Lompat ke konten utama

4,9/5 · 1.200 ulasan · Pemula sampai Lanjutan

Les Bahasa Persia di Surabaya

Les privat bahasa Persia di Surabaya: 32 huruf abjad Perso-Arab, ezafe, sampai membaca ghazal Hafez tanpa terjemahan. Tutor datang ke rumah, ke co-learning space, atau mengajar online. Sesi 60 sampai 90 menit, mulai Rp158.800 per sesi.

Les Bahasa Persia di Surabaya
4,9/5 1.200 ulasan
2.500+ tutor terverifikasi
1-on-1 privat sepenuhnya
Ke rumah Surabaya, co-learning, atau online
Ganti tutor prosesnya mudah
Assessment mulai dari kebutuhan

Poin utama

Apa yang keluarga dapat dari les bahasa Persia privat?

Tiga hal yang sering ditanyakan wali sebelum sesi bahasa Persia pertama di Surabaya.

Tutor bahasa Persia datang ke rumah

Sesi berjalan di rumah Anda di Surabaya, di co-learning space partner, atau online bila cuaca dan jadwal menuntut.

Tutor bahasa Persia terverifikasi

Berkas, wawancara, dan uji materi dilalui setiap tutor bahasa Persia sebelum ia masuk ke rumah keluarga di Surabaya.

Garansi ganti tutor

Kalau cara mengajarnya belum cocok, tutor bahasa Persia diganti tanpa biaya tambahan.

Les Bahasa Persia di Surabaya itu seperti apa?

Les privat bahasa Persia di Surabaya: 32 huruf abjad Perso-Arab, ezafe, sampai membaca ghazal Hafez tanpa terjemahan. Tutor datang ke rumah, ke co-learning space, atau mengajar online. Sesi 60 sampai 90 menit, mulai Rp158.800 per sesi.

Konsultasi dan Daftar

Detail Program

Peserta
Pelajar SMA, mahasiswa, dan dewasa umum
Aksara
Perso-Arab 32 huruf, gaya Naskh dan Nastaliq
Titik mulai
Nol pengalaman aksara sampai pembaca lanjutan
Durasi sesi
60 menit atau 90 menit
Ritme umum
2 sesi per pekan, 8 sesi per bulan
Tempat belajar
Rumah peserta, co-learning space Edubia, atau online
Wilayah layanan
31 kecamatan Kota Surabaya serta 18 kecamatan Sidoarjo
Cakupan materi
Aksara, tata bahasa, percakapan Teheran, bacaan sastra
Biaya mulai
Rp158.800 per sesi untuk kelas online 60 menit
Bahasa pengantar
Indonesia, dengan istilah Persia dikenalkan bertahap
Peralatan dan bahan
Disiapkan peserta, di luar tarif sesi

Fleksibel

Bahasa Persia yang menyesuaikan jadwal anak

Tutor bahasa Persia datang ke rumah, co-learning space, atau online. Rencana belajar disusun dari kebutuhan anak.

Cakupan Kelas

Yang didapat peserta les bahasa Persia di Surabaya

Buku kerja aksara buatan tutor

Lembar latihan huruf yang disusun ulang tiap pekan mengikuti huruf mana yang masih goyah, dicetak untuk sesi berikutnya.

Daftar kosakata bertema

Kosakata dikelompokkan menurut keperluan peserta, misalnya istilah kitab untuk mahasiswa kajian Islam atau istilah perjalanan untuk calon pelancong.

Rekaman contoh lafal tutor

Potongan audio pendek yang direkam di akhir sesi, berisi kata yang masih sulit diucapkan supaya peserta bisa mengulangnya di rumah.

Teks bacaan berjenjang

Mulai dari kalimat berharakat, naik ke berita pendek berbahasa Persia modern, lalu ke petikan Golestan dan ghazal Hafez.

Latihan menyimak percakapan Teheran

Rekaman penutur asli dengan naskah bentuk baku berdampingan, supaya peserta melihat sendiri pergeseran bunyi yang terjadi.

Catatan tata bahasa satu halaman

Ringkasan ezafe, penanda rā, dan tabel kata kerja yang muat di satu halaman, dipakai sebagai rujukan cepat saat membaca.

Pemetaan kemampuan di sesi pertama

Kemampuan membaca aksara, mengenal kosakata, dan menyimak diukur di awal, lalu hasilnya menentukan titik mulai serta ritme sesinya.

Kecocokan Program

Peserta yang cocok dan yang sebaiknya menunda

Peserta yang cocok

  • Mahasiswa kajian Islam atau sastra yang perlu membaca sumber Persia langsung
  • Peserta yang sudah lancar membaca aksara Arab lalu ingin memperluasnya ke Persia
  • Pekerja yang berurusan dengan mitra dari Iran, Afghanistan, atau Tajikistan
  • Pembaca puisi yang ingin menikmati Hafez dan Rumi tanpa perantara terjemahan
  • Anggota keluarga campur yang ingin berbicara dengan kerabat berbahasa Persia
  • Calon pelancong yang menyiapkan perjalanan ke Iran dalam enam bulan ke depan

Susunan Materi

Susunan materi les bahasa Persia dari sesi ke sesi

Urutan di bawah dipakai untuk peserta yang mulai dari nol aksara. Peserta yang sudah lancar membaca huruf Arab biasanya melompati dua bagian pertama sesudah pemetaan kemampuan di sesi perdana.

  1. 1

    Abjad Perso-Arab dan empat wujud huruf

    Sesi 1 sampai 4

    Yang dibahas. Tiga puluh dua huruf beserta wujud awal, tengah, akhir, dan berdiri sendiri, ditambah tujuh huruf yang tidak pernah menyambung ke kiri.

    Jebakan umum. Peserta berlatar mengaji menyamakan bunyi huruf Persia dengan bacaan Arab, sehingga ص, س, dan ث keluar berbeda-beda padahal ketiganya dibaca s.

    Cara tutor. Tutor memakai dikte pasangan minimal: dua kata yang hanya berselisih satu huruf dibacakan berulang sampai peserta berhenti mengoreksi dirinya sendiri.

  2. 2

    Vokal pendek dan membaca tanpa harakat

    Sesi 5 sampai 8

    Yang dibahas. Enam vokal Persia, tiga panjang yang ditulis dan tiga pendek yang tidak, ditambah huruf ه di ujung kata yang dibaca e.

    Jebakan umum. Peserta menebak vokal dari ejaan Indonesia, sehingga mard terbaca marad dan khāne terbaca khanah, dua kesalahan yang lekat kalau dibiarkan.

    Cara tutor. Kosakata dihafal sebagai pasangan bunyi dan bentuk sejak hari pertama, lalu teks berharakat dilepas bertahap mulai sesi kedelapan.

  3. 3

    Ezafe dan susunan kelompok kata

    Sesi 9 sampai 12

    Yang dibahas. Penanda -e dan -ye, rangkaian dua sampai empat kata, serta cara membaca kelompok kata yang penandanya tidak tertulis.

    Jebakan umum. Rantai ezafe ditutup di tempat yang keliru, sehingga dua kata yang seharusnya terikat terbaca terpisah dan kalimatnya berhenti masuk akal.

    Cara tutor. Peserta menandai rantainya dengan pensil, membaca dari belakang ke depan untuk mengurut arti, lalu mengulanginya tanpa tanda apa pun.

  4. 4

    Kata ganti, kepemilikan, dan penanda rā

    Sesi 13 sampai 16

    Yang dibahas. Enam kata ganti, akhiran kepemilikan -am sampai -eshān, serta penanda objek tertentu را beserta letaknya di kalimat.

    Jebakan umum. Penanda rā ditempelkan pada objek yang belum tentu, atau ditaruh di belakang kata kerja, dua letak yang tidak pernah berlaku.

    Cara tutor. Tutor menyodorkan pasangan kalimat dengan rā dan tanpa rā, lalu peserta menjelaskan sendiri beda maknanya dalam bahasa Indonesia.

  5. 5

    Kata kerja dengan awalan mi- serta be- dalam kalimat

    Sesi 17 sampai 22

    Yang dibahas. Dua bentuk dasar tiap kata kerja, enam akhiran orang, awalan mi- untuk kebiasaan, be- untuk harapan dan perintah, na- untuk pengingkaran.

    Jebakan umum. Bentuk sekarang ditebak dari bentuk lampau, padahal keduanya kerap berjauhan: raftan memberi rav-, didan memberi bin-, kardan memberi kon-.

    Cara tutor. Kartu hafalan dua sisi berisi pasangan bentuk dasar, dikerjakan lisan lima menit di pembuka tiap sesi sampai jeda berpikirnya hilang.

  6. 6

    Kata kerja majemuk dan percakapan sehari-hari

    Sesi 23 sampai 28

    Yang dibahas. Enam kata kerja pengusung utama, yaitu kardan, shodan, dāshtan, zadan, dādan, dan gereftan, beserta puluhan ungkapan yang dibentuknya.

    Jebakan umum. Peserta mencari kata kerja tunggal untuk tiap gagasan baru, padahal Persia modern hampir selalu menyusunnya sebagai gabungan kata benda dan kata kerja.

    Cara tutor. Tiap ungkapan baru dicatat berpasangan dengan kata kerja pengusungnya, sehingga peserta melihat polanya berulang dan berhenti menghafal satu per satu.

  7. 7

    Ragam percakapan Teheran di sesi menyimak

    Sesi 29 sampai 34

    Yang dibahas. Pergeseran ast menjadi e, ān menjadi un, rā menjadi ro, pemendekan kata kerja, serta pemangkasan kata depan panjang.

    Jebakan umum. Peserta yang hanya menghafal bentuk baku menganggap dirinya salah dengar, lalu kehilangan kepercayaan diri di percakapan pertamanya.

    Cara tutor. Rekaman pendek penutur Teheran diputar dua kali: sekali untuk menangkap isi, sekali lagi dengan naskah bentuk baku di sebelahnya.

  8. 8

    Membaca ghazal dan prosa berima

    Sesi 35 dan seterusnya

    Yang dibahas. Satu ghazal Hafez, satu kisah pendek dari Golestan, dan satu petikan Masnavi, dibaca utuh berikut pola iramanya.

    Jebakan umum. Peserta memburu terjemahan lebih dulu, sehingga struktur kalimat Persianya terlewat dan bacaan berikutnya tetap terasa asing.

    Cara tutor. Terjemahan harfiah dibuat lebih dulu sekalipun kaku, baru sesudah itu peserta merapikannya menjadi kalimat Indonesia yang enak dibaca.

Jalur Belajar

Perjalanan peserta les Persia dari huruf sampai bacaan

Titik-titik di bawah diukur dari peserta dewasa yang mengambil 8 sesi per bulan dan menyediakan waktu latihan mandiri sekitar 20 menit tiap hari.

  1. 01

    Pekan pertama: menulis nama sendiri

    Sesi 1 sampai 2

    Peserta menuliskan namanya dalam aksara Perso-Arab dan mengenali empat wujud huruf menurut letaknya di dalam kata.

  2. 02

    Bulan pertama: membaca papan nama dan menu

    Sesi 8

    Kata pendek yang sering muncul terbaca tanpa mengeja, dan peserta mulai menebak vokal pendek dari kosakata yang sudah dikenalnya.

  3. 03

    Bulan kedua: menyusun kalimat berezafe

    Sesi 16

    Peserta membuat kalimat sendiri berisi kata benda beserta penjelasnya, dan membacanya keras dengan penanda -e di tempat yang tepat.

  4. 04

    Bulan ketiga: percakapan pendek berpola kardan

    Sesi 24

    Tanya jawab sederhana berjalan tanpa naskah, memakai enam kata kerja majemuk yang menopang sebagian besar percakapan harian.

  5. 05

    Bulan keempat: menangkap percakapan Teheran

    Sesi 32

    Rekaman penutur asli terdengar sebagai kalimat utuh, dan peserta bisa menuliskan kembali isinya dalam bentuk baku.

  6. 06

    Bulan keenam: satu ghazal dibaca utuh

    Sesi 40

    Satu ghazal Hafez dibaca dari awal sampai akhir berikut irama aruznya, dengan terjemahan kerja yang disusun peserta sendiri.

Keunggulan kelas ini

Yang membuat les bahasa Persia kami beda

Unggulan utama

Sesi privat satu tutor satu peserta

Bahasa dengan penutur sedikit di Jawa Timur menuntut waktu bicara yang panjang. Sesi berdua membuat peserta bersuara sepanjang jam belajar.

Latihan aksara sejak sesi pertama

Menulis tangan dimulai di menit-menit awal, sebab bentuk sambung huruf Persia lebih cepat melekat lewat tangan daripada lewat mata.

Percakapan Teheran dilatih terpisah

Bentuk baku dan bentuk lisan diajarkan berdampingan, sehingga peserta tidak terkejut saat pertama kali mendengar orang Iran bicara.

Bacaan sastra untuk peserta lanjutan

Ghazal Hafez, kisah Golestan, dan bait Masnavi dibuka setelah tata bahasa dasarnya kokoh, dengan naskah asli beserta terjemahan kerja.

Tutor bisa diganti tanpa biaya tambahan

Kalau cara mengajarnya kurang cocok, penggantian diproses dan catatan kemajuan peserta diteruskan supaya kelas tidak mengulang dari awal.

Tiga puluh dua huruf Persia yang dibuka di sesi awal

Bahasa Persia atau Farsi termasuk rumpun Indo-Eropa, satu keluarga jauh dengan bahasa Sanskerta, Yunani, dan Inggris. Yang membuat pendatang baru bingung ada di permukaannya: bahasa berumpun Eropa ini ditulis memakai aksara Arab yang sudah dimodifikasi. Abjadnya berisi tiga puluh dua huruf, yaitu dua puluh delapan huruf Arab ditambah empat huruf yang lahir khusus untuk bunyi Persia.

Peserta yang pernah mengaji biasanya merasa akrab pada sepuluh menit pertama. Bentuk alif, ba, dan mim sudah dikenal, arah tulisan dari kanan ke kiri sudah terbiasa, dan cara huruf saling menyambung pun serupa. Rasa akrab itu berumur pendek. Begitu masuk kata kedua muncul huruf pe dan gaf yang tidak pernah ada di mushaf, lalu bunyi beberapa huruf Arab berubah sama sekali di mulut orang Iran.

Karena itu sesi pertama les bahasa Persia di Surabaya memisahkan dua hal sejak menit awal: bentuk huruf yang boleh dibawa dari pengalaman lama, dan bunyi huruf yang wajib ditata ulang. Tutor menuliskan pasangan huruf yang bentuknya sama sementara bunyinya berbeda, lalu peserta membacanya keras-keras sampai lidahnya berhenti pulang ke kebiasaan bacaan Arab.

Selengkapnya

Empat huruf tambahan yang dilatih tutor sejak awal

پ pe, bunyi p

Bahasa Arab tidak memiliki bunyi p, sementara Persia memakainya di kata sehari-hari seperti pedar (ayah) dan panj (lima). Bentuknya seperti ba dengan tiga titik.

چ che, bunyi c

Ditulis seperti jim dengan tiga titik di bawah. Ia muncul di kata tanya chi (apa) dan cherā (kenapa), dua kata yang dipakai peserta sejak percakapan pertamanya.

ژ zhe, bunyi zh

Huruf yang jarang muncul, bunyinya seperti j pada kata Prancis jour. Ia hadir di kata serapan modern dan di beberapa nama diri, jadi cukup dikenali bentuknya.

گ gaf, bunyi g

Bentuknya kaf dengan satu garis tambahan di atas. Hadir di gol (bunga), bozorg (besar), dan gereftan (mengambil), tiga kata yang dipakai hampir tiap sesi.

Tiga huruf berbunyi s dan empat berbunyi z di kelas ejaan

Bahasa Arab membedakan bunyi ث, س, dan ص. Orang Iran melafalkan ketiganya sama persis, yaitu s biasa. Perkara serupa berlaku pada empat huruf ذ, ز, ض, dan ظ yang semuanya dibaca z, pada ت dan ط yang sama-sama dibaca t, serta pada ح dan ه yang keduanya dibaca h.

Akibatnya terasa langsung di kelas: mendengar sebuah kata belum cukup untuk menuliskannya. Peserta yang mendengar sobh (pagi) perlu tahu lebih dulu bahwa kata itu datang dari bahasa Arab sehingga ditulis dengan ص, sementara sabz (hijau) memakai س karena ia kata Persia asli.

Kebiasaan yang dibangun tutor sederhana saja: kata serapan Arab mempertahankan ejaan bahasa asalnya, sedangkan kata Persia asli memakai huruf yang bentuknya lebih ringkas. Dikte pendek sepuluh menit di tiap sesi cukup untuk melatihnya. Peserta yang pernah belajar bahasa Arab justru maju lebih cepat di bagian ini, sebab perbendaharaan kata serapannya sudah lebih dulu dikenal.

Vokal pendek tidak ditulis: latihan membaca di sesi ketiga

Persia punya enam vokal. Tiga di antaranya panjang, yaitu ā, i, dan u, dan ketiganya ditulis memakai huruf alif, ye, serta vav. Tiga sisanya pendek, yaitu a, e, dan o, dan ketiganya tidak ditulis sama sekali di teks sehari-hari.

Kata کتاب (ketāb, buku) di atas kertas hanya memuat empat huruf: k, t, ā, b. Bunyi e sesudah k tidak punya wujud. Kata مرد (mard, laki-laki) bahkan tidak memuat satu vokal tertulis pun. Pembaca menyuarakannya karena sudah mengenal katanya, mirip cara orang Indonesia membaca singkatan yang sudah akrab di telinganya.

Karena itu kosakata di kelas ini dihafal sebagai pasangan: bentuk tulisannya sekaligus bunyinya, tidak pernah salah satu saja. Empat sesi pertama memakai teks berharakat supaya peserta punya pegangan, lalu harakat dilepas bertahap. Satu tanda lagi yang perlu dihafal sejak awal: huruf ه di ujung kata dibaca e, sehingga خانه terbaca khāne (rumah), tanpa bunyi h di belakangnya.

Ezafe, bunyi -e yang dikenalkan tutor lebih awal

Ciri kalimat Persia yang tidak punya padanan di bahasa Indonesia bernama ezafe. Wujudnya satu bunyi pendek, -e, yang diselipkan di antara kata benda dan kata yang menerangkannya. Ia terdengar jelas dalam ucapan, dan di teks biasa ia tidak ditulis sama sekali.

کتابِ من dibaca ketāb-e man dan berarti buku saya. درِ بزرگ dibaca dar-e bozorg dan berarti pintu besar. Sesudah kata yang berakhir vokal, penandanya menebal jadi -ye, sehingga خانهٔ من dibaca khāne-ye man, artinya rumah saya.

Peserta Indonesia punya keuntungan di titik ini. Urutan katanya sama dengan kebiasaan kita: bendanya dulu, penjelasnya menyusul, persis seperti buku saya dan pintu besar. Penutur Inggris justru harus membalik cara berpikirnya lebih dulu. Yang tersisa untuk dilatih tinggal satu, yakni menyisipkan bunyi -e di tempat yang tepat saat membaca teks yang tidak menuliskannya, dan tutor melatihnya dengan meminta peserta membaca keras sejak sesi kelima.

Inti bahasan

Contoh ezafe yang dipakai di kelas pemula

ketāb-e man, کتابِ من

Buku saya. Kata bendanya berdiri lebih dulu, pemiliknya menyusul, dan bunyi -e menempel di kata benda tanpa pernah ditulis.

dar-e bozorg, درِ بزرگ

Pintu besar. Kata sifat selalu mengikuti kata bendanya, sehingga peserta Indonesia tidak perlu mengubah urutan yang sudah dikenalnya.

khāne-ye man, خانهٔ من

Rumah saya. Sesudah bunyi vokal, penandanya berubah jadi -ye supaya dua vokal tidak bertabrakan di tengah ucapan.

shahr-e Tehrān, شهرِ تهران

Kota Teheran. Pola yang sama dipakai untuk nama tempat, gelar, dan hubungan keluarga, jadi sekali paham ia berlaku di mana-mana.

dust-e khub-e man, دوستِ خوبِ من

Teman baik saya. Tiga kata dirangkai dua penanda berturut-turut, dan rantai semacam ini muncul di hampir tiap kalimat panjang.

Rangkaian ezafe bertingkat di kelas menengah Persia

Ezafe jarang berdiri sendiri. Dalam kalimat panjang ia berulang dan membentuk rantai. کتابِ جدیدِ دوستِ من dibaca ketāb-e jadid-e dust-e man, artinya buku baru teman saya. Empat kata dirangkai tiga penanda yang seluruhnya tidak tertulis di teks.

Di sinilah pembaca pemula tersandung. Ia harus memutuskan sendiri di mana rantai itu berakhir, sebab tidak ada tanda baca yang menolongnya. Salah menutup rantai satu kata saja sudah mengubah arti kalimat: dua kata yang seharusnya terikat jadi terpisah, dan kalimatnya berhenti masuk akal.

Kesalahan lain yang sering berulang, peserta menyisipkan -e sesudah kata kerja atau sebelum kata depan, dua tempat yang tidak pernah menerimanya. Cara tutor menanganinya bertahap. Peserta menandai rantai dengan pensil di teks cetak, membacanya dari belakang ke depan supaya urutan Indonesianya terlihat, lalu membacanya sekali lagi dari depan tanpa tanda apa pun. Sesudah dua puluh kalimat, tangan berhenti membutuhkan pensil.

Tata bahasa Persia yang meringankan peserta kursus pemula

Nama besar bahasa Persia sebagai bahasa yang berat datang dari aksaranya, sementara tata bahasanya justru termasuk yang bersahabat. Kata benda Persia tidak dibagi jenis kelamin, sehingga kata sifat tidak pernah berubah bentuk mengikutinya. Tidak ada kata sandang semacam the dan a yang harus dipilih di tiap kalimat. Tidak ada pula perubahan bentuk kata benda menurut jabatannya, kecuali satu penanda yang dibahas di bagian berikutnya.

Jamaknya teratur. Akhiran -hā berlaku untuk hampir semua kata benda, jadi ketāb menjadi ketāb-hā. Akhiran -ān dipakai untuk yang bernyawa, jadi mard menjadi mardān. Kata serapan Arab kadang membawa bentuk jamak asalnya, dan bagian itu memang perlu dihafal terpisah.

Satu hal lagi yang meringankan: او (u) dipakai untuk dia laki-laki sekaligus dia perempuan. Peserta yang pernah kewalahan memilih bentuk di bahasa Jerman atau Arab biasanya lega di sesi ini, dan waktu yang hemat itu dipindahkan tutor ke latihan membaca aksara.

Garis besar

Lima hal yang tidak perlu dihafal peserta les Persia

Nol gender gramatikal

Kata benda Persia tidak dibagi maskulin dan feminin, sehingga tidak ada tabel kata sifat yang harus disesuaikan dengan jenis kata bendanya.

Nol kata sandang

Persia tidak punya padanan the maupun a. Ketentuan dan ketaktentuan ditandai cara lain, misalnya akhiran -i dan kata yek yang berarti satu.

Jamak yang teratur

Akhiran -hā menutup hampir seluruh kata benda. Yang bernyawa boleh memakai -ān, dan keduanya diajarkan dalam satu sesi yang sama.

Satu kata ganti orang ketiga

او (u) dipakai untuk dia laki-laki sekaligus dia perempuan, sehingga peserta tidak pernah harus memilih di tengah kalimat.

Kata sifat tanpa penyesuaian

Bentuk kata sifat tetap sama entah kata bendanya tunggal atau jamak, jadi hafalan bentuk berpasangan bisa dilewati sepenuhnya.

Penanda objek rā yang dilatih di sesi kalimat

Persia menyisakan satu penanda yang menempel pada kata benda, yaitu را (rā). Ia mengikuti objek yang sudah tertentu, yakni benda yang sudah diketahui pembicara sekaligus pendengarnya.

من کتاب را خواندم dibaca man ketāb rā khāndam dan berarti saya membaca buku itu. Kalimat tanpa rā, yaitu man ketāb khāndam, berarti saya membaca buku, tanpa menunjuk buku tertentu. Bahasa Indonesia menyampaikan perbedaan itu lewat kata itu dan sebuah, sehingga peserta kita sebenarnya sudah punya rasanya, dan yang perlu dilatih hanyalah letak penandanya.

Dua kesalahan sering berulang di kelas. Pertama, rā ditempelkan pada objek yang belum tentu, padahal di situ ia tidak berlaku. Kedua, rā ditaruh di belakang kata kerja, padahal tempatnya persis sesudah objek. Di percakapan Teheran penanda ini menyusut jadi ro sesudah konsonan dan jadi o sesudah vokal, jadi peserta yang sudah terbiasa bentuk tulisnya perlu mendengarkannya lagi dalam wujud pendek.

Dua bentuk dasar kata kerja Persia di sesi tata bahasa

Kata kerja Persia dibangun dari dua bentuk dasar, dan keduanya dihafal berpasangan. Bentuk lampau selalu bisa ditebak: buang -an dari kata dasarnya. رفتن (raftan, pergi) memberi raft-, دیدن (didan, melihat) memberi did-. Bentuk sekarang tidak bisa ditebak dan harus dihafal: raftan memberi rav-, didan memberi bin-, کردن (kardan, melakukan) memberi kon-.

Akhiran orangnya seragam untuk semua kata kerja, yaitu -am, -i, -ad, -im, -id, dan -and. Sesudah itu ada tiga awalan yang menggeser maknanya. Awalan mi- menandai perbuatan yang sedang berlangsung atau menjadi kebiasaan, sehingga می‌روم (miravam) berarti saya pergi. Awalan be- menandai harapan atau perintah, sehingga beravam berarti supaya saya pergi dan برو (boro) berarti pergilah. Awalan na- menandai pengingkaran, dan bersama mi- ia menjadi nemi-, sehingga نمی‌روم (nemiravam) berarti saya tidak pergi.

Latihan yang dipakai tutor berupa tabel kecil: satu kata kerja, enam orang, tiga awalan, dikerjakan lisan supaya bunyinya melekat lebih dulu daripada tulisannya.

Uraian

Kata kerja majemuk yang dipakai kelas percakapan

01

kardan, کردن

Melakukan. Ia menyusun ratusan ungkapan modern: kār kardan (bekerja), sohbat kardan (berbicara), estefāde kardan (memakai), tamiz kardan (membersihkan).

02

shodan, شدن

Menjadi. Dipakai untuk perubahan keadaan sekaligus bentuk pasif: bidār shodan (bangun), tamām shodan (selesai), gom shodan (hilang).

03

dāshtan, داشتن

Memiliki. Muncul di dust dāshtan (menyukai) dan negāh dāshtan (menjaga), dua ungkapan yang terdengar hampir tiap hari di Iran.

04

zadan, زدن

Memukul secara harfiah, sementara di ungkapan ia berarti melakukan: harf zadan (berbicara), telefon zadan (menelepon), sar zadan (mampir).

05

dādan, دادن

Memberi. Hadir di gush dādan (mendengarkan), emtehān dādan (mengikuti ujian), dan neshān dādan (menunjukkan sesuatu).

06

gereftan, گرفتن

Mengambil. Membentuk yād gereftan (belajar), tamās gereftan (menghubungi), dan tasmim gereftan (memutuskan sesuatu).

Urutan subjek objek verba dan latihannya di kelas privat

Kalimat Persia menaruh kata kerja di ujung. من به مدرسه می‌روم dibaca man be madrese miravam, dan kalau diurut apa adanya ia berbunyi saya ke sekolah pergi. Kata depan tetap berada di muka kata bendanya, seperti be (ke), az (dari), dar (di), dan bā (dengan), jadi yang berpindah tempat hanyalah kata kerjanya.

Bagi pembicara ini urusan kebiasaan. Bagi pendengar ia menuntut kesabaran: keterangan waktu, tempat, dan objek keluar lebih dulu, sedangkan perbuatannya baru muncul di akhir. Peserta yang terbiasa menebak isi kalimat dari kata ketiga akan sering meleset, dan latihan menyimak di kelas ini karena itu memakai kalimat panjang sejak awal.

Latihannya sederhana dan berulang. Tutor menyebutkan satu kalimat Indonesia, peserta menyusun ulang urutannya dengan kata kerja dipindah ke belakang, baru sesudah itu menerjemahkan kata per kata. Urutan kerja begitu mencegah peserta menerjemahkan sambil mempertahankan susunan Indonesia, kekeliruan yang sulit diperbaiki kalau sudah terlanjur menjadi kebiasaan.

Bahasa buku dan bahasa Teheran, dua jalur latihan les

Bahasa Persia hidup dalam dua wujud yang berjarak cukup jauh. Wujud pertama dipakai di buku, surat kabar, siaran berita, dan pidato resmi. Wujud kedua dipakai orang Teheran saat berbicara, dan ia memangkas serta menggeser bunyi hampir di tiap kalimat.

Peserta yang belajar dari buku saja akan terkejut di percakapan pertamanya. Kalimat این چیست (in chist, ini apa) yang ia hafal terdengar in chie di jalanan. Kata kerja می‌گویم (miguyam, saya berkata) terdengar migam. Kata نان (nān, roti) terdengar nun. Perbedaan itu bukan logat daerah terpencil, sebab justru begitulah ibu kota berbicara.

Karena itu kelas ini berjalan di dua jalur sekaligus sejak bulan kedua. Jalur tulis memakai bentuk baku, sebab teks yang akan dibaca peserta memang ditulis begitu. Jalur simak dan bicara memakai bentuk Teheran, sebab itulah yang akan didengarnya. Tutor mencatat tiap kata baru dalam dua bentuk berdampingan, dan peserta menghafal keduanya sekaligus supaya tidak perlu belajar dua kali.

Rincian

Perubahan bunyi Teheran yang dilatih di sesi menyimak

ast menjadi e

Kalimat in chist di buku terdengar in chie dalam percakapan. Pergeseran ini muncul di hampir setiap kalimat pernyataan, jadi ia dilatih lebih dulu daripada yang lain.

miravam menjadi miram

Kata kerja panjang dipangkas di tengah: miguyam menjadi migam, midaham menjadi midam, miāyam menjadi miyām.

ān menjadi un

Bunyi ā panjang sebelum n bergeser menjadi u: nān menjadi nun, bārān menjadi bārun, bahkan Tehrān menjadi Tehrun di mulut warganya sendiri.

rā menjadi ro

Penanda objek menyusut jadi ro sesudah konsonan dan jadi o sesudah vokal, dan dalam bicara cepat ia kerap hilang sama sekali.

hā menjadi ā

Akhiran jamak ikut dipendekkan, sehingga ketāb-hā terdengar ketābā. Peserta yang hanya hafal bentuk tulisnya sering gagal menangkap jamaknya.

barāye menjadi barā

Kata depan panjang dipangkas ujungnya. Bersama ke yang melebur ke kata sebelumnya, ia membuat kalimat lisan terdengar jauh lebih rapat.

Kosakata Persia yang sudah lama dipakai orang Surabaya

Bahasa Persia berstatus tamu lama di Nusantara. Ia datang lewat dua jalur yang sama tuanya, yaitu pelayaran niaga dan penyebaran ilmu keagamaan, lalu meninggalkan ratusan kata di perbendaharaan bahasa Indonesia dan Melayu.

Sebagian kata itu justru terdengar sangat Surabaya. Bandar berasal dari بندر (bandar, pelabuhan). Nakhoda berasal dari ناخدا (nākhodā), gabungan nāv (kapal) dan khodā (tuan), sehingga harfiahnya tuan atas kapal. Saudagar berasal dari سوداگر (sowdāgar, pedagang besar). Ketiganya kata pelabuhan, dan kota ini memakainya jauh sebelum Tanjung Perak bernama Tanjung Perak.

Yang jarang diduga orang, pahlawan pun kata Persia. Ia datang dari پهلوان (pahlavān), sebutan untuk jagoan dan pegulat kuat di Iran. Julukan Kota Pahlawan yang melekat pada Surabaya karena itu memakai kata yang usianya lebih tua daripada peristiwa yang dirayakannya. Anggur, gandum, kismis, dewan, tamasya, bius, dan cambuk mengikuti jalur masuk yang sama, dan tiap kali seorang peserta menemukan satu lagi, hafalannya bertambah tanpa terasa.

Sorotan

Serapan Persia di pelabuhan dan pasar Surabaya

Unggulan utama

bandar, بندر

Berarti pelabuhan. Kata yang sama menamai banyak kota pesisir Iran, dan di Jawa Timur ia sudah lama terdengar sebagai kata Indonesia biasa.

nakhoda, ناخدا

Gabungan nāv (kapal) dan khodā (tuan), jadi harfiahnya tuan atas kapal. Istilah yang akrab di telinga orang sekitar Pabean Cantian.

saudagar, سوداگر

Dari sowdāgar, pedagang besar. Kata ini masuk lewat jalur niaga yang sama dengan bandar dan nakhoda, dan bertahan sampai sekarang.

pahlawan, پهلوان

Dari pahlavān, jagoan atau pegulat kuat dalam kisah Iran. Sebutan Kota Pahlawan untuk Surabaya karena itu berakar pada kata Persia.

anggur, انگور

Dari angur. Bersama gandum (gandom) dan kismis (keshmesh) ia datang lewat perdagangan pangan, tiga kata dapur yang asalnya jarang disadari.

Empat penyair Persia yang dibaca di kelas sastra

Persia termasuk sedikit bahasa yang tradisi puisinya masih hidup di percakapan sehari-hari penuturnya. Empat nama muncul lebih sering daripada yang lain di kelas bacaan Edubia.

Ferdowsi menulis شاهنامه (Shāhnāmeh, Kitab Para Raja) sekitar seribu tahun lalu, epik sepanjang kira-kira 50.000 bait yang menampung kisah raja dan pendekar Iran sebelum Islam. Saadi dari Syiraz menulis گلستان (Golestān, kebun mawar) pada abad ketiga belas, prosa berima berisi cerita pendek beserta petuahnya, dan baitnya masih dikutip orang sampai hari ini. Hafez, juga dari Syiraz, menulis ghazal pada abad keempat belas, dan kumpulannya disebut Divan. Rumi menulis مثنوی (Masnavi) beserta Divan-e Shams di abad yang sama dengan Saadi.

Ada kebiasaan yang menarik bagi pembelajar. Banyak keluarga Iran membuka Divan Hafez secara acak untuk meminta petunjuk, kebiasaan yang disebut fāl-e Hāfez, dan pada malam Yalda, malam terpanjang dalam setahun, bacaan Hafez berkumandang di rumah-rumah. Membaca satu ghazal utuh adalah sasaran yang wajar untuk peserta sesudah setengah tahun belajar.

Bahasa Persia dalam kajian tasawuf dan kelas studi Islam

Sesudah bahasa Arab, Persia menyimpan warisan tulisan keislaman yang luas. مثنوی معنوی (Masnavi-ye Ma'navi) karya Rumi, منطق الطیر (Manteq at-Tayr, Musyawarah Burung) karya Attar, serta sejumlah kitab tasawuf awal semuanya ditulis dalam bahasa ini.

Mahasiswa kajian Islam di Surabaya umumnya sudah membaca karya-karya itu dalam terjemahan Indonesia atau Inggris. Yang mendorong mereka masuk kelas Persia justru bagian yang hilang dalam terjemahan: permainan bunyi, kata bermakna ganda yang disengaja penulisnya, dan rima yang menjadi alasan sebuah bait dihafal orang selama berabad-abad.

Untuk peserta seperti ini urutan belajarnya diputar. Aksara tetap didahulukan sebab tanpa itu tidak ada yang bisa dibaca, sementara kosakata percakapan diberi porsi lebih kecil dan digantikan perbendaharaan kitab. Persia klasik punya beberapa ciri yang berbeda dari bahasa sekarang, misalnya awalan hami- dan sejumlah bentuk kata kerja lama, dan bagian itu dibuka tutor setelah bentuk modernnya kokoh di kepala peserta.

Bunyi Persia yang menyulitkan peserta les Indonesia

Sebagian besar bunyi Persia sudah dimiliki penutur bahasa Indonesia, dan itu sebabnya lafal jarang menjadi penghambat berat. Tetap ada empat titik yang perlu perhatian di sesi lafal.

Pertama, bunyi خ (kh) seperti pada khub (bagus). Orang Indonesia sudah memakainya di kata khusus, jadi ia cepat beres. Kedua, bunyi ق dan غ yang diucapkan jauh di pangkal tenggorokan dan di Teheran melebur menjadi satu bunyi. Peserta biasanya menggantinya dengan k atau g, dan selisihnya baru terdengar sesudah dilatih berpasangan.

Ketiga, perbedaan panjang pendek vokal a. کار (kār) berarti kerja, sementara کر (kar) berarti tuli. Keduanya hanya dibedakan panjang bunyinya, dan kekeliruan di sini menggeser arti kalimat. Keempat, letak tekanan. Kata benda dan kata sifat Persia menekan suku kata terakhir, sedangkan kata kerja menekan awalannya, sehingga می‌روم ditekan di bagian mi-. Empat hal ini dilatih memakai rekaman pendek yang dibuat tutor di akhir tiap sesi.

Nastaliq, Naskh, dan tulisan tangan yang dilatih tutor

Persia dicetak dalam dua gaya tulisan yang perlu dikenali peserta sejak awal. Naskh dipakai untuk buku pelajaran, surat kabar, dan layar gawai. Nastaliq dipakai untuk puisi, papan nama, undangan, dan kaligrafi; garisnya miring turun dari kanan ke kiri, dan hurufnya seakan digantung pada garis diagonal. Teks yang sama terlihat sangat berlainan dalam dua gaya ini.

Tiap huruf punya sampai empat wujud menurut letaknya: di awal kata, di tengah, di akhir, dan berdiri sendiri. Tujuh huruf tidak pernah menyambung ke kiri, yaitu ا, د, ذ, ر, ز, ژ, dan و, sehingga kata yang memuatnya patah di tengah dan pemula kerap mengiranya dua kata terpisah.

Ada satu perkara teknis yang jarang diajarkan buku pemula, yaitu setengah spasi atau nim-fasele. Ia memisahkan awalan mi- dari kata kerjanya dan akhiran -hā dari kata bendanya tanpa memberi jarak penuh, sehingga می‌روم dan کتاب‌ها tampil rapi. Peserta yang akan mengetik Persia diajari cara memasukkannya di sesi menulis.

Ujian kemahiran Persia yang perlu dicek sebelum daftar

Peserta yang butuh bukti kemampuan biasanya menanyakan ujian resminya. Yang berlaku luas bernama SAMFA, singkatan Persia untuk pengukuran standar keterampilan bahasa Persia. Ia menguji empat keterampilan sekaligus, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Tiap keterampilan bernilai 60 poin, sehingga nilai penuhnya 240.

Ada dua jenis, yakni umum dan akademik. Bagian menyimak serta membaca masing-masing berisi 30 soal, sedangkan bagian menulis berisi dua soal dengan waktu pengerjaan 180 menit untuk keduanya. Ujiannya digelar sekurang-kurangnya tiga kali setahun, pada Januari, Juni, dan September. Di samping SAMFA ada AMFA yang diselenggarakan Bonyad-e Sa'di, lembaga Iran yang mengurus pengajaran bahasa Persia di luar negeri. Sejumlah kampus di Indonesia juga membuka Iranian Corner yang menyelenggarakan kelas Persia tanpa biaya, dan ketersediaannya berbeda antar kampus.

Satu hal disampaikan apa adanya sebelum kamu mendaftar: tempat ujian yang melayani peserta dari Indonesia berubah dari tahun ke tahun. Tutor menyusun latihan mengikuti bentuk soal yang sudah baku, sementara tanggal dan lokasinya wajib kamu cek sendiri ke penyelenggara.

Biaya les bahasa Persia per sesi di Surabaya

Kelas online 60 menit pada ritme 8 sesi per bulan mulai Rp158.800 per sesi. Tutor yang datang ke rumah di Surabaya untuk durasi yang sama Rp179.000 per sesi, dan selisihnya menutup perjalanan tutor. Sesi 90 menit untuk peserta dewasa yang menekuni bacaan sastra Rp298.100 per sesi, sebab satu ghazal menuntut waktu utuh untuk dibaca, dibongkar, lalu dibaca ulang. Belajar di co-learning space Edubia menambah Rp15.000 per sesi.

Yang membuat tarif bahasa Persia berbeda dari mata pelajaran sekolah ada dua. Tutornya sedikit di Jawa Timur, dan tiap sesi menuntut penyiapan bahan beraksara Perso-Arab yang tidak tersedia sebagai buku cetak di toko sekitar sini. Lembar latihan aksara karena itu disusun ulang untuk tiap peserta, mengikuti huruf mana yang masih goyah di pekan sebelumnya.

Kalau cara mengajar tutor terasa kurang cocok sesudah dua sesi, tutor bisa diganti tanpa biaya tambahan, dan catatan kemajuan peserta diteruskan ke tutor berikutnya supaya kelas tidak mundur ke titik awal.

Jangkauan tutor Persia sampai Sidoarjo dan sekitarnya

Peminat bahasa Persia di Jawa Timur tersebar dan jumlahnya sedikit, jadi penjadwalan disusun mengikuti letak rumah peserta. Sesi tatap muka berjalan lancar di Gubeng, Sukolilo, Mulyorejo, Tambaksari, Tegalsari, Wonokromo, dan Rungkut, wilayah yang rapat kampus sekaligus mudah dijangkau dari pusat kota.

Ke arah selatan, Waru, Gedangan, Buduran, Taman, dan Sidoarjo dilayani dengan jam mulai yang digeser supaya tutor tidak terjebak lalu lintas sore di jalur menuju selatan. Peserta di Krian, Porong, Jabon, dan Tanggulangin umumnya memilih kelas online, dan untuk bahasa Persia pilihan itu nyaris tidak mengurangi apa pun: aksara bisa ditulis di layar bersama, dan naskah bacaan bisa dibuka di ruang yang sama.

Peserta di Pabean Cantian dan Krembangan yang bekerja di sekitar pelabuhan lebih sering meminta sesi malam, dan jam mulai memang ditawarkan sampai malam hari. Akhir pekan terbuka untuk peserta yang jam kerjanya padat sepanjang hari kerja.

Poin penting

Lima langkah membaca satu bait Hafez bersama tutor

Empat langkah sederhana, dari daftar sampai belajar bareng tutor pilihan.

  1. Salin baitnya dengan tangan

    Peserta menyalin satu bait huruf per huruf tanpa mencari arti terlebih dahulu, supaya bentuk sambung tiap huruf terekam oleh tangannya sendiri.

  2. Tandai rangkaian ezafe

    Tutor menandai tiap bunyi -e yang tidak tertulis, sehingga peserta melihat kelompok kata mana yang saling terikat dan mana yang berdiri sendiri.

  3. Bongkar kata kerja di ujung baris

    Kata kerja Persia duduk di akhir. Bentuk dasar, awalan, dan akhiran orangnya dipisahkan lebih dulu sebelum baitnya diterjemahkan.

  4. Terjemahkan harfiah lebih dulu

    Terjemahan kata demi kata dibuat apa adanya sekalipun terdengar kaku, supaya susunan kalimat Persianya terlihat utuh sebelum dirapikan.

  5. Baca ulang mengikuti irama aruz

    Bait dibaca keras mengikuti pola panjang pendek suku katanya, cara yang dipakai pembaca Persia sampai hari ini saat menikmati ghazal.

Tanya jawab

Sebelum daftar les bahasa Persia, apa yang perlu ditanyakan?

Berapa biaya les bahasa Persia di Surabaya?

Kelas online 60 menit pada ritme 8 sesi per bulan mulai Rp158.800 per sesi. Tutor yang datang ke rumah untuk durasi yang sama Rp179.000 per sesi. Sesi 90 menit bagi peserta dewasa yang menekuni bacaan sastra Rp298.100 per sesi. Belajar di co-learning space Edubia menambah Rp15.000 per sesi.

Apakah harus bisa membaca huruf Arab dulu sebelum masuk kelas Persia?

Tidak perlu. Peserta nol aksara mulai dari huruf pertama, dan biasanya butuh tiga sampai empat sesi tambahan dibanding peserta yang pernah mengaji. Peserta yang sudah lancar membaca huruf Arab justru punya pekerjaan tersendiri, yaitu melepas kebiasaan bunyi Arab yang tidak berlaku di Persia.

Berapa lama sampai bisa membaca teks Persia sederhana?

Dengan 8 sesi per bulan dan latihan mandiri sekitar 20 menit sehari, kata pendek yang sering muncul biasanya terbaca tanpa mengeja pada sesi kedelapan. Berita pendek berbahasa Persia modern mulai terbaca sekitar sesi kedua puluh, dan satu ghazal utuh menjadi sasaran wajar sesudah setengah tahun.

Apa bedanya Farsi, Dari, dan Tajik?

Ketiganya ragam dari bahasa yang sama. Farsi dipakai di Iran, Dari di Afghanistan, dan Tajik di Tajikistan. Farsi serta Dari memakai aksara Perso-Arab yang sama, sedangkan Tajik ditulis dengan huruf Kiril. Kelas ini memakai Farsi baku Iran sebagai dasar, dan peserta yang menyasar Afghanistan diberi catatan perbedaan kosakatanya.

Bahasa Persia itu serumpun dengan bahasa Arab?

Tidak. Persia masuk rumpun Indo-Eropa, satu keluarga dengan Sanskerta, Yunani, dan Inggris, sementara Arab masuk rumpun Semit. Yang dipinjam Persia dari Arab adalah aksaranya serta sebagian kosakata. Tata bahasanya berjalan dengan aturan yang sepenuhnya berbeda, dan justru di situ letak kemudahannya bagi pemula.

Kenapa tulisan Persia sulit dibaca padahal hurufnya mirip huruf Arab?

Dua hal yang penting justru tidak ditulis. Vokal pendek a, e, dan o tidak punya wujud di teks sehari-hari, dan penanda ezafe yang menyambung kata benda dengan penjelasnya juga tidak tertulis. Pembaca menambahkan keduanya dari pengetahuan kosakatanya, jadi membaca Persia berjalan seiring dengan menambah perbendaharaan kata.

Apa itu ezafe dan kapan mulai diajarkan?

Ezafe adalah bunyi -e yang menghubungkan kata benda dengan kata sifat atau pemiliknya, misalnya ketāb-e man yang berarti buku saya. Ia dikenalkan sekitar sesi kesembilan, sesudah peserta bisa membaca huruf dengan lancar, sebab tanpa kemampuan membaca ia hanya menjadi hafalan yang tidak terpakai.

Apakah kelas ini mengajarkan bahasa percakapan Teheran?

Ya, mulai bulan kedua dan berjalan berdampingan dengan bentuk baku. Percakapan Teheran memangkas serta menggeser bunyi di hampir tiap kalimat, misalnya ast menjadi e dan nān menjadi nun. Peserta yang hanya belajar bentuk buku akan kesulitan menangkap percakapan biasa, jadi keduanya dilatih sejak awal.

Wilayah mana saja yang dijangkau tutor bahasa Persia?

Sesi tatap muka berjalan rutin di Gubeng, Sukolilo, Mulyorejo, Tambaksari, Tegalsari, Wonokromo, dan Rungkut. Ke arah selatan tersedia di Waru, Gedangan, Buduran, Taman, serta kawasan Sidoarjo. Peserta di Krian, Porong, Jabon, dan Tanggulangin umumnya memilih kelas online karena jarak tempuhnya panjang.

Bagaimana kalau cara mengajar tutornya kurang cocok?

Sampaikan sesudah dua sesi. Tutor bisa diganti tanpa biaya tambahan, dan catatan kemajuan peserta diteruskan ke tutor berikutnya, sehingga materi tidak diulang dari halaman pertama. Untuk bahasa Persia hal ini penting, sebab kecocokan cara mengajar aksara sangat menentukan kecepatan peserta di bulan pertama.

Berapa lama satu sesi les bahasa Persia berlangsung?

Tersedia 60 menit dan 90 menit. Durasi 60 menit cukup untuk latihan aksara serta tata bahasa dasar. Durasi 90 menit dipilih peserta yang membaca sastra, sebab satu ghazal menuntut waktu untuk dibaca, dibongkar susunannya, diterjemahkan harfiah, lalu dibaca ulang mengikuti iramanya.

Ada ujian kemahiran resmi untuk bahasa Persia?

Ada, namanya SAMFA. Ia menguji menyimak, berbicara, membaca, dan menulis, masing-masing bernilai 60 poin sehingga totalnya 240, dalam jenis umum dan akademik. Pelaksanaannya sekurang-kurangnya tiga kali setahun pada Januari, Juni, dan September. Tempat ujian yang melayani peserta dari Indonesia berubah tiap tahun, jadi cek langsung ke penyelenggara.

Apakah bahasa Persia berguna untuk kuliah kajian Islam?

Berguna. Sesudah bahasa Arab, Persia menyimpan warisan tulisan keislaman yang luas, terutama di bidang tasawuf. Masnavi karya Rumi, Manteq at-Tayr karya Attar, dan sejumlah kitab tasawuf awal ditulis dalam bahasa ini, dan membacanya langsung memberi lapisan makna yang biasanya hilang di terjemahan.

Bisakah pelajar SMP dan SMA ikut kelas bahasa Persia?

Bisa, selama sudah lancar membaca dan menulis. Pelajar yang punya latar mengaji umumnya bergerak cepat di bagian aksara. Untuk usia sekolah, tutor memperbanyak permainan kosakata serta bacaan cerita pendek, dan mengurangi porsi tata bahasa formal supaya minatnya bertahan sampai bulan ketiga.

Apa saja yang perlu disiapkan sebelum sesi pertama?

Buku tulis bergaris, pensil, dan papan alas untuk menulis kanan ke kiri sudah cukup. Lembar latihan aksara disiapkan tutor. Kalau kamu punya tujuan tertentu, misalnya membaca kitab tasawuf atau menyiapkan perjalanan ke Iran, sampaikan di awal supaya daftar kosakata disusun mengikuti keperluan itu.

Saatnya Bertindak

Kuasai bahasa Persia bersama tutor Surabaya

Kebutuhan dipetakan dulu, biaya per sesi dibicarakan terbuka, baru les bahasa Persia berjalan.