Lompat ke konten utama

4,9/5 · 1.200 ulasan · Semua Tingkat

Les Privat Storytelling di Surabaya

Les storytelling Edubia Surabaya melatih cara membawakan cerita di depan orang: menyusun tokoh dan halangannya, lalu menata napas, tempo, jeda, dan arah pandang. Sesi privat 60 menit di rumah atau online, mulai Rp97.300 per sesi, untuk anak dan orang dewasa.

4,9/5 1.200 ulasan
2.500+ tutor terverifikasi
1.200+ siswa didampingi
1-on-1 satu tutor satu siswa
Les Privat Storytelling di Surabaya

Kenalan dulu dengan Les Privat Storytelling di Surabaya

Les storytelling Edubia Surabaya melatih cara membawakan cerita di depan orang: menyusun tokoh dan halangannya, lalu menata napas, tempo, jeda, dan arah pandang. Sesi privat 60 menit di rumah atau online, mulai Rp97.300 per sesi, untuk anak dan orang dewasa.

Konsultasi dan Daftar

Data Program

Bentuk program
Privat, satu tutor mendampingi satu peserta
Peserta
Anak usia prasekolah, pelajar, guru, pembawa acara, dan peserta dewasa
Jumlah peserta
1 peserta per sesi
Durasi sesi
60 menit, tersedia pilihan 90 menit
Jadwal
Disepakati per pekan, slot dari pukul 07.00 sampai 21.00 sepanjang pekan
Tempat sesi
Rumah peserta, ruang belajar Edubia di Tambaksari atau Wonocolo, atau online
Wilayah antar tutor
31 kecamatan Kota Surabaya, ditambah Waru, Gedangan, Sedati, Buduran, Krian, dan Sukodono di Sidoarjo
Biaya
Mulai Rp97.300 per sesi, tambah Rp15.000 per sesi bila memakai ruang belajar Edubia
Penggantian tutor
Tutor bisa diganti tanpa biaya tambahan bila gaya pendampingannya belum cocok
Peralatan dan bahan
Disiapkan peserta, di luar tarif sesi

Perjalanan Belajar

Perkembangan peserta les bercerita per rentang sesi

Rentang di bawah menggambarkan ritme dua pertemuan sepekan untuk peserta yang mulai dari nol. Peserta yang sudah biasa tampil umumnya bergerak lebih cepat, dan tutor menggeser urutannya tanpa melewati bagian suara.

  1. 01
    Awal

    Sesi 1 sampai 2: satu cerita dibawakan utuh

    Peserta membawakan cerita yang sudah dikenalnya sampai habis tanpa dihentikan. Tutor mencatat panjang, kecepatan, dan bagian yang hilang, lalu menyusun urutan latihannya.

  2. 02
    Struktur

    Sesi 3 sampai 4: kerangka dipegang sendiri

    Peserta menulis lima sampai tujuh baris penghubung untuk ceritanya sendiri, lalu membawakannya dua kali dengan pilihan kata yang sengaja dibiarkan berbeda.

  3. 03
    Suara

    Sesi 5 sampai 6: napas, artikulasi, dan volume

    Pemanasan lima menit sudah jadi kebiasaan. Kalimat panjang selesai tanpa terengah, dan kata terakhir tetap terdengar dari jarak beberapa meter.

  4. 04
    Penyampaian

    Sesi 7 sampai 8: jeda, tempo, dan suara tokoh

    Tiga tanda jeda dipasang lalu dijalankan tanpa dihitung. Dua sampai tiga suara tokoh dibedakan dan bertahan sampai cerita berakhir.

  5. 05
    Bahasa tubuh

    Sesi 9 sampai 10: arah pandang dan gerak tangan

    Peserta membagi ruangan jadi tiga arah pandang dan memakai tiga gestur yang mengikuti kalimat. Alat bantu mulai dipakai bila memang dibutuhkan.

  6. 06
    Uji tampil

    Sesi 11 sampai 12: tampil di depan pendengar

    Cerita dibawakan di depan kelompok kecil, lalu ditinjau memakai daftar periksa yang sama dengan yang dipakai tutor sejak pertemuan pertama.

Yang Didapat Peserta

Isi paket les storytelling per peserta

Kertas kerangka cerita milik peserta

Lima sampai tujuh baris penghubung yang ditulis sendiri, diperbarui tiap kali cerita baru masuk ke daftar latihan.

Naskah bertanda jeda

Garis miring pada tempat berhenti, ditambah tanda panah untuk bagian yang perlu diperlambat.

Latihan pemanasan suara lima menit

Urutan tetap yang bisa dijalankan sendiri di rumah sebelum tampil, dari napas perut sampai deretan konsonan letup.

Catatan perkembangan tiap pertemuan

Cerita apa yang dibawakan, bagian mana yang membaik, dan satu latihan yang dibawa pulang pekan itu.

Dua versi cerita untuk pendengar berbeda

Versi panjang untuk anak dan versi pendek untuk pendengar dewasa, keduanya disusun dari bahan yang sama.

Penyesuaian mengikuti ketentuan lomba

Bila peserta menyiapkan lomba bercerita di sekolah, latihan disusun mengikuti durasi, tema, dan aturan alat bantu dari panitianya.

Pilihan tempat sesi

Rumah peserta, ruang belajar Edubia di Tambaksari atau Wonocolo, atau sesi online bila jaraknya tidak memungkinkan.

Penggantian tutor tanpa biaya tambahan

Bila gaya pendampingan belum cocok, tutor bisa diganti dan catatan latihan ikut berpindah ke penerusnya.

Kekuatan program

Yang membuat les storytelling kami beda

Unggulan utama

Tutor dipilihkan sesuai usia dan tujuan peserta

Peserta anak yang malu bersuara dan peserta dewasa yang menyiapkan presentasi memerlukan gaya pendampingan yang berbeda, jadi tim mencocokkannya lewat percakapan awal.

Latihan berjalan pada cerita milik peserta

Bahan latihan diambil dari cerita yang memang akan dibawakan, sehingga tiap perbaikan langsung terpakai pada hari tampil.

Jeda dan tempo diukur dengan tanda di naskah

Tempat berhenti dibubuhi garis miring lalu dihitung dengan tarikan napas sampai jedanya berjalan sendiri.

Sesi di rumah, di ruang belajar, atau online

Peserta yang rumahnya ramai bisa pindah ke ruang belajar Edubia, dan peserta di luar jangkauan antar tetap berlatih lewat sesi online.

Jadwal mengikuti kegiatan sekolah dan kerja

Slot sore dipakai pelajar sesudah jam sekolah, sementara peserta dewasa umumnya memilih malam atau akhir pekan.

Susunan Materi

Susunan materi les storytelling per topik

Urutan di bawah adalah urutan yang biasa dipakai tutor, dan ia digeser mengikuti kebutuhan peserta. Anak yang sudah lancar bersuara bisa langsung masuk ke jeda dan bahasa tubuh, sementara peserta dewasa yang menyiapkan presentasi kerja sering memulai dari pemilihan bahan cerita.

  1. 1

    Bahan Cerita: Tokoh, Halangan, Perubahan

    Sesi awal

    Yang dibahas. Menyebut keinginan tokoh dalam satu kalimat, menaruh satu halangan yang cukup berat, dan menetapkan perubahan yang tampak di akhir.

    Jebakan umum. Cerita berisi urutan kejadian tanpa halangan, sehingga pendengar tidak punya alasan menunggu kalimat berikutnya.

    Cara tutor. Tutor meminta peserta membaca ceritanya lalu menandai kalimat tempat halangan muncul. Kalau tandanya tak ada, halangan disisipkan dari kejadian yang benar-benar pernah dialami peserta.

  2. 2

    Kerangka Tiga Babak

    Struktur

    Yang dibahas. Keadaan sehari-hari, peristiwa yang mengubahnya, usaha yang gagal sekali, saat yang berat, lalu penyelesaian.

    Jebakan umum. Babak kedua dipangkas habis, jadi tokoh berhasil pada percobaan pertama dan ceritanya selesai sebelum sempat menarik.

    Cara tutor. Peserta diminta menambah satu kegagalan sebelum keberhasilan, lalu membawakan dua versi berturut-turut supaya selisih rasanya terdengar sendiri.

  3. 3

    Kalimat Penghubung Bertahap

    Anti lupa

    Yang dibahas. Lima sampai tujuh baris penghubung: dahulu setiap hari, sampai suatu hari, karena itu, karena itu, sampai akhirnya.

    Jebakan umum. Peserta menghafal kalimat lengkap, lalu berhenti total ketika satu kata hilang di tengah cerita.

    Cara tutor. Yang dihafal dipindahkan ke baris penghubung di kertas. Pilihan katanya sengaja dibiarkan berubah tiap kali cerita dibawakan.

  4. 4

    Pernapasan dan Dukungan Suara

    Suara

    Yang dibahas. Napas perut, kalimat panjang yang selesai tanpa terengah, dan volume yang bertahan sampai kata terakhir.

    Jebakan umum. Napas ditarik ke dada, sehingga suara menipis pada kalimat ketujuh dan pendengar di baris belakang kehilangan separuh kalimat.

    Cara tutor. Latihan lima menit di awal tiap pertemuan: tangan di perut, hitungan panjang dalam satu embusan, lalu satu paragraf dengan satu tarikan napas per kalimat.

  5. 5

    Artikulasi dan Kejernihan Kata

    Suara

    Yang dibahas. Konsonan letup p, b, t, d, k, g; akhiran kata yang diselesaikan; kata yang lazim luluh dalam percakapan sehari-hari.

    Jebakan umum. Kata diluluhkan seperti saat mengobrol, jadi kalimat penting hanya terdengar separuh oleh pendengar di barisan belakang.

    Cara tutor. Satu kalimat dibaca amat lambat dengan tiap huruf akhir sengaja diselesaikan, lalu dipercepat bertahap sampai tempo bercerita yang wajar.

  6. 6

    Suara Tokoh dan Perubahan Nada

    Suara

    Yang dibahas. Membedakan dua sampai tiga tokoh lewat tinggi rendah suara, kecepatan bicara, dan cara memenggal kalimat.

    Jebakan umum. Peserta membuat lima suara berbeda, lalu tertukar sendiri di tengah cerita dan pendengar berhenti mengikuti siapa yang berbicara.

    Cara tutor. Jumlah suara dibatasi lebih dulu, dan tiap suara diberi satu penanda tetap, misalnya nenek yang bicara pelan dengan jeda panjang.

  7. 7

    Tempo dan Jeda

    Penyampaian

    Yang dibahas. Tempo bercerita yang sedikit lebih lambat daripada percakapan, percepatan pada bagian menegangkan, dan diam yang disengaja.

    Jebakan umum. Seluruh cerita dibawakan pada satu kecepatan, sehingga bagian menegangkan dan bagian tenang terdengar sama rata.

    Cara tutor. Garis miring dibubuhkan di naskah pada tiga tempat, lalu peserta menghitung satu tarikan napas di tiap tanda sampai jedanya terasa wajar.

  8. 8

    Kontak Mata dan Gestur

    Bahasa tubuh

    Yang dibahas. Membagi ruangan jadi tiga bagian, satu kalimat satu arah pandang, dan tiga gestur yang mengikuti kalimat.

    Jebakan umum. Pandangan tertahan di satu titik atau di naskah, sementara tangan bergerak terus tanpa hubungan dengan isi kalimat.

    Cara tutor. Tutor berpindah tempat selama latihan supaya peserta terbiasa memindahkan pandangan, lalu jumlah gestur dibatasi tiga per cerita.

  9. 9

    Alat Bantu dan Kapan Melepasnya

    Alat bantu

    Yang dibahas. Boneka tangan, buku bergambar besar, dan kartu gambar, termasuk cara memegangnya supaya wajah pencerita tetap terlihat.

    Jebakan umum. Alat masuk terlalu awal, sehingga perhatian pencerita habis untuk mengurus alat dan kontak mata dengan pendengar hilang.

    Cara tutor. Alat baru dipakai sesudah cerita sanggup dibawakan tanpa alat itu, lalu dilepas lagi satu pertemuan untuk memeriksa ceritanya tetap berdiri sendiri.

  10. 10

    Menyesuaikan Cerita dengan Pendengar

    Penyesuaian

    Yang dibahas. Ukuran cerita untuk anak prasekolah, anak sekolah dasar, remaja, dan pendengar dewasa di ruang kerja.

    Jebakan umum. Satu versi cerita dipakai untuk semua umur, jadi anak kecil kehilangan alur sementara pendengar dewasa merasa digurui.

    Cara tutor. Cerita yang sama dibawakan dua versi dalam satu pertemuan: versi tiga menit untuk anak, versi satu menit untuk pendengar dewasa.

  11. 11

    Membuka dan Menutup Cerita

    Pembuka penutup

    Yang dibahas. Kalimat pembuka yang menaruh tokoh beserta keadaannya sekaligus, serta penutup berupa gambaran terakhir atau pertanyaan pendek.

    Jebakan umum. Pembuka habis untuk memperkenalkan diri dan meminta maaf, sementara penutupnya berisi petuah yang menggurui pendengar.

    Cara tutor. Pembuka dan penutup ditulis terpisah di kertas lalu dilatih sendiri, sebab dua bagian itu yang sering diingat pendengar sesudah cerita selesai.

  12. 12

    Latihan di Depan Pendengar Sungguhan

    Uji tampil

    Yang dibahas. Membawakan cerita di depan anggota keluarga, teman sekelas, atau kelompok kecil sebelum hari tampil yang sesungguhnya.

    Jebakan umum. Seluruh latihan berjalan berdua dengan tutor, jadi peserta pertama kali menghadapi banyak mata justru pada hari tampil.

    Cara tutor. Tutor menyusun tampil bertahap: dua pendengar di rumah, lalu lima orang, lalu kelompok yang lebih besar di sekolah atau di ruang belajar Edubia.

Fleksibel

Pilih format les storytelling yang cocok dengan rutinitas keluarga

Tutor storytelling datang ke rumah, co-learning space, atau online. Rencana belajar disusun dari kebutuhan anak.

Kecocokan Program

Peserta yang cocok dengan les bercerita ini

Peserta yang cocok

  • Anak sekolah dasar yang kebagian bercerita di depan kelas lalu berhenti pada kalimat kedua
  • Guru PAUD atau sekolah dasar yang ingin cerita di kelasnya lebih hidup
  • Pelajar yang menyiapkan lomba bercerita di sekolah atau tingkat kota
  • Pembawa acara pemula yang butuh sambungan pendek antar mata acara
  • Peserta dewasa yang membuka presentasi kerja dengan cerita satu menit
  • Wali yang ingin cerita sebelum tidur berjalan lebih panjang daripada dua halaman buku

Yang dilatih di les storytelling Edubia Surabaya

Sebuah cerita berdiri di atas tiga bahan: seorang tokoh yang menginginkan sesuatu, halangan yang menahan keinginan itu, dan perubahan yang tampak di akhir. Cabut halangannya, dan yang tersisa tinggal laporan kejadian: anak berangkat ke pasar, membeli sayur, lalu pulang. Tambahkan uang belanja yang jatuh ke selokan di depan lapak, dan pendengar mendadak ingin tahu apa yang terjadi berikutnya.

Les bercerita di Edubia bekerja dari titik itu. Tutor tidak membuka sesi dengan daftar teknik suara. Pertemuan pertama dipakai untuk menyimak satu cerita yang sudah dibawa peserta, entah cerita rakyat, pengalaman sendiri, atau buku bergambar dari sekolah, lalu menandai bagian mana yang sudah punya halangan dan bagian mana yang masih berupa urutan kejadian.

Sesudah bahannya jelas, latihan berpindah ke cara membawakannya di hadapan orang: napas, artikulasi, perubahan tinggi rendah suara, tempo, jeda, arah pandang, dan gerak tangan. Semua itu dikerjakan pada cerita milik peserta sendiri, sehingga yang dibawa pulang tiap pekan berupa satu cerita yang makin siap dibawakan.

Sebelum suara dan gerak tubuh disentuh, tutor memastikan ceritanya memang punya bahan untuk dibawakan. Empat butir di bawah dipakai sebagai daftar periksa di sesi awal.

Uraian

Tiga bahan yang diperiksa tutor pada tiap cerita

Unggulan utama

Tokoh yang menginginkan sesuatu

Pendengar mengikuti orang yang punya kemauan. Peserta diminta menyebut keinginan tokoh dalam satu kalimat pendek di awal cerita, misalnya ingin pulang sebelum hujan turun atau ingin menang lomba layang-layang.

Halangan yang nyata

Halangan membuat cerita bergerak. Ia perlu cukup berat sehingga tokoh gagal sekali dulu sebelum berhasil. Halangan yang beres di kalimat berikutnya membuat pendengar berhenti peduli.

Perubahan yang tampak di akhir

Tokoh yang keluar dari cerita dalam keadaan sama persis dengan saat ia masuk membuat cerita terasa mentah. Perubahannya boleh kecil: berani menyapa, mengaku salah, atau menemukan cara baru.

Satu latar yang bisa dibayangkan

Dua detail sudah cukup, misalnya bau, bunyi, atau cuaca. Peserta di Surabaya kerap memakai latar yang dikenalnya sendiri, seperti gang sempit di Simokerto atau lapangan sekolah di Rungkut.

Kerangka tiga babak yang dipakai di kelas bercerita

Tiga babak adalah susunan yang mudah dipegang anak maupun peserta dewasa. Babak pertama memperkenalkan keadaan sehari-hari tokoh, lalu satu peristiwa yang mengubah keadaan itu. Babak kedua berisi usaha, kegagalan, dan usaha berikutnya, dengan masalah yang membesar tiap kali. Babak ketiga membawa saat yang berat lalu penyelesaiannya.

Di dalam sesi, kerangka itu diturunkan jadi pola kalimat bertahap yang gampang diingat: dahulu setiap hari begini, sampai suatu hari terjadi begitu, karena itu tokoh melakukan sesuatu, karena itu keadaan berubah lagi, sampai akhirnya masalahnya selesai. Peserta menuliskan lima sampai tujuh kalimat itu di kertas, satu kalimat satu baris.

Kertas itulah yang dibawa ke pertemuan berikutnya. Selama baris penghubungnya masih berdiri, peserta boleh lupa pilihan katanya tanpa kehilangan alur. Tutor menandai baris mana yang terlalu cepat dilewati dan baris mana yang justru layak diperlambat, lalu peserta membawakannya ulang di hari yang sama.

Napas, artikulasi, dan jeda dalam sesi privat

Suara untuk bercerita berbeda dari suara mengobrol. Napas ditarik sampai perut terangkat, sehingga kalimat panjang tidak habis di tengah. Peserta yang menarik napas ke dada terdengar terengah pada kalimat ketujuh, dan pendengar menangkap itu lebih dulu daripada penceritanya sendiri.

Artikulasi dikerjakan di ujung lidah, bibir, dan rahang. Dalam percakapan sehari-hari orang meluluhkan kata: sudah jadi udah, tidak jadi ndak. Di hadapan pendengar, kata yang luluh membuat kalimat penting terdengar separuh. Latihannya sederhana: satu kalimat dibaca amat lambat dengan tiap huruf akhir sengaja diselesaikan, lalu dipercepat bertahap sampai tempo bercerita yang wajar.

Jeda adalah alat yang sering diabaikan pemula. Diam selama satu tarikan napas sebelum kalimat penting membuat pendengar menoleh, dan diam sesudah pertanyaan memberi ruang untuk menebak. Di naskah peserta, tutor membubuhkan garis miring pada tempat jeda, lalu menghitungnya keras-keras pada latihan pertama sampai jedanya terasa wajar tanpa perlu dihitung.

Sorotan

Alat suara yang dilatih tutor storytelling

Enam butir di bawah adalah bagian teknis yang dikerjakan berulang sepanjang program, selalu memakai cerita yang sedang disiapkan peserta.

Dukungan napas dari perut

Kalimat panjang selesai tanpa terengah, dan volume tidak jatuh di kata terakhir. Tangan diletakkan di perut selama latihan supaya peserta merasakan sendiri arah napasnya.

Kejernihan konsonan letup

Huruf p, b, t, d, k, dan g diselesaikan sampai tuntas supaya kata penting tetap sampai ke bangku belakang ruangan.

Perubahan tinggi rendah suara

Dua sampai tiga suara tokoh yang berbeda sudah cukup untuk satu cerita. Lebih dari itu, pendengar kehilangan jejak siapa yang sedang berbicara.

Tempo yang diatur per bagian

Cerita dibawakan sedikit lebih lambat daripada percakapan biasa, dengan bagian menegangkan yang dipercepat dan kalimat penting yang diperlambat.

Jeda yang ditandai di naskah

Garis miring di kertas peserta jadi pengingat tempat berhenti, sampai jeda itu berjalan sendiri tanpa tanda.

Volume yang bertahan sampai titik

Banyak pemula menurunkan suara di akhir kalimat. Latihannya menaikkan tiga kata terakhir sedikit di atas kebiasaan sampai terasa merata.

Bahasa tubuh yang dilatih bersama tutor

Mata mengerjakan separuh pekerjaan bercerita. Ruangan dibagi tiga bagian, kiri, tengah, kanan, lalu satu kalimat diberikan ke satu bagian sebelum pandangan berpindah. Pencerita yang menatap satu titik di langit-langit terdengar sedang menghafal, dan pendengar di sisi yang tak pernah dilihat berhenti merasa diajak bicara.

Tangan mengikuti kalimat, jadi gerak yang datang sesudah kalimat selesai terlihat ditempel. Tutor melatih tiga tempat gestur saja pada satu cerita: saat menyebut ukuran, saat menunjuk arah, dan saat menghitung. Sisanya dibiarkan menganggur di samping badan, dan justru itu yang membuat tiga gerakan tadi terbaca.

Posisi berdiri diperiksa terakhir. Kaki selebar bahu, berat badan merata di dua kaki, dan langkah berpindah dipakai hanya ketika cerita masuk babak baru. Di depan pendengar usia prasekolah, tutor menganjurkan duduk supaya mata pencerita sejajar dengan mata anak, sebab wajah yang menunduk dari atas membuat anak melihat dagu penceritanya.

Alat bantu memudahkan pencerita pemula, dan ia sanggup merebut perhatian dari ceritanya sendiri kalau dipakai terlalu awal. Empat butir ini yang dibahas di sesi alat bantu.

Poin penting

Alat bantu cerita yang dipakai di kelas privat

Boneka tangan

Boneka memberi tokoh kedua sehingga dialog jadi mudah dibawakan, terutama di depan pendengar usia prasekolah. Latihan yang sering terlewat: menahan boneka tetap diam ketika ia sedang tidak berbicara.

Buku bergambar berukuran besar

Halaman dihadapkan ke pendengar sementara pencerita membaca dari sisi samping. Peserta berlatih menunjuk gambar tanpa menutupi gambar itu dengan lengannya sendiri.

Kartu gambar untuk urutan

Empat sampai enam kartu diacak lalu disusun ulang menjadi rangkaian kejadian. Latihan ini dipakai untuk peserta yang ceritanya masih melompat-lompat.

Kapan alat bantu diletakkan

Aturan yang dipakai tutor: alat baru masuk sesudah cerita sanggup dibawakan tanpa alat itu. Selama cerita masih goyah, alat menyita perhatian penceritanya sendiri.

Menyesuaikan cerita dengan usia pendengar di kelas privat

Cerita yang sama tidak berjalan sama di depan pendengar yang berbeda. Anak usia tiga sampai lima tahun mengikuti satu alur, tokoh sedikit, kalimat pendek, dan banyak pengulangan bunyi. Durasi tiga sampai lima menit sudah panjang bagi mereka, dan ajakan menirukan gerakan membuat mereka bertahan sampai akhir.

Anak sekolah dasar menerima sebab akibat yang lebih panjang, humor, dan pertanyaan yang disisipkan di tengah. Remaja lebih menghargai konflik yang terasa mungkin terjadi, dengan tokoh yang punya alasan, dan mereka cepat menutup diri kalau cerita berakhir dengan petuah.

Pendengar dewasa di ruang rapat memerlukan ukuran yang lain lagi: satu tokoh, satu masalah, 60 sampai 90 detik, lalu sambungan yang jelas ke isi pembicaraan. Peserta dewasa di program ini berlatih memotong ceritanya sendiri sampai muat di ukuran itu, sebab cerita pembuka yang melebar membuat pendengar menunggu maksudnya.

Program ini diambil dari beberapa arah sekaligus, dan urutan latihannya berbeda untuk tiap arah. Enam kelompok berikut yang sering masuk lewat percakapan awal.

Yang perlu diketahui

Peserta yang mengambil les bercerita ini

Guru PAUD dan sekolah dasar

Cerita dipakai untuk menenangkan kelas, membuka materi, dan menyampaikan aturan tanpa ceramah. Latihannya diarahkan ke cerita pendek yang sanggup dibawakan sambil berdiri di depan dua puluh anak.

Wali yang bercerita sebelum anak tidur

Keluhannya sering sama: cerita habis di halaman kedua. Sesi dipakai untuk menyusun cerita dari kejadian hari itu, sehingga bahannya tidak pernah kehabisan.

Pembawa acara pemula

Sambungan antar mata acara kerap jadi bagian yang canggung. Peserta berlatih cerita tiga puluh detik yang menutup jarak antara satu acara dan acara sesudahnya.

Peserta yang membuka presentasi kerja

Satu cerita pendek sebelum angka pertama muncul membuat ruangan berhenti membuka ponsel. Latihannya memilih cerita yang benar-benar menyambung ke pesan presentasi.

Pelajar yang menyiapkan lomba bercerita

Ketentuan panitia dibaca lebih dulu: durasi, tema, bahasa, dan boleh atau tidaknya alat bantu. Latihan disusun mengikuti ketentuan itu, termasuk berhenti tepat sebelum waktunya habis.

Anak yang kebagian giliran di depan kelas

Peserta usia sekolah dasar biasanya datang karena satu kejadian: berdiri di depan kelas lalu diam. Sesi awal dipakai membangun kebiasaan bersuara di ruangan kecil dulu.

Kesalahan pemula yang lebih dulu dibereskan tutor

Tiga kebiasaan muncul berulang di sesi awal, dan ketiganya bisa diperbaiki tanpa mengubah isi ceritanya. Yang pertama, bercerita terlalu cepat. Penyebabnya gugup, dan akibatnya kalimat saling menumpuk sampai pendengar kehilangan siapa yang sedang berbicara. Obatnya menandai tiga tempat berhenti di naskah, lalu menghitung dalam hati di tiap tanda.

Yang kedua, menghafal kata demi kata. Hafalan seperti ini rapi selama semuanya lancar, dan runtuh begitu satu kata hilang: peserta berhenti, mengulang kalimat dari awal, lalu berhenti lagi di tempat yang sama. Tutor memindahkan hafalan ke rangkaian kejadian, lima sampai tujuh titik saja, sehingga kata-katanya boleh berubah tiap kali dibawakan.

Yang ketiga, menutup cerita dengan petuah. Kalimat penutup berupa ajakan rajin belajar mematikan pekerjaan yang sudah dikerjakan cerita itu sendiri. Penutup yang bekerja biasanya berupa gambaran terakhir atau satu pertanyaan pendek, dan pendengar dibiarkan menarik simpulannya sendiri.

Bahan cerita rakyat Jawa Timur di sesi latihan

Peserta boleh membawa bahan apa saja, dan cerita rakyat yang sudah dikenal keluarga biasanya jadi bahan pertama yang ringan dikerjakan. Di Jawa Timur pilihannya luas: legenda Sawunggaling yang lekat dengan Surabaya, Ande Ande Lumut dari lingkaran cerita Panji, sampai kisah ikan sura dan buaya yang jadi asal nama kota.

Cerita yang sudah dikenal membawa satu keuntungan teknis: peserta tidak perlu menghafal alur, sehingga seluruh perhatian bisa dipakai untuk suara dan gerak tubuh. Kerugiannya juga jelas, sebab versi yang beredar sering panjang dan penuh tokoh. Tutor memangkasnya lebih dulu sampai tersisa satu tokoh utama dan satu halangan.

Sesudah versi pendek itu berjalan lancar, peserta diminta mengganti latar ceritanya dengan tempat yang ia kenal, misalnya pasar dekat rumah di Wonokromo atau jalan pulang sekolah di Tandes. Penggantian kecil ini memaksa peserta bercerita dengan kalimatnya sendiri, dan di situlah hafalan berhenti mengendalikan penampilannya.

Biaya les storytelling dan pilihan durasi sesi

Biaya les bercerita di Edubia mulai Rp97.300 per sesi untuk pertemuan 60 menit di rumah peserta. Panjang itu dipilih karena satu putaran latihan bercerita menuntut tiga bagian sekaligus: cerita dibawakan utuh, ditinjau, lalu dibawakan ulang. Pertemuan yang lebih pendek biasanya berhenti di tinjauan, dan putaran keduanya baru terjadi pekan berikutnya.

Pilihan 90 menit tersedia untuk peserta yang menyiapkan lomba atau membawakan cerita panjang. Tarifnya naik mengikuti durasi dan jenjang peserta, dengan batas atas Rp186.500 per sesi untuk pertemuan 90 menit bersama peserta dewasa.

Sesi bisa dipindahkan ke ruang belajar Edubia kalau rumah sedang ramai. Titik di Tambaksari dan Wonocolo menambah Rp15.000 per sesi di atas tarif program, sementara sesi di rumah peserta tidak memungut tambahan perjalanan. Sesi online tersedia untuk alamat di luar jangkauan antar, dengan latihan napas, artikulasi, dan jeda yang berjalan sama.

Jadwal sesi dan wilayah antar tutor di Surabaya

Jadwal disusun per pekan bersama keluarga peserta. Slot bisa dipesan pada rentang jam layanan yang membentang dari pukul 07.00 sampai 21.00, sepanjang pekan tanpa kecuali hari libur. Peserta usia sekolah umumnya mengambil slot sore sesudah kegiatan sekolah, sedangkan peserta dewasa lebih sering memilih malam.

Tutor datang ke rumah di seluruh 31 kecamatan Kota Surabaya. Permintaan yang sering masuk berasal dari Gubeng, Sukolilo, Mulyorejo, dan Rungkut di sisi timur, lalu Wonokromo, Gayungan, dan Jambangan di selatan, serta Tegalsari, Genteng, dan Sawahan di tengah kota. Sisi barat seperti Lakarsantri, Wiyung, dan Sambikerep dijangkau dengan waktu tempuh yang dihitung lebih dulu supaya tutor tiba sebelum jam sesi.

Di luar batas kota, sesi rutin berjalan di sisi utara Sidoarjo: Waru, Gedangan, Sedati, dan Buduran, dengan Krian serta Sukodono yang dijadwalkan pada slot lebih longgar. Kalau alamat peserta berada di luar jangkauan antar, sesi online dipakai tanpa mengubah susunan latihannya.

Kalau tutor belum cocok dengan peserta

Kecocokan pencerita dengan pendampingnya terasa cepat, biasanya di pertemuan kedua. Peserta anak yang malu bersuara memerlukan tutor yang menunggu tanpa memotong; peserta dewasa yang menyiapkan presentasi memerlukan tutor yang berani menghentikan di tengah kalimat. Karena itu tim Edubia yang memilihkan tutor berdasarkan hasil percakapan awal, dan peserta tidak diminta menyeleksi sendiri dari sebuah daftar.

Kalau sesudah beberapa pertemuan peserta merasa gaya pendampingnya belum pas, tutor bisa diganti tanpa biaya tambahan. Permintaan penggantian disampaikan lewat WhatsApp, dan tim mencarikan penerus dengan catatan yang sudah ada, sehingga latihan berlanjut dari titik terakhir.

Perkembangan peserta dicatat tiap pertemuan dalam bentuk sederhana: cerita apa yang dibawakan, bagian mana yang membaik, dan latihan apa yang dibawa pulang. Catatan itu dikirim ke wali untuk peserta usia sekolah, dan langsung ke pesertanya untuk yang sudah dewasa.

Satu sesi 60 menit selalu berisi putaran penuh, dari pemanasan suara sampai cerita dibawakan ulang. Urutannya tetap supaya peserta tahu apa yang menunggunya tiap pekan.

Rincian

Urutan latihan di tiap sesi les bercerita

Empat langkah sederhana, dari daftar sampai belajar bareng tutor pilihan.

  1. 1Pemanasan suara lima menit

    Tarik napas sampai perut terangkat, hitungan panjang dalam satu embusan, lalu deretan konsonan letup pa, ba, ta, da, ka, ga. Tenggorokan yang belum siap membuat suara jatuh di menit kesepuluh.

  2. 2Cerita dibawakan utuh tanpa dihentikan

    Tutor menyimak sampai habis sambil mencatat, sehingga peserta terbiasa menuntaskan cerita walau ada bagian yang meleset di tengah jalan.

  3. 3Tinjauan berdasar catatan tadi

    Dua hal yang sudah bekerja disebut lebih dulu, lalu satu hal yang diperbaiki hari itu. Satu perbaikan per pertemuan jauh lebih mudah dipegang daripada lima sekaligus.

  4. 4Latihan bagian yang ditandai

    Bagian itu diulang tiga sampai empat kali dengan satu perubahan kecil tiap putaran: jeda ditambah, tempo diturunkan, atau suara tokoh dibedakan.

  5. 5Cerita dibawakan ulang dari awal

    Putaran kedua memperlihatkan apakah perbaikan tadi bertahan saat seluruh cerita berjalan, karena banyak perbaikan menguap begitu peserta kembali ke tempo aslinya.

  6. 6Catatan latihan untuk di rumah

    Peserta pulang membawa satu latihan lima menit sehari, misalnya membaca satu paragraf dengan suara keras sambil menandai tempat berhenti.

Lima langkah di bawah adalah jalur yang ditempuh peserta baru, dari pesan pertama sampai tinjauan pertama.

Ringkasnya

Cara memulai les storytelling di Edubia

Empat langkah sederhana, dari daftar sampai belajar bareng tutor pilihan.

  1. Kirim pesan berisi tiga keterangan

    Usia peserta, tujuan bercerita, dan kecamatan tempat sesi akan berjalan sudah cukup untuk menyusun perkiraan jadwal beserta biayanya.

  2. Percakapan awal yang singkat

    Tim menanyakan cerita apa yang biasa dibawakan peserta dan kapan ia harus tampil, supaya tutor yang ditugaskan memang sesuai dengan kebutuhan itu.

  3. Tutor dipilihkan lalu jadwal disepakati

    Hari, jam, dan tempat sesi ditetapkan sebelum pertemuan pertama, termasuk pilihan rumah, ruang belajar Edubia, atau online.

  4. Pertemuan pertama berisi satu cerita utuh

    Peserta membawakan cerita apa adanya. Dari situ tutor menyusun urutan latihan untuk empat sampai enam pertemuan sesudahnya.

  5. Tinjauan sesudah beberapa pertemuan

    Wali dan peserta menerima catatan perkembangan, dan urutan latihan digeser kalau tujuannya berubah, misalnya ada lomba yang mendadak dijadwalkan.

Tanya jawab

Sebelum daftar les storytelling, apa yang perlu ditanyakan?

Berapa biaya les storytelling di Surabaya?

Biaya mulai Rp97.300 per sesi untuk pertemuan 60 menit di rumah peserta. Pilihan 90 menit dan pendampingan untuk peserta dewasa berada di atas angka itu, dengan batas atas Rp186.500 per sesi. Belajar di ruang belajar Edubia menambah Rp15.000 per sesi, sedangkan sesi di rumah tidak memungut tambahan perjalanan.

Umur berapa anak sudah bisa ikut les bercerita?

Anak usia empat tahun sudah bisa mengikuti pertemuan pendek, dengan porsi menirukan bunyi dan gerakan yang lebih besar daripada bercerita sendiri. Mulai kelas satu sekolah dasar, peserta biasanya sanggup menyusun kerangka lima baris dan membawakan cerita tiga menit dari awal sampai selesai.

Anak saya berani bercerita di rumah tapi diam di depan kelas. Apa yang dikerjakan tutor?

Sesi awal dipakai membangun kebiasaan bersuara di ruangan kecil dulu: bercerita kepada tutor, lalu kepada dua anggota keluarga, lalu kepada lima orang. Ukuran pendengar dinaikkan bertahap sampai mendekati satu kelas, sehingga hari tampil terasa sebagai pengulangan latihan yang sudah dikenal.

Apakah materinya sama untuk peserta dewasa yang butuh cerita pembuka presentasi kerja?

Bahan dasarnya sama, ukurannya yang berbeda. Peserta dewasa berlatih memotong cerita sampai muat di 60 sampai 90 detik, memilih satu tokoh dan satu masalah, lalu menyambungkannya ke pesan presentasi. Latihan napas, artikulasi, dan jeda tetap dipakai, dengan porsi alat bantu yang jauh lebih kecil.

Berapa pertemuan sampai anak berani bercerita di depan kelas?

Dengan ritme dua pertemuan sepekan, sebagian besar peserta usia sekolah dasar sudah membawakan cerita utuh di depan kelompok kecil pada pertemuan kesepuluh sampai kedua belas. Kecepatannya berbeda tiap anak, dan tutor menaikkan ukuran pendengar hanya bila putaran sebelumnya sudah berjalan lancar.

Cerita apa yang dipakai sebagai bahan latihan?

Cerita rakyat, buku bergambar dari sekolah, atau kejadian yang dialami peserta sendiri. Untuk peserta yang menyiapkan lomba, bahannya mengikuti tema yang ditetapkan panitia. Untuk peserta dewasa, bahannya diambil dari pengalaman kerja yang benar-benar terjadi supaya detailnya mudah diingat saat tampil.

Kalau anak lupa di tengah cerita, bagaimana latihannya?

Hafalan dipindahkan dari kalimat ke rangkaian kejadian. Peserta memegang lima sampai tujuh baris penghubung, dan pilihan katanya sengaja dibiarkan berubah tiap kali cerita dibawakan. Dengan cara itu satu kata yang hilang tidak menghentikan seluruh kalimat, dan peserta terbiasa menyambung dari titik terdekat.

Sesi bisa berjalan di kecamatan mana saja?

Tutor mengajar di rumah peserta di seluruh 31 kecamatan Kota Surabaya, termasuk Gubeng, Sukolilo, Rungkut, Wonokromo, Tegalsari, Tandes, dan Benowo. Di wilayah Sidoarjo, sesi rutin berjalan di Waru, Gedangan, Sedati, dan Buduran. Alamat di luar jangkauan antar tetap terlayani lewat sesi online.

Bagaimana jadwalnya kalau kegiatan sekolah anak sudah padat?

Jadwal disusun per pekan, jadi slot bisa berpindah mengikuti kalender sekolah. Slot tersedia dari pukul 07.00 sampai 21.00, termasuk Sabtu dan Minggu. Banyak peserta usia sekolah mengambil satu pertemuan sore pada hari kerja dan satu pertemuan pagi di akhir pekan.

Apakah peserta memilih tutornya sendiri?

Tim Edubia yang memilihkan. Percakapan awal menanyakan usia peserta, tujuan bercerita, wilayah, dan jam yang tersedia, lalu tutor dengan pengalaman yang sesuai ditugaskan. Bila gaya pendampingannya belum cocok sesudah beberapa pertemuan, tutor bisa diganti tanpa biaya tambahan.

Alat bantu seperti boneka tangan wajib disiapkan sendiri?

Tidak wajib. Latihan dasar berjalan tanpa alat, dan alat baru masuk sesudah cerita sanggup berdiri sendiri. Bila peserta memang memakai boneka tangan atau buku bergambar besar di sekolahnya, benda itu dibawa ke sesi supaya cara memegang dan cara menyimpannya ikut dilatih.

Bisakah sesi berjalan online tanpa mengurangi latihan suara?

Bisa. Napas, artikulasi, jeda, dan tempo terdengar jelas lewat sesi online, dan tutor tetap menandai naskah bersama peserta. Yang menuntut penyesuaian hanya latihan arah pandang dan gerak tangan, jadi porsi itu dipadatkan saat peserta sesekali mengambil pertemuan tatap muka di rumah.

Anak saya menyiapkan lomba bercerita di sekolah. Apakah latihannya berbeda?

Berbeda pada urutannya. Ketentuan panitia dibaca lebih dulu: durasi, tema, bahasa yang dipakai, dan boleh atau tidaknya alat bantu. Latihan lalu disusun mundur dari tanggal lomba, dengan pertemuan terakhir dipakai membawakan cerita di depan kelompok kecil sambil menghitung waktu.

Bagaimana wali mengetahui perkembangan anaknya?

Tiap pertemuan ditutup dengan catatan pendek: cerita apa yang dibawakan, bagian mana yang membaik, dan satu latihan lima menit untuk di rumah. Catatan itu dikirim ke wali lewat WhatsApp. Untuk peserta dewasa, catatan yang sama diberikan langsung kepada pesertanya.

Bagaimana cara memulai les storytelling di Edubia?

Kirim pesan berisi usia peserta, tujuan bercerita, dan kecamatan tempat sesi akan berjalan. Tim membalas dengan perkiraan jadwal beserta biayanya, lalu mengatur percakapan singkat sebelum tutor ditugaskan. Pertemuan pertama dijadwalkan sesudah hari, jam, dan tempatnya disepakati.

Mari Mulai

Siap mulai les storytelling bulan ini?

2.500+ tutor terverifikasi siap mendampingi di Surabaya. Mulai dari konsultasi kebutuhan belajar Anda, tanpa komitmen.