Lompat ke konten utama

4,9/5 · 1.200 ulasan · Semua Tingkat

Les Kaligrafi Aksara Jawa di Surabaya

Kelas privat menulis indah aksara Jawa di Surabaya. Dua puluh aksara dasar, sandhangan, dan pasangan dilatih goresan demi goresan bersama tutor yang menemui peserta di alamatnya, mulai Rp128.300 per sesi 60 menit.

4,9/5 1.200 ulasan
2.500+ tutor terverifikasi
1.200+ siswa didampingi
1-on-1 satu tutor satu siswa
Les Kaligrafi Aksara Jawa di Surabaya

Les Kaligrafi Aksara Jawa di Surabaya, apa saja?

Kelas privat menulis indah aksara Jawa di Surabaya. Dua puluh aksara dasar, sandhangan, dan pasangan dilatih goresan demi goresan bersama tutor yang menemui peserta di alamatnya, mulai Rp128.300 per sesi 60 menit.

Konsultasi dan Daftar

Fakta Program

Format Sesi
Privat, satu tutor mendampingi satu peserta, tatap muka di alamat peserta atau di co-learning space
Durasi per sesi
60 menit untuk jenjang sekolah, 90 menit untuk peserta dewasa dan pengerjaan bidang besar
Biaya per sesi
Mulai Rp128.300, dan Rp303.800 untuk sesi 90 menit jenjang dewasa
Jenjang peserta
Siswa SD kelas atas sampai peserta dewasa, termasuk guru muatan lokal
Cakupan pelajaran
Dua puluh aksara nglegena, sandhangan, pasangan, aksara murda, angka Jawa, plus tanda baca pada lingsa dan pada lungsi
Media tulis
Pena berujung pipih, kuas, serta pahatan sederhana pada media keras
Perlengkapan awal
Kertas bergaris bantu, pensil, dan satu pena berujung pipih
Wilayah layanan
31 kecamatan Kota Surabaya, dari Benowo sampai Gunung Anyar
Ritme belajar
4 sesi per bulan sebagai titik mulai, bisa dirapatkan menjelang lomba sekolah
Tambahan ruang
Rp15.000 per sesi bila sesi berjalan di co-learning space Tambaksari atau Wonocolo

Susunan materi

Urutan materi les kaligrafi aksara Jawa dan jebakannya

Materi disusun mengikuti kesiapan tangan. Tiap tahap punya satu kesalahan khas yang hampir selalu muncul, dan tutor menyiapkan cara menanganinya sebelum kesalahan itu sempat menjadi kebiasaan.

  1. 1

    Dua puluh aksara nglegena

    Sesi 1 sampai 6

    Yang dibahas. Bentuk, arah tarikan, dan jumlah goresan dari ha na ca ra ka sampai ma ga ba tha nga.

    Jebakan umum. Peserta meniru siluetnya dari gambar, sehingga sudut pertemuan lengkungnya tak pernah rapi meski bentuknya terlihat mirip.

    Cara tutor. Tutor menulis pelan di depan peserta sambil menyebut arah tiap tarikan, lalu meminta peserta mengulang tanpa melihat contohnya lagi.

  2. 2

    Sandhangan pengganti bunyi vokal

    Sesi 5 sampai 8

    Yang dibahas. Wulu, suku, taling, taling tarung, dan pepet sebagai pengganti bunyi a yang sudah melekat di tiap aksara.

    Jebakan umum. Tanda dipasang terlalu rapat ke badan aksara sampai keduanya menyatu menjadi satu bercak tinta.

    Cara tutor. Jalur atas ditandai lebih dulu pada kertas latihan supaya jarak vertikalnya tetap sama di seluruh baris.

  3. 3

    Sandhangan penutup suku kata dan pangkon

    Sesi 7 sampai 10

    Yang dibahas. Layar, cecak, dan wignyan untuk konsonan penutup, serta pangkon yang mematikan vokal di ujung kata.

    Jebakan umum. Pangkon dipakai di tengah kata, padahal di posisi itu yang benar adalah pasangan.

    Cara tutor. Peserta menulis dua kata bersandingan: satu memakai pangkon di ujung, satu memakai pasangan di tengah, lalu membandingkan hasilnya.

  4. 4

    Pasangan dan tata baris

    Sesi 9 sampai 14

    Yang dibahas. Dua puluh bentuk pasangan, letaknya di sebelah atau di kolong aksara, dan jarak antar baris yang menampungnya.

    Jebakan umum. Jarak antar baris disamakan dengan tulisan Latin, sehingga pasangan menabrak sandhangan baris di bawahnya.

    Cara tutor. Kalimat dihitung dulu di kertas coretan: berapa pasangan yang akan muncul, baru jarak barisnya ditetapkan.

  5. 5

    Aksara murda

    Paruh kedua

    Yang dibahas. Delapan bentuk murda dan batas pemakaiannya pada penyebutan yang bersifat menghormati.

    Jebakan umum. Seluruh kata ditulis dengan murda, padahal satu murda dalam satu kata sudah memenuhi kaidahnya.

    Cara tutor. Latihan memakai nama tempat di sekitar peserta, dan tutor menunjukkan bentuk dasar yang dipakai kembali pada konsonan penutup.

  6. 6

    Angka Jawa dan pagarnya

    Paruh kedua

    Yang dibahas. Bentuk sepuluh angka dan tanda pemagar yang mengapitnya di kiri serta di kanan.

    Jebakan umum. Angka ditulis telanjang di tengah kalimat, lalu terbaca sebagai rangkaian aksara oleh pembacanya.

    Cara tutor. Peserta menulis tanggal dan nomor rumahnya sendiri, dua hal yang bentuk angkanya bisa langsung diperiksa kebenarannya.

  7. 7

    Tanda baca pada dan adeg-adeg

    Sesi 12 ke atas

    Yang dibahas. Adeg-adeg sebagai pembuka alinea, pada lingsa sebagai pemisah bagian kalimat, dan pada lungsi sebagai penutup kalimat.

    Jebakan umum. Tanda baca digambar seadanya karena dianggap pelengkap, dan ia terlihat kasar di antara aksara yang sudah rapi.

    Cara tutor. Tanda baca dilatih dengan cara yang sama dengan aksara: arah tarikannya disebutkan, lalu diulang sepuluh kali dalam satu baris.

  8. 8

    Sudut pena dan berat goresan

    Tiap sesi

    Yang dibahas. Cara menahan sudut ujung pipih, hubungan arah tarikan dengan lebar garis, serta posisi duduk yang menopangnya.

    Jebakan umum. Peserta menekan pena demi garis tebal, yang merusak ujung pena dan membuat lebar garisnya tak bisa diulang.

    Cara tutor. Lima menit pertama tiap pertemuan diisi deret garis miring, lengkung, dan mendatar dengan sudut yang dijaga tetap.

  9. 9

    Komposisi satu bidang

    Sesi penutup

    Yang dibahas. Ukuran kertas, lebar tepi, garis bantu, dan hitungan muat sebelum tinta menyentuh kertas.

    Jebakan umum. Menulis langsung dari sudut kiri atas, lalu kehabisan tempat di baris terakhir.

    Cara tutor. Kalimat disalin dulu ke kertas coretan berukuran sama, dan keputusan ukuran diambil dari coretan itu.

Tahap demi tahap

Perjalanan peserta les kaligrafi aksara Jawa di Surabaya

Tempo di bawah dihitung dari ritme empat sesi sebulan. Peserta yang merapatkan sesinya menjelang lomba sekolah bergerak lebih cepat di tahap awal, lalu melambat di tahap komposisi karena bagian itu menuntut keputusan lebih banyak daripada kecepatan tangan.

  1. 01

    Sesi pertama: posisi duduk dan sudut pena

    Pertemuan pembuka

    Tinggi meja, letak kertas, tumpuan telapak, dan cara memegang pena pipih. Peserta pulang membawa satu lembar latihan sudut tanpa satu aksara pun.

  2. 02

    Sesi 2 sampai 6: dua puluh aksara dasar

    Bentuk dasar

    Aksara dibagi menjadi kelompok kecil yang tarikannya bersaudara. Di ujung tahap ini peserta menulis seluruh deret tanpa contoh, meski masih pelan.

  3. 03

    Sesi 7 sampai 10: sandhangan lengkap

    Jalur atas

    Pengganti bunyi vokal dan penutup suku kata masuk berurutan. Jalur atas kertas mulai terpakai, dan jarak vertikal jadi hal yang diperiksa tiap lembar.

  4. 04

    Sesi 11 sampai 14: pasangan dan jarak baris

    Jalur bawah

    Kolong baris mulai terpakai. Peserta belajar menghitung pasangan sebuah kalimat sebelum menulis, lalu menetapkan jarak antar barisnya sendiri.

  5. 05

    Sesi 15 sampai 18: murda, angka, dan tanda baca

    Kelengkapan

    Tiga bagian yang membuat tulisan terbaca lengkap. Peserta menulis nama tempat, tanggal, dan kalimat berpunktuasi penuh dalam satu lembar.

  6. 06

    Sesi 19 sampai 22: satu karya jadi

    Sesi penutup

    Ukuran bidang dipilih, garis bantu ditarik, kalimat dihitung, lalu ditulis sekali jalan. Lembar ini jadi pembanding kalau peserta lanjut ke tingkat berikutnya.

Cakupan

Yang peserta bawa pulang dari les kaligrafi aksara Jawa

  • Dua puluh aksara dasar tanpa melihat contoh · Seluruh deretnya ditulis dari ingatan tangan, dengan arah dan jumlah tarikan yang benar untuk tiap bentuknya.
  • Sandhangan beserta jarak vertikalnya · Pengganti bunyi vokal dan penutup suku kata, lengkap dengan ruang di jalur atas yang tak lagi menempel ke badan aksara.
  • Aturan letak dua puluh pasangan · Mana yang sejajar di sebelah aksara, mana yang turun ke kolong, dan berapa jarak antar baris yang dibutuhkan keduanya.
  • Delapan murda dan batas pemakaiannya · Kapan murda dipakai pada nama dan gelar, kapan bentuk dasarnya yang kembali dipakai.
  • Angka Jawa berikut tanda pemagarnya · Sepuluh bentuk angka dan cara memagarinya supaya tak terbaca sebagai rangkaian aksara.
  • Tanda baca pembuka dan penutup kalimat · Adeg-adeg, pada lingsa, dan pada lungsi, dilatih dengan disiplin tarikan yang sama dengan aksara.
  • Lembar latihan sudut yang bisa diulang sendiri · Deret garis miring, lengkung, dan mendatar yang dipakai memanaskan tangan sebelum menulis di rumah.
  • Satu karya jadi berukuran bidang penuh · Kalimat pendek dengan tepi rapi, tanda baca lengkap, dan berat tinta yang merata dari baris pertama sampai terakhir.

Alasan memilih

Nilai lebih paket les kaligrafi aksara Jawa ini

Urutan goresan diperiksa satu per satu

Tutor menyebut arah tiap tarikan sambil peserta menulis, sehingga bentuk yang keliru ketahuan sebelum ia berulang tiga puluh kali di lembar latihan.

Lima menit sudut pena membuka tiap pertemuan

Tangan dipanaskan lebih dulu supaya sudutnya sudah mantap saat aksara hari itu masuk. Lebar garis pada lembar pemanasan langsung memberi tahu peserta kapan sudutnya bergeser.

Garis bantu dibuat sendiri oleh peserta

Menarik tiga jalur mendatar sendiri menuntut peserta menetapkan ukuran hurufnya lebih dulu, dan ukuran yang sudah ditetapkan itulah yang menjaga baris tetap rata.

Pasangan dilatih pada kalimat sungguhan

Bentuk pasangan hanya lahir kalau ada suku kata berkonsonan penutup, jadi latihannya memakai kalimat utuh berisi nama tempat yang bunyinya sudah dikenal peserta.

Tutor bisa diganti tanpa biaya tambahan

Kalau cara mengajarnya terasa belum cocok, penggantinya membaca lembar latihan yang sudah dikerjakan supaya urutan aksaranya tak diulang dari nol.

Nominal per sesi dibicarakan sebelum sesi pertama

Biaya program, tambahan ruang, dan jumlah sesi dikirim lengkap sebelum pertemuan pembuka, sehingga keputusan diambil dengan angka yang sudah terbaca.

Cocok untuk siapa

Peserta yang cocok mengambil les kaligrafi aksara Jawa

Peserta yang cocok

  • Siswa yang bagian menulis aksaranya tertinggal di pelajaran muatan lokal
  • Peserta yang menyiapkan lomba menulis aksara Jawa di sekolah
  • Perancang grafis yang memakai aksara Jawa pada karya cetak berukuran besar
  • Guru yang menyusun contoh tulisan tangan untuk bahan ajar
  • Peserta dewasa yang ingin menulis nama dan kalimat pendek dengan rapi
  • Peserta yang sudah bisa membaca aksara Jawa dan ingin memperbaiki bentuk tulisannya

Fleksibel

Kelas kaligrafi aksara Jawa di tempat yang nyaman untuk anak

Tutor kaligrafi aksara Jawa datang ke rumah, co-learning space, atau online. Rencana belajar disusun dari kebutuhan anak.

Capaian Kami

Angka yang dilatih di kelas kaligrafi aksara Jawa

20
aksara dasar dilatih sampai lancar
8
aksara murda beserta aturannya
3
lapis ketinggian dalam satu baris
60 menit
durasi sesi jenjang sekolah

Yang dilatih di les kaligrafi aksara Jawa Surabaya

Aksara Jawa, yang di Jawa Timur lebih akrab disebut Hanacaraka menurut lima bunyi pembuka deretnya, bekerja dengan cara yang berbeda dari huruf Latin, dan perbedaan itu membuat kelas ini bertumpu pada latihan tangan. Dua puluh aksara dasarnya sudah membawa bunyi vokal a di dalam dirinya sendiri. Menulis satu aksara berarti menulis satu suku kata utuh, sehingga peserta yang terbiasa merangkai huruf satu per satu perlu menyesuaikan caranya sejak pertemuan pertama.

Begitu vokalnya perlu diganti, penanda kecil bernama sandhangan dipasang di atas, di bawah, atau di depan aksaranya. Begitu vokal itu perlu dimatikan supaya dua konsonan bertemu, aksara berikutnya berubah bentuk menjadi pasangan dan sebagian besar turun ke kolong baris. Satu baris tulisan karena itu tumbuh ke tiga arah sekaligus: badan aksara di tengah, sandhangan di atasnya, pasangan di bawahnya.

Menjaga tiga lapis itu tetap terbaca adalah pekerjaan utama kelas ini. Tutor Edubia yang menemui peserta di Gubeng, Rungkut, atau Sukolilo memulai dari hal yang sama: satu garis dasar yang rata, tinggi badan aksara yang seragam, dan ruang kosong yang cukup di atas serta di bawahnya. Sesudah tiga hal itu tenang, bentuk hurufnya ikut tenang dengan sendirinya. Anda bisa menanyakan jadwal sesi lewat WhatsApp sebelum memutuskan mulai dari tahap mana.

Urutan goresan yang diperiksa tutor sejak sesi awal

Bentuk aksara Jawa bisa ditiru dengan mata, dan hasil tiruan itu hampir selalu terlihat goyah. Sebabnya ada di urutan goresan. Setiap aksara punya arah dan jumlah tarikan yang tetap, dan urutan itulah yang membuat lengkungnya bertemu di titik yang benar. Peserta yang menyusun bentuk dari potongan acak akan mendapat siluet yang mirip contoh, dengan sudut sambungan yang berantakan.

Karena itu tutor mengamati tangan peserta, dan kertas hanya jadi buktinya. Dari mana tarikan dimulai, ke arah mana pena dibawa, di titik mana pena diangkat, dan berapa kali ia menyentuh kertas untuk satu aksara. Peserta yang urutannya sudah benar bisa menulis lebih cepat tanpa kehilangan bentuk, sebab yang tersimpan di tangannya adalah gerak, dan gambar aksaranya menyusul dengan sendirinya.

Latihan urutan goresan berjalan pelan di lima sampai enam pertemuan pertama, dan pelan di sini disengaja. Menulis cepat dengan urutan yang salah menanamkan kebiasaan yang jauh lebih lama dibongkar daripada dibangun. Tutor membagi dua puluh aksara dasar menjadi kelompok kecil berisi empat sampai lima bentuk yang tarikannya bersaudara, supaya tangan mengulang gerak serupa dalam satu sesi.

Kertas latihan aksara Jawa dibagi tiga jalur mendatar sebelum satu huruf pun ditulis. Jalur tengah menampung badan aksara, jalur atas menyediakan tempat untuk sandhangan, dan jalur bawah dibiarkan kosong untuk pasangan yang akan turun ke sana. Enam hal berikut diperiksa tutor Edubia pada tiap lembar latihan, dan keenamnya bekerja bersama: satu saja meleset, seluruh baris terbaca miring.

Lebih dekat

Bagian tulisan yang dibenahi tutor pada tiap sesi

Garis dasar yang tetap rata

Semua badan aksara duduk pada garis yang sama. Tutor menandai satu baris uji lalu meminta peserta menulis lima aksara berturut-turut tanpa mengintip kembali ke garisnya.

Tinggi badan aksara yang seragam

Aksara yang tingginya naik turun membuat baris terlihat bergelombang meski tiap bentuknya benar. Ukurannya dikunci lebih dulu, baru bentuknya dihaluskan.

Ruang sandhangan di jalur atas

Wulu, pepet, layar, dan cecak menuntut tempat di atas badan aksara. Tanpa jarak yang disiapkan, tanda itu menempel dan berubah menjadi bercak tinta.

Ruang pasangan di jalur bawah

Pasangan yang ditulis di kolong aksara akan menabrak baris berikutnya kalau jarak antar baris disamakan begitu saja dengan tulisan Latin.

Jarak antar aksara di sepanjang kata

Gaya lama menulis aksara Jawa rapat tanpa spasi antar kata, jadi jarak antar aksara yang tak seragam langsung mengaburkan batas suku katanya.

Berat tinta sepanjang satu baris

Tinta yang menipis di ujung baris menandakan pena mulai dimiringkan. Tutor menghentikan latihan di titik itu dan mengembalikan sudut penanya.

Sudut pena dan tebal tipis di kelas kaligrafi ini

Pena berujung pipih melahirkan tebal dan tipis dengan sendirinya. Lebar goresan mengikuti arah tarikan terhadap sisi lebar ujungnya: tarikan yang searah dengan sisi itu meninggalkan garis tipis, tarikan yang menyilanginya meninggalkan garis tebal. Peserta tak perlu menekan lebih kuat untuk mendapat garis tebal, dan tekanan berlebih justru merusak ujung penanya.

Maka pekerjaan tangan yang dilatih lebih dulu adalah menahan sudut pena tetap sama sepanjang satu baris. Sudut yang bergeser di tengah kata membuat dua aksara berbentuk sama terbaca berbeda berat, dan mata pembaca menangkap selisih itu jauh lebih cepat daripada ia menangkap bentuk yang kurang rapi.

Latihan sudut punya bentuknya sendiri: deret garis miring, deret lengkung setengah lingkaran, dan deret garis mendatar, semuanya ditulis dengan sudut yang dijaga tetap. Peserta melihat sendiri kapan sudutnya bergeser, sebab lebar garisnya berubah tanpa ia sadari. Tutor Edubia memakai lembar itu di awal tiap pertemuan, kira-kira lima menit, sebelum masuk ke aksara hari itu.

Pergelangan tangan ikut menentukan. Tangan yang bertumpu pada sisi kelingking menahan sudut lebih lama daripada tangan yang menggantung, dan peserta yang menulis di meja terlalu tinggi hampir selalu kehilangan sudutnya di pertengahan baris. Tinggi meja dan letak kertas karena itu diatur di sesi pertama, sebelum satu aksara pun dilatih.

Kertas dan tinta yang diperiksa tutor sebelum membeli

Kertas menentukan hasil goresan sebanyak penanya. Kertas yang seratnya terlalu longgar menyerap tinta ke samping, sehingga garis tipis melebar sendiri dan tebal tipis yang susah payah dilatih hilang begitu saja. Ujinya berjalan cepat: tarik satu garis tipis, tunggu sebentar, lalu lihat apakah tepinya masih tajam atau sudah berbulu. Kertas yang berbulu dipakai untuk latihan gerak, dan kertas yang tepinya tajam disimpan untuk karya jadi.

Tinta punya urusannya sendiri. Tinta yang terlalu encer mengalir lebih cepat daripada tangan bergerak, sehingga ujung tarikan menggumpal. Tinta yang terlalu kental berhenti di tengah garis dan meninggalkan putus yang harus disambung, dan sambungan itu hampir selalu terlihat. Tutor Edubia meminta peserta menulis satu baris penuh memakai tinta yang dibawanya sebelum menilai bentuk hurufnya, sebab sebagian besar keluhan soal bentuk ternyata berasal dari tintanya.

Urutan belanjanya ikut diatur supaya biaya perlengkapan tak melompat di awal. Pertemuan pembuka cukup memakai pensil dan kertas biasa. Pena pipih menyusul di sekitar pertemuan ketiga, ketika peserta sudah tahu ukuran mana yang cocok dengan tangannya. Kuas, tinta botol, dan kertas khusus menunggu sampai bentuk dasarnya stabil, dan sebagian peserta memang berhenti di pena saja tanpa kehilangan apa pun.

Aksara yang sama menuntut kecepatan tangan yang berbeda menurut alat yang memegang tintanya. Peserta biasanya memulai dari satu media, lalu mencoba media kedua sesudah bentuk dasarnya stabil. Tutor Edubia membawa contoh ketiganya di pertemuan awal supaya peserta bisa memilih dengan tangannya sendiri, dan pilihan itu ikut menentukan biaya perlengkapan yang perlu disiapkan.

Catatan penting

Media tulis dan alas latihan di kelas kaligrafi ini

Pena berujung pipih

Alat pertama untuk hampir semua peserta. Tebal tipisnya lahir dari sudut, jadi ia melatih disiplin sudut sekaligus bentuk. Tarikannya menuntut kecepatan yang tetap.

Kuas untuk goresan lentur

Kuas menambah satu variabel: tekanan. Lebar goresan berubah ketika bulunya ditekan lebih dalam, sehingga tangan belajar menahan tekanan sambil menjaga arah.

Pahatan pada media keras

Memahat membalik urutan kerja. Bentuk direncanakan penuh sebelum alat menyentuh permukaan, sebab goresan yang salah tak bisa dihapus. Bagian ini menyusul sesudah bentuk hurufnya matang.

Kertas bergaris bantu buatan sendiri

Peserta membuat sendiri tiga jalur mendatar pada kertas kosong. Membuat garis bantu itu bagian dari latihan, sebab ia memaksa peserta memutuskan tinggi badan aksara sebelum menulis.

Pasangan dan bagian les yang menuntut kerapian tangan

Pasangan adalah bagian yang membuat banyak peserta berhenti sejenak. Setiap aksara dasar punya bentuk pasangan sendiri, dan pasangan dipakai ketika suku kata sebelumnya berakhir dengan konsonan. Letaknya berbeda menurut aksaranya: pasangan ha, sa, dan pa ditulis sejajar di sebelah aksara yang dipasangi, sementara tujuh belas sisanya turun ke kolong.

Akibat letak itu langsung terasa pada tata baris. Kata yang memuat banyak pasangan menjulur ke bawah lebih jauh daripada kata tetangganya, dan jarak antar baris yang disamakan dengan tulisan Latin membuat pasangan menabrak sandhangan baris berikutnya. Tutor karena itu mengajarkan cara membaca kalimat lebih dulu: hitung berapa pasangan yang akan muncul, baru tetapkan jarak antar barisnya.

Latihannya memakai kalimat sungguhan, sebab deret aksara lepas tak pernah memunculkan pasangan sama sekali. Kalimat pendek berisi nama tempat di sekitar peserta biasanya dipakai lebih dulu, misalnya nama kecamatan tempat ia tinggal, karena bunyinya sudah dikenal dan tangannya bisa berkonsentrasi pada bentuk. Sesudah pasangan terasa tenang, kalimatnya diperpanjang sampai satu baris penuh.

Peserta kidal dan penyesuaian sudut di kelas menulis

Peserta kidal menghadapi satu kesulitan khas di kelas menulis dengan pena berujung pipih. Sudut yang melahirkan tebal tipis yang benar mudah dicapai tangan kanan yang menarik pena ke arah tubuh, sementara tangan kiri justru mendorongnya menjauh. Mendorong pena pipih membuat ujungnya menggaruk kertas dan tintanya tersendat, dan peserta yang memaksakannya sering menyimpulkan bahwa tangannya yang salah.

Jalan keluarnya ada dua, dan tutor mencobanya bergantian di pertemuan pembuka. Yang pertama memutar kertas beberapa puluh derajat searah jarum jam, sehingga arah tarikan tangan kiri jatuh pada sudut yang sama dengan tangan kanan pada kertas tegak. Yang kedua memakai pena yang ujungnya dipotong miring ke arah berlawanan, bentuk yang memang dibuat untuk tangan kiri. Peserta memilih mana yang membuat tangannya lebih tenang.

Yang tak diubah adalah urutan goresannya. Arah tarikan tiap aksara tetap sama untuk tangan mana pun, sebab urutan itu yang menentukan di titik mana lengkungnya bertemu. Yang disesuaikan cuma posisi kertas dan bentuk ujung pena, dan penyesuaian itu diselesaikan di sesi pembuka supaya peserta kidal tak menghabiskan enam pertemuan melawan alatnya sendiri.

Aksara murda dan kapan tutor mulai mengajarkannya

Aksara murda sering disamakan dengan huruf kapital, dan padanan itu hanya benar setengahnya. Jumlahnya delapan: na, ka, ta, sa, pa, nya, ga, dan ba. Ia dipakai untuk menuliskan nama orang, gelar kehormatan, serta nama kota dan tempat, sebagai tanda hormat kepada yang ditulis.

Aturan pemakaiannya lebih rapat daripada huruf kapital Latin. Satu murda dalam satu kata sudah cukup, dan menuliskan seluruh kata dengan murda menyalahi kebiasaan. Murda juga tak diberi pangkon dan tak dipakai sebagai konsonan penutup kata, jadi pada posisi itu bentuk dasarnya yang dipakai kembali.

Di kelas, murda masuk sesudah dua puluh aksara dasar dan pasangannya terasa lancar, biasanya di paruh kedua program. Bentuknya lebih ramai daripada aksara dasar, sehingga peserta yang garis dasarnya belum kokoh akan kehilangan kerapian begitu murda masuk. Contoh yang dipakai tutor diambil dari nama tempat di sekitar peserta, sebab di situlah murda benar-benar dipakai di lapangan.

Papan nama kantor dinas Pemerintah Kota Surabaya kini ditulis dua lapis, huruf Latin di atas dan aksara Jawa di bawahnya, dan pemasangannya berjalan bertahap ke seluruh kantor. Peserta yang sudah mengenal murda bisa membaca papan itu sendiri dalam perjalanan, dan tutor kerap memberi tugas kecil berupa memotret satu papan lalu menyalinnya ulang di kertas latihan.

Selengkapnya

Peserta yang mengambil kursus aksara Jawa di Surabaya

Lima kelompok peserta yang biasa masuk kelas ini di Surabaya.

Siswa dengan muatan lokal bahasa daerah

Bahasa daerah berstatus muatan lokal di sekolah Jawa Timur, dan bagian menulis aksaranya sering jadi bagian yang tertinggal. Sesi privat mengejarnya di luar jam sekolah.

Peserta yang menyiapkan lomba menulis di sekolah

Penilaian lomba menulis aksara bertumpu pada kerapian garis dasar, ketepatan bentuk, dan komposisi bidang. Ketiganya dilatih terpisah, lalu digabung di simulasi berwaktu.

Perancang grafis yang memakai aksara pada karya

Aksara yang ditata di layar sering meleset tinggi badannya begitu dicetak besar. Menulisnya dengan tangan lebih dulu membuat proporsinya bisa dinilai sendiri.

Guru yang menyusun bahan ajar muatan lokal

Contoh tulisan tangan di papan dan lembar kerja dibaca puluhan murid sekaligus. Sesi privat dipakai merapikan bentuk contoh itu sebelum ia dipakai mengajar.

Peserta dewasa yang menulis nama dan kalimat pendek

Sasaran yang kecil justru menuntut kerapian penuh. Program dipersempit ke aksara yang benar-benar dipakai nama itu, berikut murda dan tanda bacanya.

Angka Jawa dan tanda baca di sesi les lanjutan

Angka Jawa punya masalah yang khas: sebagian bentuknya berhimpitan dengan bentuk aksara. Ditulis telanjang di tengah kalimat, deretan angka bisa terbaca sebagai kata. Karena itu angka dipagari tanda khusus di kiri dan kanannya, sehingga pembaca tahu bagian itu wajib dibaca sebagai bilangan.

Tanda baca aksara Jawa dikenal dengan nama pada. Adeg-adeg dipasang di awal untuk membuka alinea. Pada lingsa bekerja seperti koma dan memisahkan bagian kalimat. Pada lungsi menutup kalimat seperti titik. Ketiganya punya bentuk sendiri yang harus dilatih seperti aksara, sebab tanda yang digambar seadanya langsung terlihat kasar di antara huruf yang rapi.

Bagian ini terdengar teknis, dan justru di sinilah sebuah karya mulai terlihat matang. Kalimat yang aksaranya rapi dengan tanda baca yang timpang akan terbaca setengah jadi. Tutor Edubia menaruh latihan pada di pertemuan yang sama dengan latihan komposisi, supaya peserta langsung melihat bagaimana tanda itu mengatur jeda di satu bidang tulisan.

Menyusun karya jadi di sesi akhir kursus aksara Jawa

Bagian akhir program berpindah dari huruf ke bidang. Peserta memilih ukuran kertas, menetapkan lebar tepi, lalu menandai garis bantu untuk seluruh baris yang akan ditulis. Sesudah itu ia menghitung: berapa aksara yang muncul dari kalimatnya, berapa pasangan yang akan turun ke kolong, dan apakah semuanya masih muat sebelum tinta menyentuh kertas.

Hitungan itu yang memisahkan karya yang selesai dari karya yang berhenti di tengah. Kalimat yang ternyata kepanjangan punya beberapa jalan keluar, dan tutor melatih peserta memilih di antaranya: mengecilkan tinggi badan aksara, memindahkan sebagian kalimat ke baris berikutnya, atau menata ulang bidangnya menjadi dua kolom. Ketiganya diputuskan di atas kertas coretan lebih dulu.

Ukuran ikut mengubah keputusan. Bentuk yang terlihat rapi pada tinggi badan aksara satu sentimeter bisa terbaca kosong ketika dibesarkan sepuluh kali, sebab tebal goresannya tak ikut tumbuh sebanding. Peserta yang mengerjakan bidang besar karena itu berpindah alat, dari pena pipih kecil ke pena lebar atau kuas, lalu mengulang latihan sudut memakai alat baru itu sebelum menyentuh kertas karyanya.

Sesi penutup biasanya menghasilkan satu lembar yang benar-benar jadi: kalimat pendek, tepi rapi, tanda baca lengkap, dan tinta yang beratnya merata. Lembar itu dipakai tutor sebagai pembanding ketika peserta melanjutkan ke tingkat berikutnya, sebab perubahan kerapian jauh lebih terlihat dari dua lembar yang bersebelahan daripada dari catatan sesi.

Latihan di rumah di antara dua sesi les

Yang lelah lebih dulu di kelas ini adalah lengan bawah dan sisi telapak yang bertumpu di kertas, sementara jari bertahan lama. Sesudah dua puluh menit menulis tanpa jeda, sudut pena bergeser sendiri dan lebar goresan ikut berubah, sekalipun peserta merasa tangannya masih tenang. Karena itu latihan di rumah lebih berguna kalau dipecah: dua sampai tiga putaran pendek sehari, masing-masing sekitar sepuluh menit, dengan jeda di antaranya.

Mata ikut bekerja dan ikut lelah. Selama menulis, mata mengikuti garis dasar sambil menakar ruang kosong di atas dan di bawah aksara, dan itu menuntut perhatian tetap. Peserta yang berlatih terlalu panjang menghasilkan baris awal yang rapi dan baris akhir yang miring, dan baris akhir itu jadi bahan pembicaraan di sesi berikutnya.

Memeriksa lembar sendiri bisa dikerjakan tanpa tutor. Angkat kertas ke arah cahaya lalu lihat siluet barisnya: garis dasar yang bergelombang terlihat begitu hurufnya tak terbaca. Cara kedua menutup separuh baris dengan penggaris dan membandingkan tinggi badan aksara yang tersisa. Dua pemeriksaan itu memakan kurang dari satu menit, dan hasilnya dibawa ke pertemuan berikutnya sebagai bahan koreksi.

Tutor Edubia meninggalkan satu lembar tugas bermuatan ringan: satu deret latihan sudut, satu kelompok aksara, dan satu kalimat pendek. Lembar yang penuh membuat peserta mengejar jumlah lalu kehilangan kerapian, dan kerapian itulah yang sedang dibangun.

Sesi berjalan di alamat peserta. Tutor kaligrafi aksara Jawa Edubia menjangkau tiga puluh satu kecamatan Kota Surabaya, dari Benowo dan Pakal di sisi barat sampai Gunung Anyar dan Rungkut di sisi timur, termasuk kecamatan padat seperti Tegalsari, Genteng, dan Wonokromo. Wilayah Sidoarjo ikut dilayani, dan permintaan dari Waru, Gedangan, serta Taman datang rutin sepanjang tahun ajaran.

Jam sesi ditentukan bersama sebelum pertemuan pertama. Peserta jenjang sekolah biasanya mengambil sore sesudah jam pelajaran, sementara peserta dewasa lebih banyak memilih akhir pekan atau malam. Kalau jadwal yang disepakati bentrok dengan kegiatan sekolah atau pekerjaan, sesinya bisa digeser dengan pemberitahuan lebih awal dan tutor menyesuaikan.

Inti bahasan

Tempat sesi les berjalan dan jangkauan tutornya

01

Di meja rumah peserta

Pilihan sebagian besar peserta, dari Wonokromo dan Gubeng sampai Lakarsantri. Tutor memeriksa tinggi meja dan arah cahaya di pertemuan pembuka, dua hal yang menentukan sudut pena bisa dijaga atau tidak.

02

Co-learning space Tambaksari

Meja lebar di titik partner sisi utara kota, berguna untuk peserta yang mengerjakan bidang besar. Pemakaian ruangnya menambah Rp15.000 per sesi di atas biaya program.

03

Co-learning space Wonocolo

Titik partner sisi selatan, lebih dekat bagi peserta Jambangan, Gayungan, dan Waru. Tambahan biayanya sama, dan angkanya berdiri terpisah dari biaya program.

04

Sesi online untuk bahan tertentu

Yang berjalan baik lewat layar adalah demonstrasi tarikan dan pemeriksaan hitungan bidang. Pemeriksaan sudut pena serta tumpuan tangan lebih tepat dikerjakan saat tatap muka.

Biaya les kaligrafi aksara Jawa per sesi

Biaya program dimulai dari Rp128.300 per sesi untuk peserta jenjang sekolah dengan sesi 60 menit, empat sesi dalam sebulan, dan tutor yang menemui peserta di alamatnya. Peserta dewasa yang mengambil sesi 90 menit berada di Rp303.800 per sesi, sebab menit tambahan itu dipakai untuk latihan sudut yang lebih panjang dan pengerjaan bidang yang lebih besar. Nominal di antara keduanya mengikuti jenjang dan durasi yang dipilih.

Perjalanan tutor menuju alamat peserta di Surabaya sudah dihitung di dalam nominal tersebut. Yang berada di luarnya cuma dua: perlengkapan tulis milik peserta sendiri, dan tambahan Rp15.000 per sesi kalau sesi dipindahkan ke co-learning space. Perlengkapan awal cukup kertas, pensil, dan satu pena berujung pipih; kuas serta alat pahat menyusul belakangan, dan tutor menyebutkan pilihannya sebelum peserta membeli apa pun.

Nominalnya dibicarakan terbuka sebelum pertemuan pertama, berikut jumlah sesi yang direncanakan. Kalau cara mengajar tutor terasa belum cocok sesudah beberapa pertemuan, tutor bisa diganti tanpa biaya tambahan, dan lembar latihan yang sudah dikerjakan ikut dibaca tutor penggantinya supaya urutan aksaranya tak diulang dari nol. Rincian biayanya bisa Anda lihat ketika mengisi formulir pendaftaran.

Pendaftaran berjalan lewat WhatsApp resmi Edubia di 0821-3617-6381 atau lewat halaman pendaftaran. Lima tahap berikut umumnya tuntas dalam satu percakapan, dan sesi pertama bisa dijadwalkan pada pekan yang sama.

Garis besar

Cara mendaftar les kaligrafi aksara Jawa

Empat langkah sederhana, dari daftar sampai belajar bareng tutor pilihan.

  1. Sebutkan jenjang dan titik mulai peserta

    Peserta yang sudah hafal sebagian aksara mulai dari titik berbeda dengan peserta yang belum pernah memegang pena pipih. Keterangan ini menentukan tutor mana yang dicocokkan.

  2. Pilih durasi dan jumlah sesi per bulan

    Sesi 60 menit cukup untuk jenjang sekolah, sementara pengerjaan bidang besar lebih nyaman di 90 menit. Empat sesi sebulan adalah titik mulai yang lazim.

  3. Tetapkan alamat sesi dan jam yang cocok

    Alamat rumah, co-learning space di Tambaksari atau Wonocolo, atau sesi online. Jam ditulis lengkap dengan hari, sebab tutor menahan slot itu untuk peserta.

  4. Terima nominal per sesi sebelum menyetujui

    Angka per sesi dan totalnya per bulan dikirim lengkap, termasuk tambahan ruang bila sesi berjalan di co-learning space. Keputusan diambil sesudah angkanya terbaca.

  5. Jalani sesi pertama berupa pemetaan tangan

    Pertemuan pembuka dipakai memeriksa posisi duduk, cara memegang pena, dan garis dasar. Dari situ tutor menyusun urutan aksara yang akan dilatih.

Tanya jawab

Masih ragu soal les kaligrafi aksara Jawa? Ini jawabannya

Apa bedanya kelas ini dengan les bahasa Jawa?

Kelas ini mengurus bentuk hurufnya, sementara les bahasa Jawa mengurus kosakata, tingkat tutur, dan susunan kalimatnya. Di sini peserta melatih urutan goresan, sudut pena, jarak antar aksara, serta letak sandhangan dan pasangan. Arti kalimat yang ditulis tetap dijelaskan seperlunya supaya peserta tahu apa yang ada di tangannya, dan pelajaran bahasanya sendiri berada di program yang berbeda.

Peserta belum pernah menulis aksara Jawa sama sekali, apakah bisa ikut?

Bisa, dan itu titik mulai yang lazim. Enam pertemuan pertama dipakai untuk dua puluh aksara dasar, dibagi menjadi kelompok kecil yang arah tarikannya bersaudara. Kemampuan membaca aksara tidak disyaratkan di awal, sebab membaca justru tumbuh sendiri sambil menulis: tangan yang sudah menyusun bentuknya akan mengenali bentuk itu di papan nama atau di buku.

Berapa biaya les kaligrafi aksara Jawa per sesi di Surabaya?

Biaya program mulai Rp128.300 per sesi untuk peserta jenjang sekolah dengan durasi 60 menit dan empat sesi sebulan. Sesi 90 menit untuk peserta dewasa berada di Rp303.800 per sesi. Kedua angka itu sudah menghitung kedatangan tutor ke alamat peserta di Surabaya. Bila sesi dipindahkan ke co-learning space, ada tambahan Rp15.000 per sesi yang berdiri terpisah dari biaya program.

Berapa lama sampai dua puluh aksara dasar terasa lancar?

Dengan ritme empat sesi sebulan, sebagian peserta sudah menulis seluruh deret tanpa contoh di sekitar pertemuan keenam, meski masih pelan. Lancar dalam arti bisa menulis cepat tanpa kehilangan bentuk biasanya datang beberapa pertemuan sesudahnya. Jumlah sesi hanya sebagian ceritanya; sisanya ditentukan seberapa sering tangan mengulang gerak yang sama di antara dua pertemuan.

Perlengkapan apa yang perlu disiapkan sebelum pertemuan pembuka?

Cukup kertas kosong yang cukup tebal, pensil untuk menarik garis bantu, penggaris, dan satu pena berujung pipih. Kuas dan alat pahat menyusul belakangan, hanya bila peserta memang ingin mencoba media itu. Tutor membawa contoh alatnya di pertemuan awal supaya peserta bisa mencoba dengan tangannya sendiri sebelum membeli, sehingga tak ada alat yang dibeli lalu jarang dipakai.

Kenapa urutan goresan diperiksa sedetail itu?

Karena kesalahan urutan menampakkan diri di tempat yang tak diduga, yaitu pada sudut tempat dua lengkung bertemu. Bentuknya boleh terlihat mirip contoh, dan pertemuan itu tetap tampak patah atau menggembung. Menambah jam latihan tak menolong, sebab yang diulang justru gerak yang keliru. Tutor mengenalinya dengan meminta peserta menulis satu aksara sepuluh kali: kalau letak cacatnya selalu sama, urutannya yang perlu dibongkar.

Bolehkah berlatih dengan pensil atau pulpen biasa dulu?

Boleh, dan tahap pertama memang sering memakai pensil. Pensil bagus untuk menghafal urutan goresan sebab garisnya tipis merata, sehingga peserta bisa memusatkan perhatian ke arah tarikan. Begitu bentuknya stabil, pena berujung pipih masuk untuk melatih hal berikutnya: menahan sudut supaya tebal dan tipisnya muncul sendiri di tempat yang benar.

Bagaimana cara menulis pasangan tanpa menabrak baris di bawahnya?

Keputusannya diambil sebelum menulis. Peserta membaca kalimatnya dulu lalu menandai suku kata mana saja yang akan memicu bentuk pasangan, sebab dari situ ia tahu baris mana yang bakal menjulur ke kolong. Jarak antar barisnya kemudian diukur dari baris yang julurannya turun sejauh mungkin, sehingga baris lain ikut tertampung. Kalau kertasnya sudah bergaris tetap, tinggi badan aksaranya yang dikecilkan sedikit.

Kapan aksara murda dipakai dan kapan tidak?

Murda menandai penghormatan, jadi ia muncul pada nama diri, sebutan kehormatan, dan penyebutan tempat. Delapan bunyi saja yang punya bentuk murda, sehingga banyak nama memang ditulis penuh dengan aksara biasa dan itu tetap sah. Yang sering keliru adalah menganggapnya wajib. Kata yang sudah memakai satu murda juga tak perlu ditambah murda kedua, dan pada konsonan penutup kata bentuk dasarnya yang kembali dipakai.

Angka Jawa bentuknya mirip aksara, bagaimana pembaca membedakannya?

Lewat tanda pemagar yang mengapit angka di kiri dan kanannya. Tanpa pagar itu, deretan angka di tengah kalimat memang bisa terbaca sebagai kata, sebab beberapa bentuk angka berhimpitan dengan bentuk aksara. Di kelas, bagian ini dilatih memakai tanggal dan nomor rumah peserta sendiri, dua hal yang hasilnya bisa langsung diperiksa benar salahnya oleh peserta.

Kalau rumah peserta jauh dari pusat kota, apakah sesi tetap bisa berjalan?

Bisa. Sesi tatap muka berjalan di seluruh kecamatan Kota Surabaya, termasuk sisi barat seperti Sambikerep dan Pakal serta sisi timur seperti Mulyorejo dan Gunung Anyar, ditambah wilayah Sidoarjo. Untuk alamat yang jauh, jam sesinya digeser ke rentang yang lalu lintasnya lebih lengang. Alasannya praktis: tutor yang tiba terburu-buru menulis contoh dengan tangan yang belum tenang, dan peserta menyalin contoh itu.

Bagaimana kalau cara mengajar tutornya terasa belum cocok?

Beri tahu tim Edubia, dan penggantian tutornya berjalan tanpa biaya tambahan. Lembar latihan yang sudah dikerjakan diserahkan kepada penggantinya, jadi peserta tak perlu mengulang urutan aksaranya dari nol. Pada kelas menulis, kecocokan cara mengoreksi cukup menentukan: sebagian peserta ingin dikoreksi saat tangannya bergerak, sebagian lagi lebih tenang bila koreksinya menunggu satu baris selesai.

Bisakah sesi diarahkan untuk lomba menulis aksara di sekolah?

Bisa, dan penyusunannya berjalan mundur dari tanggal lombanya. Tiga hal dilatih terpisah lebih dulu, yaitu ketepatan bentuk, kerapian garis dasar, dan komposisi bidang, lalu digabung dalam simulasi berwaktu memakai ukuran kertas yang dipakai lomba. Bila tanggalnya dekat, ritme sesinya dirapatkan menjadi dua pertemuan sepekan, dan biayanya mengikuti jumlah sesi yang diambil.

Bisakah peserta berlatih dengan kuas atau pahatan selain dengan pena?

Bisa, dan urutannya yang menentukan. Pena dipegang lebih dulu sampai bentuk dasarnya stabil, sebab ia mengajarkan sudut tanpa variabel lain. Kuas menyusul dan menambahkan tekanan sebagai hal yang harus dikendalikan. Memahat datang belakangan karena ia mencabut hak memperbaiki: tiap keputusan diambil di kepala sebelum mata pahat turun. Peserta yang memulai dari pahatan umumnya tersendat di beberapa aksara pertama.

Apakah sesi les kaligrafi aksara Jawa bisa berjalan online?

Bisa untuk sebagian besar bahannya, dengan satu catatan. Urutan goresan, letak sandhangan, dan hitungan komposisi terbaca jelas lewat kamera yang diarahkan tegak lurus ke kertas, dan peserta bisa mengikuti tarikan tutor saat itu juga. Yang sulit dinilai dari layar adalah sudut pena dan tumpuan pergelangan, sebab keduanya menuntut pandangan dari samping. Peserta yang memulai dari nol karena itu biasanya mengambil beberapa pertemuan tatap muka lebih dulu.

Latihan apa yang berguna di rumah di antara dua pertemuan?

Tiga hal berurutan, dan porsinya kecil. Satu deret pemanasan untuk memantapkan sudut, satu kelompok aksara yang sedang digarap, lalu satu kalimat pendek yang memaksa keduanya dipakai bersama. Bagi porsi itu menjadi dua sampai tiga putaran sepuluh menit dalam sehari daripada satu duduk panjang, sebab kerapian menurun jauh sebelum peserta merasa capek. Lembar yang miring di baris akhir tetap dibawa ke pertemuan berikutnya.

Daftar Hari Ini

Langkah pertama Anda di kelas kaligrafi aksara Jawa dimulai di sini

Satu langkah kecil: konsultasi kebutuhan kaligrafi aksara Jawa. Sisanya biar kami yang siapkan.

4,9/5 · 1.200 ulasan wali di Surabaya