu menambahkan pilihan sapaan yang dipakai keluarga peserta sendiri.

Sebutan untuk tiap kerabat

Panggilan untuk ayah, ibu, kakak, adik, paman, dan mertua digarap satu per satu dari rekaman keluarga. Kelompok ini biasanya lebih dulu terpakai daripada kelompok lain, sebab satu panggilan yang tepat sudah cukup membuat lawan bicara di seberang telepon menjawab dengan bahasa Osing juga.

Waktu, hari, dan urutan kegiatan

Sebutan pagi, siang, kemarin, besok, dan minggu depan dipakai untuk menyusun kalimat cerita. Peserta berlatih menyambung tiga kejadian dalam satu kalimat, ukuran pertama bahwa ia sudah bercerita dan sudah melampaui jawaban sepatah dua kata.

Makanan dan urusan dapur

Nama bahan, cara memasak, dan rasa masuk lebih awal daripada kelompok lain karena dapur adalah ruang tempat bahasa ini kerap terdengar di rumah perantau. Peserta yang belajar sambil memasak biasanya mengingat kelompok ini tanpa mengulang lembar kata.

Pekerjaan, kebun, dan laut

Kosakata pekerjaan dipilih mengikuti keluarga peserta: petani, pedagang pasar, nelayan, atau pekerja kantor. Peserta yang akan ditugaskan ke Banyuwangi memakai kelompok ini lebih dulu daripada kelompok keluarga, sebab percakapan pertamanya justru dengan rekan kerja.

Kata tanya dan jawaban pendek

Kata tanya paran untuk menanyakan apa dilatih bersama jawaban pendek yang lazim menyertainya. Peserta yang menguasai kelompok ini bisa menjaga percakapan tetap berjalan meski kosakatanya masih tipis, dan itulah yang membuat lawan bicara betah meneruskan.

Cara tutor melatih bunyi khas di sesi les

Bunyi luncur yang menandai Osing lahir dari gerak lidah yang naik ke depan sesaat sebelum vokal keluar. Gerak itu kecil, cepat, dan tidak pernah diajarkan kepada orang yang tumbuh dengan bahasa Indonesia, sehingga otot lidah peserta baru perlu waktu untuk terbiasa. Di dalam satu sesi ada dua bagian tubuh yang kehabisan tenaga pada menit berbeda: telinga lebih dulu, lidah menyusul.

Telinga lelah lebih dulu. Sesudah kira-kira dua puluh menit menyimak rekaman, peserta mulai kehilangan kemampuan membedakan dua ucapan yang mirip, dan latihan menyimak yang diteruskan pada titik itu hanya menumpuk kesalahan. Karena itu sesi 60 menit dibagi tutor menjadi tiga bagian pendek, dengan menyimak selalu ditaruh di bagian pertama.

Lidah lelah belakangan, dan tandanya berbeda: peserta mulai menyederhanakan bunyi luncur menjadi vokal biasa tanpa menyadarinya. Tutor menandai kata yang sudah melenceng, mengembalikannya ke rekaman aslinya, lalu meminta peserta mengulang tiga kali dengan jeda. Tiga kali dengan jeda lebih berguna daripada sepuluh kali beruntun, sebab yang dilatih di sini ketepatan gerak lidah.

Pada bulan pertama tutor membatasi koreksi ucapan pada satu atau dua kata per sesi. Peserta yang dikoreksi terus-menerus berhenti berani bicara, dan berhenti bicara adalah kemunduran yang jauh lebih mahal daripada satu bunyi yang belum rapi. Kata yang belum rapi dicatat, lalu dipanggil kembali di sesi berikutnya ketika peserta sudah lebih tenang.

Lebih dekat

Keunggulan les privat bahasa Osing di Surabaya

Lima hal yang membedakan sesi privat ini dari belajar sendiri lewat rekaman.

Bahan disusun dari suara keluarga

Rekaman kakek, nenek, atau orang tua peserta menjadi bahan simak utama, sehingga yang dilatih adalah ucapan yang benar-benar akan didengar peserta di telepon.

Koreksi ucapan langsung di tempat

Kesalahan bunyi luncur diperbaiki pada detik ia terjadi. Belajar sendiri lewat rekaman tidak memberi peserta cara mengetahui bahwa ucapannya sudah melenceng.

Giliran bicara ikut dilatih

Peserta berlatih menyela dengan sopan, menjawab pendek, dan menutup percakapan. Bagian ini yang menentukan apakah telepon dengan keluarga terasa lancar atau canggung.

Tutor datang ke rumah peserta

Sesi berlangsung di ruang tamu tempat bahasa ini nanti dipakai, dan anggota keluarga yang kebetulan mendengar sering ikut membantu mengoreksi tanpa diminta.

Penggantian tutor tanpa biaya tambahan

Kalau ucapan tutor terasa jauh dari ucapan keluarga peserta, tim Edubia mencarikan pendamping lain yang ucapannya lebih dekat, dan pergantian itu tidak menambah tagihan.

Ragam hormat yang dilatih tutor sebelum pulang kampung

Bahasa Osing membedakan cara bicara sehari-hari dari cara bicara yang lebih hormat, dan peserta yang melewatkan pembedaan itu akan terdengar terlalu akrab kepada orang yang dituakan. Bentuk hormat dipakai kepada mertua, kepada tetangga yang lebih tua, dan di acara adat, sementara bentuk sehari-hari dipakai kepada sebaya dan kepada anak-anak.

Yang membuat bagian ini menuntut latihan tersendiri: pembedaannya lebih ditentukan situasi daripada tingkatan yang dihafal berurutan. Peserta yang pernah belajar tingkat tutur bahasa tetangga sering mencoba memasangkan bentuk Osing satu lawan satu dengan tingkatan yang sudah ia kenal, lalu tersesat karena pasangan itu tidak selalu ada. Tutor menutup jalan pintas tersebut sejak sesi pertama.

Cara yang dipakai di Edubia adalah menempelkan bentuk hormat pada orang tertentu. Tutor meminta peserta menyebutkan lima orang yang akan ditemuinya saat pulang ke Banyuwangi, lalu menyusun kalimat sapaan untuk masing-masing. Peserta menghafal orangnya, dan bentuk bahasanya ikut dengan sendirinya.

Menjelang mudik, tutor menambahkan latihan situasi yang lazim: menyapa tetangga di depan rumah, menerima tawaran makan, menolak dengan halus, dan berpamitan. Empat situasi itu terjadi hampir tiap hari selama peserta berada di kampung, dan peserta yang sudah melatihnya lebih dulu tidak perlu memikirkan kalimatnya saat momennya datang.

Bahan belajar keluarga yang dipakai tutor di kelas

Bahasa Osing tidak punya banyak penutur di Surabaya, dan itu mengubah cara program ini disusun. Peserta les bahasa Inggris bisa keluar rumah lalu menemukan lawan bicara; peserta les bahasa Osing di Surabaya sering hanya punya keluarganya sendiri. Kekurangan itu ditangani dengan memindahkan sumber bahasanya ke dalam sesi.

Sebelum sesi pertama, tutor meminta peserta mengumpulkan tiga jenis rekaman: percakapan keluarga yang berlangsung wajar, satu orang tua yang menceritakan kejadian panjang, dan satu orang yang menyebut nama benda di sekitar rumah. Ketiganya cukup untuk menyusun bahan dua bulan pertama, dan ketiganya bisa direkam lewat telepon biasa.

Panggilan video dengan keluarga di Banyuwangi dipakai sebagai latihan berkala, dengan sasaran yang disepakati lebih dulu. Peserta membawa satu tugas kecil ke panggilan itu, misalnya menanyakan kabar tetangga memakai kalimat yang sudah dilatih. Tugas yang jelas membuat peserta berani memulai, dan keluarga di seberang biasanya membantu tanpa perlu diminta.

Lagu daerah Banyuwangi masuk sebagai bahan simak yang ringan. Peserta yang lelah menyimak percakapan masih sanggup menyimak lagu, sebab iramanya menahan perhatian lebih lama. Tutor memilih lagu yang liriknya lambat, memotongnya per baris, lalu memakai baris itu sebagai lembar kata untuk pekan tersebut.

Tutor berangkat ke alamat peserta di seluruh Kota Surabaya, dan tim menempatkan pendamping yang tempat tinggalnya berdekatan dengan alamat itu supaya jam sesi tidak tergerus perjalanan. Enam kelompok kecamatan di bawah kerap muncul di jadwal kunjungan.

Di luar Kota Surabaya, sesi juga berjalan di Sidoarjo, terutama Waru, Gedangan, Buduran, dan Sedati yang berdekatan dengan batas kota. Alamat di Krian, Wonoayu, atau Tanggulangin tetap bisa dijadwalkan dengan jam mulai yang disepakati lebih dulu.

Selengkapnya

Wilayah Surabaya yang didatangi tutor bahasa Osing

01

Rungkut, Tenggilis Mejoyo, dan Gunung Anyar

Kawasan timur yang banyak dihuni keluarga muda. Sesi di sini biasanya berjalan sesudah magrib, ketika orang tua sudah pulang kerja dan anak selesai mengerjakan tugas sekolah.

02

Gubeng, Mulyorejo, dan Sukolilo

Dekat dengan kampus-kampus besar Surabaya, sehingga peserta di sini banyak yang mahasiswa perantau. Jadwalnya cenderung siang di sela kuliah atau akhir pekan.

03

Wonokromo, Wonocolo, dan Gayungan

Wilayah selatan yang mudah dijangkau dari dua arah. Peserta di sini sering memilih dua sesi pendek per pekan daripada satu sesi panjang, dan tutor menyesuaikan pembagian bahannya.

04

Tambaksari, Kenjeran, dan Bulak

Kawasan utara dan timur laut kota. Peserta dari keluarga pedagang di sini biasanya mengambil jam malam, dan sesi berjalan sesudah toko atau lapak tutup.

05

Sawahan, Tegalsari, dan Genteng

Pusat kota tempat kantor Edubia berada. Peserta pekerja di kawasan ini sering memilih sesi sebelum jam kerja dimulai atau tepat sesudahnya, dengan jam yang tetap tiap pekan.

06

Lakarsantri, Wiyung, dan Dukuh Pakis

Kawasan barat dan barat daya. Jarak antar-rumah di sini lebih lebar, jadi tutor mengunci jam sesi lebih awal supaya perjalanan tidak memotong waktu menyimak.

Biaya les bahasa Osing per sesi di Surabaya

Biaya les bahasa Osing dimulai dari Rp126.100 per sesi untuk peserta usia sekolah dasar, dihitung untuk delapan sesi dalam sebulan dengan durasi 60 menit di rumah peserta. Untuk peserta dewasa, dengan durasi dan ritme yang sama, tarifnya Rp218.700 per sesi. Selisih itu mengikuti jenjang peserta, sebab bahan dan cara mendampingi anak berbeda dari cara mendampingi orang dewasa yang sudah punya alasan pemakaian yang jelas.

Tarif tersebut berlaku untuk sesi yang berlangsung di alamat peserta, dan perjalanan tutor menuju alamat itu tidak ditagihkan sebagai baris terpisah. Kalau peserta memilih belajar di ruang belajar Edubia, ada tambahan Rp15.000 per sesi untuk pemakaian ruangnya. Sesi online tidak memakai tambahan tersebut.

Angka yang tampil di halaman ini adalah titik mulai, dan tagihan sebenarnya bergerak mengikuti durasi yang dipilih serta jumlah sesi per bulan. Peserta yang meminta sesi 90 menit membayar lebih tinggi per sesi, sementara peserta yang mengambil ritme lebih rapat mendapat potongan yang sudah dihitung di dalam tarif bulanannya.

Yang termasuk di dalam tarif: penyusunan lembar kata dari rekaman keluarga peserta, catatan kemajuan bulanan, dan penggantian tutor bila ucapan pendamping terasa jauh dari ucapan keluarga peserta. Permintaan penggantian itu dilayani tanpa biaya tambahan, dan alasannya cukup disampaikan lewat pesan.

Peserta program ini datang dengan alasan yang berbeda-beda, dan alasan itulah yang menentukan kelompok kata mana yang digarap lebih dulu. Tutor menanyakannya di sesi perkenalan, sebelum satu lembar kata pun disusun.

Lima jenis peserta di bawah kerap ditemui tim Edubia di Surabaya. Peserta yang alasannya tidak persis sama dengan salah satunya tetap dilayani; susunan bahannya saja yang digeser.

Inti bahasan

Peserta yang mengambil les privat bahasa Osing

Orang tua perantau asal Banyuwangi

Ingin anaknya yang lahir dan besar di Surabaya tetap bisa menjawab kakek nenek dengan bahasa yang sama. Biasanya mendaftarkan anak, lalu ikut duduk mendengarkan di sesi pertama.

Anak yang memahami tanpa berani menjawab

Sudah mengerti sebagian besar ucapan orang tua, tetapi selalu menjawab dalam bahasa Indonesia. Untuk peserta ini porsi latihan bicara jauh lebih besar daripada porsi kosakata baru.

Pekerja yang ditugaskan ke Banyuwangi

Punya tenggat yang jelas, biasanya satu sampai tiga bulan sebelum berangkat. Kosakata pekerjaan dan sapaan kepada rekan kerja dikerjakan lebih dulu daripada kosakata keluarga.

Menantu baru dalam keluarga Using

Butuh bentuk hormat yang tepat untuk mertua dan kerabat tua sejak pertemuan pertama. Bahan latihannya dipusatkan pada sapaan, permintaan izin, dan cara menolak dengan halus.

Peneliti dan penggemar budaya Banyuwangi

Perlu memahami tuturan panjang dan lirik lagu utuh, sesuatu yang menuntut lebih daripada berbalas kalimat pendek. Bahan simaknya lebih berat sejak awal, dan porsi menulis catatan lebih besar.

Lagu dan tari Banyuwangi sebagai bahan di kelas

Gandrung adalah tari yang melekat erat pada nama Banyuwangi, dan pertunjukannya berjalan bersama tembang yang dinyanyikan sepanjang malam. Bagi peserta les, nilai gandrung terletak pada kalimatnya yang berulang: baris yang sama kembali beberapa kali dalam satu pertunjukan, dan pengulangan itu memberi telinga kesempatan menangkap bunyi yang terlewat pada putaran pertama.

Lagu populer berbahasa Osing dipakai dengan alasan yang sedikit berbeda. Peserta remaja yang enggan mengulang lembar kata biasanya bersedia mengulang satu baris lagu berpuluh kali tanpa merasa sedang berlatih. Tutor memanfaatkannya dengan memilih lagu berirama lambat, lalu meminta peserta menuliskan liriknya sendiri sebelum melihat teks aslinya.

Tembang juga memperlihatkan sesuatu yang sulit diajarkan lewat percakapan: panjang pendeknya bunyi. Dalam nyanyian, suku kata direntangkan, dan bunyi luncur yang di percakapan cepat berlalu menjadi terdengar jelas. Peserta yang kesulitan menangkapnya di percakapan sering menemukannya lebih dulu di lagu.

Bagian ini sengaja ditaruh sebagai selingan sepanjang program berjalan. Sesi yang seluruhnya diisi lagu terasa menyenangkan tetapi lambat membuahkan percakapan. Tutor memakainya sekitar sepuluh menit per sesi, dan menambah porsinya hanya untuk peserta yang memang datang dengan minat kesenian.

Ritme yang disarankan tutor adalah dua sesi 60 menit tiap pekan, dengan jarak dua sampai tiga hari di antaranya. Jarak itu memberi lidah waktu beristirahat sekaligus menahan lupa, dan peserta yang memakai ritme ini biasanya sudah bisa menjawab kalimat pendek pada pekan keempat.

Jam sesi disepakati di awal lalu dikunci untuk sebulan penuh, sebab jam yang berpindah-pindah membuat peserta kehilangan kebiasaan. Tim Edubia melayani permintaan jadwal sejak pagi sampai malam setiap hari, termasuk Sabtu dan Minggu.

Garis besar

Jadwal les bahasa Osing dan ritme sesi sepekan

Unggulan utama

Sore hari bagi anak yang baru pulang sekolah

Berjalan sesudah anak pulang sekolah dan beristirahat. Untuk anak, 60 menit adalah batas yang wajar; sesi yang lebih panjang membuat bagian menyimak kehilangan gunanya.

Jam malam bagi yang pulang lewat pukul tujuh

Dipilih peserta yang baru sampai rumah lewat pukul tujuh. Bagian menyimak dipindahkan tutor ke awal sesi supaya telinga yang masih segar dipakai untuk bagian yang menuntut ketelitian.

Sesi akhir pekan bersama keluarga

Sabtu atau Minggu pagi, ketika orang tua bisa ikut duduk mendengarkan. Kehadiran orang tua membantu, sebab merekalah yang akan menjadi lawan bicara peserta di hari-hari biasa.

Pilihan online saat sedang bepergian

Dipakai peserta yang jadwal perjalanannya berubah-ubah. Bahan simak dikirim lebih dulu, dan sesi online berjalan tanpa tambahan biaya ruang belajar.

Ritme rapat menjelang keberangkatan

Peserta yang akan pindah tugas atau mudik panjang bisa menambah jumlah sesi per bulan. Tarif per sesinya turun mengikuti tabel intensitas, dan bahannya dipadatkan ke situasi yang akan segera ia hadapi.

Ukuran kemajuan yang dicatat tutor tiap bulan

Program ini tidak berujung pada ujian, jadi ukurannya diambil dari pemakaian sungguhan. Tiap akhir bulan tutor menuliskan tiga hal: berapa lama peserta sanggup bertahan dalam percakapan tanpa berpindah ke bahasa Indonesia, berapa banyak kata sasaran yang sudah dipakai tanpa diingatkan, dan bunyi mana yang masih melenceng.

Ukuran pertama yang biasanya bergerak lebih dulu adalah pemahaman. Peserta mulai mengerti lebih banyak daripada yang sanggup ia ucapkan, dan jarak antara keduanya lebar pada bulan pertama. Jarak itu wajar, dan tutor menuliskannya apa adanya supaya keluarga tidak menyimpulkan bahwa peserta belum belajar apa pun.

Ukuran kedua adalah keberanian memulai. Peserta yang menunggu ditanya berbeda dari peserta yang membuka percakapan sendiri, dan perpindahan itu biasanya terjadi antara pekan keenam dan kesepuluh. Tutor mendorongnya dengan memberi peserta satu tugas bertanya di tiap panggilan keluarga.

Catatan bulanan dikirim ke orang tua atau ke peserta dewasa dalam bahasa yang bisa langsung dibaca, tanpa istilah kebahasaan. Isinya menyebut kata dan situasi yang nyata, misalnya bahwa peserta sudah bisa menanyakan kabar dan menawarkan makanan, tetapi masih tersendat saat menceritakan kejadian kemarin.

Sikap terhadap bahasa daerah yang dipegang tutor

Bahasa Osing masih dipakai orang untuk bertengkar, bercanda, menawar harga, dan menidurkan anak. Ia bahasa yang bekerja tiap hari, dan program ini memperlakukannya seperti itu. Peserta diajak memakainya untuk urusan biasa sejak pekan pertama, tanpa menunggu tata bahasanya rapi lebih dulu.

Sebagian peserta muda datang membawa rasa canggung. Mereka pernah ditertawakan karena ucapannya kaku, atau merasa bahasa daerah tidak berguna di kota. Tutor tidak menjawab rasa itu dengan ceramah tentang budaya; ia menjawabnya dengan memberi peserta satu percakapan yang berhasil. Satu telepon yang berjalan lancar mengubah sikap lebih cepat daripada penjelasan panjang mana pun.

Perbedaan ucapan antar-daerah di Banyuwangi juga diperlakukan sebagai kekayaan yang wajar. Kalau ucapan keluarga peserta berbeda dari ucapan tutor, yang dipakai sebagai acuan adalah ucapan keluarga, sebab merekalah lawan bicara peserta sehari-hari. Tutor mencatat perbedaannya, menjelaskan asalnya secara singkat, lalu melanjutkan.

Untuk keluarga yang tinggal di Surabaya, program ini pada akhirnya mengerjakan satu hal sederhana: menjaga supaya percakapan antara anak dan kakek neneknya tidak berhenti di tengah. Selebihnya, kosakata dan bunyi, adalah alat untuk sampai ke sana.

Susunan sesi di bawah dipakai untuk peserta yang mulai dari nol maupun yang sudah bisa memahami tanpa berani menjawab. Yang berbeda hanya panjang tiap bagian: peserta yang sudah memahami lebih banyak mendapat porsi bicara lebih besar sejak pekan kedua.

Satu sesi berjalan 60 menit, dan urutannya sengaja ditutup dengan pemakaian bebas supaya peserta pulang membawa kalimat yang sudah pernah keluar dari mulutnya sendiri.

Catatan penting

Jalannya sesi les bahasa Osing dari menit pertama

Empat langkah sederhana, dari daftar sampai belajar bareng tutor pilihan.

  1. Membuka sesi dengan menyimak

    Sepuluh menit pertama dipakai mendengar potongan rekaman yang dibawa peserta. Tutor menghentikannya di kata yang menjadi sasaran hari itu dan memutarnya ulang beberapa kali tanpa penjelasan apa pun.

  2. Menuliskan apa yang terdengar

    Peserta menuliskan apa yang ia dengar dengan ejaan Latin bebas, lalu membandingkannya dengan tulisan tutor. Selisih antara dua tulisan itu memperlihatkan bunyi mana yang belum tertangkap telinganya.

  3. Menirukan dengan jeda

    Tiap kata sasaran diulang tiga kali dengan jeda pendek. Tutor memperbaiki posisi lidah dengan kalimat sederhana, dan peserta merasakan sendiri bedanya sebelum melanjutkan ke kata berikutnya.

  4. Memasang kata ke kalimat pendek

    Kata yang sudah rapi dipasang ke kalimat empat sampai enam kata. Kalimatnya diambil dari kegiatan peserta hari itu supaya ia punya alasan sungguhan untuk mengucapkannya lagi nanti.

  5. Bermain peran sebagai anggota keluarga

    Tutor memainkan peran anggota keluarga, lalu bertanya dan menunggu. Peserta berlatih menjawab pendek, bertanya balik, dan menutup percakapan tanpa berpindah ke bahasa Indonesia di tengah jalan.

  6. Menutup dengan pemakaian bebas

    Lima menit terakhir dipakai peserta bercerita bebas tentang apa saja. Tutor tidak mengoreksi di bagian ini, hanya mencatat, dan catatannya menjadi bahan sasaran sesi berikutnya.

Program Terkait

Program lain yang sering diambil bersama les bahasa Osing

Tanya jawab

Sebelum daftar les bahasa Osing, apa yang perlu ditanyakan?

Apa itu bahasa Osing dan siapa yang memakainya sehari-hari?

Bahasa Osing adalah bahasa sehari-hari masyarakat Using di Banyuwangi, kabupaten di ujung timur Pulau Jawa. Nama masyarakatnya ditulis Using maupun Osing. Di Surabaya bahasa ini dipakai keluarga perantau di rumah, terutama saat berbicara dengan kerabat yang masih tinggal di kampung.

Berapa biaya les bahasa Osing di Surabaya?

Biaya dimulai dari Rp126.100 per sesi untuk peserta usia sekolah dasar dan Rp218.700 per sesi untuk peserta dewasa, dihitung pada durasi 60 menit dengan delapan sesi dalam sebulan di rumah peserta. Belajar di ruang belajar Edubia menambah Rp15.000 per sesi, sementara sesi online tidak memakai tambahan itu.

Anak saya lahir di Surabaya dan belum pernah mendengar bahasa Osing. Bisa mulai dari nol?

Bisa. Peserta yang mulai dari nol justru lebih mudah dilatih ucapannya, sebab belum punya kebiasaan salah yang harus dibongkar. Bulan pertama dipakai untuk melatih telinga mengenali bunyi luncur dan memasang sapaan harian, dan anak biasanya sudah bisa menjawab kalimat pendek pada pekan keempat.

Apakah anak saya harus menguasai bahasa daerah lain dulu sebelum belajar bahasa Osing?

Tidak perlu. Program ini disusun untuk peserta yang mulai dari nol dan mengajarkan bahasa Osing langsung dari ucapan penuturnya, tanpa menuntut penguasaan bahasa lain lebih dulu. Peserta yang sudah menguasai bahasa daerah lain justru diminta menahan diri memasangkan bentuk kedua bahasa satu lawan satu, sebab pasangan itu tidak selalu ada.

Bagaimana kalau ucapan tutor berbeda dari ucapan keluarga kami?

Yang dipakai sebagai acuan adalah ucapan keluarga peserta, sebab merekalah lawan bicara sehari-harinya. Tutor mencatat perbedaannya dan menyesuaikan lembar kata. Kalau selisihnya terasa terlalu jauh, permintaan penggantian tutor cukup disampaikan lewat pesan berikut alasannya, dan tim mencarikan pendamping lain tanpa biaya tambahan.

Berapa lama sampai anak bisa mengobrol dengan kakek neneknya lewat telepon?

Dengan ritme dua sesi per pekan, sebagian besar peserta sudah bisa menjawab kalimat pendek pada pekan keempat dan menjaga percakapan telepon berjalan tanpa tersendat antara pekan kesepuluh dan keenam belas. Peserta yang punya lawan bicara di rumah bergerak lebih cepat daripada yang hanya berlatih di sesi.

Wilayah mana saja yang bisa didatangi tutor bahasa Osing?

Seluruh 31 kecamatan Kota Surabaya masuk jangkauan, dari Rungkut dan Gunung Anyar di timur sampai Lakarsantri dan Pakal di barat. Di Sidoarjo, sesi umumnya berjalan di Waru, Gedangan, Buduran, dan Sedati, sementara alamat di Krian atau Tanggulangin dijadwalkan dengan jam mulai yang disepakati lebih dulu.

Apakah les bahasa Osing bisa berjalan online?

Bisa, dan sesi online dipakai banyak peserta yang jadwal perjalanannya berubah-ubah. Bahan simak dikirim sebelum sesi dimulai supaya waktu tidak habis untuk pembagian berkas. Bagian yang menuntut koreksi ucapan tetap berjalan, hanya saja tutor meminta peserta berbicara lebih dekat ke mikrofon agar bunyi luncur terdengar jelas.

Apakah program ini juga mengajarkan cara menulis aksara?

Tidak. Program ini mengerjakan bahasa lisan, dan tulisan yang dipakai adalah ejaan Latin seperti yang lazim dipakai keluarga di percakapan pesan. Peserta yang ingin mendalami sistem aksara sebaiknya mengambil program yang memang disusun untuk itu, sebab bahannya berbeda sama sekali.

Apa yang perlu disiapkan sebelum sesi pertama?

Tiga rekaman suara dari keluarga: satu percakapan yang berlangsung wajar, satu orang tua yang menceritakan kejadian panjang, dan satu orang yang menyebut nama benda di sekitar rumah. Ketiganya bisa direkam lewat telepon biasa, dan ketiganya cukup untuk menyusun bahan dua bulan pertama.

Bisakah saya dan anak saya ikut satu sesi bersama-sama?

Program ini disusun sebagai pendampingan satu tutor untuk satu peserta, sehingga koreksi ucapan bisa diberikan pada detik kesalahan terjadi. Kalau ada anggota keluarga lain yang ingin ikut belajar, sampaikan lewat pesan supaya tim menyusun penawaran yang sesuai dengan jumlah peserta dan jadwal yang diinginkan.

Saya pindah tugas ke Banyuwangi bulan depan. Apakah ritmenya bisa dipadatkan?

Bisa. Jumlah sesi per bulan dapat ditambah, dan tarif per sesinya turun mengikuti tabel intensitas. Bahannya juga digeser: kosakata pekerjaan, sapaan kepada rekan kerja, dan kalimat menanyakan arah dikerjakan lebih dulu daripada kosakata keluarga, sebab itulah yang akan dipakai pada pekan pertama di sana.

Apakah ada bahan yang bisa dipelajari di luar jam sesi?

Ada. Tiap pekan peserta membawa pulang lembar kata yang disusun dari rekaman keluarganya sendiri, ditambah satu tugas bertanya yang harus dipakai pada panggilan keluarga berikutnya. Lembar itu dirancang singkat, sebab lima menit sehari lebih berguna untuk melatih ucapan daripada satu jam sekali sepekan.

Apakah lagu dan kesenian Banyuwangi ikut dipakai dalam sesi?

Ya, sebagai selingan sekitar sepuluh menit per sesi. Tembang yang mengiringi gandrung dan lagu berbahasa Osing berirama lambat dipakai sebagai bahan simak, sebab nyanyian merentangkan suku kata sehingga bunyi luncur yang cepat berlalu di percakapan menjadi terdengar jelas.

Bagaimana cara mendaftar dan kapan sesi pertama bisa berjalan?

Isi formulir pendaftaran atau kirim pesan ke tim Edubia dengan menyebutkan alamat, usia peserta, dan jam yang diinginkan. Tim memilihkan tutor yang tempat tinggalnya berdekatan dengan alamat peserta, lalu mengatur sesi perkenalan. Permintaan jadwal dilayani sejak pagi hingga malam pada semua hari, termasuk akhir pekan.

Mulai Sekarang

Sesi bahasa Osing pertama bisa dijadwalkan minggu ini

Ceritakan target bahasa Osing Anda, kami carikan tutor yang pas di Surabaya. Tanpa komitmen di awal.

  • 2.500+ tutor terverifikasi
  • 1.200+ siswa didampingi
  • 4,9/5 rating ulasan