Lompat ke konten utama

4,9/5 · 1.200 ulasan · Pemula sampai siap naik pentas

Les Ludruk di Surabaya

Les ludruk privat di Surabaya: menyusun kidungan berima, melempar dan menangkap lawakan tanpa naskah, memilih register Suroboyoan. Tutor memegang peran lawan main. Mulai Rp303.800 per sesi 90 menit di rumah peserta.

Les Ludruk di Surabaya

Inti dari Les Ludruk di Surabaya

Les ludruk privat di Surabaya: menyusun kidungan berima, melempar dan menangkap lawakan tanpa naskah, memilih register Suroboyoan. Tutor memegang peran lawan main. Mulai Rp303.800 per sesi 90 menit di rumah peserta.

Konsultasi dan Daftar

Fakta Program

Format Sesi
Privat satu tutor satu peserta; tutor merangkap lawan main sepanjang sesi
Durasi
90 menit untuk latihan rutin, 120 menit saat menyiapkan pentas
Ritme latihan
Empat sesi per bulan, satu kali sepekan
Biaya
Mulai Rp303.800 per sesi 90 menit di rumah peserta
Tempat belajar
Rumah peserta, atau ruang belajar Edubia dengan tambahan Rp15.000 per sesi
Wilayah layanan
31 kecamatan Kota Surabaya, ditambah 18 kecamatan di Sidoarjo
Bahasa pengantar
Jawa dialek Suroboyoan, dengan penjelasan berbahasa Indonesia
Tingkat awal
Boleh nol jam pentas dan nol bahasa Jawa aktif
Yang disiapkan peserta
Satu ruang yang boleh berisik dan satu buku catatan kidungan
Peralatan dan bahan
Disiapkan peserta, di luar tarif sesi
4,9/5 1.200 ulasan
2.500+ tutor terverifikasi
1-on-1 privat sepenuhnya
Ke rumah Surabaya, co-learning, atau online
Ganti tutor tanpa biaya tambahan
Assessment dipetakan di awal

Susunan Materi

Enam pokok bahasan les ludruk, berikut jebakannya

Urutan di bawah dipakai untuk peserta yang mulai dari nol jam pentas. Tiap pokok bahasan dipasangkan dengan kesalahan yang hampir selalu muncul di pekan awal, sebab menyebut kesalahannya lebih dulu memangkas waktu memperbaikinya. Peserta yang sudah pernah naik ke acara sekolah biasanya melompati dua pokok pertama sesudah tutor menonton satu adegan pendek.

  1. 1

    Bentuk parikan dan letak kata pemukul

    Sesi 1 sampai 3

    Yang dibahas. Empat baris dengan rima silang, dua baris penyiap bunyi dan dua baris pembawa isi, ditambah hitungan suku kata per baris.

    Jebakan umum. Peserta menulis isinya lebih dulu, lalu memaksakan dua baris penyiap yang berima tapi terdengar dipaksakan, dan kekakuan itu terdengar sebelum leluconnya sampai.

    Cara tutor. Tutor membalik urutan kerjanya: kumpulkan dulu keluarga bunyi Suroboyoan menurut jumlah suku kata, baru pilih kata pemukul yang kebetulan punya pasangan.

  2. 2

    Isi kidungan dari kejadian pekan itu

    Sesi 2 sampai 6

    Yang dibahas. Memilih bahan yang benar-benar hangat, menakar seberapa jauh sindiran boleh melangkah, dan menyiapkan versi cadangan kalau penonton tidak mengenali kejadiannya.

    Jebakan umum. Peserta menyimpan satu kidungan andalan lalu memakainya di setiap kesempatan, sehingga tawa yang datang makin lama makin tipis.

    Cara tutor. Tiap sesi dibuka dengan setoran kidungan baru, dan kidungan pekan lalu tidak boleh diulang. Aturan sederhana ini yang menjaga persediaan bahan tetap berputar.

  3. 3

    Menerima dan menambah dalam lempar tangkap

    Sesi 3 sampai 9

    Yang dibahas. Hukum menerima bangunan lawan main, menambah satu keterangan baru, dan mengenali sendiri saat menolak umpan tanpa sadar.

    Jebakan umum. Peserta membantah keterangan lawan main karena merasa punya lelucon yang lebih bagus, dan adegan berhenti tepat di detik itu.

    Cara tutor. Sepuluh menit terakhir tiap sesi dipakai memutar ulang rekaman dan menghitung penolakan. Angka yang terlihat bekerja lebih cepat daripada teguran.

  4. 4

    Sela, tempo, dan letak jeda Suroboyoan

    Sesi 4 sampai 10

    Yang dibahas. Menahan satu ketukan sebelum kata pemukul, membaca kapan penonton sedang menyusun sendiri sisa kalimat, dan menjaga kecepatan khas dialek ini.

    Jebakan umum. Pemula mengisi tiap detik karena takut sepi, sehingga penonton tidak pernah diberi ruang untuk menyimpulkan sendiri dan tawanya tidak pernah penuh.

    Cara tutor. Latihan menahan jeda dilakukan berulang sampai sela berhenti terasa seperti lupa kalimat. Tutor menghitung ketukan dengan tangan sampai peserta bisa menghitung sendiri.

  5. 5

    Sapaan Suroboyoan sebagai alat peran

    Sesi 5 sampai 12

    Yang dibahas. Perbedaan koen, sampeyan, dan panjenengan di dalam adegan, ditambah partikel rek serta panggilan cak dan ning.

    Jebakan umum. Peserta yang bahasa Jawanya halus membawa kesopanan berlogat Jawa Tengah ke tokoh kampung, dan tokohnya terdengar seperti priyayi yang tersesat.

    Cara tutor. Kesalahan terlalu sopan diperbaiki lebih dulu daripada kesalahan tata bahasa, dan peserta diminta menanggung akibat pilihan sapaannya sampai adegan selesai.

  6. 6

    Perhentian lakon dan kalimat kerja

    Sesi 8 sampai 12

    Yang dibahas. Menyusun titik yang wajib dicapai, memakai kalimat pengunci untuk menyerahkan giliran, dan memakai kalimat penarik untuk membawa adegan pulang.

    Jebakan umum. Peserta menghafal kalimat lengkap agar merasa aman, lalu panik begitu lawan main menyimpang dari kalimat yang ia bayangkan.

    Cara tutor. Yang dihafal hanya bentuk kalimat kerjanya; isinya disusun ulang tiap kali. Tutor sengaja menyimpang dari kerangka agar peserta terbiasa menambal.

Cakupan program

Yang termasuk dalam biaya les ludruk per sesi

  • Kunjungan tutor ke rumah peserta · Berlaku di 31 kecamatan Kota Surabaya dan 18 kecamatan Sidoarjo, tanpa tambahan jarak untuk kecamatan yang jauh dari pusat kota.
  • Sesi 90 menit yang seluruhnya berisi latihan berpasangan · Tutor memegang peran lawan main sepanjang sesi, jadi tidak ada bagian waktu yang habis untuk menonton peserta berlatih sendirian.
  • Perekaman suara tiap sesi berikut pembongkarannya · Sepuluh menit terakhir dipakai memutar ulang bagian yang balasannya bertumpuk dan menghitung berapa kali umpan lawan main tertolak.
  • Penyusunan kidungan bersama tiap pekan · Peserta membawa bahannya, tutor menggarap rima dan letak kata pemukulnya, dan hasilnya masuk ke buku catatan milik peserta.
  • Pencocokan tutor berdasarkan tempo dan selera humor · Dilakukan sebelum sesi pertama, dan bisa diulang kapan saja tanpa biaya tambahan kalau pasangannya terasa tidak berjalan.
  • Pendampingan menjelang tanggal pentas · Tutor membantu menyusun perhentian lakon dan mengatur durasi segmen sampai peserta bisa menutupnya tepat waktu.
  • Penyesuaian jadwal saat pementasan datang mendadak · Sesi bisa digeser di dalam pekan yang sama, atau ditumpuk dua kali sepekan sementara, lalu kembali ke ritme empat sesi sebulan.

Kecocokan program

Siapa yang tepat mengambil les ludruk privat ini

Peserta yang cocok

  • Pelajar SMA dan mahasiswa yang menyiapkan lomba seni pertunjukan atau pentas kampus di Surabaya.
  • Anggota sanggar dan kelompok ludruk kampung yang ingin membereskan kidungan dan tempo lawaknya.
  • Pembawa acara yang sering bekerja di hajatan dan agenda kampung berbahasa Suroboyoan.
  • Guru seni budaya yang mendampingi kegiatan sekolah dan perlu bahan latihan yang bisa diulang.
  • Pendatang di Surabaya yang ingin memakai dialek kota ini dengan wajar, sampai terdengar seperti orang yang tumbuh di sini.
  • Peserta tanpa bahasa Jawa aktif yang siap memulai dari mendengarkan dan menirukan.

Fleksibel

Pilih format les ludruk yang cocok dengan rutinitas Anda

Tutor ludruk datang ke tempat pilihan Anda di Surabaya atau via online. Rencana belajar disusun dari kebutuhan Anda.

Perjalanan peserta

Enam perhentian dari sesi pertama sampai naik pentas

Perkiraan waktu di bawah memakai ritme empat sesi sebulan. Peserta yang menumpuk dua sesi dalam sepekan sampai lebih cepat pada perhentian teknis, sementara perhentian yang bergantung pada bahan lawakan tetap menuntut waktu, sebab bahan itu datang dari kehidupan yang harus lewat dulu.

  1. 01

    Sesi pertama: satu adegan pendek tanpa persiapan

    Pekan 1

    Tutor dan peserta mencoba lempar tangkap sederhana. Tujuannya mengukur tempo bicara dan menemukan di mana peserta merasa canggung.

  2. 02

    Kidungan pertama yang rimanya bekerja

    Pekan 3 sampai 4

    Empat baris dengan kata pemukul di ujung, disusun dari sesuatu yang benar-benar terjadi. Biasanya jatuh pada sesi ketiga atau keempat.

  3. 03

    Adegan dua menit tanpa satu pun penolakan umpan

    Pekan 6 sampai 8

    Diukur dari rekaman, dengan hitungan yang bisa dilihat berdua. Perhentian ini yang berulang kali membuat peserta terkejut saat mendengar hitungannya turun.

  4. 04

    Tiga tokoh yang konsisten sapaannya

    Pekan 9 sampai 11

    Masing-masing punya sumber nafkah, kemauan hari itu, dan hal yang dihindari, dan tidak berpindah tingkat sapaan di tengah adegan.

  5. 05

    Segmen lawak berdurasi tetap yang selesai tepat waktu

    Pekan 12 sampai 16

    Dijalankan berulang dengan pengukur waktu sampai peserta bisa menutup di kalimat yang benar pada menit yang benar.

  6. 06

    Tampil di acara kampung atau agenda sekolah

    Pekan 17 dan seterusnya

    Tutor mendampingi sampai persiapan terakhir. Sesi menjelang tanggal pentas biasanya dipanjangkan jadi 120 menit dengan tarif Rp374.600 per sesi.

Keunggulan kelas ini

Kelebihan kelas ludruk bersama Edubia

Tutor memegang peran lawan main, tidak menonton dari samping

Lawakan ludruk hidup dari balasan. Sepanjang 90 menit tutor masuk ke adegan sebagai tokoh kedua, membalas umpan peserta, dan sesekali sengaja meleset supaya peserta terbiasa menambal.

Kidungan disusun dari kejadian pekan itu, tanpa hafalan lama

Tiap sesi dibuka dengan satu kidungan baru tentang sesuatu yang benar-benar terjadi tujuh hari terakhir. Peserta datang membawa bahannya sendiri, tutor menggarap rimanya bersama.

Register Suroboyoan dipilih ulang tiap ganti tokoh

Satu kata sapaan sudah memberi tahu penonton siapa yang bicara kepada siapa. Peserta dilatih memilih di antara koen, sampeyan, dan panjenengan sesuai tokoh yang sedang ia bawakan.

Latihan digelar di ruang tamu peserta sendiri

Tutor mendatangi rumah di 31 kecamatan Surabaya dan 18 kecamatan Sidoarjo. Peserta yang rumahnya rapat tetangga bisa memindahkan sesi ke ruang belajar Edubia.

Tutor ludruk bisa diganti tanpa biaya tambahan

Kecocokan dua orang sebagai pasangan lawak menentukan hasil di kelas ini lebih daripada di kelas mana pun. Kalau irama keduanya tidak bertemu, peserta berhak meminta pendamping lain.

Biaya per sesi disebut di muka, lengkap dengan yang di luarnya

Angka Rp303.800 per sesi 90 menit sudah memuat perjalanan tutor ke rumah peserta. Biaya ruang belajar Edubia ditulis terpisah supaya tidak tercampur diam-diam.

Les ludruk privat dimulai dari orang kedua di ruangan

Ludruk tumbuh dan menemukan bentuknya di Surabaya, dan sampai hari ini dialognya tidak pernah ditulis lebih dulu. Pemain naik ke pentas membawa kerangka cerita yang disepakati di luar pentas, lalu seluruh kalimat disusun di depan penonton, saat itu juga, dalam bahasa Jawa dialek Suroboyoan. Karena tidak ada naskah, tidak ada yang bisa dihafalkan. Yang dilatih adalah refleks.

Refleks itu yang membuat ludruk repot dipelajari sendirian. Lawakan menuntut orang kedua: seseorang yang melempar umpan, menangkap balasan, dan sesekali sengaja meleset supaya pemain harus menambal. Peserta yang berlatih di depan cermin akan mengulang lelucon yang sudah ia tahu lucu, dan kebiasaan itu justru yang merepotkan begitu ia berhadapan dengan penonton sungguhan.

Les ludruk Edubia disusun dari kenyataan itu. Satu tutor mendampingi satu peserta, dan sepanjang 90 menit tutor memegang peran lawan main. Ia tidak duduk di samping sambil menilai; ia masuk ke adegan, membalas, dan menahan tempo. Biaya program ini mulai Rp303.800 per sesi 90 menit untuk latihan di rumah peserta, di seluruh 31 kecamatan Kota Surabaya dan 18 kecamatan di Sidoarjo. Peserta yang sudah tahu jadwal kosongnya bisa mengatur sesi pertama lewat formulir pendaftaran.

Ludruk kelihatan seperti satu pekerjaan, dan sebenarnya ia lima pekerjaan yang berjalan bersamaan di dalam satu kalimat yang belum pernah ditulis. Program ini memisahkan kelimanya supaya bisa dilatih satu per satu, lalu menyatukannya kembali di paruh kedua tiap sesi. Urutan pengerjaannya mengikuti mana yang lebih dulu memberi peserta rasa aman di depan orang lain.

Poin penting

Lima keterampilan yang dilatih di kelas ludruk privat

Menyusun kidungan yang berima dan mendarat

Empat baris, dua baris pertama menyiapkan bunyi, dua baris terakhir membawa isinya. Peserta belajar menaruh kata pemukul di ujung baris, jauh dari tengah.

Melempar dan menangkap lawakan tanpa naskah

Menerima apa pun yang sudah dibangun lawan main, lalu menambah satu hal. Menolak bangunan lawan main menghentikan adegan, dan penonton merasakannya sebelum pemain sadar.

Memilih register Suroboyoan per tokoh

Kata sapaan yang dipakai seorang tokoh mengumumkan kedudukannya sebelum ia sempat menjelaskan diri. Salah pilih sapaan mengubah tukang becak jadi priyayi dalam satu kalimat.

Memperkenalkan tokoh dalam tiga kalimat

Penonton ludruk bertemu tokoh di tengah hidupnya, tanpa pengantar. Tiga kalimat pertama harus memuat pekerjaannya, kemauannya hari itu, dan hal yang ia hindari.

Menarik adegan pulang saat improvisasi melenceng

Dialog bebas selalu menggeser cerita. Peserta dilatih mengenali kapan geseran itu menghibur dan kapan ia membuang waktu yang sudah dijatah untuk lakon.

Menutup segmen tepat pada waktunya

Segmen lawak dalam satu pementasan punya jatah menit. Berhenti di kalimat yang benar dan pada menit yang benar adalah keterampilan tersendiri, dan ia dilatih dengan pengukur waktu di meja.

Kidungan: pekerjaan pertama tiap peserta les ludruk

Kidungan adalah kuatrain bersajak yang dinyanyikan di sela pertunjukan, dan ia bekerja dengan bentuk parikan: empat baris, rima silang, dua baris pertama menyiapkan bunyi dan dua baris terakhir membawa isi. Dua baris penyiap itu sering terdengar seperti gambar yang tidak berhubungan, dan justru di situ gunanya. Telinga penonton menerima bunyi rimanya lebih dulu, jadi ketika baris keempat datang, bunyinya sudah ditunggu sementara maknanya belum. Selisih antara bunyi yang tertebak dan makna yang tak tertebak itulah yang memancing tawa.

Isinya boleh apa saja yang sedang hangat: harga di pasar, jalan yang digali lagi, tetangga yang punya hajat, pejabat yang berjanji. Kidungan yang menyebut kejadian pekan itu mendapat tawa yang berbeda daripada kidungan awetan, karena ia membuktikan pemainnya memperhatikan.

Sejarah kota ini menyimpan bukti bahwa kidungan pernah dianggap berbahaya. Pada 1943 Cak Durasim membawakan kidungan "Pagupon omahe doro, melu Nippon tambah sengsoro" di Keputran Kejambon, Surabaya. Empat baris pendek itu membuatnya ditangkap dan dipenjara penguasa Jepang, dan ia meninggal setahun kemudian. Gedung pertunjukan Taman Budaya Jawa Timur di kecamatan Genteng memakai namanya sampai sekarang.

Cara tutor melatih rima kidungan dari kejadian pekan itu

Pemula hampir selalu mengerjakan kidungan dari arah yang salah. Ia sudah punya lelucon, menulis dua baris isi lebih dulu, lalu kehabisan tenaga mencari dua baris penyiap yang berima sekaligus terdengar wajar. Hasilnya kaku, dan kekakuan itu terdengar oleh penonton sebelum leluconnya sampai.

Tutor membalik urutannya. Sesi kidungan dimulai dengan mengumpulkan keluarga bunyi: daftar kata Suroboyoan berakhiran serupa, dikelompokkan menurut jumlah suku katanya. Peserta menyimpan daftar itu di buku catatan dan menambahinya tiap pekan. Ketika bahan lelucon datang, ia sudah punya persediaan, jadi pekerjaannya tinggal memilih kata pemukul yang kebetulan ada pasangan bunyinya.

Aturan kedua menyangkut letak. Kata pemukul wajib duduk di ujung baris keempat. Kalau ia jatuh di tengah, penonton menerima maknanya sebelum bunyi rimanya tiba, dan tawa yang sudah siap keluar jadi tertahan setengah. Latihannya sederhana dan menyiksa: satu kalimat lucu ditulis ulang lima kali sampai kata pemukulnya berpindah ke ujung tanpa merusak tata bahasanya.

Aturan ketiga menyangkut panjang. Tiap baris punya jatah ketukan yang tetap, jadi kata pemukul dua suku kata dan kata pemukul lima suku kata adalah dua masalah yang berbeda. Peserta menghitung suku kata sambil menulis, sebelum barisnya terlanjur jadi.

Biaya les ludruk di Surabaya dan apa yang termasuk di dalamnya

Tarif rutin program ini mulai Rp303.800 per sesi 90 menit untuk latihan privat di rumah peserta. Dengan ritme empat sesi sebulan, satu kali sepekan, tagihan bulanannya Rp1.215.000. Perjalanan tutor ke rumah peserta sudah duduk di dalam angka itu, termasuk ke kecamatan yang jauh dari pusat kota seperti Benowo, Pakal, atau Gunung Anyar.

Peserta yang sedang menyiapkan pementasan biasanya memanjangkan sesi jadi 120 menit, sebab adegan berkerangka menuntut satu putaran utuh sebelum dibongkar. Sesi panjang itu berada di angka Rp374.600 per sesi. Kedua tarif dipakai apa adanya, tanpa paket yang harus ditebus di muka.

Satu biaya lagi ditulis terpisah supaya tidak tercampur diam-diam. Peserta yang rumahnya terlalu rapat dengan tetangga bisa memindahkan latihan ke ruang belajar Edubia di NextSpace Kenjeran, kecamatan Tambaksari, atau Union Space Sidosermo di kecamatan Wonocolo. Ruang belajar itu menambah Rp15.000 per sesi di atas tarif program, dan tambahannya berhenti begitu peserta kembali berlatih di rumah.

Perkiraan untuk ritme dan durasi lain bisa dihitung sendiri di kalkulator biaya Edubia, dan pertanyaan yang belum terjawab di halaman ini bisa dikirim ke nomor WhatsApp resmi Edubia.

Ada satu hal yang membuat penjadwalan les ludruk berbeda dari kebanyakan kelas privat: latihannya berisik. Peserta berteriak, tertawa keras, dan mengulang kalimat yang sama dengan lima tekanan berbeda. Karena itu pertanyaan pertama saat mengatur jadwal adalah jam berapa rumah itu boleh ramai, dan hari apanya menyusul kemudian. Kampung padat di Surabaya tengah punya jawaban yang berbeda dari perumahan di pinggir kota, dan tutor menyesuaikan rutenya mengikuti jawaban itu.

Ringkasnya

Wilayah yang didatangi tutor ludruk, dan syarat ruangannya

Surabaya tengah dan kampung tuanya

Genteng, Bubutan, Tegalsari, Simokerto, dan Semampir. Rumah rapat, jadi sesi sore sesudah anak sekolah pulang biasanya lebih tenang daripada sesi malam.

Surabaya timur sampai kawasan kampus

Gubeng, Sukolilo, Mulyorejo, Rungkut, Tenggilis Mejoyo, dan Gunung Anyar. Banyak peserta di sini mahasiswa yang jam kosongnya jatuh siang hari.

Surabaya barat yang jarak antarrumahnya lebih longgar

Lakarsantri, Sambikerep, Tandes, Benowo, dan Pakal. Ruang tamu di sini umumnya sanggup menampung latihan malam tanpa mengganggu sebelah.

Surabaya utara dan tepian pelabuhan

Krembangan, Pabean Cantian, Bulak, dan Kenjeran. Tutor mengatur keberangkatan menghindari jam pergantian pekerja agar sesi tidak molor.

Sidoarjo sisi utara yang berbatasan langsung

Waru, Taman, Gedangan, dan Sedati. Perjalanannya pendek, jadi sesi pagi di hari kerja masih terbuka untuk peserta di kawasan ini.

Sidoarjo tengah dan selatan

Sidoarjo, Buduran, Candi, Sukodono, Krian, dan Tanggulangin. Sesi di sini biasanya dijatah akhir pekan supaya tutor bisa menahan durasi 120 menit.

Lempar dan tangkap lawakan: yang dilatih tutor tiap pekan

Dagelan ludruk dikerjakan berpasangan, dan peran di dalamnya berpindah-pindah. Dalam satu adegan yang sama, orang yang barusan memasang umpan bisa jadi orang yang menerima pukulan berikutnya. Pemain yang mengunci diri di satu peran akan kehabisan bahan sebelum adegannya selesai.

Hukum pertamanya menerima. Apa pun yang sudah dibangun lawan main berlaku, sekalipun konyol. Kalau lawan main menyatakan peserta baru pulang dari Madura, peserta tidak boleh membantahnya; ia menerima Madura itu lalu menambah satu keterangan, misalnya apa yang ia bawa pulang dari sana. Penolakan menghentikan adegan, dan penonton merasakan berhentinya sebagai kesunyian yang salah.

Hukum keduanya menyisakan ruang. Pemula mengisi tiap detik karena takut sepi. Tawa ludruk sering lahir persis di sela sebelum kata terakhir, saat penonton menyusun sendiri sisa kalimatnya. Tutor melatih sela itu dengan cara yang tidak nyaman: peserta diminta menahan satu ketukan penuh sebelum kata pemukul, berulang-ulang, sampai jeda itu berhenti terasa seperti lupa naskah.

Hukum ketiganya soal sumber lucunya. Humor ludruk tumbuh dari selisih kedudukan dan dari salah kaprah. Tukang becak yang mengoreksi bosnya, orang yang memakai istilah asing dengan penuh percaya diri padahal keliru, tetangga yang tahu terlalu banyak. Peserta diminta menyiapkan tiga selisih kedudukan tiap pekan, diambil dari orang yang benar-benar ia temui.

Detail

Yang membedakan kelas ludruk privat Edubia

Program ini dirancang untuk keterampilan yang tidak bisa dilatih sendirian di Surabaya.

01

Bahan latihan diambil dari pekan yang baru saja lewat

Tutor tidak membawa kumpulan lelucon jadi. Ia datang dengan pertanyaan tentang apa yang peserta lihat sejak sesi terakhir, dan dari situ kidungan pekan ini disusun.

02

Rekaman suara dipakai untuk menghitung penolakan

Sepuluh menit terakhir tiap sesi dipakai mendengar ulang bagian yang balasannya bertumpuk. Yang dihitung berapa kali peserta menolak umpan tanpa menyadarinya, dan seberapa lucu adegannya sengaja dikesampingkan.

03

Sapaan Jawa diperlakukan sebagai alat peran

Peserta tidak diminta menghafal daftar kata. Ia diminta memutuskan sapaan mana yang dipakai tokohnya, lalu menanggung akibatnya sepanjang adegan.

04

Jadwal mengikuti jam ramai yang diizinkan di rumah

Latihan ludruk berisik. Sesi diatur pada jam ketika suara keras tidak mengganggu tetangga, dan itu berbeda antara Simokerto dan Lakarsantri.

05

Pengukur waktu duduk di meja sejak sesi kedua

Segmen lawak selalu punya jatah menit di pementasan sungguhan. Peserta terbiasa berhenti pada waktunya jauh sebelum ia naik ke pentas pertama.

06

Pasangan lawak boleh ditukar begitu iramanya tidak bertemu

Tempo bicara dua orang biasanya sudah terbaca pada sesi ketiga. Peserta cukup memberi tahu tim Edubia, dan pendamping berikutnya melanjutkan dari catatan yang sudah ada.

Register Suroboyoan yang dipilih peserta di tiap adegan

Bahasa Jawa punya tingkatan bicara, dan Suroboyoan hidup hampir seluruhnya di tingkat ngoko. Dialek ini terkenal datar dan setara: orang menyapa orang lain apa adanya, tanpa lapisan kesopanan yang berlapis-lapis. Kata seperti koen, arek, rek, cak, ning, gak, lapo, dan ojok mengerjakan dua tugas sekaligus: ia perbendaharaan kata daerah, sekaligus penanda bahwa pembicaranya orang Surabaya yang sedang berbicara kepada sesamanya.

Di dalam ludruk, pilihan sapaan mengerjakan tugas yang di teater lain diberikan kepada perkenalan tokoh. Seorang tokoh yang menyapa lawan bicaranya dengan koen sedang menyatakan kesetaraan atau bahkan sedikit menantang. Tokoh yang memilih sampeyan sedang menjaga jarak sopan. Tokoh yang tiba-tiba memakai panjenengan sedang menaikkan lawan bicaranya, dan penonton langsung bertanya kenapa. Satu kata sudah memindahkan hubungan dua orang di atas pentas.

Jebakan yang berulang justru menimpa peserta yang bahasa Jawanya sudah bagus. Mereka datang membawa Jawa yang halus dan tertata, seringnya berlogat Jawa Tengah, dan hasilnya terdengar seperti priyayi yang tersesat ke kampung. Di kelas ini kesalahan itu diperbaiki lebih dulu daripada kesalahan tata bahasa, sebab terlalu sopan merusak tokoh lebih cepat daripada salah imbuhan.

Peserta yang datang tanpa bahasa Jawa aktif justru sering lebih cepat. Ia belum punya kebiasaan yang harus dibongkar, jadi ia langsung belajar Suroboyoan sebagai alat peran.

Daftar di bawah dipakai sebagai alat kerja, dan susunannya jauh dari susunan kamus. Enam kata ini dipilih karena masing-masing mengubah kedudukan tokoh begitu diucapkan, sehingga peserta bisa merasakan pergeseran hubungan tanpa perlu menambah satu kalimat penjelasan pun. Tutor memasukkannya ke adegan sejak pertemuan pertama, dalam kalimat yang peserta susun sendiri.

Lebih dekat

Kata Suroboyoan yang dipakai peserta sejak sesi pertama

Koen

Sapaan orang kedua yang setara dan berani. Dipakai antara teman sebaya, dan terdengar menantang kalau dilontarkan ke orang yang kedudukannya lebih tinggi.

Sampeyan

Satu tingkat lebih menjaga jarak. Tokoh yang beralih dari koen ke sampeyan di tengah adegan sedang mengumumkan bahwa sesuatu baru saja berubah di antara mereka.

Cak dan ning

Panggilan untuk laki-laki dan perempuan yang lebih tua atau dituakan. Ia menempel di depan nama dan seketika menaruh tokoh di dalam lingkaran kampung.

Rek

Partikel penutup kalimat yang mengajak. Satu kata ini mengubah perintah jadi ajakan, dan ia menandai penuturnya sebagai arek Suroboyo tanpa perlu diterangkan.

Lapo dan opo o

Dua bentuk bertanya yang nadanya berbeda jauh. Yang satu menanyakan kegiatan, yang lain menuntut alasan, dan pemula sering menukar keduanya di saat yang salah.

Ojok

Larangan yang pendek dan tegas. Ia dipakai melatih tempo, sebab kalimat larangan Suroboyoan hampir selalu jatuh lebih cepat daripada versi bahasa Indonesianya.

Tokoh ludruk yang dikenali penonton, dan cara tutor melatihnya

Lakon ludruk mengangkat orang biasa. Buruh pabrik, pedagang pasar, tukang becak, pembantu rumah tangga, mandor, juragan kecil yang baru naik. Tidak ada raja, tidak ada dewa, dan tidak ada pengantar panjang yang menjelaskan siapa mereka. Penonton bertemu tokoh di tengah harinya yang sedang berjalan, jadi tiga kalimat pertama harus mengerjakan seluruh perkenalan.

Tutor memberi peserta rumus isi. Bentuk kalimatnya diserahkan kepada peserta sendiri. Tiga kalimat itu wajib memuat dari mana tokoh mendapat uang, apa yang ia inginkan hari itu juga, dan satu hal yang ia hindari. Ketiganya disampaikan sambil mengeluh atau menawar, sebab tokoh ludruk memperkenalkan diri lewat keluhan yang khusus, tidak pernah lewat keterangan tentang dirinya sendiri.

Kesalahan pemula selalu sama: ia menjelaskan tokohnya. "Saya tukang becak yang sabar" adalah keterangan, dan penonton tidak percaya keterangan. Yang bekerja kalimat semacam menunggu di pangkalan sejak subuh dan belum satu pun penumpang naik. Kesabaran itu tampak dengan sendirinya, dan penonton yang menyimpulkannya akan memihak tokoh itu.

Aturan turunannya soal kekhususan. Tukang becak belum tokoh. Tukang becak yang mangkal di ujung gang yang sama sejak subuh, sudah menolak satu penumpang karena tujuannya terlalu dekat, dan kini menyesalinya, sudah tokoh. Peserta diminta menambahkan satu keterangan khusus tiap kali tutor bertanya siapa dia.

Ketika improvisasi melenceng: yang dikerjakan tutor di dalam sesi

Pemain ludruk menyepakati tulang cerita sebelum naik: siapa menginginkan apa, siapa menghalangi, dan bagaimana urusannya selesai. Dialognya bebas, jadi tiap adegan selalu bergeser. Sebagian geseran itu justru yang membuat pementasan hidup, dan sebagian lagi membuang menit yang sudah dijatah.

Peserta karena itu dilatih memikirkan perhentian. Kalimatnya menyusul dengan sendirinya. Ia hanya perlu tahu titik berikutnya yang wajib dicapai, lalu bebas berimprovisasi sampai ia bisa menyerahkan adegan ke lawan main. Cara berpikir ini melegakan pemula, sebab yang harus diingat tinggal beberapa perhentian.

Ada dua kalimat kerja yang diajarkan sejak sesi keempat. Kalimat pengunci menutup topik yang sudah selesai dan menyerahkan giliran, biasanya berupa kesimpulan pendek yang tidak bisa dibalas lagi. Kalimat penarik membawa adegan yang melebar kembali ke urusan pokok tanpa mematahkan tokoh, biasanya dengan mengingatkan sesuatu yang sudah disebut di awal. Keduanya dihafal bentuknya, isinya disusun ulang tiap kali.

Tugas lawan main juga diajarkan. Kalau peserta mandek, tutor tidak menyelamatkannya dengan lelucon sendiri. Ia mengajukan pertanyaan yang hanya punya satu jawaban berguna, sehingga peserta berjalan lagi dengan tenaganya sendiri. Peserta lalu diminta melakukan hal yang sama untuk tutor, dan di situ ia tahu ia sudah bisa memegang adegan berdua.

Dua belas sesi kira-kira tiga bulan pada ritme sekali sepekan. Daftar di bawah adalah barang yang benar-benar ada wujudnya di akhir periode itu. Peserta yang berhenti di tengah tetap memegang bagian yang sudah selesai, sebab tiap butir diselesaikan berurutan.

Catatan penting

Yang dibawa pulang peserta sesudah dua belas sesi ludruk

Unggulan utama

Buku catatan kidungan berisi bahan siap pakai

Keluarga bunyi Suroboyoan yang dikumpulkan sendiri, dikelompokkan menurut jumlah suku kata, ditambah kidungan jadi dari tiap pekan latihan.

Rekaman suara dua belas sesi latihan

Berguna untuk mendengar sendiri perubahan tempo dan sela. Perbaikan pada improvisasi hampir tidak terasa dari dalam, dan hanya terdengar saat diputar ulang.

Tiga tokoh yang sudah teruji di depan orang lain

Masing-masing lengkap dengan sumber nafkah, kemauan, dan hal yang dihindari, serta pilihan sapaan yang konsisten sepanjang adegan.

Satu segmen lawak berdurasi tetap

Segmen berpasangan yang sudah dijalankan berulang kali dengan pengukur waktu, siap dibawa ke acara kampung atau agenda sekolah.

Daftar selisih kedudukan dari kehidupan nyata

Kumpulan tiga situasi tiap pekan yang peserta amati sendiri, dipakai sebagai persediaan bahan ketika harus berimprovisasi tanpa persiapan.

Ludruk di kecamatan Genteng dan kampung Surabaya lainnya

Peserta les ludruk di kota ini punya keuntungan yang tidak dimiliki peserta di kota lain: ia berlatih di tempat keseniannya sendiri tumbuh. Gedung pertunjukan Taman Budaya Jawa Timur berdiri di Jalan Genteng Kali 85, kecamatan Genteng, dengan pentas berbingkai dan sekitar 600 kursi. Namanya diambil dari Cak Durasim, seniman ludruk Surabaya yang kidungannya membuat penguasa Jepang marah pada 1943.

Di luar gedung, ludruk hidup di tempat yang jauh lebih sederhana. Ia dimainkan di halaman yang dipinjam, di balai kampung, di panggung darurat pada acara hajatan. Kampung tua di sisi utara kota seperti Semampir, Simokerto, Pabean Cantian, dan Krembangan masih menyimpan kebiasaan menonton beramai-ramai, dan di situlah bahan lawakan berseliweran tiap hari.

Kedekatan itu dipakai sebagai bahan ajar. Tutor menganjurkan peserta menonton pementasan sungguhan sesekali, lalu datang ke sesi berikutnya membawa satu hal yang ia perhatikan, misalnya kapan penonton tertawa dan kapan mereka diam. Pengamatan itu jauh lebih berguna daripada penjelasan mana pun tentang teori tawa.

Peserta yang ingin melihat rumpun kesenian di sekitarnya bisa menengok les Tari Remo yang membuka tiap pementasan ludruk, dan les gamelan yang menyediakan iringannya. Bahasa pengantarnya sendiri dibahas lebih dalam di les bahasa Jawa.

Penggantian tutor ludruk dan pengaturan ulang jadwal sesi

Di kebanyakan kelas privat, kecocokan antara pengajar dan peserta memengaruhi kenyamanan. Di kelas ludruk ia memengaruhi hasil secara langsung, sebab tutor bekerja sebagai pasangan bermain, dan ia berada di dalam adegan sepanjang sesi. Dua orang yang tempo bicaranya tidak bertemu akan menghasilkan adegan yang tersendat, dan tersendatnya bukan salah siapa-siapa.

Karena itu peserta berhak meminta pendamping lain. Tutor ludruk bisa diganti tanpa biaya tambahan, cukup dengan memberi tahu tim Edubia. Catatan latihan peserta ikut diserahkan, jadi tutor berikutnya melanjutkan dari titik yang sudah dicapai dan tidak mengulang materi dari awal. Peserta juga boleh meminta penggantian hanya untuk mencoba pasangan yang berbeda tempo, dan permintaan semacam itu lazim di kelas ini.

Jadwal juga bisa digeser. Pementasan ludruk sering datang mendadak, dan peserta yang tiba-tiba diminta mengisi acara kampung boleh memindahkan sesinya ke hari lain di pekan yang sama. Sebaliknya, peserta yang sedang mengejar tanggal pentas boleh menumpuk dua sesi dalam sepekan untuk sementara, lalu kembali ke ritme biasa sesudahnya.

Satu hal yang tidak digeser adalah rekaman dan buku catatan. Keduanya milik peserta sejak sesi pertama, dan tetap ada padanya sekalipun ia berhenti di tengah jalan.

Susunan di bawah dipakai untuk sesi rutin. Ia sengaja memecah 90 menit jadi blok pendek, sebab yang lelah dalam latihan improvisasi adalah perhatian, sementara suara justru bertahan jauh lebih lama. Sesudah kira-kira 40 menit mendengarkan tanpa jeda, peserta mulai kehilangan tangkapan atas umpan lawan main dan diam-diam mendaur ulang leluconnya sendiri. Blok pendek berjeda menahan kebiasaan itu.

Yang perlu diketahui

Jalannya satu sesi les ludruk 90 menit

Empat langkah sederhana, dari daftar sampai belajar bareng tutor pilihan.

  1. 1Sepuluh menit: setor kidungan pekan ini

    Peserta membacakan kidungan yang ia susun di rumah. Tutor menandai baris mana yang rimanya bekerja dan baris mana yang kata pemukulnya tersesat di tengah.

  2. 2Lima belas menit: melatih pendengaran Suroboyoan

    Tutor melontarkan kalimat dalam beberapa tingkatan sapaan, peserta menebak siapa yang sedang bicara kepada siapa. Latihan ini menajamkan telinga sebelum mulut ikut bekerja.

  3. 3Dua puluh menit: lempar tangkap tanpa cerita

    Dua orang, satu keadaan sederhana, tanpa tujuan lakon. Yang dinilai hanya satu hal: apakah tiap balasan menerima bangunan sebelumnya lalu menambah satu keterangan baru.

  4. 4Jeda sepuluh menit yang benar-benar dipakai

    Minum, berdiri, keluar ruangan. Jeda ini bukan basa-basi jadwal; perhatian yang tidak diistirahatkan akan membawa sisa lelucon blok sebelumnya ke blok berikutnya.

  5. 5Dua puluh lima menit: adegan berkerangka

    Sekarang ada tujuan. Tokoh peserta menginginkan sesuatu, tokoh tutor menghalanginya, dan keduanya harus sampai ke satu titik yang disepakati sebelum menit habis.

  6. 6Sepuluh menit terakhir: membongkar rekaman

    Sesi direkam suaranya saja. Tutor dan peserta mendengarkan ulang dua menit yang balasannya bertumpuk dan menghitung berapa kali peserta menolak umpan tanpa sadar.

Pendaftaran dibuat pendek karena keputusan sebenarnya jatuh pada sesi pertama, saat peserta dan tutor mencoba satu adegan bersama. Semua keterangan di bawah dipakai untuk mencocokkan pasangan lawak, dan tak satu pun dipakai menyaring peserta.

Selengkapnya

Cara mendaftar les ludruk dan langkah sesudah pendaftaran

Empat langkah sederhana, dari daftar sampai belajar bareng tutor pilihan.

  1. Isi formulir pendaftaran dengan jam ramai di rumah

    Selain hari dan jam kosong, sebutkan kapan rumah boleh berisik. Keterangan itu yang menentukan bentuk jadwal di kelas ludruk lebih daripada keterangan mana pun.

  2. Ceritakan alasan mengambil ludruk dalam beberapa kalimat

    Menyiapkan lomba seni, bergabung ke sanggar kampung, memperbaiki cara membawakan acara, atau sekadar ingin bisa membuat orang tertawa dengan bahasa sendiri.

  3. Tim Edubia mencarikan tutor yang iramanya cocok

    Yang dicocokkan tempo bicara dan selera humor, di luar bidangnya, sebab keduanya akan bertemu di tiap adegan.

  4. Sesi pertama dipakai mencoba satu adegan pendek

    Tanpa kidungan, tanpa cerita, hanya lempar tangkap sederhana. Dari situ tutor tahu di mana peserta berdiri dan menyusun urutan materinya.

  5. Jadwal tetap disepakati sesudah sesi pertama

    Empat sesi sebulan pada hari yang sama tiap pekan, atau ritme lain kalau agenda peserta menuntutnya. Perubahan jadwal diberitahukan lewat WhatsApp.

Tanya jawab

Apa saja yang perlu diketahui soal les ludruk di Surabaya?

Apa yang membuat ludruk berbeda dari bentuk teater Jawa lainnya?

Tiga hal. Lakonnya mengangkat orang biasa seperti buruh, pedagang, dan tukang becak, tanpa raja maupun dewa. Dialognya disusun saat itu juga di depan penonton, sehingga tidak ada naskah yang bisa dihafalkan. Bahasanya Jawa dialek Suroboyoan yang datar dan setara. Urutan pertunjukannya sendiri tetap: Tari Remo membuka, disusul kidungan, lalu bedhayan, baru lakon. Di kelas ini yang digarap bagian kidungan dan lawak improvisasinya.

Perlukah bisa berbahasa Jawa aktif sebelum mengambil les ludruk?

Tidak. Sesi awal dipakai melatih pendengaran: tutor melontarkan kalimat dalam beberapa tingkat sapaan dan peserta menebak siapa yang bicara kepada siapa. Kata kerja Suroboyoan masuk sedikit demi sedikit lewat adegan, dan tak pernah lewat daftar hafalan. Yang justru perlu waktu lebih panjang biasanya peserta yang bahasa Jawanya sudah halus berlogat Jawa Tengah, sebab kesopanan itu harus dilepas dulu agar tokoh kampungnya terdengar wajar.

Berapa biaya les ludruk privat di Surabaya per sesinya?

Latihan rutin di rumah peserta mulai Rp303.800 per sesi 90 menit. Pada ritme empat sesi sebulan, tagihan bulanannya Rp1.215.000, dan perjalanan tutor ke rumah sudah termasuk di dalamnya. Sesi 120 menit yang biasa dipakai menjelang pentas berada di angka Rp374.600. Kalau latihan dipindahkan ke ruang belajar Edubia, ada tambahan Rp15.000 per sesi yang ditulis terpisah dan berhenti begitu peserta kembali berlatih di rumah.

Bagaimana menyusun kidungan kalau belum pernah menulis parikan sama sekali?

Mulailah dari bunyi, tidak dari lelucon. Tutor meminta peserta mengumpulkan kata Suroboyoan yang akhirannya sama, lalu mengelompokkannya menurut jumlah suku kata. Daftar itu jadi persediaan. Ketika bahan lelucon datang, peserta tinggal memilih kata pemukul yang sudah punya pasangan bunyi, lalu meletakkannya di ujung baris keempat. Dua baris pertama disusun terakhir, sebab tugasnya hanya menyiapkan bunyi.

Bisakah improvisasi lawak dilatih sendiri tanpa lawan main?

Hampir tidak. Yang dilatih adalah kemampuan menerima keterangan yang belum pernah dibayangkan lalu menambahnya, dan itu menuntut orang lain yang benar-benar mengejutkan. Peserta yang berlatih di depan cermin akan mengulang lelucon yang sudah ia tahu berhasil. Karena itu program ini menempatkan tutor sebagai lawan main sepanjang 90 menit, dengan posisi di dalam adegan, tidak di samping ruangan.

Sesi digelar di rumah peserta atau di ruang belajar Edubia?

Keduanya terbuka, dan penentunya biasanya kebisingan. Latihan ludruk berisik: peserta berteriak, tertawa keras, dan mengulang satu kalimat dengan banyak tekanan. Rumah yang rapat dengan tetangga sering hanya nyaman pada jam tertentu. Peserta yang tidak punya jam seperti itu bisa memakai NextSpace Kenjeran di kecamatan Tambaksari atau Union Space Sidosermo di kecamatan Wonocolo, dengan tambahan Rp15.000 per sesi.

Siapa saja yang biasanya mengambil program les ludruk ini?

Pelajar SMA dan mahasiswa yang menyiapkan lomba seni, anggota sanggar kampung yang ingin membereskan kidungannya, pembawa acara yang bekerja di hajatan berbahasa Suroboyoan, guru seni budaya yang mendampingi kegiatan sekolah, dan pendatang yang ingin memakai dialek Surabaya dengan wajar. Umur bukan penyaring; yang menentukan adalah kesediaan berbicara keras di depan satu orang asing pada pertemuan pertama.

Apakah Tari Remo ikut diajarkan di dalam program ini?

Tidak sebagai materi utama. Remo memang membuka tiap pementasan ludruk dan disinggung supaya peserta memahami tempatnya dalam urutan pertunjukan, tetapi gerak tarinya digarap di program tersendiri di halaman les Tari Remo. Fokus program ini pada kidungan, lawak improvisasi, register Suroboyoan, dan pembentukan tokoh. Peserta yang ingin lengkap biasanya mengambil keduanya secara berurutan.

Bagaimana kalau tutor dan peserta ternyata tidak cocok sebagai pasangan lawak?

Peserta cukup memberi tahu tim Edubia, dan tutor ludruk bisa diganti tanpa biaya tambahan. Di kelas ini permintaan semacam itu lazim dan tidak dianggap keluhan, sebab tempo bicara dua orang memang bisa tidak bertemu tanpa ada yang salah. Buku catatan dan rekaman peserta ikut diserahkan, jadi pendamping berikutnya melanjutkan dari titik yang sudah dicapai.

Berapa sesi sampai peserta sanggup membawakan kidungan di acara kampung?

Kidungan pertama yang rimanya benar-benar bekerja biasanya jatuh pada sesi ketiga atau keempat. Untuk membawakannya di depan orang banyak, kebanyakan peserta butuh sekitar dua belas sesi, kira-kira tiga bulan pada ritme sekali sepekan. Yang menahan adalah persediaan bahan, sementara keterampilannya sendiri biasanya sudah cukup lebih awal: kidungan menuntut kejadian nyata, dan kejadian nyata perlu waktu untuk terjadi.

Apakah les ludruk bisa berjalan secara online?

Sebagian bisa, sebagian tidak. Penyusunan kidungan, pembahasan rima, dan pemeriksaan buku catatan berjalan baik lewat sesi daring. Lempar tangkap lawakan berbeda urusannya, sebab jeda sepersekian detik pada sambungan sudah cukup merusak tempo yang justru sedang dilatih. Peserta yang sedang di luar kota biasanya memakai sesi daring untuk bagian tulis-menulis, lalu menyimpan latihan berpasangan untuk pertemuan tatap muka berikutnya.

Kecamatan mana saja yang bisa didatangi tutor ludruk?

Seluruh 31 kecamatan Kota Surabaya, dari Genteng dan Bubutan di tengah kota sampai Benowo, Pakal, dan Lakarsantri di sisi barat, serta Rungkut dan Gunung Anyar di timur. Sidoarjo dilayani di 18 kecamatannya, dengan Waru, Taman, Gedangan, dan Sedati yang perjalanannya pendek. Jarak tidak menambah tarif, tetapi memengaruhi jam berangkat tutor, jadi sesi di kecamatan yang jauh biasanya dijatah akhir pekan.

Apa yang dilakukan ketika improvisasi melenceng jauh dari cerita?

Peserta diajari memikirkan perhentian, tidak kalimat. Ia hanya perlu tahu titik berikutnya yang wajib dicapai, lalu bebas berimprovisasi sampai bisa menyerahkan adegan. Ada dua alat yang dipakai: kalimat pengunci yang menutup topik dan menyerahkan giliran, serta kalimat penarik yang membawa adegan kembali ke urusan pokok dengan mengingatkan sesuatu yang sudah disebut di awal. Keduanya dihafal bentuknya, isinya disusun ulang tiap kali.

Apakah peserta perempuan bisa mengambil les ludruk?

Bisa, dan seluruh materi program ini berlaku sama. Ludruk memang mengenal tradisi travesti, yaitu peran perempuan yang dimainkan laki-laki dengan kaidah gerak dan suaranya sendiri, dan kaidah itu diperkenalkan sebagai pengetahuan pertunjukan. Materi yang digarap di kelas privat ini, yaitu kidungan, lawak improvisasi, register Suroboyoan, dan pembentukan tokoh, tidak dibatasi oleh peran maupun jenis kelamin pemainnya.

Apa yang dikerjakan peserta di rumah di antara dua sesi?

Dua pekerjaan pendek. Pertama, menambah keluarga bunyi ke buku catatan, sekitar lima kata baru tiap pekan. Kedua, mencatat tiga selisih kedudukan yang benar-benar peserta lihat di sekitarnya, misalnya penjual dan pembeli yang saling menawar, atau orang yang memakai istilah asing dengan keliru. Keduanya jadi bahan mentah sesi berikutnya, dan tanpa keduanya sesi akan dimulai dari halaman kosong.

Mulai Sekarang

Waktunya serius dengan les ludruk

Daftar hari ini, tutor ludruk pilihan siap mengajar dalam 1 sampai 5 hari kerja.